
Hhmm. Surya mendengus. Dia pikir Yogi keluaran dari pesantren. Atau minimal keluar karena DO.
Yogi kembali menikmati sotonya setelah puas tertawa.
"Bro, boleh nambah enggak?" tanya Yogi. Soto di mangkuknya sudah kandas.
"Kamu masih laper?" tanya Surya.
"Lu kan tau sendiri. Gue kalau makan ada yang nemenin, bakal nambah. Apalagi yang nemenin menggemaskan kayak elu." Yogi mencubit pipi Surya.
"Ih! Najis!" Surya menepiskan tangan Yogi.
Yogi terbahak-bahak. Lalu berdiri membawa mangkuknya pergi. Mengembalikan pada Wanti.
Yogi memesan satu piring siomay tanpa menunggu persetujuan Surya yang akan mentraktirnya.
"Sambelnya yang banyak, Pak. Teman saya yang itu tuh, doyan banget pedes," ucap Yogi sambil menunjuk ke arah Surya. Padahal siomay itu untuk dirinya sendiri.
"Siap, Mas. Kalau kurang pedes, tambahin sendiri aja," sahut tukang siomay.
"Kalau kurang pedes, ditampol aja, Pak. Hahaha." Yogi tertawa sambil membawa piring siomay ke mejanya.
Surya geleng-geleng kepala. Heran melihat Yogi yang tak ada kenyangnya..
"Lu mau?" Yogi menawarkan pada Surya sambil mengangkat piringnya.
"Enggak! Makan aja. Biar badan kamu makin bengkak," jawab Surya.
"Enggak masalah, Bro. Pada saatnya nanti, cewek lebih nyaman dengan lelaki gemuk. Karena gemuk identik dengan kenyamanan," sahut Yogi.
Enak sekali hidup manusia satu ini. Seperti tanpa beban. Dia melakukan apapun yang disukainya tanpa merasa terbebani.
"Kak...!"
Surya dan Yogi terkejut karena Sinta tau-tau sudah ada di dekat meja mereka.
"Eh, Cinta! Sini....sini duduk sama Kakak. Eh, Aa aja. Biar enggak nyama-nyamain manggil orang yang lagi galau ono noh." Yogi menunjuk Surya dengan dagunya.
Sinta menatap wajah Surya yang terlihat kusut. Bahkan Sinta menajamkan matanya. Apa benar kakaknya lagi galau?
"Apaan, sih?" Surya menjauhkan wajah Sinta yang menatapnya terlalu dekat.
"Katanya lagi galau? Aku pingin lihat mimik wajah orang yang lagi galau itu kayak apa," ucap Sinta. Lalu dia duduk di sebelah Yogi.
"Omongan Yogi kamu dengerin!" sahut Surya.
"Pasti lagi mikirin kak Nadia, ya?" tebak Sinta.
"Mikirin apa?" tanya Surya, pura-pura tak ada masalah apapun.
Sinta menoleh ke arah Yogi. Merasa tidak enak kalau ngomongin tentang Nadia di depan Yogi.
"Tenang aja Cinta...Aa udah tau ceritanya kok. Cerita si Pungguk merindukan Nadia, eh Bulan, kan? Hahaha." Yogi meledek Surya sambil ketawa ngakak.
"Kok pungguk merindukan bulan sih?" protes Sinta.
"Terus apa dong? Kisah Pangeran buruk rupa? Hahaha." Yogi kembali tertawa.
__ADS_1
Surya hanya diam saja. Dia biarkan Yogi puas meledeknya.
"Ih, Kak Yogi jahat!" Sinta masih membela Surya.
"Aa, Cinta...!"
"Aakk....!" Yogi menyuapkan siomaynya. Dan tanpa sadar Sinta membuka mulutnya, menerima suapan Yogi.
"Anak pinter!" Yogi mengacak rambut Sinta.
"Eh. Maaf, Kak." Sinta jadi malu sendiri.
"Enggak apa-apa, Cinta. Aa seneng kok kalau kamu makannya banyak. Biar bohay. Hahaha."
Sinta makin tersipu malu.
"Terus aja kamu ganggu adikku! Enggak aku bayari makanannya," ancam Surya.
"Huh! Bisanya ngancam. Bilang aja ngiri!" sahut Yogi.
Lalu dia makan siomay dari sendok yang sama. Yogi menyuapkan lagi pada Sinta.
"Jangan mau, Sinta. Nanti kamu ketularan rabies!" sergah Surya.
"Guk...guk...guk...Hahaha!" Yogi malah semakin senang menggoda Surya.
"Haah....pedes, Kak." Sinta yang kepedesan langsung meraih es jeruk yang dikiranya punya Surya. Dia menenggaknya sampai kandas.
