PERAHU KERTAS (Terjebak Masa Lalu)

PERAHU KERTAS (Terjebak Masa Lalu)
Bab 148 BASAH SEMUA


__ADS_3

Sementara setelah Viona menghampiri Dewa tadi, Sinta dan Yogi berjalan-jalan menyusuri pantai. Mereka bercanda, berlari-larian mengejar ombak yang datang dan pergi.


Dunia seakan milik mereka berdua. Yang lain ngontrak!


Tak lupa mereka abadikan momen kebahagiaan dengan kamera ponsel milik Sinta.


"A, kita ke pelabuhan yuk. Aku pingin lihat kapal-kapal itu dari dekat," ajak Sinta.


"Ayo. Tapi jauh lho. Kamu kuat jalannya?" tanya Yogi.


"Kuatlah. Cuma segitu kok jauh," jawab Sinta menyepelekan.


"Oke." Yogi menggandeng tangan Sinta. Mereka berjalan beriringan menuju pelabuhan.


Hari yang semakin senja membuat lampu-lampu kapal yang menyala, semakin memperlihatkan keindahannya.


"Bagus banget, A. Tuh, lihat lampu-lampunya banyak banget. Nyala semua!" Sinta menunjuk ke arah pelabuhan.


"Iyalah. Kalau lampunya enggak dinyalain, kan jadi gelap. Kayak di kuburan," sahut Yogi.


"Aa, ih! Ngomongnya begitu. Nakutin aja," ucap Sinta.


Sinta termasuk anak yang penakut. Takut kegelapan apalagi denger kata kuburan.


Sinta semakin mengeratkan genggaman tangannya. Yogi senyum-senyum sendiri. Lalu mengacak rambut Sinta.


"Dasar anak bocah! Gitu aja takut!" ucap Yogi.


"Biarin! Aa sih, ngomongnya begitu," sahut Sinta.


"Iya deh. Diralat!" Yogi tertawa ngakak.


"A, aku capek. Ternyata jauh juga," ucap Sinta.


"Mm. Tadi katanya kuat?" sahut Yogi.


"Kirain deket. Hehehe." Sinta terkekeh sendiri.


"A. Gendong," pinta Sinta.


"Hah, gendong?" Yogi terbelalak.


Sinta mengangguk.


"Berat ah. Udah gede minta gendong!" ucap Yogi.


"Tadi katanya anak bocah!" Sinta mengembalikan omongan Yogi tadi.


"Mm. Ya udah, sini!" Yogi berjongkok di depan Sinta.


Dengan tanpa rasa berdosa, Sinta naik ke punggung Yogi. Dia bak anak TK yang minta digendong bapaknya.


"Pagangan yang kenceng!" ucap Yogi.


Sinta pun melingkarkan tangannya di atas pundak Yogi. Yogi menahan kedua kaki Sinta agar memudahkannya berjalan.


Dengan tertatih, Yogi berjalan. Badannya yang tak terlalu besar, membuatnya cepat capek.


Baru setengah perjalanan, Yogi menyerah. Dia membungkukan badannya sambil terengah-engah.


"Udah, ah. Capek. Enggak kuat lagi. Aku...nyerah...!" ucap Yogi. Lalu melepaskan pegangannya pada kaki Sinta.


Reflek Sinta terjatuh. Yogi juga ikut terjatuh karena tangan Sinta yang masih melingkar di atas pundaknya, menariknya.


Mereka terjatuh bersama dan berguling di atas pasir.


"Auwh! Sakit, A!" pekik Sinta. Badannya sempat tertindih badan Yogi.

__ADS_1


Yogi segera menjauhkan badannya. Sinta masih terlentang sambil meringis kesakitan.


Yogi kembali mendekat.


"Maaf, maaf. Sakit?" tanya Yogi.


"Iya. Aa tadi menindih badanku," jawab Sinta dengan manja.


"Uluh-uluh. Coba liat mana yang sakit."


Sinta sedikit miring menunjukan punggungnya yang sakit. Tapi Yogi bukannya melihat punggung Sinta. Dia malah mendekatkan wajahnya ke wajah Sinta.


Lalu dengan lembut dia ******* bibir Sinta. Sinta tak bisa menolaknya. Karena Yogi menahan tubuhnya yang sedang miring.


Cuaca semakin remang dan angin berhembus semakin kencang. Ditambah suara deburan ombak yang terdengar semakin keras, membuat keduanya lupa diri.


Mereka malah berguling-guling di atas hamparan pasir, dengan bibir yang terus menyatu.


Pagutan mereka baru terlepas setelah ombak besar datang dan pecah mengenai tubuh mereka berdua.


Spontan mereka berusaha bangun dan menjauh.


"Ya...basah semua deh bajuku," ucap Sinta sambil melihat ke bajunya.


"Sama. Bajuku juga basah semua, tuh!" Yogi juga melihat ke bajunya.


