PERAHU KERTAS (Terjebak Masa Lalu)

PERAHU KERTAS (Terjebak Masa Lalu)
Bab 7 PENCURI CIUMAN


__ADS_3

Setelah selesai makan yang penuh kehebohan, mereka pulang. Susi bersama Haris, dan Nadia satu mobil dengan Surya.


"Kayaknya perlu dinikahkan saja tuh dua anak itu, Pa," ucap Susi di dalam mobil.


"Iya. Tapi nanti kalau kuliah mereka sudah selesai, Ma. Kalau dinikahkan sekarang, bisa langsung hamil malah kacau kuliahnya," sahut Haris.


"Kapan-kapan kita bicara sama orang tua Surya ya, Pa. Sepertinya mereka juga enggak keberatan," ucap Susi.


"Mama aturlah. Tapi jangan dalam waktu dekat ini. Papa lagi banyak kerjaan," sahut Haris. Dia juga sudah mengenal papanya Surya.


Susi memgangguk. Dia tahu kalau suaminya baru dapat tender dan pasti sangat sibuk.


Sementara di dalam mobil Surya, Nadia yang kekenyangan, mencari posisi nyaman buat tidur.


"Eh, abis makan jangan langsung tidur. Enggak baik, ah," ucap Surya.


"Ngantuk." Nadia menguap dengan lebar.


"Ditutup dong kalau nguap. Kalau kemasukan laler gimana?"


"Emang mobilmu bak sampah?" Nadia yang sudah sangat ngantuk, tak peduli lagi pada ocehan Surya. Dia langsung terlelap.


Bahkan sampai di depan rumah, Nadia masih saja terlelap. Surya mencoba membangunkan dengan mengguncang lengan Nadia. Tapi Nadia tetap tak berkutik.


Surya melihat keluar, tak ada mobil papanya Nadia. Mampir kemana mereka? Tanya Surya dalam hati.


Tak lama, ponsel Nadia berdering. Surya mengambilnya dari dalam tas Nadia. Rupanya Susi yang menelpon.


"Iya, Tante," sahut Surya.


"Kalian sudah sampai?" tanya Susi.


"Iya, Tante. Ini Nadianya malah tidur di mobil. Dibangunin enggak mau," sahut Surya.


"Ya udah, angkat aja kalau kamu kuat. Kalau enggak ya, tinggal aja di mobil. Tante sama om mampir ke rumah temannya om. Kayaknya bakal sampai malam pulangnya." Lalu Susi menutup telponnya.


Surya mengembalikan ponsel Nadia ke dalam tasnya lagi. Perlahan Surya membelai pipi Nadia. Damai sekali tidur Nadia.


Lalu Surya mengecup kening Nadia dengan lembut. Jantung Surya langsung berdegup kencang. Ini pertama kalinya dia mengecup kening Nadia.


Surya terus saja menatap wajah wanita yang selalu mengisi hari-harinya selama ini. Lalu Surya mendekap kepala Nadia dengan erat.


Bukannya bangun, Nadia malah semakin lelap. Bahkan seperti mencari kehangatan di pelukan Surya.


"Nad. Aku mencintai kamu. Aku menyayangi kamu. Aku benci kamu yang selalu mengingat tentang Dewa. Aku benci kamu yang selalu setia menunggu Dewa. Sadarlah, Nad. Dewa sudah menghilang. Dan dia tak akan pernah kembali," bisik Surya.


Dan entah mendengar atau tidak, Nadia menggeliat. Lalu Nadia mengigau.


"Dewa....kamu dimana...."

__ADS_1


Surya langsung melepaskan pelukannya. Hatinya kembali tercabik. Kenapa harus Dewa, Nad? Ada aku di sini yang selalu setia menemani kamu. Batin Surya.


Surya menepuk-nepuk pipi Nadia. Maksudnya agar Nadia berhenti mengigau. Tapi Nadia malah bangun.


"Udah sampai, ya?" tanya Nadia, lalu menguap lagi.


"Dari tadi," sahut Surya dengan nada kesal.


"Aku mau turun," ucap Nadia.


"Ya udah, turun. Tinggal dibuka pintunya," sahut Surya. Dia masih saja kesal.


"Tapi malas jalannya," ucap Nadia tanpa beranjak sedikitpun.


"Terus maunya gimana?"


"Gendong...." rengek Nadia seperti anak kecil.


"Beratlah," sahut Surya masih kesal. Padahal badan Nadia jauh lebih kecil darinya. Pasti Surya kuat menggendong.


"Ya udah. Aku mau tidur di sini aja." Nadia kembali mencari posisi nyaman.


