PERAHU KERTAS (Terjebak Masa Lalu)

PERAHU KERTAS (Terjebak Masa Lalu)
Bab 43 SALING MENGEJAR, SALING MENGHINDAR


__ADS_3

"Sur, aku laper," ucap Nadia di perjalanan.


"Tadi kenapa di sana enggak pesen makan?" tanya Surya.


"Enggak enak, ah. Enggak ada yang pesen makan," jawab Nadia.


"Yaelah, kayak ama siapa aja. Kalau kamu tadi pesen makan, Yogi pasti ikutan. Kamu tau sendiri kan, Yogi itu bagaimana?" sahut Surya.


"Dia enggak mau makan kalau enggak ada yang nemenin makan," jawab Nadia.


"Nah, itu tau!" Surya tetap fokus melihat jalan.


"Aku kan enggak tau kalau Yogi belum makan," ucap Nadia.


"Ya kamu enggak nanya," sahut Surya.


"Iya deh, aku yang salah. Sekarang aku laper. Kamu mau enggak nemenin aku makan?" tanya Nadia yang sudah mulai kesal.


"Mau, tuan putri... Tuan putri mau makan apa dan di mana?" ledek Surya.


Surya selalu begitu. Selalu bisa meredakan ngambeknya Nadia.


Nadia mengerucutkan bibirnya. Tapi terucap juga satu tempat yang tak jauh dari jalan menuju kampusnya.


"Oke, siap laksanakan." Surya langsung berfikir mencari jalan tercepat menuju ke warung steak itu.


"Udah sampai. Mau digendong lagi?" tanya Surya sebelum turun dari mobil.


Rupanya Surya sudah menyiapkan energi untuk menggendong Nadia kemana-mana.


"Enggak ah. Jalan aja," jawab Nadia. Malu juga dilihat orang. Nanti dikiranya dia cacat dan tak bisa jalan sendiri.


"Ya udah. Tunggu sebentar." Surya bergegas turun dari mobil. Dan dengan sigap, memapah Nadia sampai ke dalam warung makan itu.


Setelah mendapat meja dan memesan makanan, Surya membantu Nadia duduk. Semua dilakukan Surya dengan kesabaran ekstra tinggi. Karena jalan Nadia yang masih sangat pelan.


Sepasang mata menatap kebersamaan mereka dengan hati tercabik-cabik. Tapi meskipun sakit, Viona tetap saja menghampiri.


Bukan hanya karena ada Surya, lelaki yang sangat digandrunginya. Tapi juga karena Nadia adalah sahabat baiknya.


"Hay, Nad," sapa Viona.


"Hay, Viona....Apa kabar?" Nadia membuka tangannya. Dan Viona langsung memeluk Nadia setelah meletakan minumannya.


"Aku baik-baik aja, Nad. Kamu gimana? Udah sembuh lukanya?" tanya Viona.


Lalu Viona melepaskan pelukannya dan menatap kaki Nadia.


"Udah lumayan. Tapi aku belum bisa jalan sendiri. Mesti dipapah," jawab Nadia.


Viona melihat ke arah Surya. Surya yang tadi memapah Nadia. Begitu dekat dan erat pelukan Surya.

__ADS_1


Dan Viona melihatnya bukan seperti pelukan seorang sahabat.


"Hay, Sur," sapa Viona.


Viona sudah bisa menebak, Surya pasti tak membalas sapaannya.


Dan benar saja, Surya hanya menyunggingkan sedikit senyumannya. Dan itu sangat membuat hatinya sakit.


"Duduk, Vi. Kamu datang sama siapa?" tanya Nadia mencairkan suasana yang mendadak kaku.


Viona menurut. Dia menarik kursi tepat di depan Nadia. Dia enggan bersikap caper seperti biasanya. Viona ingin Surya memahami perasaannya. Merasakan perubahan Viona yang terlihat menjauh.


Tapi sayang. Bukannya merasakan, Surya malah senang Viona tak lagi agresif seperti biasanya.


"Aku datang sendirian. Kamu kan tau kalau aku JOMBLO!" Viona menekan kata jomblo biar didengar Surya.


Surya yang tidak budeg, mendengarnya. Tapi tak ada reaksi apapun.


Nadia menghela nafasnya. Rupanya sikap cuek Surya pada Viona tidak juga bisa mencair.


"Kamu udah pesen makan, Vi?" Nadia tetap berusaha menetralisir suasana.


"Udah. Tapi belum diantar. Tumben pelayanannya lama benget," jawab Viona.


"Ya mungkin lagi banyak orderan, Vi. Sabar aja. Nanti kita makan bareng-bareng," sahut Nadia.


