
"Kata siapa, Bu?" tanya Susi.
"Kata orang-orang di komplek ini. Kalian ngadain acaranya di restauran, kan?" jawab tetangga itu.
Susi menoleh pada Haris. Karena Susi tak paham kenapa Haris tiba-tiba mengajak mereka ke restauran.
Haris menggeleng.
"Enggak, Bu. Kami mau ke restauran karena ada undangan makan malam dari rekan bisnis papanya Nadia." Susi menjelaskan.
"Ooh, begitu. Pokoknya selamat aja deh, buat Nadia. Kami tunggu undangannya. Kami warga sini juga siap membantu, kok. Saya permisi dulu." Tetangga Nadia berlalu setelah Susi mengangguk dengan kebingungan.
"Hhmm. Dapat gosip dari mana sih, itu orang?" tanya Susi.
Tak ada yang menjawab, karena Nadia apalagi Haris jelas tak tahu jawabannya.
Mereka pun naik ke mobil dan melaju membelah malam. Mereka menuju restauran tempat Haris janjian dengan rekan bisnis barunya.
Tak butuh waktu lama, karena letak restauran itu tak terlalu jauh. Jalanan juga tak begitu macet.
Setelah mobil diparkir, Susi berjalan bersebelahan dengan Nadia. Haris berjalan di depan. Karena dia yang akan mencari di mana meja temannya.
Katanya barusan di pesan chatnya, teman Haris itu sudah ada di lokasi. Mereka sudah menempati sebuah meja besar.
"Nah, itu kayaknya mereka." Haris menuju ke meja tempat sebuah keluarga kecil seperti mereka berkumpul.
Seorang lelaki setengah baya, seumuran Haris dan seorang wanita yang jauh lebih muda dan cantik. Juga seorang lelaki muda dengan penampilan rapi.
Mata Nadia terbelalak melihat siapa lelaki muda itu.
"Ma. Itu kan Doni," ucap Nadia pada Susi pelan.
"Iya. Kenapa dia ada di sana?" tanya Susi.
Nadia pun hanya diam. Mau nanya pada Haris, tapi tak memungkinkan. Karena Haris terus berjalan dan semakin mendekat ke arah mereka.
"Hallo, Pak Haris. Selamat malam," sapa lelaki setengah baya itu.
"Pak Tedi?" tebak Haris.
Lelaki setengah baya itu mengangguk. Lalu berdiri dan segera menjabat tangan Haris dengan erat.
"Apa kabar Pak Haris? Pengusaha sukses yang sedang naik daun!" ucap Tedi sambil mengguncang tangan Haris.
"Ah, bisa saja Pak Tedi ini. Pak Tedi juga pengusaha yang sudah duluan sukses," sahut Haris.
"Mari silakan duduk. Perkenalkan, ini istri saya Maria dan anak kami, Doni." Tedi memperkenalkan anggota keluarga yang dibawanya.
Haris menyalaminya satu persatu.
"Perkenalkan juga, ini istri saya tercinta, Susi. Dan anak gadis kami, Nadia." Haris pun memperkenalkan istri dan anaknya.
"Ooh, cantik sekali anaknya." Tedi menatap tajam ke arah Nadia.
__ADS_1
Nadia hanya mengangguk sambil tersenyum simpul.
"Hay, Nad. Apa kabar?" tanya Doni.
"Lho, kalian udah kenal?" tanya Tedi.
"Udah, Pa. Nadia ini teman kuliah Doni. Kami satu kelas, dan....hampir jadian," jawab Doni dengan pedenya.
Tangan Doni masih menggenggam tangan Nadia. Nadia berusaha melepaskannya, tapi Doni malah semakin menggenggamnya dengan erat.
"Jadian? Jadian gimana?" tanya Tedi.
"Ah, Papa. Kayak enggak pernah muda saja," jawab Doni.
Tedi pun tertawa.
"Iya....iya...iya. Papa paham maksud kamu. Pintar sekali kamu cari pasangan, Doni," puji Tedi.
Istri Tedi, Maria terlihat kurang suka. Dia hanya diam sambil menelisik penampilan Nadia. Lalu mendengus pelan.
"Mari, silakan duduk." Tedi kembali mempersilakan.
Haris, Susi dan Nadia pun duduk.
"Oke, sebentar lagi hidangan buat kita datang. Semoga kalian suka dengan pilihan istriku yang cantik ini," ucap Tedi sambil menepuk tangan Maria pelan.
Maria yang merasa dipuji pun tersenyum bangga. Tapi senyumannya hanya di arahkan ke Haris.
