PERAHU KERTAS (Terjebak Masa Lalu)

PERAHU KERTAS (Terjebak Masa Lalu)
Bab 111 CEMBURU BUTA


__ADS_3

Viona tak menggubris panggilan Nadia. Dia terus saja berlari menjauh.


Nadia berniat mengejarnya. Tapi langkah Nadia dijegal Surya. Dia langsung menangkap tangan Nadia.


Beberapa mahasiswa yang melihatnya, merasa heran. Tapi mereka tak mau tahu urusan orang lain.


Kecuali Santi. Mahasiswi lambe turah yang sering kepo dengan urusan orang lain.


Sebab nanti beritanya akan dia olah dengan baik, dan bisa menjadi trending topic di kalangan mereka sendiri.


"Woy! Masalah rumah tangga diselesaikan di rumah aja, ya?" ledek Santi.


"Apaan sih!" sahut Nadia dengan kesal.


Nadia paling tak suka urusannya ada yang ikut campur.


"Cuma ngingetin aja, Bu! Dan inget juga, jangan ada KDRT. Masa baru rujuk udah ribut lagi? Hahaha." Santi tertawa ngakak.


Lalu dengan santainya, Santi duduk kembali. Padahal hari ini kuliah udah selesai. Dan semua mahasiswa udah pulang.


Surya menarik tangan Nadia untuk menjauh dari si mulut comel. Nadia terpaksa menurut, dari pada dia malah kesal pada Santi yang sebenarnya tak tahu masalah sebenarnya.


Surya mengajak Nadia pulang.


"Aku enggak mau pulang!" ucap Nadia setelah mereka hampir sampai di parkiran motor.


"Memangnya kamu mau kemana?" tanya Surya.


"Aku mau nyariin Viona!" jawab Nadia dengan ketus.


Surya yang sebenarnya juga tak tahu apa-apa, jadi bingung sendiri. Tapi dia menuruti juga kemauan Nadia.


"Mau ngapain sih?" tanya Surya tanpa merasa bersalah.


"Ada yang mau aku tanyakan sama dia. Juga sama kamu!" jawab Nadia.


"Aku?" Surya menunjuk dirinya sendiri.


"Iya! Kalian berdua!" jawab Nadia dengan ketus.


Surya tercekat.


Surya pun mempunyai pikiran yang sama dengan Viona. Apa Nadia sudah tahu tentang Dewa? Tapi siapa yang memberitahukannya?


"Aku dan Viona?" tany Surya lagi.


Nadia mengangguk dengan kesal. Tak disangkanya ternyata Surya ada hubungan dengan Viona.


Lalu kalau memang begitu, kenapa Surya menyatakan perasaan padanya? Apa Surya akan membalas dendam padanya, karena Nadia pernah menolak Surya?


Surya menghela nafasnya.


"Oke. Karena Vionanya enggak ada, kamu nanya saja sama aku. Kamu mau nanya apa?" tanya Surya.

__ADS_1


Surya berpikir, lebih baik Nadia bertanya padanya saja. Dan dia bisa menjawabnya dengan baik.


Jangan sampai Nadia bertanya pada Viona. Takutnya Viona keceplosan dan salah jawab. Selesai sudah semuanya!


Surya tetap melangkah ke parkiran motornya. Nadia menyusulnya dan menarik tangan Surya.


"Kenapa kamu malah mau pulang? Mau menghindar?" tanya Nadia.


"Jam segini di kantin rame. Lagi pula Santi sering nongkrong juga di sana? Kamu mau kalau jadi sumber gosip?" tanya Surya.


Nadia menggeleng.


"Makanya! Tunggu di sini. Aku ambil motor dulu. Kita cari tempat lain," ucap Surya.


Nadia mengangguk pasrah. Dia menunggu Surya di tempat yang teduh.


Tak lama, Surya datang dengan motornya.


"Ayo naik," ucap Surya.


Nadia naik di belakang Surya. Tapi tak seperti sebelumnya, Nadia memberi jarak. Di tengahnya dia batasi dengan tas.


Surya kembali menghela nafasnya.


Ah! Apa ini akan jadi saat terakhir lagi dengan Nadia? Begitu cepatnya kabar tentang Dewa sampai ke telinga Nadia. Siapa yang membongkarnya?


Sepanjang jalan, Surya hanya memikirkan itu. Hingga tak sengaja dia menyenggol motor seorang ibu-ibu. Hingga ibu itu jatuh dari motornya.


Surya segera menghentikan motor dan menghampiri ibu yang disenggolnya itu.


