
Surya kembali nyengir. Ternyata sekarang udah tengah malam.
"Udah, sekarang kita tidur. Tapi ganti dulu baju elu. Bau, tau!" ucap Yogi, lalu berjalan naik ke kamarnya.
Mak Yati juga sudah turun dari tadi. Bahkan mungkin sekarang udah terbang ke alam mimpi.
Sampai di kamarnya, Yogi mengambilkan kaos dan celana pendek buat Surya.
"****** ******** mana?" tanya Surya.
"Elu mau pakai celana dalem gue juga?" Yogi balik bertanya.
Surya mengangguk.
"Nih!" Yogi melemparkan ****** ******** yang diambil dari lemari.
"Entar cuci yang bersih! Entar gue ketularan elu lagi!" ucap Yogi.
"Memangnya aku penyakitan?" sahut Surya.
"Iya! Penyakit bego!" sahut Yogi.
"Sialan!" gerutu Surya sambil berjalan masuk ke kamar mandi.
Yogi naik ke tempat tidur yang sudah diganti spreinya. Dan langsung terbang juga ke alam mimpi.
Surya sekalian mandi, karena badannya terasa lengket. Dia ingin menghilangkan semua jejak mabuknya tadi. Biar besok pagi saat pulang, enggak ketahuan keluarganya kalau dia mabuk.
Selesai mandi, Surya pun naik ke tempat tidur. Yogi memberinya tempat buat tidur.
Surya mencoba memejamkan matanya. Tapi otaknya terus saja melayang.
Dia masih terngiang ucapan Nadia, kalau akan kembali mengejar Dewa.
Sakit. Rasa itu kembali menusuk hati Surya. Surya berusaha meredamnya. Tapi dadanya kembali terasa sesak.
"Aakkhh...!" teriak Surya.
"Heh! Apaan sih, elu? Ngagetin aja! Udah gila, lu?" Yogi terbangun dari tidurnya sambil marah-marah.
Surya hanya diam saja. Nafasnya terlihat memburu.
Yogi beranjak dan duduk. Surya masih tiduran. Matanya menatap nyalang.
"Waduh! Kesurupan ini anak!" ucap Yogi.
"Heh! Sur! Surya! Sadar lu!" Yogi menepuk-nepuk pipi Surya.
Surya masih saja diam. Matanya semakin nyalang.
"Surya! Jangan nakut-nakutin gue, lu!" Yogi menepuk pipi Surya lagi. Kali ini lebih kenceng.
"Gue bakal bikin perhitungan ama elu, Nadia! Elu juga Dewa! Gue abisin elu!" teriak Surya.
"Ya....dia kemasukan setan botol. Minum apaan sih elu, tadi?" tanya Yogi.
Surya beranjak dan duduk di sebelah Yogi.
"Yog, salah enggak kalau gue bikin perhitungan sama Nadia?" tanya Surya.
"Perhitungan apaan? Jangan gila, lu!" cegah Yogi.
"Dia yang udah bikin gue gila, Yogi!" sahut Surya.
__ADS_1
"Ya udah. Sekarang elu tidur. Gilanya dilanjut besok lagi, oke...!" ucap Yogi.
"Enggak! Gue mesti bikin perhitungan. Biar Nadia bertekuk lutut di hadapan gue!" sahut Surya.
"Aduh....! Ternyata elu lebih gila dari gue, ya?"
Yogi turun dari tempat tidurnya.
"Udah mandi kan, elu?" tanya Yogi.
Surya mengangguk.
Lalu Yogi ngambil sajadah, sarung dan pecinya.
"Nih. Sekarang elu wudhu, terus sholat. Ingat, Bro. Sholat menghindarkan kita dari perbuatan keji dan munkar!" ucap Yogi menirukan kata-kata para ulama.
Surya masih diam saja.
Yogi menarik tangan Surya, dan membawanya ke kamar mandi. Lalu menyalakan kran air.
"Ayo wudhu! Biar kepala elu dingin. Otak elu juga kagak eror!" ucap Yogi.
Surya menurut. Dia basuh semua bagian tubuhnya. Dia basahi kepalanya. Wajahnya. Tangannya. Kakinya. Semuanya.
Yogi masih berdiri di dekat Surya. Dia menatap sahabatnya dengan sedih.
Jangan kamu hancurkan hidupmu, Surya. Aku enggak akan rela. Batin Yogi.
Yogi masih mengikuti Surya keluar dari kamar mandi. Surya cuma meliriknya.
Surya memakai sarung dan pecinya. Lalu mulai menghadap pada sang Penciptanya.
Yogi terus saja memperhatikan. Dan saat selesai dengan dua rakaatnya, Surya menengadahkan tangan dan wajahnya.
Tak terasa, mata Yogi berkaca-kaca.
