
Nadia terpaku menatap foto itu. Tangannya langsung gemetar.
Viona yang melihatnya pun sangat terkejut. Dia lupa kalau memasang fotonya bersama Putra, sebagai gambar di wallpaper ponselnya.
Mati aku!
Mereka sama-sama terdiam. Diam dengan pikirannya masing-masing.
Terutama Viona yang merasa sangat bodoh dan ceroboh.
"Siapa... ini... Vi?" tanya Nadia dengan suara bergetar.
Viona berusaha mengatur nafasnya yang terasa sangat berat. Karena jantungnya berdetak hebat.
"Di...a...Putra. Kekasihku," jawab Viona.
Viona mencoba mengambil ponselnya. Tapi Nadia menjauhkannya.
Nadia menatap kembali foto itu lebih lama.
"Putra?" tanya Nadia. Matanya tak lepas dari wajah lelaki itu.
Viona mengangguk.
"Iya, Nad. Dia Putra. Kekasihku!" jawab Viona mantap.
"Bukan, Vi! Dia bukan Putra. Dia Dewa!" sahut Nadia.
"Dewa Putranto!" ucap Nadia.
Glek!
Viona merasa tenggorokannya tercekat. Lalu dia meraih minumannya.
"Dimana kamu mengenalnya, Vi? Kenapa kamu tak pernah menceritakannya padaku?" tanya Nadia.
"Maaf, Nad. Aku memang tak pernah menceritakannya pada siapapun. Karena kami....Ah. Sudahlah, Nad. Mana ponselku." Viona tak bisa melanjutkan kalimatnya. Dia meminta ponselnya kembali.
"Dia kekasihmu?" tanya Nadia. Matanya tajam menatap Viona.
Viona mengangguk.
"Ya. Bahkan kami sudah bertunangan, Nad," jawab Viona berbohong. Dia tak mau kalau Nadia berniat mengambilnya lagi.
"Bertunangan?" Nadia meraih jemari Viona.
Nadia menatap sebuah cincin kecil yang dipakai Viona.
"Ini?" tanya Nadia sambil mengangkat jemari Viona.
Viona kembali mengangguk.
Mata Nadia langsung berkaca-kaca.
"Dimana sekarang dia?" tanya Nadia.
Viona tak bisa mengelak dari pertanyaan Nadia. Sudah kepalang tanggung.
"Dia bekerja di kapal cargo. Dia seorang pelaut. Aku mengenalnya setengah tahun yang lalu di pelabuhan. Di kota kelahiranku," jawab Viona.
Nadia menghela nafasnya. Dia berusaha menahan air matanya yang hampir tumpah.
Nadia tak bisa menyalahkan Viona. Yang salah adalah dirinya sendiri, karena tak pernah bercerita pada Viona tentang Dewa sebelumnya.
__ADS_1
Nadia meraih tissue. Lalu menghapus air matanya yang mengalir juga.
"Vi. Boleh aku jujur padamu?" tanya Nadia setelah merasa tenang.
Viona mengangguk, meskipun dia sudah tahu apa yang akan dikatakan oleh Nadia.
"Sejak SMA, aku mencintainya. Kami saling mencintai. Tapi kemudian takdir berkata lain. Dia pergi dan tak ada jejaknya lagi."
Nadia mengambil minumannya.
"Aku masih menunggunya, Vi," lanjut Nadia.
Viona membelalakan matanya.
"Mak...Maksud kamu apa, Nad?" tanya Viona tergagap.
"Ya, aku masih menunggunya. Sampai akhirnya, Surya menyadarkanku bahwa penantianku akan sia-sia," ucap Nadia.
Dia kembali meminum jusnya.
"Dan ternyata....dia jadi kekasihmu."
Air mata Nadia kembali mengalir.
Viona pun merasa trenyuh.
"Vi. Boleh aku bertemu dengannya? Sekali saja, Vi. Mungkin untuk yang terakhir kalinya," pinta Nadia.
Viona menghela nafasnya.
"Tapi dia tidak ada di sini, Nad," sahut Viona.
"Dimana dia, Vi?" tanya Nadia.
"Kapan itu?" tanya Nadia antusias.
Nadia benar-benar ingin bertemu dengan Dewa. Bukan untuk mengambilnya dari Viona. Tapi untuk mengobati rasa rindunya.
Nadia sadar, akan ada dua hati yang terluka kalau dia tetap menginginkan Dewa.
Surya dan Viona, pasti akan sangat terluka dan kecewa.
Viona menggeleng.
"Entahlah, Nad. Kami pun baru bertemu lagi, setelah berbulan-bulan," jawab Viona.
"Berbulan-bulan?" tanya Nadia tak percaya.
