PERAHU KERTAS (Terjebak Masa Lalu)

PERAHU KERTAS (Terjebak Masa Lalu)
Bab 71 INGIN SENDIRI DULU


__ADS_3

Saat Surya baru saja sampai di dekat motornya, Susi pulang dengan mobilnya.


"Siang, Tante," sapa Surya sambil mengangguk sopan.


"Siang, Surya. Mau kemana?" tanya Susi.


"Pulang, Tante. Permisi."


"Sebentar...sebentar. Udah ketemu Nadia?" tanya Susi lagi.


"Udah, Tante. Baru saja," jawab Surya.


"Kok cepet pulangnya? Bukannya kalian...." Susi tak bisa melanjutkan kalimatnya.


"Sudah selesai semua, Tante. Saya permisi." Surya langsung menarik gas motornya dan menghilang.


Susi hanya bisa menatap dengan banyak pertanyaan di kepalanya.


Tak biasanya Surya pulang secepat ini. Apalagi hari masih siang.


Biasanya Surya akan menemani Nadia sampai menjelang maghrib. Dan kembali lagi selepas maghrib.


Tapi ini? Ah, Susi bergegas masuk ke dalam.


"Nadia...! Nadia...!" teriak Susi dengan suara cemprengnya.


Susi tak menemukan Nadia di ruang tamu. Rupanya Nadia sudah masuk ke dalam. Berniat ke kamarnya sendiri, tapi langkahnya yang tertatih, membuatnya baru sampai di bawah anak tangga.


"Nadia! Duduk sini! Mama mau bicara!" seru Susi.


Nadia menghentikan langkahnya, lalu menoleh.


"Ma, Nadia mau sendiri dulu boleh?" pinta Nadia.


Susi terdiam sambil melongo. Dua orang aneh yang ditemuinya membuat Susi tak bisa berkata apa-apa.


Akhirnya Susi hanya bisa mengangguk dengan segala pertanyaan di kepalanya.


Surya pulang ke rumahnya. Ke kamarnya sendiri. Saat ini dia butuh istirahat. Butuh sendiri.


"Darimana, Surya?" tanya Rahma saat Surya baru saja masuk rumah.


"Dari rumah teman, Ma," jawab Surya. Tanpa menyebutkan nama temannya adalah Nadia.


Ya, kini Nadia hanyalah temannya. Bukan lagi sahabatnya. Karena Nadia telah ambil keputusan. Dan mereka tak bisa bersama lagi sebagai sahabat.


Nadia juga bukan lagi kekasih hatinya, karena Nadia telah menutup pintu hatinya untuk Surya.


Surya sudah terlalu lelah menunggu pintu itu dibuka. Dan nyatanya, Nadia seolah menolak Surya menunggunya. Karena yang dia harapkan membuka lagi pintu itu adalah Dewa. Bukan Surya.


Rahma yang sudah tahu Surya pergi kemana, mengerutkan keningnya. Tak biasanya Surya menyebut Nadia sebagai temannya.


Atau Sinta berbohong? Atau mungkin Sinta cuma mengira-ngira saja, kemana Surya pergi?

__ADS_1


"Teman yang mana?" tanya Rahma lagi. Dia mengikuti langkah Surya menuju kamar.


Surya menghentikan langkahnya, lalu menoleh ke arah Rahma.


"Ma, Surya ingin sendiri dulu boleh?" pinta Surya.


Rahma semakin berkerut saja keningnya. Apalagi melihat wajah Surya yang mendung.


Surya masuk ke kamarnya. Lalu mengunci pintunya. Dia benar-benar sedang dalam mode tidak mau diganggu oleh siapapun.


Bahkan Surya mematikan ponselnya. Karena yakin kalau Yogi bakal menghubunginya, dan menanyakan bagaimana hasil pertemuannya dengan Nadia.


Baru saja Rahma mau mengetuk kamar Sinta, ponselnya berdering. Satu panggilan masuk dari Susi, mamanya Nadia.


"Hallo, Jeng. Lagi ngapain?" sapa Susi.


"Mm...lagi...lagi santai aja. Gimana Jeng Susi?" tanya Rahma.


Lalu mereka saling menceritakan sikap aneh anak masing-masing.


"Jadi benar, Surya dari rumah Jeng Susi?" tanya Rahma.


"Iya. Memangnya Surya enggak bilang?" tanya Susi.


"Dia cuma bilang, dari rumah....teman," jawab Rahma tercekat. Dia merasa cemas dengan sebutan teman.


"Oh." Susi menutup mulutnya sendiri meskipun Rahma tak bisa melihatnya.


Rahma kembali hanya bengong. Otaknya pun terasa buntu. Susah sekali mengembalikannya untuk berpikir tenang.