Yogi mengelap matanya lalu keluar. Dia merasa tak kuat mendengar isakan Surya.
Yogi duduk di teras rumahnya sambil menyalakan rokok. Tak lupa Yogi membawa secangkir kopi, yang baru saja dibuatnya.
Pikiran Yogi berkelana. Memikirkan sahabatnya yang kini kembali terpuruk.
Sebegitu lemahnyakah Surya? Sampai kembali terpuruk untuk masalah yang sama?
"Ngapain kamu, Yog?" Surya tiba-tiba ada di pintu. Dan kembali mengagetkan Yogi.
"Sialan, lu! Ngagetin gue lagi. Untung jantung gue bukan buatan china. Bisa mati muda gue!" umpat Yogi.
Lagi melamun, dikagetkan. Ya pasti marah-marah.
Surya terkekeh.
"Sorry, Bro. Aku kan nyariin kamu," sahut Surya tanpa merasa bersalah.
Surya yang masih memakai sarung dan peci, duduk di sebelah Yogi.
Itu lebih baik, batin Yogi. Dia enggak bakalan kayak orang kesurupan lagi.
Mereka pun menghabiskan malam dengan obrolan ringan. Yogi tak membahas tentang Nadia lagi. Dia tak mau Surya teringat lagi dan kembali kumat.
Sampai menjelang pagi, baru mereka masuk ke kamar dan tidur dengan nyenyaknya.
Pagi harinya, di rumah keluarga Surya.
__ADS_1
"Sinta, gimana kakak kamu? Kapan mau pulang?" tanya Rahma.
Semalam Sinta sudah bilang ke mamanya kalau Surya menginap di rumah Yogi. Dan soal ponsel Surya yang tidak aktif, Sinta beralasan Surya lupa mengisi batrenya.
"Paling nanti, Ma. Mama santai aja. Kak Surya aman di rumah Yogi," jawan Sinta.
Padahal Sinta sendiri dari bangun tidur tadi, sudah uring-uringan. Pasalnya dia menelpon Yogi berkali-kali tak diangkat. Pesan whatsapp-nyapun tak dibaca.
"Iya. Biarin aja, Ma. Lagian sekarang kan Surya libur juga kuliahnya," sahut Toni.
Toni kadang sedikit bete juga dengan sikap over protectif dari Rahma. Rahma tak pernah mau sadar kalau anak-anaknya kini sudah dewasa.
Rahma masih memperlakukan mereka kayak anak kecil. Yang kemana-mana harus ijin dulu. Harus pulang tepat waktu. Dan segala macam aturan yang seakan membelenggu.
Tapi Toni juga tak bisa banyak komplain. Karena Rahma menjalankan amanahnya sebagai orang tua dengan sangat baik.
"Iya, deh," sahut Rahma. Dia selalu menurut apapun kata suaminya. Tapi sebentar lagi, dia pasti akan kembali menanyakannya.
"Nadia kok tumben enggak kesini? Biasanya kalau weekend, dia kesini," tanya Rahma.
Sinta menghela nafasnya.
"Paling nanti kalau kak Surya udah pulang," jawab Sinta.
"Nadia juga mestinya punya acara sendiri, Ma. Dia kan punya keluarga," sahut Toni.
"Iya, Pa." Rahma terlihat kesal. Karena omongannya seolah tak ada yang mendukung.
Sampai jam sepuluh siang, belum ada juga kabar tentang Surya.
Rahma mendatangi Sinta yang sedang asik menonton film di laptopnya.
"Sinta. Kamu ke rumah Yogi sana. Suruh kakakmu pulang," pinta Rahma.
"Iih, Sinta kan lagi nonton film, Ma," ucap Sinta sambil manyun.
"Nontonnya kan bisa nanti lagi. Di pause dulu," sahut Rahma.
"Hhmm. Iya deh." Sinta mengalah. Tapi sebenarnya dia juga kepingin ketemu Yogi.
Sinta berganti pakaian lalu segera meraih kunci motornya.
"Ati-ati di jalan. Jangan ngebut-ngebut!" seru Rahma.
"Iya, Ma....!" sahut Sinta.
Bawel! Gerutu Sinta dalam hati.
Sampai di rumah Yogi, Sinta ketemu mak Yati.
"Pagi, Mak. Aa Yoginya ada?" tanya Sinta dengan sopan.
"Ada, Non. Di kamarnya. Ada mas Surya juga kok. Naik aja," jawab mak Yati.
"Iya, Mak." Sinta pun naik ke atas.
Sinta sudah menebak, pasti dua orang itu asik main PS sampai lupa waktu.
Sinta membuka pintu kamar Yogi yang tak tertutup rapat.
Alamak! Jam segini masih pada tidur!
Sinta menepuk keningnya sendiri.
__ADS_1