"Tuh! Yang ngabisin adik kamu. Masih ngancam enggak mau bayarin juga?" tanya Yogi.
Surya hanya melengos.
"Kak, aku pesen minum lagi, ya?" pinta Sinta pada Surya.
Sinta pun sebelas dua belas dengan Yogi. Kalau urusan uang saku, dia enggak mau mengalah.
"Iya. Pesen aja." Surya mengalah.
Bukannya terima kasih karena sudah boleh pesen minum, Sinta malah sekalian pesan gado-gado.
Surya menatap adiknya dengan kesal. Tekor dia pagi ini. Sinta hanya nyengir.
"Kamu laper?" tanya Surya. Setahunya tadi pagi Sinta sudah sarapan.
"Masa pertumbuhan, Kak. Hehehe." Sinta mengangkat dua jarinya.
Entah mengapa Sinta merasa pingin makan lagi. Bukan laper.
"Entar kalau gendut, jangan salahin aku lho ya," ucap Surya.
"Enak malah kalau gendut. Empuk!" sahut Yogi.
"Ih, apaan sih, Kakak." Sinta meyenggol lengan Yogi dengan lengannya.
"Eh, udah berani nyenggol-nyenggol." Yogi mengelus lengannya.
Surya melotot ke arah Sinta.
__ADS_1
"Maaf, Kak. Enggak sengaja," ucap Sinta sambil menunduk. Bakalan kena semprot kakaknya di rumah nanti.
"Jangan galak-galak, Sur. Entar adiknya enggak laku-laku," sahut Yogi. Tak terasa siomaynya habis juga.
"Emangnya barang dagangan?" protes Sinta.
"Ya enggak dong. Kalau barang dagangan sih gampang. Enggak laku, tinggal sale habis-habisan. Pasti ludes."
Surya kembali melotot. Tapi ke arah Yogi.
"Cinta, kakak kamu udah kayak herder aja. Hih! Aku mau keluar, ah. Takut!" Yogi beranjak dari kursinya. Dia mau cari tempat merokok.
Meskipun sebenarnya tak ada larangan merokok di kantin, tapi biasanya banyak mahasiswi yang komplain. Jadi Yogi mending mencari tempat lain.
"Ayo cepetan makannya," ucap Surya pada Sinta. Sebenarnya Surya pingin menyusul Yogi, tapi enggak tega meninggalkan Sinta sendirian.
"Ih, sabar kenapa sih, Kak. Dikit lagi." Sinta meneruskan makannya.
Tapi bukannya cepet-cepet. Sinta malah membuka ponselnya.
"Ssjak kapan kalau makan sambil buka hape?" protes Surya. Karena peraturan di rumah mereka, tak boleh makan sambil membuka hape. Kecuali darurat.
"Kan enggak ada mama," jawab Sinta cuek.
Surya merebut ponsel Sinta.
"Iih, Kakak. Siniin hapeku!" pinta Sinta.
"Habiskan dulu makanmu. Jangan kebiasaan, walaupun enggak ada mama sama papa." Surya tak ingin adiknya jadi anak yang seenaknya di luaran.
"Iya....!" jawab Sinta dengan kesal.
"Sin, kamu kuliah selesai jam berapa?" tanya Surya.
"Sore. Kenapa? Aku bawa motor sendiri, kok," jawab Sinta. Padahal bukan itu pertanyaan yang mau diajukan Surya.
"Jam berapa?" tanya Surya lagi.
"Jam tiga. Kenapa sih? Kakak udah kayak mama aja. Nanya-nanya gitu. Terus nyuruh Sinta pulang ontime. Heh! Nyebelin! Sinta kan juga pingin main dulu, Kak. Refreshing!" Sinta terus saja nerocos.
"Orang belum ngomong, udah nerocos aja!" sahut Surya kesal.
"Iya deh. Udah buruan ngomong. Sebentar lagi aku masuk kelas, nih." Sinta melihat jam di pergelangan tangannya.
"Kakak pingin ngomong serius sama kamu," ucap Surya.
"Ngomong serius? Tentang apa?" tanya Sinta. Tak biasanya Surya mengajaknya ngomong serius. Karena selama ini Surya menganggap Sinta anak kecil.
"Nanti aja. Kakak tunggu jam tiga di cafe sebrang kampus. Jangan lupa, ya."
Sinta mengangguk. Meski dalam hatinya penasaran.
"Ya udah sana masuk kelas. Aku masih ada waktu setengah jam lagi," ucap Surya.
"Ini?" Sinta menunjuk makanannya.
"Biar aku yang bayar," jawab Surya.
__ADS_1
Sinta tersenyum senang. Karena uang jajannya utuh. Lalu melangkah keluar dari kantin.