
"Terus, mau kemana kita?" tanya Yogi.
"Nyari tempat tongkrongan aja. Kalau aku pulang sekarang, bakalan ditanya ini itu sama mamaku," jawab Surya.
"Huu....dasar anak mama!" ledek Yogi.
Seperti biasa, Surya mau menoyor kepala Yogi. Tapi Yogi menghindar dengan cepat. Lalu terjadilah kejar mengejar.
Yogi lari sekencang-kencangnya. Surya yang terbiasa joging hampir tiap pagi, tak kesulitan mengejar Yogi.
Begitu ketangkep, Surya langsung mengacak-acak rambut Yogi. Lalu mereka tertawa lepas bersama.
Seperti anak kecil sih. Tapi itulah cara mereka mengekspresikan kebahagiaan. Terutama Surya, yang sudah merasa lebih baik.
"Ke tempat karaoke yuk, Bro," ajak Yogi.
"Memangnya jam segini udah ada buka?" tanya Surya. Dia pikir tempat karaoke bukanya malam hari. Maklum, Surya belum pernah sekalipun menjamah tempat-tempat kayak begitu.
"Banyak. Ayo kita let's go." Yogi yang tak fasih berbahasa inggris, berkata sebisanya.
Yogi merangkul bahu Surya. Dia merasa senang, sahabatnya sudah mulai bisa menikmati dunia sendiri. Bukan dunia seperti yang disukai Nadia.
"Entar di sono, elu bisa teriak sekenceng-kencengnya. Pakai mic. Elu bisa nyanyi, kan?" tanya Yogi.
"Bisa, tapi fals. Hahaha." Surya tertawa lagi.
"Hey! Kalian mau kemana?" teriak Sinta yang melihat mereka jalan menuju tempat parkir.
Surya dan Yogi menoleh. Sinta berlari-lari mengejar mereka.
"Main!" jawab Yogi.
"Ikut dong!" pinta Sinta.
"Jangan!" tolak Surya dengan tegas.
Selama ini Surya menganggap kalau tempat karaoke adalah dunia gemerlap. Yang tak boleh dijamah oleh anak wanita baik-baik seperti Sinta.
"Kenapa?" tanya Sinta penasaran.
"Men only!" jawab Yogi. Lalu dia dan Surya mengambil motornya masing-masing.
"Iih...!" Sinta menghentakan kakinya dengan kesal.
Surya menatap Sinta, lalu menghampiri dengan motornya.
"Pulang, udah siang. Bilang sama mama, aku main ke rumah Yogi," ucap Surya. Dia terpaksa berbohong. Karena mamanya bakal marah, kalau tahu Surya mainnya ke tempat karaoke.
"Tapi Kakak pulangnya jangan malem-malem lagi. Kasihan mama yang nungguin," sahut Sinta.
"Yaelah. Sampai segitunya. Surya udah gede, Cinta." Yogi yang sudah sampai di dekat Sinta ikut menyahut.
__ADS_1
"Iya. Tapi kalau pulangnya kemalaman, kasihan mama," sahut Sinta. Dia tak tega melihat mamanya yang selalu gelisah kalau anak ada yang belum pulang.
"Bilang sama mama kamu, Surya enggak pulang malam, tapi pagi. Hahaha!" Yogi tertawa ngakak sambil menarik gasnya.
"Pulang kamu. Aku janji pulangnya enggak kemalaman," ucap Surya. Lalu menyusul Yogi yang sudah tancap gas.
"Hhmm...!" Sinta mendengus dengan kesal.
Lalu dia mengambil motornya dan pulang. Siang yang cukup terik, membuat Sinta ingin cepat-cepat sampai di rumah.
Sepanjang jalan, Sinta berpikir. Bukankah Surya dan Yogi mestinya ada kelas siang ini? Tapi mengapa mereka malah pergi?
Apa kak Surya membolos? Setahuku kak Surya paling anti membolos. Kak Yogi juga, meski selengekan, tapi kalau masalah kuliah, jarang sekali membolos. Kecuali kesiangan. Batin Sinta.
Lalu mau kemana mereka? Sinta tak yakin kalau mereka mau ke rumah Yogi. Tapi untuk menguntitnya, Sinta tak berani. Karena mereka naik motornya ngebut.
Sinta juga belum paham rumah Yogi. Hanya tahu nama daerahnya saja.
Dan tak mungkin juga Sinta mendatangi rumah Yogi. Bisa ngoceh kakaknya.
Sinta tetap berusaha fokus di jalanan. Hingga akhirnya Sinta sampai di rumah.
"Siang, Ma." Sinta mengecup pipi Rahma yang sedang asik merajut.
"Eh, anak gadis Mama udah pulang." Rahma menghentikan kegiatannya.
"Merajut apa, Ma?" tanya Sinta. Biasanya Rahma membuatkan rajutan untuk anggota keluarganya.