"Iya. Dia mengikuti jadwal kapalnya bersandar, Nad," jawab Viona.
"Boleh aku menunggunya lagi, Vi?" Nadia merasa dia harus ijin dulu pada Viona. Karena Viona mengaku sebagai tunangannya Dewa.
Viona menatap mata Nadia. Dia takut, kalau Putra akan kembali pada Nadia.
Seperti yang pernah dikatakan oleh Putra, kalau dia sangat menyukai gadis yang sederhana. Dan itu ada pada Nadia.
"Boleh?" pinta Nadia. Nadia menatap Viona penuh permohonan.
"Dia milikku, Nad. Tunanganku," ucap Viona.
"Ya. Aku udah tau, Vi. Aku pun tak akan mengambilnya dari kamu. Karena Dewa pun pastinya tak lagi mencintaiku. Dia sudah melupakanku. Melupakan janjinya padaku," sahut Nadia.
"Dia pernah berjanji padamu?" tanya Viona.
__ADS_1
Nadia mengangguk.
"Sebelum dia pergi, dia janji akan datang padaku dan memenuhi janjianya. Membawaku pergi bersamanya," jawab Nadia.
"Itu juga yang dia janjikan padaku, Nad. Dia berjanji, akan meminangku setelah kontrak kerjanya selesai," ucap Viona.
Nadia mengangguk pasrah. Karena tak ada lagi yang dia harapkan dari Dewa. Dan karena kini ada Surya yang sudah mulai mengisi kekosongan hatinya.
Meski sejujurnya, hati Nadia masih merasa dimiliki oleh Dewa.
"Kamu mempercayainya, Vi?" tanya Nadia.
"Seperti kamu pernah mempercayainya, Nad. Dan aku berharap, dia tak akan pergi menghilang lagi. Seperti dia menghilang dari kehidupanmu," jawab Viona.
"Dan aku pun akan selalu menunggunya," lanjut Viona.
"Kalian sering berhubungan, diluar jadwal kapalnya bersandar?" tanya Nadia.
Pertanyaan yang sulit sekali dijawab oleh Viona. Karena pasti Nadia bakal meminta nomor telpon Putra.
"Ya. Dia akan menghubungiku dengan ponsel temannya. Dia memutuskan tak memiliki ponsel sendiri, selama masa kontraknya," jawab Viona berbohong.
Padahal sebelum kapalnya berlayar kembali, Putra telah membeli sebuah ponsel. Dan kemarin, mereka baru saja video call. Saat kapal Putra bersandar di luar jawa.
"Aneh. Lalu bagaimana dia menghubungi keluarganya?" tanya Nadia tak percaya.
"Entahlah, Nad. Mungkin dengan ponsel temannya juga," jawab Viona.
"Boleh aku meminta nomor telpon temannya itu?" pinta Nadia.
Mati aku!
Viona kembali menghela nafasnya.
"Nanti saja, kalau Putra menghubungiku, aku bilang dulu padanya. Aku tak mau gegabah memberikan nomor telpon orang lain tanpa ijin," sahut Viona.
Aduh...! Jangan sampai Nadia tahu nomor telpon Putra. Bisa selesai semuanya.
"Ya udah, kalau kamu memang tak mau memberitahukannya padaku," ucap Nadia. Dia sangat kecewa pada Viona.
"Nad...!"
"Enggak apa-apa, Vi. Aku tau kok, kamu pasti takut kalau aku akan mengambil Dewa dari kamu. Iya, kan?" tanya Nadia.
"Nad. Tolong pahami aku. Putra sudah menemui kedua orang tuaku. Aku tak mau semuanya jadi berantakan," ucap Viona. Dia sangat memohon pengertian Nadia.
"Aku paham, Vi. Aku cuma...ingin menemuinya. Sekali. Dan itu untuk terakhir kalinya," sahut Nadia.
"Nanti aku kabari kalau kapal Putra bersandar. Kita temui bareng-bareng. Surya juga pasti ingin ketemu. Kalian bersahabat, kan?" tanya Viona.
Nadia mengangguk.
"Tapi, apa Surya mau menemuinya juga?" tanya Nadia. Mungkin pertanyaan itu lebih ditujukan untuk dirinya sendiri.
"Pastinya, Nad. Putra kan juga sahabatnya Surya," jawab Viona.
Nadia mengangguk.
"Ayo kita pulang, Vi," ajak Nadia. Dia sudah tidak mood lagi berada di tempat itu.
Viona pun mengangguk. Lalu berdiri.
Sebelum melangkah, Nadia mengajukan satu permintaan lagi pada Viona.
__ADS_1
"Vi, boleh aku minta satu saja foto Dewa?"