"Heh! Punya mata enggak sih, lu!" bentak si ibu yang jatuh bersama motornya.


"Maaf, Bu. Maaf. Saya enggak sengaja." Surya buru-buru menolong si ibu itu bangun dan mendirikan motor si ibu itu.


"Maaf, maaf. Aku udah jatuh baru bilang maaf! Makanya jangan pacaran terus!" omel si ibu itu.


Surya hanya bisa menghela nafasnya. Mau menjawab juga percuma. Kalau melawan emak-emak, dia mending mengalah.


Si ibu kembali menaiki motornya. Lalu pergi begitu saja.


Padahal Surya sudah siap kalau disuruh bertanggung jawab. Bagaimana pun ini kesalahannya.


Walaupun tadi dilihatnya, si ibu itu baik-baik saja. Karena Surya hanya menyenggolnya sedikit.


Tapi mungkin karena si ibu itu juga lagi enggak fokus, jadi langsung jatuh.


Surya kembali ke motornya. Nadia masih berdiri di dekat motor dengan muka ditekuk.


"Makanya fokus! Jangan mikirin wanita lain!" ucap Nadia dengan ketus.


Surya yang akan naik ke motor, langsung menatap wajah Nadia.


Wanita lain? Siapa? Surya malah jadi bingung sendiri. Apa yang bikin Nadia marah?

__ADS_1


"Udah naik!" ucap Nadia lagi masih dengan nada ketus.


Surya pun menurut, meski di kepalanya banyak sekali pertanyaan untuk Nadia.


Nadia pun ikut naik di belakang Surya. Dan masih seperti tadi, Nadia membatasi dengan tasnya.


Surya membelokan motornya ke sebuah cafe kecil yang terlihat masih sepi.


Setelah memesan minuman, Surya dan Nadia mencari meja yang paling pojok.


Surya menatap wajah Nadia dengan tajam. Nadia pun tak kalah tajamnya menatap Surya.


Mereka masih saling pandang sampai minumannya datang.


Surya menyedot minumannya untuk mendinginkan otaknya.


"Ada apa?" tanya Surya.


"Aku yang mestinya nanya sama kamu, ada apa!" sahut Nadia dengan ketus.


"Maksud kamu apaan sih?" Surya semakin tak mengerti.


"Jangan pura-pura enggak tau deh!" sahut Nadia.


"Lho, aku memang beneran enggak tau. Kamu kenapa?" tanya Surya. Dia berusaha bersikap tenang.


"Ada hubungan apa kamu dengan Viona?" tanya Nadia. Tangannya dia lipat di depan dada.


"Aku dengan Viona?" tanya Surya.


"Enggak usah pura-pura bego deh. Aku tadi lagi lihat dengan mata kepala sendiri!" jawab Nadia masih pada mode marah.


Surya berusaha mengingat-ingat kejadian pagi tadi. Dia mencoba flash back lagi. Tapi menurutnya tak ada yang salah dengan tadi pagi.


"Nad. Tolong kamu ngomong yang jelas. Biar akunya enggak bingung. Tadi pagi yang mana? Tadi pagi kan aku mengantarmu ke kelas. Ada yang salah?" tanya Surya.


"Dan setelah itu?" Nadia ingin Surya mengakuinya sendiri. Tanpa harus dia yang mengatakannya.


"Setelah itu aku langsung masuk ke kelasku. Kalau kamu enggak percaya, silakan tanyakan ke Yogi," jawab Surya.


"Enggak usah bawa-bawa Yogi! Ini kejadian sebelum kamu ketemu Yogi!" sahut Nadia.


Surya kembali berpikir keras. Apa yang dilakukannya sebelum ketemu Yogi? Atau sebelum masuk ke kelasnya?


Dia hanya ngobrol sebentar dengan Viona. Apa itu yang jadi masalah bagi Nadia?


"Aku ngobrol sebentar dengan Viona," jawab Surya tanpa merasa bersalah. Karena memang Surya merasa tak ada yang salah.


Surya hanya meminta Viona menyimpan rahasia tentang Putra. Atau Nadia mendengar pembicaraannya dengan Viona?


"Bagus! Sejak kapan kamu begitu akrab dengan Viona?" tanya Nadia dengan tatapan marah.


"Akrab dengan Viona? Aku cuma menyapanya saja," jawab Surya. Meskipun ada pembicaraan lain yang tak mungkin disampaikan pada Nadia.

__ADS_1


"Bohong! Kalian ada hubungan, kan?"


__ADS_2