PERAHU KERTAS (Terjebak Masa Lalu)

PERAHU KERTAS (Terjebak Masa Lalu)
Bab 27 SIAP MENJADI SANDARAN


__ADS_3

Mobil Surya sampai di sebuah klinik kecil. Dia langsung turun dan kembali menggendong Nadia.


"Pak, tolong parkirkan mobil saya." Surya menyerahkan kunci mobilnya pada seorang security yang berjaga di dekat ruang IGD.


Dengan sigap, security itu meraih kunci mobil Surya dan mencarikan parkiran yang aman.


Beberapa petugas klinik, segera membantu Surya dan mencarikan brankar untuk Nadia.


Kepala Nadia jadi pusing karena Surya membawanya berjalan dengan cepat. Dan Nadia hanya bisa pasrah sambil memejamkan matanya.


"Istrinya kenapa, Pak?" tanya seorang perawat muda.


"Kecelakaan, Sus. Tolong beri pertolongan yang terbaik," pinta Surya.


"Pasti, Pak. Bapak tunggu di sini dulu ya. Biar kami yang menangani istri Bapak," sahut perawat muda itu.


Satu perawat lain, memanggil dokter.


Nadia kembali terhenyak mendengar kata istri. Kenapa mereka juga menganggapku istrinya Surya? Tapi Nadia tak bisa protes. Dia lebih baik diam dan pasrah. Yang penting dia segera ditangani.


Surya menelpon Yogi. Dia minta tolong pada Yogi yang tadi diantarnya pulang, untuk mengurus motor Nadia.


"Kapan kecelakaannya?" tanya Yogi dengan khawatir. Dia berfikir, Viona juga ikut dalam kecelakaan itu. Karena setahunya mereka pergi berdua.


"Barusan. Kamu ke perempatan dekat kosan Viona. Tanyakan sama polisi yang berjaga. Mereka tadi yang mengamankan motor Nadia. Sekalian juga tanyakan identitas penabraknya. Biar aku habisi dia!" ucap Surya dengan kesal.


"Iya, Bro. Sabar. Aku segera ke sana. Mereka bagaimana kondisinya?" tanya Yogi.


"Mereka siapa?" Surya balik bertanya.


"Nadia dan Viona," jawab Yogi.


"Yang kecelakaan Nadia. Dia baru pulang dari kosan Viona. Udah cepetan!" Surya lalu menutup telponnya. Dia mau mengabari orang tua Nadia.


Yogi menghela nafas lega. Bukannya senang dengan yang dialami Nadia, tapi bersyukur Viona tidak ikut dalam kecelakaan itu.


Yogi pun langsung menelpon Viona. Bagaimana pun Viona mesti tahu.


"Hah....! Kapan?" tanya Viona tak percaya. Baru saja dia mengantar Nadia sampai gerbang kosnya.


"Baru saja. Di perempatan dekat kosanmu. Udah dulu, ya. Aku mau urus motor Nadia." Yogi menutup telponnya.


Viona membuka aplikasi ojek online. Dia akan memesan ojek untuk melihat kondisi Nadia.


Viona menepuk dahinya. Dia lupa menanyakan pada Yogi dimana Nadia dirawat.


Viona tak tahu kalau Yogi juga lupa menanyakan dimana Surya membawa Nadia.


Viona menghubungi nomor Yogi. Jelas saja tidak diangkat. Karena Yogi sudah otewe ke TKP.


Viona tak berfikir tentang Surya. Jadi dia langsung menghubungi nomor Nadia.

__ADS_1


"Ya, hallo." Surya yang mengangkat telpon dari Viona.


Dada Viona langsung berdesir mendengar suara yang sangat dikenalnya. Meskipun mereka jarang bicara.


"Ee...Surya, ya?" tanya Viona untuk meyakinkan. Meskipun sebenarnya dia sudah yakin.


"Iya. Gimana, Vi?" Surya balik bertanya.


Surya berusaha bersuara biasa saja. Sebenarnya Surya sangat panik juga.


"Nadia dibawa ke rumah sakit mana, Sur?" tanya Viona.


"Kamu tau darimana?" Surya kembali balik bertanya.


"Yogi yang barusan kasih tau."


Lalu Surya terpaksa memberitahukan pada Viona. Dia tak mungkin juga merahasiakan. Bagaimana pun Nadia tadi baru saja keluar dari kosan Viona.


"Oke. Aku segera kesana." Viona pun menutup panggilannya. Dia segera memesan ojek online.


Surya sudah menghubungi Susi juga mamanya sendiri. Dia tak mau disalahkan kalau terjadi sesuatu yang tak diinginkan pada Nadia.


