PERAHU KERTAS (Terjebak Masa Lalu)

PERAHU KERTAS (Terjebak Masa Lalu)
Bab 73 MENCINTAI LELAKI LAIN


__ADS_3

Nadia pun masih sembunyi di kamarnya. Berkali-kali Susi mengetuk pintu kamarnya, tak juga dibukakan.


Nadia juga mematikan ponselnya. Dia tak mau diganggu oleh siapapun.


Susi hanya sendirian, karena Haris yang selalu sibuk bekerja belum juga pulang. Membuat Susi semakin kebingungan, bagaimana caranya membuat anak gadisnya membuka pintu.


Berbagai cara dilakukan oleh Susi, tapi tak membuat Nadia membuka pintu.


"Yang sabar, Bu." Mbok Nah mencoba menenangkan majikannya, meski diapun ikut cemas.


Susi hanya diam saja, duduk di sofa ruang tengah. Berkali-kali matanya menatap ke arah tangga. Berharap Nadia turun.


Mbok Nah duduk di bawah, tangannya memijat kaki Susi biar majikannya ini lebih rileks.


"Tadi mas Surya waktu di sini, hanya duduk di ruang tamu, Bu. Saya sendiri jadi heran, mas Surya tidak seperti biasanya." Mbok Nah mencoba memberi keterangan tentang Surya meski tak ditanya oleh Susi.


"Terus?" tanya Susi. Karena saat Susi pulang, Surya sudah siap di atas motornya.


"Waktu saya buatkan minuman kesukaannya juga hanya diam saja. Enggak mengajak saya bicara seperti biasanya."


Susi menyimak omongan mbok Nah. Siapa tahu ada jawaban kenapa Nadia sampai ingin sendiri dan Surya yang pulang terburu-buru.


"Saya bilang kalau non Nadia lagi siap-siap dan sebentar lagi turun, tapi mas Surya enggak punya niatan membantu non Nadia. Enggak kayak biasanya," lanjut mbok Nah.


Oh, sepertinya hubungan mereka sedang tidak baik. Berarti undangan makan malam dari jeng Rahma tak tepat waktunya. Batin Susi.


"Terus apalagi, Mbok?" tanya Susi.


"Saya tidak tau lagi, Bu. Saya kan enggak mungkin nguping pembicaraan mereka." Mbok Nah terus memijat kaki Susi.


Apa aku menelpon jeng Rahma sekarang, ya? Tapi jam segini biasanya mas Toni sudah di rumah. Enggak enak juga mengganggu kebersamaan mereka. Pikir Susi.


Ponsel Susi berdering. Susi berpikir itu telpon dari Rahma. Ternyata dari suaminya, Haris.


Haris mengatakan kalau dia lembur, bisa jadi pulangnya tengah malam.


Susi tak bisa berbuat apa-apa. Kalau sudah soal pekerjaan, Haris hampir tak bisa diganggu gugat.


Padahal saat ini Susi sangat butuh teman. Terutama Haris, biar bisa memecahkan masalah ini.


Tapi apa mau dikata, kesepakatan mereka dari awal memiliki anak, Haris bekerja mencari nafkah, sedang Susi dirumah mengurus anak.


Itu berarti Susi harus bisa menyelesaikan masalah ini sendiri dengan baik. Toh, selama ini Haris juga selalu mampu menyelesaikan masalah pekerjaannya dengan baik.


Bahkan Haris mampu membawa ekonomi keluarga mereka melambung. Membahagiakan keluarganya, tak kurang suatu apapun.


Susi jadi malu sendiri. Baru masalah begini saja dia sudah mengeluh dan ingin menuntut waktu dari Haris.

__ADS_1


Tidak! Aku harus bisa menyelesaikan masalah ini. Ini tanggung jawabku.


Susi langsung beranjak berdiri dan berjalan lagi naik ke lantai dua.


Mbok Nah hanya bisa menatap majikan perempuannya itu sambil berdoa semoga semua baik-baik saja.


Meskipun mbok Nah pada dasarnya tak begitu paham, apa yang sedang terjadi sebenarnya.


Mbok Nah kembali ke dapur. Dia mau menyiapkan makan malam.


"Nad. Nadia. Sudah maghrib, lho. Buka pintunya dulu, Sayang. Bangun, tidurnya dilanjut nanti lagi." Kali ini suara Susi lebih tenang tidak teriak-teriak kayak tadi.


Teriak hanya membuat emosinya ikut memuncak. Dan Nadia sepertinya malah kurang nyaman mendengarnya. Meski dia sudah tau kebiasaan Susi.


