PERAHU KERTAS (Terjebak Masa Lalu)

PERAHU KERTAS (Terjebak Masa Lalu)
Bab 215 DAPAT KENALAN BARU


__ADS_3

Setelah Nadia keluar dari kamar mandi, Susi menggandengnya naik ke lantai dua.


"Kamu ganti baju. Kita ke rumah sakit sekarang," ucap Susi. Dia sangat khawatir dengan kondisi Nadia.


Meskipun fisik Nadia tak seperti orang penyakitan. Malah terlihat lebih segar. Karena sekarang Nadia sangat doyan makan.


Tapi kebiasaan baru lainnya, yang membuat Susi semakin cemas.


Susi tak mau kalau ternyata anaknya menyimpan penyakit berbahaya. Dan ketahuannya saat sudah parah.


"Kenapa harus sekarang sih, Ma? Nadia kan capek. Ngantuk." Nadia selalu saja berusaha menolaknya.


"Pokoknya sekarang. Mama enggak mau ya, kamu tiba-tiba ambruk gara-gara enggak ketahuan penyakitnya," ucap Susi.


"Iih, memangnya Nadia penyakitan?" Nadia langsung manyun.


"Mama juga enggak mau kalau kamu penyakitan. Makanya sebelum ada apa-apa, kamu diperiksa dulu," sahut Susi.


"Udah, buruan." Susi menarik tangan Nadia agar segera memilih pakaian ganti.


Nadia hanya berdiri mematung di depan lemari pakaiannya.


"Ayo cepetan." Susi ikut berdiri di samping Nadia.


"Apa Mama yang milihin?" tanya Susi.


Nadia menggeleng. Dia malas sekali kalau harus ganti pakaian.


Sejak di rumah terus, Nadia hampir tak pernah pakai baju formal. Hanya memakai baby dol saja.


Bahkan sekarang pun Nadia mengenakan baby dol. Hanya saja dia lapisi jaket tipis.


"Gini aja emangnya gak boleh, Ma?" tanya Nadia.


"Nadia. Kita itu mau pergi. Jangan bikin Mama malu dong. Pakai pakaian yang sopan!" jawab Susi.


Nadia berdecak kesal. Lalu mengambil satu stel baju longgar. Nadia merasa tidak nyaman kalau pakai baju yang ketat.


"Mama keluar dulu sana!" ucap Nadia.


Tanpa curiga, Susi keluar dari kamar Nadia.


"Mama tunggu di bawah. Jangan lama-lama," ucap Susi di pintu kamar Nadia.


"Iya, Mama. Bawel banget, ih!" gerutu Nadia.


Lalu setelah Susi pergi, Nadia mengunci pintu kamarnya. Dia melepaskan semua pakaiannya.


Lalu menatap dirinya di depan cermin besar lemari.


"Hmm. Badanku makin gemuk kayaknya," gumam Nadia.


Lalu, masih tanpa pakaian, Nadia mengambil timbangan badannya. Timbangan badan yang disediakan Susi, tapi hampir tak pernah digunakan.


Nadia merasa tak memerlukannya. Karena dari dulu berat badannya selalu stabil. Tak pernah naik ataupun turun.


Tapi saat melihat angka di timbangan, Nadia bingung sendiri. Dia tak tahu berapa kenaikan berat badannya. Karena dia tak pernah tahu berapa berat awalnya.


Nadia mengembalikan timbangan ke tempatnya. Lalu buru-buru memakai bajunya. Sebelum Susi teriak dari bawah.


Setelah merasa rapi dengan tas selempang yang pernah dibelikan Surya di Jogja, Nadia turun ke bawah.

__ADS_1


Susi sudah siap dan rapi.


"Mbok Nah. Kita pergi dulu, ya," pamit Susi.


"Iya, Bu. Ati-ati. Non Nadia juga. Jangan sampai muntah lagi," ucap mbok Nah.


"Iya, Mbok," sahut Susi.


"Apanya yang mau dimuntahin? Orang tadi udah keluar semua kok," gumam Nadia.


"Non Nadia sih, muntahnya kebanyakan," sahut mbok Nah.


"Masa muntah ditahan, Mbok. Sisanya buat nanti gitu?" sahut Nadia.


"Hiih...!" Mbok Nah malah bergidig.


"Udah ah, jangan ngomong kayak gitu. Jijik tau!" Susi bergegas keluar.


Susi juga jijik kalau mendengar omongan tentang begituan. Meskipun kasihan kalau melihat Nadia muntah-muntah sampai pucat dan lemas.


Sampai di rumah sakit, Susi mendaftarkan diri di poly umum. Biar dokter umum dulu yang memeriksa Nadia.


Mereka menunggu antrian di depan poly umum. Cukup panjang juga antriannya.


"Ma. Ada kantin enggak sih? Nadia laper nih," tanya Nadia.