Walaupun setahu Surya, kondisi luka Nadia tak terlalu parah. Tapi siapa tahu ada bagian dalamnya yang terluka.


Surya berjalan mondar mandir di depan ruang IGD sendirian. Belum ada satupun yang datang.


Sampai kemudian, dokter yang menangani Nadia keluar. Surya langsung menghampiri.


"Bagaimana keadaannya, Dok?"


"Bisa saya lihat sekarang?" tanya Surya.


"Oh, silakan."


Dengan sigap, Surya masuk ke ruang IGD. Di dalam masih ada dua perawat yang sedang membereskan peralatan medisnya.


Surya langsung menghampiri Nadia yang masih terbaring.


"Istrinya baik-baik aja, Pak. Nanti bisa dibawa pulang kalau kondisinya sudah stabil," ucap perawat yang tadi menyambut Surya saat membawa Nadia.


"Iya, Sus. Terima kasih," sahut Surya dengan sopan.


Setelah selesai beres-beres, kedua perawat itu keluar.


"Kok mereka bilangnya aku istri kamu, sih?" tanya Nadia pelan.


"Biarin ajalah. Masa aku harus protes masalah begituan," jawab Surya.


"Tapi tadi di TKP kamu juga bilang ke orang-orang kalau aku istri kamu," protes Nadia.


Surya menggaruk tengkuknya. Ada rasa malu juga ketahuan Nadia.

__ADS_1


"Mm....biar mereka kasih jalan aku. Mereka kan mengerumuni kamu," jawab Surya apa adanya. Meskipun Surya berharap Nadia benar-benar mau menjadi istrinya, kelak.


"Masih sakit?" Surya mengalihkan pembicaraan.


"Perih. Bantu aku bangun, Sur." Nadia mengulurkan kedua tangannya.


"Kalau belum kuat, tiduran dulu aja, Nad," ucap Surya.


"Pusing kalau tiduran terus." Nadia tetap mengulurkan kedua tangannya.


Surya menyambutnya dan menarik perlahan kedua tangan Nadia.


Tapi belum sempat Nadia duduk, kepalanya semakin pusing. Hingga tubuh Nadia oleng.


Surya langsung meraih dan memeluk tubuh Nadia. Lalu membaringkannya kembali perlahan.


Viona yang sudah berada di pintu ruangan, melihat kejadian itu. Dadanya berdesir perih.


Surya agak lama berada pada posisi di atas tubuh Nadia. Karena dia juga membetulkan bantal Nadia, agar punggung Nadia agak tegak.


Viona memalingkan wajahnya. Air mata hampir saja tumpah dari matanya.


Tepat saat Viona berpaling ke sebelah kiri, Yogi sudah berada di sana.


Mata mereka beradu. Lalu Viona segera menunduk dan berbalik badan.


"Vi. Mau kemana?" Yogi meraih tangan Viona.


"Duduk." Viona menunjuk bangku panjang dengan dagunya.


Yogi pun mengikuti Viona dan duduk di sampingnya.


"Kita tunggu di sini aja. Biar Surya urus Nadia dulu," ucap Yogi.


Viona tak menjawab. Hatinya masih terasa perih melihat kemesraan Surya dengan Nadia tadi.


Yogi bukannya tak tahu. Dia mengerti perasaan Viona terluka. Tapi sekarang bukan waktu yang tepat untuk jadi pahlawan bagi Viona.


Saat ini, Viona belum butuh pahlawan yang akan menyelamatkan hatinya. Dia hanya butuh tempat bersandar.


Dan Yogi siap menjadi sandaran bagi hati Viona yang sedang terluka.


Justru sekaranglah saatnya Yogi menunjukan kalau dia serius dengan Viona. Yogi berjanji akan sabar menunggu saatnya Viona bisa menerimanya.


"Mau minum?" Yogi melihat di dekat mereka duduk ada sebuah showcase berisi aneka minuman dingin.


Tanpa menunggu jawaban dari Viona, Yogi berjalan dan mengambil sebotol air mineral.


"Minumlah, Vi." Yogi memberikannya pada Viona setelah membukakan tutupnya.


"Makasih, Yog." Viona meraihnya. Lalu menenggaknya beberapa tegukan.

__ADS_1


Setelah perasaannya lebih tenang, Viona bangkit dan berjalan ke dalam ruangan IGD. Yogi mengikutinya. Dia akan berjaga kalau Viona kembali terluka di dalam sana.


Dan benar saja. Sampai di dalam, Surya sedang menggenggam tangan Nadia.


__ADS_2