Susi mengetuk pintu kamar Nadia lagi, pelan.


"Nad....Nadia...."


Susi belum patah semangat membangunkan Nadia.


Lama kelamaan Nadia tak tega juga mendengar suara mamanya yang terus saja memanggilnya.


Dengan langkah pelan, Nadia membuka pintu kamarnya.


Susi menatap wajah anak gadisnya yang sembab. Sepertinya Nadia habis menangis di atas bantal.


Nadia tak menjawab, tapi melangkah balik dan duduk di atas tempat tidurnya.


Susi mengikutinya. Dan duduk di sebelah Nadia.


"Kenapa?" tanya Susi. Lalu meraih kepala Nadia. Nadia menyandarkan kepalanya di bahu Susi.


Nadia tak lagi menangis. Dia sudah puas menangis.


Air matanya serasa sudah kering.


"Kamu mau cerita sama Mama?" tanya Susi perlahan.


"Ma...kenapa Mama mesti memberikan pilihan pada Nadia?" tanya Nadia.


"Pilihan yang mana?" Susi berusaha mengingat-ingat.


"Mama lupa?" tanya Nadia.


"Tentang hubungan kamu dan Surya?"


Nadia mengangguk.

__ADS_1


"Nad. Bukan maksud Mama untuk membebani pikiran kamu. Mama hanya tak ingin hubungan kalian menggantung. Selalu berdalih sahabat. Kalian sudah dewasa. Sudah selayaknya memikirkan mempunyai pasangan hidup. Apalagi kamu. Kamu anak perempuan, Nad. Kamu butuh pasangan yang akan menjagamu," ucap Susi.


"Bukankah selama ini Surya sudah menjaga Nadia, Ma?" tanya Nadia.


"Nad. Mama bisa merasakan kalau Surya menyukaimu lebih dari seorang sahabat. Dan Mama enggak suka kamu seolah memberikan harapan palsu," sahut Susi.


"Harapan palsu apa? Nadia enggak pernah melakukan itu, Ma!" Nadia menegakan kepalanya.


"Kamu enggak pernah merasa, karena kamu terlalu nyaman dengan apa yang Surya lakukan untuk kamu selama ini. Kalau kamu merasa enggak kasih harapan palsu, biarkan Surya mencari pasangannya sendiri," sahut Susi.


Meskipun dalam hati tak rela kalau Surya menjadi milik wanita lain. Susi selalu menganggap Surya adalah paket komplit. Bukan hal yang gampang mendapatkan lelaki sesempurna Surya.


"Nadia tak pernah melarangnya, Ma. Bahkan saat Viona mengejarnya, Nadia selalu mendukung. Suryanya aja yang enggak mau." Nadia memalingkan wajahnya.


Nadia menyesalkan kenapa Surya tak mau menerima cinta Viona. Dan semua ini tak perlu terjadi. Dia tetap bisa bersahabat dengan Surya. Tanpa tuntutan apapun dari mamanya.


"Oke. Sekarang Mama mau tanya, kamu maunya bagaimana?" tanya Susi pada akhirnya.


"Sudah terlambat, Ma. Surya marah dan dia pasti akan menjauhi Nadia," jawab Nadia.


"Kenapa?" tanya Susi lagi.


"Karena Nadia tak memilih bertunangan dengannya. Mama tau kan artinya?"


Susi mengangguk. Dia paham maksudnya. Juga jadi yakin kalau selama ini Surya memang menaruh hati pada Nadia. Hanya Nadianya saja yang enggak peka.


Susi jadi berpikir kenapa anaknya enggak bisa peka? Apa dia belum mempunyai hasrat pada lelaki? Atau....dia mencintai lelaki lain?


"Kamu mencintai lelaki lain?" tanya Susi penasaran.


Nadia hanya diam. Dia ragu untuk mengatakan pada mamanya.


"Nad. Mama enggak akan melarang kamu mencintai lelaki lain. Asal itu baik buat kamu, juga membuatmu bahagia," ucap Susi.


Nadia masih diam.


"Boleh Mama tau siapa lelaki itu?" tanya Susi.


Nadia menatap wajah Susi. Susi menganggukan kepalanya.


"Dewa," jawab Nadia.


Susi mengerutkan dahinya.


"Apa Mama mengenalnya?" tanya Susi lagi. Seingatnya dulu Nadia punya sahabat selain Surya.


Tapi setahunya Dewa pindah dan tak ada lagi kabarnya. Lalu siapa Dewa yang dimaksud oleh Nadia?

__ADS_1


__ADS_2