PERAHU KERTAS (Terjebak Masa Lalu)

PERAHU KERTAS (Terjebak Masa Lalu)
Bab 163 PERHATIAN VIONA


__ADS_3

Setelah sampai di kota, Surya mengantarkan Viona dulu ke kosannya.


"Mau mampir dulu, Sur?" tanya Viona sebelum turun.


"Enggak deh, Vi. Aku capek banget. Ngantuk juga," jawab Surya.


Perjalanan yang memakan waktu cukup lama dan harus menyetir sendiri, membuat badan Surya terasa pegal semua.


"Ya udah. Kamu pulang aja. Terus istirahat. Tapi mandi dulu aja, Sur. Biar badanmu lebih segar. Enak buat istirahat," ucap Viona.


"Oke, Vi. Makasih, ya," ucap Surya.


"Kok kamu yang makasih? Harusnya aku dong yang bilang makasih. Kamu udah nganterin aku pulang sampai ke kosan," sahut Viona.


"Iya, sama-sama, Vi. Kamu juga udah nemenin aku di perjalanan. Jadi aku enggak bete," ucap Surya.


Viona tersenyum. Lalu menoleh ke belakang, mengambil tasnya di jok tengah.


"Biar aku ambilin, Vi. Tanganku kan lebih panjang." Surya langsung mengulurkan tangannya ke jok tengah.


Tapi sayangnya, Viona belum sempat menarik tangannya lagi. Hingga lengan mereka bertabrakan. Dan wajah keduanya hampir saling menyerempet.


Sesaat mereka terdiam dan saling pandang. Hembusan nafas mereka pun bertukar.


"Oh, maaf, Vi." Surya segera menarik tangannya duluan. Karena tangan Viona ada di depannya.


"Iya, Sur. Enggak apa-apa," sahut Viona.


"Makasih ya, Sur. Aku turun dulu," ucap Viona.


"Iya, Vi. Ati-ati. Besok kamu kuliah pagi, kan?" tanya Surya.


Surya masih sangat hafal jadwal kuliah kelasnya Nadia. Yang jelas sama dengan Viona, karena mereka satu kelas. Meskipun ada beberapa mata kuliah yang berbeda.


"Iya. Kamu juga kuliah pagi?" Viona juga masih hafal jadwal kuliah Surya. Karena dulu, dia sering pura-pura menemani Nadia ke kelas Surya. Padahal niatnya memang kepingin ketemu Surya.


"Iya, Vi. Besok pagi aku nyamper kamu, ya," ucap Surya tanpa sadar.


Sesaat Viona bengong.


Dalam hati bertanya, sejak kapan Surya mau menyamperinya ke kampus?


"Vi...!" panggil Surya, mengagetkan Viona.


"Eh, iya! Iya, enggak apa-apa, Sur. Aku duluan, ya." Viona buru-buru turun dari mobil Surya.


Wajahnya sudah merah merona.


Padahal tadi sepanjang perjalanan, obrolan mereka sangat mengasyikan.


Tapi sekarang, saat Surya mengatakan akan menjemput, Viona langsung salah tingkah.


Begitu juga dengan Surya. Dia yang seperti tak sadar mengatakannya, merasa tak enak hati pada Viona.


Tapi untuk meralat omongannya, lebih tidak enak hati lagi.


Surya melajukan kembali mobilnya perlahan, meninggalkan kos-kosan Viona. Tempat yang dulu sangat dihindarinya.


Sekarang malah dia baru saja mengantarkan Viona pulang dan besok pagi dia akan ke sini lagi, menyamperi Viona.

__ADS_1


Surya sampai ke rumahnya. Di sana sudah terparkir mobil Yogi. Tadi mereka berpisah karena Surya mengantar Viona lebih dulu.


"Mama kemana?" tanya Surya pada Sinta.


"Lagi di kantor papa, katanya. Tapi sebentar lagi pulang," jawab Sinta.


Hari ini Rahma ikut Toni ke kantor. Toni tak tega meninggalkan Rahma sendirian di rumah. Sementara kondisi Rahma belum terlalu baik.


Toni hanya akan menandatangani beberapa berkas saja di kantornya.


Dan tadi saat Sinta sampai di rumah, dia menelpon Rahma. Karena rumah terkunci.


"Sebentar lagi ya, Ma," ucap Toni. Dia masih memeriksa beberapa berkas yang harus ditanda tanganinya.


"Iya, Pa. Lagian anak-anak juga bawa kunci sendiri, kok," sahut Rahma.


Rahma memang seorang istri yang tak terlalu banyak menuntut. Dia akan menurut, apapun omongan suaminya.


Tapi meskipun begitu, Toni tak semena-mena atau memanfaatkan kesempatan itu.


Toni sangat menghargai dan menyayangi Rahma. Karena dari Rahma dia mendapatkan dua orang anak yang hebat.


Dan berkat dukungan dari Rahma juga, Toni bisa sesukses sekarang.


