PERAHU KERTAS (Terjebak Masa Lalu)

PERAHU KERTAS (Terjebak Masa Lalu)
Bab 136 SALAH PAHAM


__ADS_3

Surya menelpon Viona.


"Hallo, Viona!" sapa Surya.


"Iya, Surya. Ada apa?" tanya Viona.


Viona sedang duduk di rumahnya bersama Putra.


Kapal tempat Putra bekerja, sedang bersandar di pelabuhan kampung halaman Viona.


Dan setelah ponselnya mendapat signal, Putra buru-buru menghubungi Viona.


Viona pun langsung cabut dari tempat kosnya, meski dia harus menyelesaikan tugas kuliahnya.


Bagi Viona, urusan Putra jauh lebih penting dari apapun. Tugas kuliah bisa dia kumpulkan menyusul, dengan alasan yang nanti akan dicarinya.


Sedangkan pertemuan dengan Putra, tak akan mudah kalau kapalnya tak bersandar.


"Kamu lagi ada di mana sekarang?" tanya Surya.


"Aku..." Viona melirik ke arah Putra sekilas, sambil mengangguk. Lalu beranjak berdiri dan meninggalkan Putra sebentar.


Putra hanya menatapnya. Dia tak berpikir macam-macam. Mungkin saja Viona punya urusan lain yang dia tak harus mengetahuinya.


Tapi barusan Putra sempat mendengar Viona memanggil dengan nama Surya.


Mirip nama Surya, sahabatku waktu SMA. Sahabat yang akhirnya jadi tambatan hati Nadia. Batin Putra.


Hhh! Putra mendengus kesal mengingat semua itu. Andai saja Surya tak mengambil Nadia dariku...


Putra segera menghapus kenangan buruk itu. Dia ingin melangkah lagi. Memulai hubungan baru dengan Viona.


"Aku ada di rumah orang tuaku. Ada apa, Sur?" tanya Viona.


Viona berdiri menghadap ke arah Putra. Dia sengaja seperti itu, biar yakin kalau pembicaraannya tak didengar Putra.


"Di kampung halamanmu?" tanya Surya lagi.


"Iya. Kenapa?" Viona balik bertanya.


"Kamu memberitahukannya pada Nadia? Atau ada orang lain yang tahu kemana kamu pergi?" Surya menginterogasi Viona.


"Aku enggak bilang pada siapapun. Kecuali pada ibu kosku. Dan ibu kosku, enggak mungkin bilang pada Nadia..." Viona menutup mulutnya. Dia kembali keceplosan.


"Maksudku mereka tak saling mengenal," lanjut Viona.


"Tapi status whatsapp kamu? Kenapa kamu mesti membuat status kayak gitu, sih?" Surya terdengar sangat tak menyukai.


"Astaga! Iya maaf, Surya. Aku....Ah, saking senengnya bisa ketemu lagi dengan Putra," ucap Viona.


"Kamu lagi bersama Dewa?" tanya Surya.


Ah! Kenapa aku mesti ngomong ke Surya sih? Viona kembali menyesali kecerobohannya.


"I...Iya," jawab Viona tergagap.


"Kamu menelponku, ada apa ya, Sur?" tanya Viona.


"Nadia pergi dari rumahnya. Tadi pagi sempat bilang, mau mencari Dewa," jawab Surya.


"Hah?" Mata Viona sampai terbelalak saking kagetnya.


"Dia...dia pergi sama siapa?" tanya Viona dengan jantung berdegup hebat.


"Kelihatannya sendirian. Tadi sempat mengajak aku, tapi aku menolaknya," jawab Surya.


"Kenapa enggak kamu cegah, Surya?" seru Viona dengan panik.


Putra menatap ke arah Viona. Di mata Putra, wajah Viona terlihat pucat. Hingga memaksanya mendatangi Viona.

__ADS_1


"Ada apa?" tanya Putra.


Viona makin pucat dan panik. Dia hanya diam mematung.


Lalu Putra yang merasa tidak nyaman, merebut ponsel Viona yang masih tersambung panggilan pada Surya.


Putra membaca nama yang tertera di ponsel Viona.


Surya!


Viona berusaha merebut kembali ponselnya. Tapi Putra menjauhkannya.


"Siapa Surya?" tanya Putra.


Surya di seberang sana pun terpaku. Dia mendengar suara yang pernah sangat dikenalnya.


Itu suara Dewa.


Ya! Itu suara Dewa.


Jadi benar Viona lagi bersama Dewa!


"Hallo...!" seru Surya. Dia berharap bisa bicara dengan Dewa.


"Iya, hallo...!" sahut Putra.


"Dewa...! Kamu Dewa, kan?" tanya Surya.


"Surya...!" Mata Putra pun terbelalak mendengar suara Surya. Dia yakin yang sedang bicara dengannya adalah Surya sahabatnya dahulu. Yang telah mengambil kekasih hatinya, Nadia.


