
Setelah membayar semuanya, Surya keluar mencari Yogi.
Surya sudah hafal dimana Yogi menghisap rokoknya. Di samping bangunan kantin, ada ruang terbuka yang sering dimanfaatkan mahasiswa dan mahasiswi merokok.
"Mana Sinta?" tanya Yogi.
Yogi merasa kasihan juga kalau Sinta ditinggal sendirian.
"Udah balik ke kelasnya." Surya meraih bungkus rokok Yogi. Dan menyalakannya sebatang.
"Lu kenapa sih, Bro?" tanya Yogi. Dia kasihan juga pada Surya yang terlihat sedang tidak baik-baik saja.
"Seperti yang aku ceritakan semalam," jawab Surya.
"Jangan jadikan masalah itu ngerusak hidup lu, Bro. Itu bukan masalah besar. Dibawa enjoy aja," sahut Yogi.
Surya hanya diam. Dia hempaskan asap rokoknya ke atas.
"Coba pelan-pelan lu bicarain ke keluarga. Sinta mungkin orang pertama yang elu ajak bicara. Dia juga kan udah dewasa. Minimal dia enggak akan syok kalau tiba-tiba elu enggak jalan lagi sama Nadia," ucap Yogi.
"Iya. Entar pulang kuliah. Aku udah janjian sama Sinta," sahut Surya.
"Ternyata kita sehati juga." Yogi tersenyum sekilas.
Surya kembali diam. Meski Yogi selengekan, tapi kadang otaknya bisa juga diandalkan.
"Nah, kalau keluarga elu udah diajak bicara, elu juga mesti bicara dengan Nadia. Elu pastiin, mau dibawa kemana hubungan kalian," lanjut Yogi.
"Iya. Aku juga mau masalah ini cepet kelar. Sebentar lagi kan kita KKN. Aku enggak mau masalah ini mengganggu KKN-ku," sahut Surya.
"Gitu dong. Semangat, Surya. Kadang hidup harus kejam juga meski pada orang yang sangat kita cintai. Mesti harus ada yang dikorbankan. Jangan elu terus yang berkorban," ucap Yogi.
"Sekali-kali Nadia juga perlu dikasih pelajaran. Biar dia mikir. Enggak keenakan."
"Keenakan gimana?" tanya Surya.
"Dia manfaatin elu. Sementara hatinya buat orang lain. Itu enggak adil buat elu, Bro. Elu juga harus bisa bersikap adil pada hati. Kasihan hati elu. Kalau bisa protes, pasti akan protes karena elu mendzoliminya terus," jawab Yogi.
Iya. Aku terlalu lama membiarkan hatiku terluka. Menanti sesuatu yang tak akan ada hasilnya. Ah, bodoh sekali aku ini. Surya merutuki kebodohannya.
Yogi meraih tangan Surya. Tadinya Surya berpikir Yogi akan menggenggam tangannya untuk menguatkan, kayak di sinetron-sinetron.
Ternyata Surya salah mengira. Yogi melihat jam di pergelangan tangan Surya. Karena Yogi hampir tak pernah memakai jam tangan.
Menurut Yogi, jam tangan hanya membelenggunya. Kemana-mana harus melihat dan malah jadi buru-buru.
Setelah melihatnya, Yogi menepis tangan Surya.
"Sepuluh menit lagi. Ayo buruan. Gue udah gatel pingin ikut mata kuliah, nih," ucap Yogi menyebalkan. Seolah-olah dia mahasiswa teladan yang bisa sakit panas kalau membolos sehari.
__ADS_1
Surya berdecak sebal. Terus berdiri dan berjalan mengikuti langkah Yogi.
Keadaan yang terbalik. Karena biasanya Yogi yang mengikuti Surya kalau mau masuk kelas.
"Tumben kamu rajin, Yog. Biasanya males-malesan kalau kuliah," komentar Surya.
"Namanya juga lagi cari muka di depan calon kakak ipar. Hahaha. Uhuy...!"
Surya menoyor kepala Yogi dari belakang.
"Emangnya muka kamu ilang dimana? Pake dicariin?" gumam Surya dengan kesal. Karena Yogi seperti sedang mengincar Sinta.
"Di tempat sampah! Noh....!" Yogi menarik lengan Surya biar menghadap ke tempat sampah, sambil tangannya menunjuk ke sana.
"Pantesan ada tahi lalat di atas bibirmu. Mukanya boleh ngambil di tempat sampah," sahut Surya.