"Kamu emang sengaja ke sini, Nad?" tanya Viona.


Nadia tak bisa berbohong. Meski bisa menyimpan rahasia. Dan baginya, pertemuan tadi bukan rahasia.


Viona terkejut mendengarnya. Celyn, bukankah nama itu yang membuat dirinya bete sama Surya?


Lalu Yogi, kenapa juga dia ikutan? Bukankah Yogi tidak satu SMA dengan mereka? Atau Yogi juga akan mendekati Celyn?


Bukannya kemarin Surya begitu asik telpon-telponan dengan Celyn? Hingga membuat dirinya cemburu.


Kalau Surya ada hubungan dengan yang namanya Celyn, kenapa juga dia ketemuan mengajak Nadia?


Ah, Viona malah pusing sendiri memikirkannya. Viona yang cerdas, malah mending disuruh mengerjakan soal bertumpuk-tumpuk. Daripada disuruh memikirkan hubungan yang rumit.


Menurut Viona, hubungan Nadia dengan Surya sangat rumit. Kalau dibilang sahabat, tapi kedekatan mereka lebih seperti sepasang kekasih. Dibilang pacaran, Nadia tak mengakuinya.


"Ooh. Kenapa kamu enggak sekalian makan di sana?" tanya Viona. Sama dengan pertanyaan Surya tadi.


"Hahaha. Pertanyaanmu sama persis dengan pertanyaan Surya tadi. Sur, tolong jelasin alasanku. Aku capek ngomongnya," ucap Nadia.


Surya langsung melotot pada Nadia. Males banget suruh ngomong panjang lebar dengan Viona.


"Masa sih?" Viona langsung ge er.


Diam-diam Surya menghubungi Yogi. Surya berfikir, Yogi semangat ikutan makan kalau ada Viona.

__ADS_1


Tapi sayangnya Yogi udah malas menghadapi Viona. Yogi merasa Viona tak bisa menghargainya. Dan Yogi memilih menjauh.


Maaf, Sur. Gue udah enggak minat. Viona atau Celyn, sama aja. Sama-sama songong! Ketik Yogi.


Surya senyum-senyum sendiri membacanya.


"Seneng amat? Lagi chat ama siapa, Sur?" tanya Nadia.


"Yogi." Surya memperlihatkan chatnya dengan Yogi pada Nadia.


Nadia membacanya sekilas. Lalu memandang ke arah Viona.


Kasihan sekali Yogi. Mengejar Viona tapi tak pernah ditanggapi. Mirip Viona yang selalu mengejar Surya. Tak pernah ditanggapi oleh Surya. Tapi Viona sepertinya pantang mundur.


Dan Celyn? Apa Yogi berusaha mengejar Celyn? Nadia pun ikut tersenyum.


Kenapa mereka saling mengejar dan saling menghindar? Lucu juga sih. Yang satu mengejar, yang lain menghindar.


"Vi, apa Yogi aku suruh ke sini aja, ya? Biar formasi kita lengkap," tanya Nadia.


"Eemm....boleh deh, Nad. Coba kamu yang ngubungin," jawab Viona.


Viona pikir, enggak ada salahnya juga manggil Yogi. Biar kalau dilihat orang, dia tidak dikatain jomblo atau jadi obat nyamuk.


Padahal kenyataannya memang dia jomblo dan jadi obat nyamuk bagi Nadia dan Surya.


Nadia menghubungi Yogi. Karena Surya yang dari tadi chat dengan Yogi, enggak mau nyuruh Yogi datang.


Surya malah mengirimkan pesan chat pada Nadia. Karena tak mungkin mengatakan langsung.


Aku enggak mau Yogi jatuh cinta pada wanita yang salah, ketik Surya.


Salahnya Viona apa? Tanya Nadia.


Dia tak pernah bisa melihat ketulusan lelaki. Jawab Surya.


Mungkin belum. Suatu saat nanti, dia pasti akan melihatnya. Sahut Nadia.


Seperti kamu, Nad. Tak pernah bisa melihat ketulusanku. Tapi aku akan terus bersabar, sampai kamu bisa melihatnya. Surya langsung menghapus ketikannya sebelum terkirim.


Kok enggak jadi ngetik? Tanya Nadia.


Surya hanya mengirimkan emot love-love.


Nadia membalas dengan emot orang lagi berfikir.


Surya mengirim lagi emot orang tersenyum lebar.


Dan terus saja mereka saling berbalas emot. Hingga Viona merasa kesal karena diabaikan.


"Nad, mana Yogi?" tanya Viona.

__ADS_1


"Oh iya. Aku lupa. Hehehe."


__ADS_2