PERAHU KERTAS (Terjebak Masa Lalu)

PERAHU KERTAS (Terjebak Masa Lalu)
Bab 194 PASANGAN JADI-JADIAN


__ADS_3

Setelah Viona selesai mandi, Surya pun numpang mandi sebelum pulang ke rumahnya.


"Vi. Ikut ke rumah yuk," ajak Surya setelah selesai mandi.


"Mau ngapain? Aku malu," jawab Viona. Viona tahu saat ini di rumah Surya lagi pada sibuk menyiapkan acara pernikahan Sinta dan Yogi.


"Malu sama siapa?" tanya Surya.


"Sama keluarga kamu," jawab Viona.


"Kok malu? Katanya mau nikah sama aku. Enggak boleh malu, dong," ucap Surya.


Viona terdiam. Dia belum siap ketemu dengan keluarga Surya. Meskipun tadi dia bilang Surya harus bertanggung jawab padanya.


"Ayolah. Nanti kamu bisa kenalan sama eyangku juga. Biar sekalian minta restu pada mereka," lanjut Surya.


"Apa mereka mau menerimaku?" Viona merasa ragu. Viona sadar, dia berasal dari keluarga biasa. Beda dengan Surya yang berasal dari keuarga kaya dan terpandang.


Viona tak seperti Nadia yang juga berasal dari keluarga kaya raya. Dan keluarga Surya sudah mengenalnya dengan baik.


"Memangnya apa alasan mereka tidak menerima kamu?" tanya Surya heran.


"Keluargaku kan bukan orang terpandang seperti keluarga kamu, Surya," jawab Viona.


"Aduh, Viona....Memangnya harus dari keluarga terpandang kalau mau menikah denganku? Dan yang mau menikah itu kan aku dan kamu. Bukan keluarga kita," sahut Surya.


Setahu Surya, keluarganya tak pernah memandang kekayaan. Atau silau dengan harta.


Kalau Sinta mendapatkan Yogi yang anak orang kaya, itu hanya kebetulan saja. Bukan karena keharusan.


"Udah, ayo buruan. Nanti kalau ditanya semalam aku tidur dimana, bilang aja enggak tau. Biar aku yang jawab," ucap Surya.


Viona masih diam.


"Ganti baju kamu. Apa kamu mau ke rumahku begitu aja?" ledek Surya. Viona hanya mengenakan celana pendek dan kaos buntung.


Viona beranjak dan membuka lemarinya.


"Pakai baju yang sopan, biar keluargaku terkesan padamu," ucap Surya.


Viona mengangguk.


Viona malah bingung mencari baju mana yang akan dipakainya. Meskipun hampir semua pakaian Viona sopan.


Surya menatap Viona dari belakang. Seksi sekali. Hot pants yang dipakai Viona benar-benar menggugah lagi hasratnya.


Hhh! Surya membuang pikiran kotornya. Sekarang bukan saatnya dia mengumbar lagi hasrat kelelakiannya.


Viona mengambil satu stel pakaian yang jarang dipakainya. Biasanya hanya dia kenakan kalau mau ketemu dosen atau acara-acara formal lainnya.


"Ini?" Viona menunjukan pakiannya pada Surya.


Tiba-tiba Surya ingat saat Viona mengenakan setelan itu. Dulu, waktu Yogi masih mengejar-ngejar Viona.


Surya berkomentar, pakaian Viona kayak guru TK. Dan Yogi langsung ngomel-ngomel.


"Yang lain ada?" Surya tak mau nanti kalau ketemu Yogi, dia diledek juga.


"Mm...." Viona kembali mencari bajunya yang lain. Dan mata Viona tertuju pada sebuah terusan pendek. Warnanya coklat muda.

__ADS_1


Apa sopan aku pakai rok itu? Viona menimbang-nimbang dulu sebelum mengambilnya. Jangan sampai sudah diambil, tapi ditolak lagi oleh Surya.


Surya menghampiri Viona. Dan tatapannya sama. Ke arah baju warna coklat.


"Ini kayaknya bagus. Coba diambil." Surya menunjuknya. Dan suara Surya yang persis di telinga Viona, membuat bulu kuduknya meremang.


Viona yang tak mau kembali terlena oleh Surya, segera mengambilnya.


Surya malah memeluk erat pinggang Viona.


Degh!


Ser...!


Dada Viona berdesir.


"Kamu pasti cantik pakai baju itu," ucap Surya di telinga Viona.


"Gimana aku memakainya, kalau kamu begini?" Suara Viona pun sudah terdengar parau.


Surya mengecup sekilas cuping telinga Viona. Lalu melepaskan pelukannya.