"Putra! Please, berikan hapeku!" pinta Viona.


Putra menggeleng.


Lalu dia merubah panggilannya menjadi panggilan video. Meski ada rasa kesal, marah juga cemburu, Putra merasa harus bicara dengan Surya.


"Surya...!" ucap Putra tertahan.


Orang yang dicarinya selama ini, ada di depan mata. Meski hanya di dalam kamera ponsel.


"Kamu...kamu Surya Pradana, kan?" tanya Putra alias Dewa.


"Dewa Putranto!" sahut Surya.


Surya tersenyum, bahkan hampir menangis melihat sahabatnya itu.


Putra menghela nafasnya.


"Ada hubungan apa kamu dengan Viona?" tanya Putra.


Dia merasa khawatir, seakan takut Surya akan merebut lagi miliknya. Seperti Nadia dulu.


"Aku....mm...Maksudku, kita teman kuliah, Wa!" jawab Surya. Dia tak tahu kalau ada kekhawatiran di hati Putra.


"Hhmm...!" Putra hanya menghela nafas. Dia pandangi Viona yang berkeringat dingin.


Putra mengira Viona berkeringat dingin karena ketahuan selingkuh dengan Surya.


"Oke. Bisa kita ketemu?" tanya Putra pada akhirnya.


"Iya, Wa. Aku akan menemui kamu. Suruh Viona memberikan alamat. Aku segera meluncur," sahut Surya dengan bersemangat.


Aku harus sampai di sana secepatnya. Sebelum Nadia sampai, batin Surya.


"Dia akan menemuimu!" ucap Putra ketus pada Viona.


Lalu menyerahkan ponsel Viona kembali.


"Dia minta alamat rumah kamu ini," lanjut Putra.

__ADS_1


Viona hanya terdiam. Dia masih mencoba mengatur nafas dan degup jantungnya.


"Ada hubungan apa kamu dengannya?" tanya Putra dengan suara ditekan.


Mata Viona langsung melotot.


"Hubungan? Maksud kamu?" tanya Viona.


Putra pun menghela nafas dan mengatur degup jantungnya.


"Apa kamu ada hubungan spesial dengan dia?" tanya Putra lagi. Dia benar-benar merasa trauma.


"Putra, aku tak ada hubungan apapun dengan dia. Kami hanya teman kuliah. Itu saja!" jawab Viona.


Viona tak perlu menjelaskan pada Putra, kalau dia pernah sangat menggilai Surya. Karena nyatanya Surya tak pernah merespon perasaannya.


Putra menatap mata Viona. Seakan mencari kebenaran di sana.


Viona menggenggam tangan Putra. Ada kekhawatiran kalau sampai Putra bertemu dengan Nadia nanti.


Tring!


Ponsel Viona berdenting.


Putra meliriknya. Ada satu pesan masuk dari Surya.


Emosinya kembali naik.


"Dia mengirimkan pesan untuk kamu!" ucap Putra.


Viona mengangguk. Dia membukanya di depan Putra. Biar tak ada kecurigaan.


Kirimkan alamatmu, sekarang. Aku segera meluncur. Itu isi pesan dari Surya.


Viona menatap wajah Putra. Meminta persetujuannya.


"Berikan saja. Aku pingin tau, apa maunya!" ucap Putra.


Viona mengangguk. Lalu mengirimkan alamat rumahnya.


Viona tak habis pikir, kenapa Putra seperti ilfeel pada Surya. Bahkan terkesan Putra mencemburui Surya.


Padahal jelas-jelas dia bicara sendiri dengan Surya. Dan mereka teman baik.


"Kamu kenapa?" tanya Viona memberanikan diri.


"Kamu yang kenapa?" Putra balik bertanya.


"Aku? Ah, aku malah bingung," jawab Viona.


Putra menyeruput kopinya. Lalu menyalakan rokok untuk menghilangkan rasa stresnya.


"Kenapa Surya mesti menelponmu di saat kamu bersamaku?" tanya Putra.


"Mana aku tau. Dia jarang banget kok menghubungiku," jawab Viona.


Dan untung saja, Viona sudah menghapus semua chatnya dengan Surya yang dulu. Saat Viona masih mengejar Surya.


Karena dari isi chat itu, Putra akan berpikir kalau Viona masih mengharapkan Surya.


"Kamu bisa membaca chatku, kalau enggak percaya," ucap Viona. Dia memberikan ponselnya pada Putra.


"Enggak perlu! Aku bukan type orang yang suka kepo dengan urusan orang lain!" sahut Putra ketus.


"Lalu maunya kamu gimana?" tanya Viona.


"Aku akan meminta penjelasan dari Surya!" jawab Putra dengan ketus.


Nafas Viona seakan berhenti mendadak.

__ADS_1


"Penjelasan tentang apa?" tanya Viona pelan.


Jangan sampai Putra meminta penjelasan tentang Nadia. Bisa selesai semuanya. Doa Viona dalam hati.


__ADS_2