"Aa, sih...!" Dengan seenaknya Sinta menyalahkan Yogi. Padahal tadi dia juga sama-sama lupa diri.


"Kok aku? Kan kamu juga ikut berguling," sahut Yogi.


Sinta langsung tertunduk malu. Yogi menatapnya dengan lekat.


"Udah, ah. Jangan liatin terus dong. Aku kan malu," aku Sinta.


"Malu tapi mau. Hahaha." Yogi tergelak. Dia juga sangat menikmati momen indah mereka tadi.


Yogi langsung menangkap tangan Sinta dan mengecupnya. Sinta semakin salah tingkah.


Dan dengan satu hentakan, Yogi berhasil mendekatkan lagi tubuh Sinta.


"Cinta...Aku sangat mencintaimu," ucap Yogi tepat di depan wajah Sinta.


"Aku juga, A," sahut Sinta.


"Maukah kamu jadi istriku?" tanya Yogi.


"Tapi kita kan masih kuliah, A. Masa mau nikah?" jawab Sinta.


"Kan enggak ada larangan menikah saat kita masih kuliah," sahut Yogi.


Sinta terdiam. Matanya masih menatap mata Yogi yang seakan mau menelannya hidup-hidup.


"Aku enggak mau kehilangan kamu, Cinta," ucap Yogi. Tangannya melingkar di pinggang Sinta dan mendekapnya erat.


"Aku juga enggak mau kehilangan Aa," sahut Sinta.


"Selamanya?" tanya Yogi.


"Selamanya!" jawab Sinta.


Yogi mencium bibir Sinta sekilas, lalu menarik tangan Sinta untuk berjalan menuju mobil.


"Mau kemana, A?" tanya Sinta.


"Ke mobil. Kita cari penginapan," jawab Yogi sambil terus berjalan menggandeng Sinta.


"Tapi aku mau ke pelabuhan itu dulu, A," ucap Sinta.

__ADS_1


"Baju kita basah semua, Cinta. Nanti kena angin malah semakin dingin. Kita cari penginapan dulu, ganti baju. Baru kita ke pelabuhan. Oke," ucap Yogi.


Sinta mengangguk menurut. Dia pun sudah merasa kedinginan.


Mereka sampai di dekat mobil dan tak mendapati mobil Surya.


"Kakak kamu kemana, ya?" tanya Yogi.


Sinta hanya mengangkat bahu.


Yogi merogoh kantong celananya. Dia mau menghubungi Surya.


"Ya...hapeku mati, lagi," ucap Yogi. Dia berusaha menyalakan ponselnya yang mati.


"Abis batrenya kali, A," sahut Sinta.


"Bisa jadi. Semoga bukan karena kemasukan air," ucap Yogi. Sebab celananya basah semua.


Spontan Sinta mengambil ponsel di tas selempangnya. Dia berharap ponselnya tidak ikutan mati.


Tapi teryata sama saja. Ponsel Sintapun mati.


"Waduh, kok mati juga?" Sinta kebingungan.


"Ya udah, nanti coba dichas aja di mobil. Moga-moga enggak kemasukan air." Yogi segera naik ke mobil. Sinta juga ikut naik.


Lalu mereka berlomba mengechas ponselnya.


Yogi melajukan mobil sambil menunggu batrey ponselnya terisi.


"Cari hotel di mana, A?" tanya Sinta.


"Enggak tau. Kita keluar dulu aja dari sini. Mungkin di depan sana ada hotel," jawab Yogi.


"Dulu Aa waktu ke sini, nginapnya dimana?" tanya Sinta.


"Agak jauh dari sini. Ke arah rumahnya mak Yati. Mau nginap di sana?" tanya Yogi.


"Eggak deh. Cari yang deket-deket sini aja," jawab Sinta.


Yogi mengangguk, lalu melajukan mobilnya keluar dari area pantai.


"Ini bukannya ke arah rumah kak Viona?" tanya Sinta.


"Iya. Tuh, rumah Viona di depan sana." Yogi menunjuk dengan dagunya.


"Kamu mau menginap di rumah Viona?" tanya Yogi.


"Enggak, ah. Nanti keenakan Aa, dong," jawab Sinta.


"Kok keenakan aku?" tanya Yogi tak mengerti.


"Nanti malam-malam Aa melipir ke kamar kak Viona, lagi," jawab Sinta.


"Ngaco aja, kamu. Aku bisa dismackdown sama Dewa. Ancur badanku," sahut Yogi.


Sinta tertawa ngakak. Dia membayangkan tangan Dewa yang kayak tangannya popeye.


Sinta mengecek ponselnya lagi.


"Kok hapenya masih mati ya, A?" tanya Sinta dengan cemas.


"Enggak ngisi kali dayanya." Yogi menepikan mobilnya. Lalu mengecek ponselnya.


Glek!


Ponselnya pun masih mati.

__ADS_1


Mereka berpandang-pandangan, lalu menunduk lemas.


__ADS_2