Surya berdecak sebal. Tak mungkin juga mereka bermalam di dalam mobil.


Lalu Surya turun dan memutari mobilnya. Dibukanya pintu satunya. Lalu melepas sabuk pengaman yang dipakai Nadia, dan dengan tenaga penuh, menggendong Nadia.


Nadia langsung mengalungkan tangannya ke leher Surya. Dia takut terjatuh.


"Biarin!" Nadia malas sekali membuka matanya.


Surya lewat pintu samping yang masih terbuka. Lalu berjalan menuju kamar Nadia di lantai atas.


ART yang melihatnya hanya geleng-geleng kepala. Dia sangat hafal dengan sifat anak majikannya ini yang sangat manja pada Surya.


"Bukakan pintu kamar Nadia, Bik," pinta Surya pada bik Nah.


"Iya, Den." Bik Nah mendahului langkah Surya. Dia membukakan pintu kamar Nadia.


"Silakan, Den." Lalu bik Nah kembali turun.


Surya meletakan tubuh Nadia di atas tempat tidur. Karena terlalu pegal, Surya terjatuh dan otomatis menindih tubuh kecil Nadia.


"Auwh!" pekik Surya perlahan.


Nadia pun spontan membuka matanya. Dilihatnya wajah Surya sudah berada di atas wajahnya.


Sejenak pandangan mereka menyatu. Dan bagai besi tertarik magnet, Surya semakin mendekatkan wajahnya. Dan....


Cup.

__ADS_1


Surya mengecup bibir Nadia sekilas. Nadia terjengit. Dia tak menyangka Surya akan seberani itu mengecup bibirnya.


Nadia langsung memalingkan wajahnya. Dan Surya menjauh, menegakan badannya.


"Maaf, Nad," ucap Surya perlahan.


"Kenapa kamu lakukan itu, Sur?" tanya Nadia.


"Aku....Aku, tak sengaja," jawab Surya berbohong.


Sebenarnya inilah saat yang tepat bagi Surya mengungkapkan perasaannya. Tapi kembali Surya tak punya keberanian. Dia takut Nadia marah dan akan menjauhinya.


Nadia menatap wajah Surya dengan tajam.


"Enggak sengaja, katamu?" tanya Nadia. Dia sangat marah, karena Surya begitu saja mengecup bibirnya.


"Kamu marah?" Surya malah balik bertanya.


"Apa kamu pikir aku harus senang, begitu?"


Surya menelan ludahnya. Dia sangat menyesali perbuatannya barusan. Hal yang dia takutkan selama ini, terjadi juga. Nadia marah padanya.


"Oke. Sekali lagi, maafkan aku, Nad. Aku sangat menyesal," ucap Surya. Dia meraih tangan Nadia dan menggenggamnya.


Tapi dengan kasar Nadia menepis dan menarik tangannya menjauh.


Surya jadi serba salah. Tak disangkanya, Nadia akan semarah itu.


Nadia bukan saja memalingkan wajahnya, tapi langsung memunggungi Surya.


"Nad. Maafkan aku. Aku pulang." Ditunggunya beberapa saat, dan Nadia tak juga berbalik.


Surya pun melangkah meninggalkan kamar Nadia. Di depan pintu, Surya masih sempat memperhatikan Nadia.


Nadia masih pada posisi memunggunginya. Surya pun melangkah gontai menuruni anak tangga.


Sementara Nadia sendiri sedang berfikir, apa maksud Surya mengecup bibirnya tadi.


Bukankah orang yang punya rasa cinta yang bisa melakukannya? Sedangkan setahu Nadia, Surya tak pernah mencintainya.


Apa Surya hanya bernafsu saja? Kurang ajar sekali kalau cuma karena nafsu. Selama ini Nadia menganggap Surya bukan orang lain.


Surya adalah sahabat satu-satunya yang dimiliki setelah Dewa menghilang.


Dan satu-satunya orang yang pernah mengecup bibir Nadia adalah Dewa. Itu pun hanya sekilas saja. Karena usia mereka yang masih sangat muda saat itu. Mereka masih takut akan kebablasan.


Dan Surya menjadi orang kedua. Tapi kenapa harus Surya?


Aku benci kamu, Surya! Geram Nadia dalam hati. Mestinya kamu minta ijin dulu padaku, bukan asal nyelonong saja.

__ADS_1


Dasar kamu pencuri, Surya! Kamu telah mencuri ciuman dariku!


Untuk yang satu ini, aku tak akan pernah memaafkanmu, Surya. Berkali-kali, Nadia merutuki kelakuan Surya yang menurutnya sudah diluar batas sebagai sahabat.


__ADS_2