
Nadia membereskan buku-bukunya yang berantakan. Berharap menemukan perahunya. Tapi tetap saja tak ada.
Haduh, dimana perahuku? Masa iya jalan sendiri mencari Dewa?
Aahhkk! Sebel kalau jadi orang pelupa. Tapi aku enggak lupa. Aku masih sangat ingat menaruhnya di sini.
Tapi dimana sekarang?
Sementara Surya sudah sampai di rumahnya yang tak terlalu jauh.
Setelah memasukan mobil ke garasi, Surya masuk ke rumahnya. Seperti biasanya, Rahma duduk menunggu anak lelakinya pulang.
"Dari mana aja kamu, Sur?" tanya Rahma. Padahal tadi dia sudah dipamiti kalau Surya mau pergi dengan Nadia.
"Jalan sama Nadia, Ma," jawab Surya. Dan setelah mencium tangan Rahma, Surya bergegas masuk ke kamarnya.
"Mama itu, Surya udah gede. Jangan terlalu dikhawatirkan. Lagi pula dia anak lelaki. Nanti kesannya malah kita sebagai orang tua terlalu mengekang," ucap Toni yang tadi mendengar dari kamarnya.
"Mama kan cuma nanya, Pa," elak Rahma.
"Cuma nanya. Tapi Mama enggak akan masuk kamar, kalau Surya belum pulang, kan?" tanya Surya.
"Ya wajarlah, Pa. Namanya juga anak masih diluar rumah. Boleh dong kalau Mama khawatir?" Rahma membela diri.
"Khawatir boleh, Ma. Tapi jangan berlebihan. Seperti yang tadi Papa bilang, Surya anak lelaki. Udah dewasa juga. Lagian kan tadi udah pamit mau pergi sama Nadia. Apa lagi yang perlu dikhawatirkan?" tanya Toni.
Rahma hanya tersenyum. Dia tidak lagi menyanggah omongan suaminya itu. Tapi tidak membenarkannya juga.
"Kita tidur yuk, Pa," ajak Rahma. Dia baru mau masuk kamar setelah anak-anaknya masuk ke kamar mereka masing-masing. Itu sudah jadi kebiasaan Rahma sejak dulu. Sejak mereka masih kecil.
Toni pun menurut. Istrinya ini kalau punya kebiasaan susah sekali dirubah. Apalagi kalau merasa kebiasaannya itu baik. Meskipun sebenarnya tak terlalu baik. Karena faktanya, Surya dan Sinta sudah dewasa. Sudah tak perlu lagi dijaga ketat.
Di kamarnya, Surya melepas celana panjangnya. Seperti kebiasaannya, Surya hanya mengenakan boxer saja saat tidur.
Gerah. Pasti itu alasannya. Meskipun ada ac di kamarnya. Tapi itu sudah jadi kebiasaannya. Susah untuk di rubah.
Saat menggantung celana panjangnya, Surya ingat kalau tadi dia mengambil perahu kertas milik Nadia. Dan menyimpannya di kantong celana.
Surya mengambilnya. Sebuah perahu dari kertas. Ada tulisan diantara lipatannya.
Surya membuka lipatan itu. Dan membaca tulisan tangan Nadia.
Dewa, aku akan menunggumu. Sampai kapanpun. Tak akan ada yang bisa menggantikanmu.
__ADS_1
Surya meremas kertas itu. Lalu menggenggamnya dengan erat.
Aku yang akan menggantikannya, Nad. Dewa tak akan pernah kembali. Gumam Surya.
Matanya memancarkan kekecewaan, kemarahan. Lalu mata itu berubah sendu. Sedih.
Surya begitu sedih. Karena cintanya, sayangnya, perhatiannya, dikalahkan oleh orang yang tak pernah kembali lagi.
Orang yang telah lama menghilang dan tak ada lagi kabarnya.
Wa...kamu sudah mati kan, Wa? Kamu sudah mati, Dewa! Sudah mati! Desis Surya dengan geram.
Lalu Surya melemparkan kertas itu ke keranjang sampahnya.
Kamu sudah mati, Dewa! Seru Surya.
Pintu kamar Surya diketuk dari luar.
"Kak....! Kak Surya...!" Sinta memanggil-manggil.
Surya menghela nafasnya dan membuangnya perlahan. Dia berusaha menetralkan dulu perasaannya.
Lalu berdiri dan membukakan pintu untuk Sinta.
"Ada apa?" tanya Surya. Detak jantungnya masih belum stabil.