"Mana Mama tau? Mama kan jarang ke sini juga. Coba kamu tanya ke perawat itu." Susi menunjuk ke arah seorang perawat yang sedang melintas.


Nadia pun menurut. Daripada lapar, pikirnya.


"Suster. Kantin di sebelah mana, ya?" tanya Nadia.


Perawat itu menunjukan tempatnya. Nadia mengangguk-angguk mengerti.


"Ayo, Ma," ajak Nadia.


"Kamu aja sendiri. Mama tunggu di sini. Nanti kalau udah hampir dipanggil, Mama telpon kamu," sahut Susi.


Nadia menghela nafasnya. Terpaksa dia mencari tempatnya sendiri.


Susi tetap duduk di kursi tunggu. Di sebelahnya seorang ibu-ibu yang dari tadi memperhatikan Nadia.


"Yang sakit siapa, Bu?" tanya ibu-ibu itu.


Susi menoleh. Lalu tersenyum sebelum menjawab.


"Mau cek kesehatan aja. Anak saya akhir-akhir ini sering mual dan muntah. Takutnya kena asam lambung," jawab Susi.


Ibu-ibu itu mengangguk. Lalu bertanya lagi.


"Anaknya udah menikah?"


Susi kembali menoleh.


"Anak saya masih kuliah, Bu," jawab Susi.


Susi jadi mikir, apa wajah Nadia seperti orang yang sudah menikah?


Perasaan wajah Nadia tergolong imut-imut. Wajah kekanakan. Malah banyak yang mengira Nadia masih SMA. Karena badan Nadia juga kurus kecil.


Tapi kenapa ibu ini menanyakan Nadia udah menikah apa belum. Susi jadi mikir sendiri.

__ADS_1


"Ooh. Masih kuliah. Saya kira udah menikah dan lagi....Ah, enggak jadi, Bu. Maaf," ucap si ibu itu.


Susi menatap wajah ibu-ibu itu yang sepertinya menyimpan banyak pertanyaan atau tebakan buat Nadia.


Ibu-ibu itu tersenyum, lalu mengajak bicara hal lainnya. Dia takut salah menebak. Dan malah menyinggung perasaan Susi.


Dan sampai nomor urut Nadia hampir dipanggil, Nadia tak nampak juga.


Nadia lagi menikmati sepiring siomay dan sepiring rujak buah dengan nikmat. Juga segelas jus jeruk kesukaannya.


"Masih pagi kok makan rujak?" tanya seorang lelaki, yang tiba-tiba ada di depan Nadia.


Nadia menatap lelaki itu. Lelaki muda yang usianya sedikit diatas Nadia. Terlihat dari gaya berpakaiannya yang formal. Mungkin dia sudah bekerja.


"Kepingin aja," jawab Nadia seadanya.


Lelaki itu menarik kursi di depan Nadia.


"Eh, maaf. Boleh aku duduk di sini?" tanyanya.


Nadia cuma mengangguk. Mulutnya sudah penuh dengan makanan.


"Terima kasih," ucapnya.


Nadia kembali hanya mengangguk.


"Sama siapa di sini?" tanya lelaki itu.


"Sendiri." Nadia masih menjawab sepatah-sepatah. Dia asik dengan makanan yang menurutnya cukup enak.


"Boleh kenalan?" tanya lelaki itu lagi. Lalu mengulurkan tangannya sebelum Nadia menjawab.


Terpaksa Nadia menerima uluran tangan lelaki itu.


"Yudistira. Panggil aja Yudis," ucapnya.


"Manggil Tira boleh enggak?" tanya Nadia iseng.


Yudis tertawa.


"Lucu juga kamu. Nama kamu siapa?" Yudis masih menggenggam tangan Nadia.


"Nadia," jawab Nadia singkat.


"Udah itu aja?" tanya Yudis.


Nadia mengangguk.


"Itu dulu." Lalu berusaha melepaskan tangan Yudis.


"Ooh. Maaf." Yudis pun melepaskan tangan Nadia.


Lalu mereka terlibat obrolan panjang. Ternyata Yudis seorang yang sangat asik diajak bicara.


Nadia pun jadi terbawa pada obrolan mengasikan itu. Sampai dia tak tahu kalau Susi berkali-kali menelponnya.


Nadia juga masih men-silent ponselnya. Hanya getar saja. Ponselnya dia masukan ke dalam tas dan tasnya dia geletakan di atas meja.


Susi terpaksa menyusul Nadia ke kantin.


"Ya ampun. Nadia! Kamu ditelpon enggak diangkat-angkat. Antrian kamu sebentar lagi," seru Susi yang membuat orang seisi kantin menoleh.

__ADS_1


"Maaf, mamaku udah nyusul," ucap Nadia pada Yudis.


Yudis memgangguk. Dan Nadia pun berlalu dari depan Yudis. Meninggalkan rasa penasaran di hati Yudis.


__ADS_2