Sedangkan pada Nadia dan Susi, dia hanya melirik sekilas.
Nadia melotot ke arah Doni.
Sembarangan aja! Kalau tahu bakalan ketemu kamu, aku enggak bakal mau ikut! Batin Nadia.
Tapi demi menjaga sopan santun, Nadia hanya bisa tersenyum. Tapi senyuman yang asem.
"Enggak apa-apa kan Pak Haris, kalau anak kita saling dekat?" tanya Tedi pada Haris.
Haris tersenyum.
"Oh, silakan. Saya sih terserah anak-anaknya saja. Kalau mereka saling suka dan cocok, kita bisa apa," jawab Haris.
"Benar, Pak Haris. Kita sebagai orang tua, cuma bisa mendukung saja. Bu Haris gimana, setuju kan?" tanya Tedi pada Susi.
Matanya tajam menatap Susi. Meski usia Susi jauh di atas istri keduanya ini, tapi penampilan Susi tak kalah seksinya di mata Tedi.
"Sama saja, Pak Tedi. Semua saya serahkan pada Nadia," jawab Susi.
"Terus didukung dong, Bu Haris. Biar jalannya semakin mudah. Biar bisnis saya dan pak Haris juga bisa lancar. Begitu kan, Pak Haris?" Tedi kembali menatap Haris.
"Iya. Begitu juga boleh." Haris manggut-manggut.
Haris yang belum tahu tentang Doni, masih berpikir positif. Apalagi dengan persoalan Nadia selama ini. Soal Surya, juga soal Dewa yang jelas saja Haris menolaknya.
__ADS_1
Haris tak mau kalau Nadia bersuamikan seorang pelaut. Karena bagi Haris, pelaut itu rata-rata brengsek. Dan masa depannya enggak jelas.
Haris tak pernah tahu, kalau banyak pelaut yang hidupnya sukses. Masa depan keluarganya pun terjamin. Karena penghasilan mereka bisa dua kali lipat penghasilan orang yang bekerja di darat.
Tak lama hidangan yang dipesan keluarga Tedi pun datang.
"Mari silakan." Tedi mempersilakan semuanya menikmati hidangan itu.
Maria mendahului. Dia mengambilkan dulu makanan untuk Doni. Kelihatannya dia sangat sayang pada anak tirinya itu.
Setelah itu baru dia mengambilkan buat Tedi.
Hhh! Suami kok dinomor duakan. Batin Susi.
Dan lagi, Maria tak punya tatakrama. Mestinya tamu duluan yang mengambil. Bukan malah tuan rumah yang mendahului.
Kesannya tamu hanya dikasih makanan sisa mereka.
Bahkan dengan santainya Maria mengambil makanan untuk dirinya sendiri.
Tamunya benar-benar tak diberi kesempatan.
Susi hanya berpandangan dengan Haris. Baru kali ini mereka mendapatkan tuan rumah yang aneh.
"Silakan, Bu Haris. Suaminya diambilkan," ucap Maria setelah dia selesai mengambil makanan untuk keluarganya.
Susi malah jadi risi. Karena melihat beberapa makanan sudah tinggal sedikit.
Tapi demi menjaga kesopanan, Susi mengambil juga sedikit untuk Haris.
Dalam hati ingin bilang ke Haris, kalau nanti cari makan malam lagi di tempat lain.
Tapi rupanya, Haris memahami pikiran Susi.
"Cukup...cukup, Ma. Papa tadi sudah makan banyak di kantor. Kebetulan ada yang ulang tahun dan kita makan bersama," ucap Haris sambil mengedipkan satu matanya pada Susi.
Susi pun mengangguk mengerti. Lalu menyerahkan piring Haris.
"Nadia, ayo makan dong. Apa perlu aku ambilkan?" tanya Doni pada Nadia.
Ambilkan apaan? Orang makanannya udah diabisin mama kamu! Batin Nadia.
Nadia jadi kehilangan selera makannya.
"Enggak usah, Don. Aku minum aja. Barusan juga Surya sudah mengajakku makan di luar," jawab Nadia asal.
Entah mengapa yang keluar dari mulutnya, malah nama Surya.
Doni menatap Nadia tak suka. Susi dan Haris pun terkejut mendengar alasan Nadia.
Tiba-tiba dari arah pintu masuk restauran, muncul Surya dengan kedua orang tuanya.
Mata Nadia pun terbelalak melihatnya. Baru saja dibawa-bawa namanya, malah orangnya muncul.
__ADS_1
Duh, malu banget Nadia pada Doni.
Doni yang juga melihat kedatangan Surya, tersenyum meledek Nadia.