Jantung Viona serasa mencelos. Meskipun semalaman mereka tidur berpelukan, tapi sentuhan kecil Surya, membuat Viona kembali melayang.


Viona menguatkan hatinya. Dan pura-pura cuek, tak terpengaruh oleh sentuhan Surya.


Viona melangkah. Dia mau ke kamar mandi.


"Mau kemana?" tanya Surya.


"Ganti baju," jawab Viona.


"Di kamar mandi," jawab Viona.


Surya menarik tangan Viona. Menahannya agar tidak jadi ke kamar mandi.


"Kenapa harus di sana, Viona? Di sini kan bisa," ucap Surya.


"Iih, malu ah," sahut Viona.


Surya malah terkekeh.


"Malu?"


Viona mengangguk.


"Hey! Semalaman kita tidur bersama. Tanpa sehelai bajupun..Sekarang kamu masih malu?" tanya Surya.


"Entar kamu kepingin lagi," ucap Viona.


"Ya udah, aku merem deh. Udah, buruan. Aku hitung sampai sepuluh," ucap Surya.


"Kok sepuluh? Kecepetan!" protes Viona.


"Kalau kebanyakan, nanti aku capek dong," sahut Surya.


Hhh! Viona menghela nafasnya dengan kasar.


Dan akhirnya Viona pun melepaskan hot pants dan kaos buntungnya, tanpa menunggu Surya memejamkan mata.

__ADS_1


Surya pun menikmati indahnya tubuh Viona yang hanya memakai dalaman saja.


"Eit! Kondisikan otak!" ucap Viona melihat jakun Surya naik turun.


"Iya. Bawel!" Surya pun merebahkan tubuhnya. Sambil pikirannya melayang-layang.


Viona. Dia yang akan menggantikan Nadia di hatiku. Apa aku bisa mencintainya? Seperti aku mencintai Nadia?


Bagaimana kalau aku tidak bisa?


Ah! Aku harus bisa. Aku pun harus bisa melupakan Nadia dan memggantikannya dengan Viona.


Surya memejamkan matanya.


"Eh, jangan tidur. Katanya mau pergi ke rumahmu," ucap Viona.


Surya kembali membuka matanya. Dan tersenyum. Dia melihat Viona sangat cantik dengan gaun itu. Padahal Viona belum berdandan.


"Kenapa? Jelek ya?" Viona terlihat sangat khawatir.


"Cantik. Cantik banget." Surya segera bangun dan duduk.


"Sini sebentar." Surya melambaikan tangannya pada Viona. Dan setelah Viona mendekat, Surya menggenggam tangannya.


"Aku cuma mau bilang, kamu cantik sekali," ucap Surya. Lalu mencium tangan Viona yang digenggamnya.


"Terima kasih. Tapi aku tidak punya uang receh," sahut Viona.


Viona segera melepaskan tangan Surya. Dan kembali ke depan lemarinya.


Aku akan selalu memujimu, Vi. Biar aku semakin mencintai kamu. Aku akan buat isi kepalaku hanya kamu. Dan tak ada lagi ruang kosong untuk yang lainnya. Batin Surya.


"Ayo. Aku udah siap," ucap Viona.


Surya pun mengangguk.


"Sebentar. Aku lihat keluar dulu." Viona membuka pintu kamarnya. Dia lihat sekeliling. Jangan sampai ada yang tahu, kalau Surya ada di dalam kamarnya.


Setelah situasi aman terkendali, Viona keluar disusul oleh Surya.


Dan mereka pun pergi ke rumah Surya dengan nyaman. Tak ada penghuni kos yang melihatnya.


Sementara pagi itu, entah dapat bisikan dari mana, Nadia menyirami tanaman-tanaman kesayangan Susi.


Susi dan mbok Nah saling pandang dan melihatnya dari balik jendela kaca.


"Tumben-tumbenan tuh anak. Biasanya boro-boro menyiraminya, ngelirik aja enggak pernah," ucap Susi.


"Biarin lah, Bu. Mungkin non Nadia udah berubah," sajut mbok Nah.


"Kalau berubahnya bagus kayak gitu sih, enggak masalah. Lha kalau balik mager lagi?"


Mbok Nah hanya manggut-manggut. Saat mager, anak majikannya itu manjanya melebihi balita. Apa-apa minta diambilin. Apa-apa minta dilayani.


Saat Nadia lagi asik menyiram tanaman, pasangan yang menurut Nadia adalah pasangan jadi-jadian, lewat berboncengan.


Tak ada satupun dari mereka yang menoleh ke arah rumah Nadia. Apalagi menyapa.


Nadia hanya bengong melihatnya. Dan tak terasa gayung yang dipegangnya terjatuh.

__ADS_1


Klontang!


__ADS_2