"Anjiir....! Lu pikir muka gue septik tank-nya laler?"
Mereka sampai di depan kelas.
"Silakan calon kakak ipar, masuk duluan." Yogi meledek Surya.
Surya melotot, lalu masuk ke dalam kelas. Karena kesal, Surya sengaja mencari kursi di barisan paling depan. Biar Yogi tak duduk di dekatnya.
Tapi rupanya Surya salah. Yogi duduk di sebelah Surya.
Surya melengos dengan kesal. Yogi ngakak. Dan langsung berhenti saat dosen masuk kelas.
Dosen itu menatap wajah Yogi. Yogi hanya nyengir sambil mengangguk.
"Sukurin. Omelin aja tuh. Berisik," gumam Surya.
Yogi cuma melirik Surya dengan kesal. Karena tidak bisa membalas.
Sementara tadi pagi di rumah Nadia. Susi baru saja menerima telpon dari Rahma.
Rahma membahas soal kedekatan kedua anak mereka. Susi menanggapinya dengan gembira. Karena Susi dan Haris pun punya keinginan yang sama. Ingin Nadia dan Surya bersatu.
Lalu Rahma mengundang mereka untuk makan malam di rumahnya. Untuk membicarakan lebih lanjut.
Susi menyetujui.
"Malam minggu aja ya, Jeng? Kalau hari biasa, papanya Nadia sering pulang malam," jawab Susi.
"Iya, boleh. Yang senggang aja. Biar enak bicaranya. Enggak buru-buru," sahut Rahma. Lalu pamit dan menutup telponnya.
"Telpon dari siapa, Ma? Kayaknya seneng banget," tanya Nadia yang baru turun dari kamarnya.
"Sini duduk." Susi menepuk tempat di sisinya.
__ADS_1
Nadia pun menurut. Duduk di sebelah Susi.
"Ada apa, Ma?" tanya Nadia.
"Itu tadi telpon dari mamanya Surya," jawab Susi memulai pembicaraannya.
"Ooh." Nadia mengangguk. Baginya sudah biasa, karena mamanya dan mamanya Surya memang akrab.
"Jeng Rahma mengundang kita makan malam. Malam minggu besok," ucap Susi.
Nadia masih manggut-manggut. Sudah lama juga dia enggak main ke sana.
"Kamu mau tau kita nanti mau membahas soal apa?" tanya Susi.
"Soal apa memangnya, Ma?" Nadia balik bertanya.
Tadinya Nadia berpikir, mereka akan membahas soal liburan bersama. Seperti saat Nadia dan Surya masih kecil.
"Soal kalian," jawab Susi.
"Maksudnya?" Nadia belum paham.
"Kamu dan Surya," jawab Susi lagi.
"Memangnya kenapa dengan Nadia dan Surya, Ma?" Nadia malah bingung. Karena menurutnya hubungan mereka baik-baik saja.
Enggak pernah ada pertikaian. Paling cuma ngambek-ngambekan aja. Kalau enggak dia ya Surya yang ngambek.
Dan mereka akan berbaikan lagi setelah seharian enggak ketemu.
"Nad. Hubungan kalian, kamu dan Surya, harus ada kejelasan. Nah, kami nanti akan membahas soal itu...."
"Sebentar....sebentar." Nadia memotong pembicaraan Susi.
"Ma. Hubungan Nadia dengan Surya sudah sangat jelas. Kami sahabat sejati. Bukannya Mama udah tau, itu?"
"Nad. Kalian sudah sama-sama dewasa. Enggak baik terlalu dekat dengan alasan bersahabat. Kalau memang maunya dekat ya harus ada ikatan. Bukan sahabat sejati atau apalah," sahut Susi.
"Tapi, Ma...."
"Enggak ada tapi-tapian. Kamu sudah dewasa. Harus bisa ambli keputusan. Sekarang pilih terus dekat dengan Surya dan kamu diikat dengan pertunangan, atau lepaskan Surya!" sergah Susi dengan tegas.
"Ma....!" Suara Nadia serasa tercekat di tenggorokan.
"Mama tunggu sebelum malam minggu. Jangan bikin malu Mama!" Susi berdiri dan meninggalkan Nadia yang masih mematung.
Aduh....kenapa jadi begini sih? Nadia memegangi kepalanya yang tiba-tiba pusing.
Lalu perlahan naik kembali ke kamarnya dan mengirimkan pesan pada Surya, biar Surya ke rumahnya setelah pulang kuliah.
__ADS_1