Pas saat Surya menggeram dan memekik, Sinta sedang berjalan di depan kamar Surya. Karena terkejut, Sinta menempelkan telinganya di pintu.
"Pingin belajar main teater," jawab Surya asal.
Surya masih berdiri memegangi pintu. Dia berharap Sinta segera pergi. Tapi Sinta malah masuk dan duduk di kursi depan meja belajar.
Surya tak enak kalau mengusirnya. Lalu Surya berjalan ke tempat tidurnya.
Surya berbaring membelakangi Sinta sambil memeluk gulingnya. Berlagak tidur.
"Ye....malah tidur," ucap Sinta.
Sinta mengedarkan pandangannya ke segala arah. Dia tak percaya dengan jawaban Surya yang mengatakan sedang latihan main teater.
Setahunya, Surya tak pernah tertarik dengan dunia seni. Apalagi seni peran seperti teater.
Mata Sinta menemukan sebuah kertas yang tadi di remas oleh Surya. Dan sayangnya Surya tak memperhatikan kalau kertas itu tidak masuk dalam keranjang sampah.
__ADS_1
Sinta perlahan bangkit dan mengambilnya. Lalu menyembunyikan dibalik kaosnya.
"Aku keluar dulu, Kak. Selamat tidur," ucap Sinta. Lalu keluar dari kamar Surya. Tak lupa, Sinta juga menutup pintunya.
Sinta masuk ke kamarnya sendiri. Bagai maling yang takut ketahuan, Sinta menoleh ke kanan dan ke kiri dulu sebelum menutup pintu dan menguncinya.
Lalu buru-buru duduk di atas tempat tidurnya dengan kaki bersila.
Perlahan dibukanya kertas yang sudah mirip bola itu. Jangan ditanya bagaimana deg-degannya jantung Sinta.
Sinta membaca perlahan tulisan yang dia belum mengenalinya. Itu jelas bukan tulisan tangan Surya. Lalu tulisan siapa? Tanya Sinta dalam hati.
Dewa. Ingatan Sinta melayang ke beberapa tahun yang lalu. Sinta ingat kalau Surya punya teman akrab yang bernama Dewa.
Apa itu kak Dewa sahabat kak Surya dan kak Nadia? Lalu siapa yang selalu menunggu kak Dewa? Kak Nadia?
Tapi bukannya kak Surya pacaran dengan kak Nadia? Lalu...? Lalu....?
Apa ini sebuah kisah cinta segitiga?
Tidak!
Tidak mungkin kak Nadia menghianati kak Surya.
Tapi teriakan Surya tadi? Bukankah tadi meneriakan nama Dewa?
Berbagai pertanyaan muncul di benak Sinta. Sinta turun dari tempat tidurnya. Dia berjalan mondar mandir. Berusaha memecahkan pertanyaan itu.
Berkali-kali Sinta menatap dan berusaha mengenali tulisan tangan itu.
Aha...! Besok aku mau main ke rumah kak Nadia. Alasannya? Tentu saja mau menjenguk Nadia yang lagi sakit.
Sinta segera melipat kertas itu dan menyimpannya baik-baik. Bagi Sinta, ini adalah sebuah misteri yang sangat besar. Dan dia yakin akan bisa mengungkap misteri itu.
Sementara, Nadia masih saja mencari keberadaan perahu kertasnya. Tapi sudah berkali-kali dia membolak balikan semua bukunya, tak juga ketemu.
Akhirnya Nadia menyobek satu lembar kertas lagi. Dan kembali menggoreskan tulisan tangannya.
Dewa...perahuku hilang. Apa perahu itu sedang melaju ke tempatmu? Tulis Nadia dan kembali melipatnya menjadi sebuah perahu.
Lalu Nadia meletakannya di atas rak buku. Dia berharap, tak ada satu orangpun yang bisa melihatnya. Apalagi mengambilnya.
Dewa...aku berharap, saat perahu itu melaju, hanya ke tempatmu. Gumam Nadia. Lalu dia merebahkan tubuhnya di tempat tidur sambil terus memperhatikan hasil karyanya.
__ADS_1
Nadia tak pernah tahu kalau perahunya telah diambil oleh Surya. Dan Surya pun tak pernah tahu kalau kertas yang dibuangnya, tak pernah masuk ke dalam keranjang sampah.
Dan kini kertas itu berada di tangan Sinta. Sinta yang kini jadi penasaran arti dari tulisan tangan itu dan siapa penulisnya.