
"Bukannya kamu sebentar lagi mau KKN?" tanya Haris.
Nadia mengangguk lemah. Haris sepertinya bakal tak setuju dengan keinginannya.
"Lebih baik kamu selesaikan dulu kuliahmu di sini. Nanti kalau sudah lulus, kamu bisa ambil S2. Kamu bisa pilih mau nerusin di mana saja. Di luar negeri juga enggak masalah," ucap Haris.
Susi pun hanya diam. Dia tahu kalau keinginan Nadia pindah kuliah, cuma untuk menghindari Surya. Bukan karena hal lain yang lebih penting.
"Kapan kamu KKN-nya?" tanya Haris.
"Akhir semester ini, Pa," jawab Nadia.
"Ya udah. Kamu selesaikan dulu. Nanti pasti Papa akan penuhi keinginan kamu kalau mau lanjutin ke kota lain." Haris bangkit dari duduknya. Lalu masuk kembali ke kamarnya.
"Kenapa kamu pingin pindah kuliah?" tanya Susi.
"Enggak apa-apa, Ma," jawab Nadia. Lalu beranjak juga dari sofa.
"Nadia! Duduk sini dulu!" seru Susi.
Nadia seperti sengaja menghindari pertanyaan dari Susi. Karena biasanya berujung pada urusan pribadinya.
"Nadia ngantuk, Ma," ucap Nadia.
"Nad! Mama bilang duduk dulu!" seru Susi lagi.
Nadia mendengus kesal, lalu duduk lagi.
"Jawab pertanyaan Mama dengan jujur. Kenapa kamu pingin pindah kuliah?" tanya Susi.
Nadia hanya diam.
"Kamu pingin menghindari Surya?" tanya Susi lagi.
Nadia menggeleng.
"Terus apa?" tanya Susi tak puas dengan gelengan kepala saja.
"Bosan aja," jawab Nadia seenaknya.
"Itu bukan jawaban yang bagus. Apa kamu punya masalah lain? Cerita sama Mama. Mungkin Mama bisa bantu," ucap Susi.
Nadia menggeleng lagi.
"Belum saatnya Nadia cerita, Ma. Kapan-kapan aja. Nadia pasti cerita." Nadia beranjak dari duduknya, dan benar-benar meninggalkan Susi sendirian.
Dan keesokan harinya, Nadia pun benar-benar tak mau berangkat kuliah.
Susi hanya menghela nafasnya. Meskipun dia sudah tahu kalau Nadia hari ini tak mau berangkat kuliah.
"Ada apa dengan anak kamu, Ma?" tanya Haris saat makan pagi.
"Biasalah, Pa. Namanya juga anak muda. Kalau lagi ada masalah pribadi, pasti imbasnya ke kuliah," jawab Susi.
__ADS_1
"Masalah pribadi dengan Surya?" tanya Haris.
"Ya siapa lagi?"Susi mengangkat bahunya.
"Lalu yang namanya Dewa itu, bagaimana? Mama pernah cerita kan sama Papa soal temennya Nadia yang bernama Dewa? Kalau enggak salah teman SMA-nya?" tanya Haris lagi.
"Entahlah, Pa. Anak itu susah dimengerti. Surya itu kurang apa? Eh, malah masih penasaran sama yang namanya Dewa," jawab Susi.
"Lalu Dewanya sekarang ada di mana?" Haris masih saja bertanya. Meskipun sebentar lagi dia harus ke kantor.
"Mama enggak tahu, Pa. Kalau tau sih, bakal Mama datangi tuh anak. Mama bakal tanyain apa maunya juga apa maunya Nadia. Mama pusing mikirin Nadia. Kadang malu juga sama jeng Rahma," jawab Susi.
"Nanti Mama carikan informasi tentang Dewa. Identitasnya aja. Biar Papa yang akan mencari keberadaannya. Papa juga enggak mau kuliah Nadia gagal karena hal ini."
Lalu Haris beranjak dari duduknya.
"Papa berangkat dulu, Ma. Jangan lupa yang barusan Papa minta," lanjut Haris sebelum pergi.
Susi hanya mengangguk. Dan setelah Haris pergi, Susi naik ke lantai atas.
"Nadia. Buruan mandi. Terus kita jenguk tante Rahma," ucap Susi sambil mengetuk pintu kamar Nadia.
Nadia yang mendengarnya, mendengus dengan kesal. Saat ini Nadia benar-benar lagi tidak mood pergi ke sana.
"Iya, Ma. Nadia mandi dulu!" sahut Nadia.