Sinta mendekati Rahma, lalu memperhatikannya. Dia suka sekali dengan hasil rajutan Rahma yang sangat rapi.
"Warna benangnya bagus. Kalau udah jadi topinya, boleh buat Sinta?" tanya Sinta.
"Boleh dong. Nanti kamu cobain dulu. Kalau ada yang kurang nyaman, bisa Mama perbaiki ," jawab Rahma.
"Oke, Ma. Makasih, ya." Sinta mengecup lagi pipi Rahma.
"Iya, Sayang." Rahma menepuk pipi Sinta yang duduk di sampingnya dengan lembut. Lalu melanjutkan lagi rajutannya.
"Ma, tadi Sinta ketemu kak Surya di kampus. Kakak kayaknya bahagia banget. Tadi kakak lagi sama kak Yogi," cerita Sinta.
Tapi Sinta tak mengatakan kalau mereka mau main ke rumah Yogi. Karena Sinta tahu kalau mamanya hafal semua jadwal kuliah anak-anaknya.
Rahma menghentikan rajutannya sejenak.
"Ya semoga, kakakmu bisa cepat melupakan Nadia," sahut Rahma.
Rahma pun ikut senang kalau Surya sudah kembali bersemangat. Meski dalam hatinya kecewa. Karena Nadia menolak cinta Surya.
Hubungan dua keluarga itu sudah sangat dekat. Rahma dan Susi sudah sangat bersemangat untuk besanan.
Tapi apa mau dikata? Nadia memilih lelaki lain. Lelaki yang sudah tak ada kabarnya lagi.
__ADS_1
Meskipun gemas pada Nadia, tapi jujur dalam hatinya, Rahma merasa kasihan pada Nadia.
Nadia telah dijebak oleh kenangan masa lalunya. Dan Nadia belum bisa menemukan jalan untuk pulang. Pulang pada kehidupan nyata. Pada masa depannya.
Sejak kemarin, Rahma pun belum menghubungi Susi lagi. Bukannya malas, tapi Rahma ingin cooling down dulu.
Rahma akan memberikan waktu untuk Susi juga Nadia untuk bisa lebih menghargai perasaan Surya. Karena biasanya, orang akan merasa kehilangan saat sudah jauh.
"Iya, Ma. Sinta juga kasihan sama kak Surya. Apa sih kurangnya kak Surya?" tanya Sinta dengan kesal.
"Hush...! Enggak boleh bilang begitu. Setiap orang kan punya selera sendiri-sendiri. Mungkin Surya bukan typenya Nadia," jawab Rahma mencoba tak menyalahkan Nadia.
"Hhmm. Memangnya kayak apa sih seleranya kak Nadia?" Sinta terlihat kesal.
"Ya enggak tau. Kok nanya Mama," sahut Rahma sambil terkekeh. Mencoba menyembunyikan rasa kecewanya.
"Sebentar, Ma." Sinta lari masuk ke kamarnya.
Rahma menatap Sinta dengan heran. Mau apa Sinta lari ke kamarnya?
Sinta mengamb kertas yang pernah dia temukan di kamar Surya. Kertas itu masih disimpannya baik-baik.
Sinta kembali ke ruang tengah.
"Nih. Mama baca deh." Sinta menyerahkan kertas itu.
Rahma langsung membacanya.
"Dari mana kamu dapatkan kertas ini?" tanya Rahma. Dia sudah bisa menebak kalau tulisan di kertas itu adalah tulisan tangan Nadia.
"Di kamar kak Surya," jawab Sinta.
"Kamu mengambilnya?" tanya Rahma. Dia terlihat tidak suka kalau Sinta mengambil barang pribadi orang lain.
"Sinta nemu di dekat keranjang sampah kok, Ma. Pas Sinta masuk ke kamar kakak," sahut Sinta.
Sinta pun tahu kalau tak baik mengambil barang pribadi orang lain, meskipun itu milik kakaknya sendiri.
"Kakakmu tau, kalau kamu mengambilnya?" Rahma khawatir kalau sampai Surya marah pada Sinta.
"Kayaknya enggak, Ma. Kayaknya juga, kakak memang sengaja membuangnya," jawab Sinta.
"Ya udah. Kita kan udah tau permasalahannya. Kamu buang aja kertas ini. Jangan sampai kakakmu tau, kalau kamu mengambilnya." Rahma memberikan kertas itu pada Sinta.
"Iya, Ma," sahut Sinta.
"Hancurkan dulu sebelum membuangnya. Dan pastikan tak ada orang lain yang membacanya lagi."
Sinta mengangguk dan menyobek-nyobek kertas itu sebelum membuangnya.
Kak Surya harus bisa move on dari kak Nadia. Untuk apa mengharapkan orang yang tak pernah mengharapkan kita. Batin Sinta.
__ADS_1