Surya masuk ke kamarnya sendiri. Dia merasa sangat capek. Baik badan maupun otaknya.


Surya merebahkan badannya di atas tempat tidur. Matanya menerawang ke atap dan sekeliling ruangan.


Ruangan yang pernah jadi saksi, saat Surya mengambil kesucian Nadia.


Dan tempat tidur yang sedang ditidurinya, tempat dimana dia memperkosa Nadia.


Tapi sayangnya, korban malah menghindar. Tak mau menerima tanggung jawab dari pelaku.


Ponsel Surya berbunyi. Suara pesan chat masuk.


Surya segera merogoh kantung celana panjangnya. Lalu membuka ponselnya.


Satu pesan chat masuk dari Viona.


Surya tersenyum sekilas, sambil membukanya.


Udah sampai rumah? Tanya Viona di pesan chatnya.


Surya segera membalasnya. Karena dia pun lagi tidak ngapa-ngapain.


Udah. Barusan aja masuk kamar. Jawab Surya.


Oh. Jadi mau istirahat? Tanya Viona.


Jadi. Ini lagi rebahan. Badan pegel banget. Jawab Surya.


Mandi dulu. Kalau ada, pakai air hangat. Biar badannya enakan. Ketik Viona.


Maunya begitu. Tapi malas ke kamar mandinya. Jauh! Balas Surya.


Naik angkot kalau jauh. Biar enggak capek. Viona malah meledek Surya.


Dan tanpa disadari, mereka terus saja berbalas pesan chat. Sampai mereka sama-sama tertidur karena kecapean.

__ADS_1


Rahma pulang, setelah Toni selesai menandatangani beberapa berkasnya.


"Mama...!" Sinta langsung menghambur ke pelukan Rahma. Maklum saja, Sinta hampir tak pernah berjauhan dari Rahma.


Rahma langsung menyambut pelukan Sinta dengan erat.


"Mana kakak kamu?" tanya Rahma, setelah melepaskan pelukan Sinta.


"Tadi masuk kamar, Ma. Kayaknya kecapean," jawab Sinta. Lalu kembali duduk.


Yogi menyalami Rahma dengan sopan. Toni belum masuk ke dalam rumah. Masih di dalam mobil kantor yang dipinjamnya.


"Pulang sama siapa, dia?" tanya Rahma.


"Sama kak Viona, Ma. Kak Viona juga mau sekalian balik ke kos," jawab Sinta.


Toni masuk ke dalam rumah. Dia membawa belanjaan Rahma.


Tadi sekalian jalan pulang, Rahma membeli banyak makanan. Khawatir anak-anaknya kelaparan. Sedangkan dia tadi pagi tidak memasak dulu sebelum pergi.


Yogi menghampiri Toni dan menyalaminya. Sinta juga beranjak dan ikut menyalami tangan Toni.


"Nadia?" tanya Rahma pada Sinta dengan suara pelan.


"Udahlah, Ma. Enggak usah mikirin dia. Orangnya aneh!" kata Sinta.


"Aneh? Aneh bagaimana?" tanya Rahma tak mengerti.


Sinta menoleh ke arah Yogi. Sinta ingin meminta bantuan Yogi untuk menjelaskannya.


Yogi mengangguk.


"Jadi begini, Tante...." Yogi pun menceritakan semua yang terjadi di sana.


"Aneh sekali itu anak," ucap Rahma. Matanya menerawang jauh ke depan.


"Nah. Sinta bilang tadi juga apa. Aneh, kan?"


Rahma mengangguk.


"Ya udah kalau memang itu maunya. Yang penting, Surya sudah punya inisiatif baik," ucap Toni yang dari tadi menyimak cerita Yogi.


"Iya, Om. Kami semua juga berpikir seperti itu. Bahkan Dewa sendiri pun, angkat tangan dengan sikap kekanakan Nadia," sahut Yogi.


"Kayak wanita yang enggak punya harga diri aja! Masa ngejar-ngejar lelaki yang udah punya tunangan!" gumam Rahma.


Yogi mendramatisir cerita. Dia bilang Viona sudah bertunangan dengan Dewa.


Sebenarnya Yogi tak berbohong juga. Karena kenyataannya Dewa sudah melamar Viona pada orang tuanya. Meski belum secara formal.


"Enggak usah ngomongin anak orang, Ma. Yang sekarang harus kita pikirkan, bagaimana caranya biar Surya tidak ngejar-ngejar Nadia lagi," ucap Toni.


"Sinta, panggil kakak kamu!" perintah Rahma.


Sinta mengangguk. Lalu ke kamar Surya.


Sampai di kamar Surya, Sinta mendapati Surya sedang tidur dengan ponsel di atas perutnya.


Perlahan Sinta menghampiri. Lalu melihat ponsel Surya yang masih aktif di aplikasi chat.

__ADS_1


Sekilas Sinta melihat obrolan yang panjang antara Surya dengan Viona.


Sebelum akhirnya, ponsel Surya mati.


__ADS_2