Dengan malas, Nadia menuju ke kamar mandi. Dalam hati menyesal kenapa tadi enggak berangkat ke kampus saja.
Bisa jadi hari ini Viona enggak masuk kuliah. Karena mungkin saja dia belum kembali dari kampung halamannya.
Bagi Surya, Viona adalah pelariannya. Untuk menghilangkan pikirannya tentang Nadia.
Viona sudah rapi juga. Dia memang termasuk salah satu mahasiswi rajin yang punya IPK cukup tinggi. Meskipun tak bisa melampaui Surya yang memang cerdas.
Surya langsung masuk ke dalam. Karena kamar Viona ada di sudut.
Beberapa teman kos Viona yang juga sudah siap dengan aktifitas masing-masing, menatap kagum pada Surya.
Dan beberapa di antara mereka yang sudah mengenal Surya, menyapa dengan ramah.
"Hay, Surya. Nyari siapa?" tanya seorang teman Viona yang sering melihat Surya jalan dengan Nadia.
"Viona," jawab Surya singkat.
Surya memang dikenal sebagai cowok cool yang jarang bergaul dengan cewek-cewek di kampusnya.
Meskipun kalau boleh sombong, tidak sedikit cewek di kampus yang menggilainya. Tapi sayangnya, hanya dianggap angin lalu saja oleh Surya.
Surya terus saja berjalan ke kamar Viona.
Pintu kamar Viona sudah dibuka lebar. Meskipun ada fasilitas AC, tapi setiap pagi Viona selalu membuka pintu kamarnya lebar-lebar dan mematikan AC-nya.
Alasan Viona biar kamar tidak lembab dan dapat udara luar. Udara pagi yang menyejukan daripada AC.
__ADS_1
"Pagi, Vi," sapa Surya.
"Pagi, Surya. Masuk dulu," ajak Viona.
Surya pun menurut. Dia lepas sepatunya dan masuk ke kamar Viona yang sudah bersih dan wangi.
Surya duduk di kursi yang biasa dipakai Viona untuk belajar. Viona sendiri sibuk membuatkan teh hangat untuk Surya.
"Kamu bikin apa, Vi?" tanya Surya.
"Teh hangat. Kamu mau, kan?" Viona balik bertanya. Bukan bertanya sih, tapi lebih ke menawari Surya.
"Boleh deh, kalau udah dibikinin. Sayang kan, kalau enggak mau. Hehehe." Surya terkekeh.
Tadi saat sarapan, Surya baru minum susu dan air putih.
"Ini, Sur. Maaf, cuma ada ini. Aku belum sempat beli roti buat sarapan," ucap Viona sambil memberikan secangkir teh kepada Surya.
"Jadi kamu belum sarapan, dong?" tanya Surya.
"Belum. Gampanglah, nanti selesai jam pertama, aku bisa sarapan di kantin," jawab Viona.
"Jangan biasain begitu, Vi. Enggak baik buat kesehatan. Otak juga jadi enggak bisa bekerja maksimal kalau perut lapar," ucap Surya.
"Enggak tiap hari kok, Sur. Cuma kalau lagi kehabisan roti aja. Aku malas kalau harus keluar cari sarapan. Malah jadi buru-buru," sahut Viona.
Surya menyeruput tehnya. Terasa menghangatkan tenggorokan dan perutnya.
"Enak banget tehnya, Vi," puji Surya.
Selama ini, Nadia tak pernah sekalipun membuatkannya teh hangat. Misalnya Surya menginginkan teh saat di rumah Nadia, yang membuatkan pasti mbok Nah.
"Oh ya?" Viona menatap wajah Surya.
Surya mengangguk sambil tersenyum.
Dalam hati Viona berbisik, dulu tak pernah ada senyuman semanis itu untukku, Sur. Hanya wajah cool dan jutek yang selalu kamu berikan padaku.
Surya melihat jam di pergelangan tangannya.
"Kita berangkat sekarang, yuk," ajak Surya.
Surya tak suka berangkat mepet waktunya. Karena cuma bikin terburu-buru.
"Abisin dulu tehnya, dong," ucap Viona yang melihat teh di cangkir yang dipegang Surya masih setengah.
Surya pun menurut. Lalu menenggak habis tehnya.
Viona meraih tas dan beberapa bukunya. Lalu berjalan keluar kamar, diikuti Surya.
Beberapa pasang mata, memperhatikan mereka. Terutama ke arah Surya.
Menyadari tatapan para cewek yang terlihat buas, tanpa permisi, Surya merangkul bahu Viona.
__ADS_1
Glek!