
"Nadia....!" ucap Sinta tak percaya.
Nadia mengangguk sambil tersenyum. Lalu menyalami tangan Rahma dan Toni.
"Hay, Yog. Apa kabar?" sapa Nadia.
"Baik. Kamu sendiri, apa kabar? Ilang-ilangan mulu, kayak signal di puncak," sahut Yogi.
Sinta menyenggol lengan Yogi.
"Emm...Iya. Lagi...banyak tugas kampus," sahut Nadia gelagapan.
"Aku bangunin kak Surya, ya?" Sinta langsung balik kanan. Dia tak mau Yogi berlama-lama nyindir Nadia. Mereka juga butuh pergi ke kampus.
Nadia mengangguk.
"Nad, Tante pergi dulu, ya. Mau ke kantornya Om," ucap Rahma dengan ramah.
Sebenarnya Rahma tak ingin berbasa basi pada Nadia. Dia sangat kesal pada sikap Nadia yang plin plan.
Kasihan Surya yang jadi korbannya. Sudah dua kali Surya terpuruk akibat sifat plin plan Nadia.
Tapi Rahma lebih melihat hubungan baiknya dengan kedua orang tua Nadia. Apalagi mereka juga bertetangga.
Akan sangat tak nyaman kalau bermusuhan dengan tetangga. Jadi Rahma berusaha bersikap biasa.
Sebenarnya Rahma ingin sekali memaki-maki Nadia bahkan mengusirnya. Jujur Rahma tak mau lagi Nadia mendekati Surya.
Toni pun berusaha bersikap biasa, meski dia tak bicara apapun. Toni memilih diam, daripada nanti salah omong.
"Iya, Tante. Silakan," sahut Nadia dengan sopan.
Rahma menarik tangan Toni dan bergegas masuk ke mobil.
Yogi masih diam di tempatnya. Hatinya sangat kesal pada Nadia. Dia hanya menatap Nadia dari atas ke bawah.
Hh! Tak ada yang istimewa. Tapi kenapa Surya begitu menggilainya? Atau memang Surya sudah gila? Batin Yogi.
"Kak. Bangun. Dicari kak Nadia, tuh. Di depan." Sinta mengguncang lengan Surya.
"Hah!" Surya langsung beranjak bangun.
"Hhmm. Denger kata kak Nadia aja, langsung deh melek! Tuh, orangnya di depan. Aku mau berangkat kuliah!" ucap Sinta dengan kesal.
Sinta segera balik badan.
"Eh, sebentar. Suruh Nadia masuk dulu. Aku mau mandi!" seru Surya.
"Suruh aja sendiri!" sahut Sinta. Lalu langsung pergi.
"Ish! Nyebelin!" gumam Surya.
Surya mengucak mata dan menggeliatkan badannya. Lalu mengikuti Sinta keluar.
"Masuk dulu, Kak. Kak Suryanya baru bangun. Kita mau ke kampus dulu," ucap Sinta. Lalu menarik tangan Yogi.
"Nad. Nitip Surya. Jangan disakiti lagi!" ucap Yogi dengan ketus.
Nadia hanya diam. Dia belum merasa bersalah. Karena Nadia merasa tak mengatakan apapun pada Surya.
Lalu Nadia melangkah masuk. Dan duduk di ruang tamu.
__ADS_1
Sinta kembali menyenggol lengan Yogi.
"Biarin aja! Kamu seneng ya kalau kakakmu terluka terus?" Yogi terlihat sangat kesal.
"Ya enggaklah. Tapi jangan begitu juga," jawab Sinta.
Lalu mereka masuk ke mobil. Hari ini tumben-tumbenan Yogi bawa mobil.
"Hay, Nad. Aku mandi dulu, ya," ucap Surya. Dia baru akan sampai ke ruang tamu. Nadia baru saja masuk.
"Hay, Sur. Iya," sahut Nadia. Lalu dia duduk menunggu.
Surya buru-buru masuk ke kamar mandi.
Aduh, kenapa aku enggak mandi dari tadi sih? Kayak gini malah jadi buru-buru. Gumam Surya dalam hati.
Sepanjang perjalanan ke kampus, Yogi terus saja mengomel.
"Udah sih, A'. Jangan ngomel-ngomel terus. Kita lihat aja endingnya," ucap Sinta.
Sinta sebenarnya juga kesal pada Nadia. Yang suka seenaknya saja datang dan pergi dari kehidupan Surya.
"Endingnya? Lalu Surya terpuruk lagi?" tanya Yogi.
"Ya enggak juga, Kak," jawab Sinta.
"Makanya aku tadi ngomong gitu. Kamu enggak tau sih, gimana kelakuan kakakmu itu, kalau lagi terpuruk," ucap Yogi.
"Gimana mau tau, kalau Aa enggak pernah cerita," sahut Sinta.