"Mama kenapa?" tanya Sinta yang tiba-tiba sudah ada di dekat Rahma.


Sinta duduk di sebelah Rahma yang masih bengong.


"Ma....Mama...!" Sinta menepuk lengan Rahma.


"Eh, iya. Ada apa?" tanya Rahma.


"Mama yang ada apa? Kok barusan bengong?" Sinta balik bertanya.


"Mama bisa tolong ambilin air putih?" pinta Rahma.


Sinta mengangguk, lalu beranjak mengambilkan air putih untuk Rahma.


"Ini, Ma." Sinta mengulurkan gelas berisi air putih.


Rahma langsung menenggaknya hingga tandas.


"Udah, sekarang Mama tenang dulu. Terus cerita, ada apa?"


Bagaikan seorang anak kecil, Rahma menuruti omongan Sinta.


Dia menarik nafas, membuangnya. Dan melakukannya berkali-kali.

__ADS_1


"Ada apa, Ma?" tanya Sinta yang sudah tak sabar.


"Barusan jeng Susi telpon. Benar kalau Surya baru dari rumahnya. Tapi sikap Surya dan Nadia terlihat aneh, katanya," jawab Rahma.


"Aneh bagaimana, Ma?" tanya Sinta tak mengerti.


Rahma menunjuk kamar Surya yang tertutup rapat.


"Kak Surya udah pulang?" tanya Sinta.


"Iya. Dia masuk ke kamar, dan tak mau diganggu. Pingin sendiri katanya. Begitu juga Nadia. Dia sekarang lagi mengurung diri di kamarnya," jawab Rahma.


"Hh. Klop. Sejodoh mereka. Hahaha." Sinta malah tertawa. Karena menurut Sinta, hal ini bukan masalah yang besar.


Hanya masalah percintaan. Kisah yang klasik. Kalau enggak putus, ya nyambung.


Patah tumbuh, hilang berganti. Hilang satu tumbuh seribu. Karena di dunia ini masih banyak stock jomblowan dan jomblowati seperti dirinya.


Yang baru saja memulai mengejar cinta Yogi. Dan dari obrolannya dengan Yogi, Sinta dapat sebuah pelajaran.


Bahwa hidup tak selalu sesuai dengan ekspektasi. Kecewa sudah biasa. Gagal bisa usaha lagi.


"Kamu kok malah ketawa?" tanya Rahma. Sementara dia sendiri lagi syok mengira-ngira apa yang sedang terjadi pada Surya dan Nadia.


"Habisnya lucu. Udah pada gede, tapi masih baperan kayak anak kecil. Kalau belum siap terluka, jangan jatuh cinta," jawab Sinta.


"Ah, sok tau kamu. Memangnya kamu pernah jatuh cinta?" tanya Rahma. Pertanyaan yang juga sebuah pancingan agar Sinta mau cerita tentang dirinya sendiri.


"Lagi otewe," jawab Sinta.


"Otewe kemana?" Rahma tak paham ke arah mana jawaban Sinta.


"Mama nanyanya apa?" Sinta makin membuat Rahma pusing.


"Ah, udah lah. Jawab yang jelas." Rahma menepuk paha Sinta.


"Ya, itu udah jelas kan, Ma. Pake bahasa gaul. Makanya Mama yang gaul. Jangan di dapur mulu. Hahaha." Sinta terbahak-bahak, bisa mengerjai Rahma.


Saat ini Sinta memang sedang berbunga-bunga. Meski belum ada kesepakatan apapun dengan Yogi, tapi minimal sudah ada jalan menuju ke sana.


Dan barusan tadi di kamarnya, Sinta baru selesai chat dengan Yogi. Hanya sekedar saling bertanya sedang apa sekarang.


Sangat terlihat kurang dewasa juga, lebih tepatnya mirip abege yang lagi kena cinta monyet. Tapi cukup membuat hari ini terasa indah bagi Sinta.


"Kamu ditanya beneran, malah ngeledek Mama, ya." Rahma menjewer telinga Sinta pelan.


"Aduh...ampun, Ma." Sinta memegangi telinganya yang sebenarnya tidak sakit.


"Sinta juga jawabnya udah bener, kok. Suwer." Sinta mengangkat dua jarinya.


" Ya udah. Sekarang kembali ke kakak kamu. Kamu tau apa yang terjadi sama mereka?" tanya Rahma.


"Kita tunggu aja kelanjutan ceritanya, Ma. Sekarang, biarkan mereka sendiri dulu. Entar kalau laper juga keluar dari kamar. Hahaha." Sinta berlari masuk ke kamarnya lagi.

__ADS_1


__ADS_2