Hhmm. Yogi menghela nafasnya.
Kalau aku cerita, bisa-bisa Sinta pingsan saat ini juga. Apalagi kalau Sinta sampai bilang ke mamanya. Makin panjang urusannya. Batin Yogi.
"Dasar sama-sama plin plan!" gumam Yogi.
Sinta hanya melirik sekilas. Dia tahu kalau Yogi sedang sangat kesal pada Nadia juga kakaknya.
Surya buru-buru masuk ke kamarnya setelah mandi dan langsung berganti pakaian.
"Hay, Nad. Kamu mau ke kampus?" tanya Surya.
Nadia menggeleng.
"Terus mau kemana?" tanya Surya.
Nadia sudah terlihat rapi, meski dengan pakaian lebih santai. Nadia mengenakan rok terusan pendek yang dibelinya bersama Viona beberapa waktu yang lalu.
Nadia menghela nafasnya.
"Aku...mau kamu mengantarkanku," jawab Nadia.
"Kemana?" tanya Surya lagi.
"Ke kampung halamannya Viona!" jawab Nadia.
Degh!
Surya terkesiap mendengarnya.
"Mau....ngapain?" tanya Surya.
__ADS_1
Nadia kembali menghela nafasnya.
"Semalam aku, melihat status whatsapp Viona. Dia otewe ke kampung halamannya," jawab Nadia.
"Terus, kamu mau ngapain?" tanya Surya lagi.
"Aku yakin dia akan menemui Dewa di sana. Kapal tempat kerja Dewa pasti sedang bersandar!" jawab Nadia.
"Jangan gila kamu, Nadia! Kalau pun kapalnya bersandar, bukan berarti kamu bisa menemuinya," sahut Surya.
"Kenapa enggak? Aku juga punya hak ketemu dengan Dewa!"
"Nad. Sebaiknya kamu jangan mengganggu hubungan Viona dengan Dewa!" seru Surya saking kesalnya.
"Aku enggak akan mengganggu! Aku hanya ingin ketemu Dewa. Aku ingin mendengar penjelasannya, kenapa dia tak pernah mencariku!" sahut Nadia.
"Karena dia tak pernah benar-benar mencintai kamu, Nadia!" bentak Surya.
"Jaga omongan kamu, Surya! Aku yakin, ada yang enggak beres. Makanya Dewa tak pernah mau mencariku. Dewa tau dimana aku tinggal. Minimal dia mencari kamu!" sahut Nadia.
"Mungkin juga dia tak pernah menganggap persahabatan kita!" ucap Surya masih dengan suara kencang.
"Enggak! Ini sebuah kesalahpahaman. Aku yakin itu!" Nadia tetap kekeh.
Surya mengacak rambutnya dengan kesal.
"Oke. Kalau kamu enggak mau mengantarkan aku, enggak apa-apa. Aku bisa mencarinya sendiri!" Nadia beranjak berdiri.
Surya langsung menangkap tangan Nadia. Dan mencengkeramnya dengan kuat.
"Mau kemana kamu?" tanya Surya dengan suara keras.
"Lepaskan!" Nadia berusaha menepis tangan Surya.
"Enggak!" seru Surya. Dia malah semakin mencengkeram tangan Nadia.
"Surya, lepaskan! Aku mau mencari Dewa!" Nadia terus berusaha melepaskan diri.
Mencari Dewa? Dan kamu akan kembali ke pelukannya? Tidak! Kamu tak boleh dimiliki lagi oleh Dewa! Kamu milikku, Nadia! Milikku! Gumam Surya dalam hati.
Surya menarik tangan Nadia dan membawanya ke kamar.
"Surya, lepaskan! Atau aku akan berteriak!" ancam Nadia.
"Silakan berteriak!" sahut Surya. Lalu menutup dan mengunci pintu kamarnya.
"Kamu mau apa, Surya!" seru Nadia.
Aku mau membuatmu jadi milikku selamanya, Nadia. Kalau kamu tak mau aku miliki dengan cara baik-baik, mungkin dengan cara ini yang kamu mau. Gumam Surya dalam hati.
Surya terus menarik tangan Nadia, dan menghempaskannya di atas tempat tidur.
"Surya, kamu mau ngapain?" tanya Nadia.
Surya sudah menindih tubuhnya. Menahan kedua tangannya, lalu mulai mencumbuinya dengan brutal.
Nadia berusaha mengelak. Tapi tubuhnya tak bisa bergerak.
Surya terus saja mencumbuinya.
Nadia hanya bisa menggeliat kesana kemari. Tubuhnya terlalu kecil dibawah kungkungan tubuh Surya.
__ADS_1
Surya yang sudah kalap, membuka celananya sendiri lalu menariknya ke bawah.
"Surya, kamu mau ngapain?"