
Surya masih diam. Dia masih belum konek dengan pertanyaan Nadia.
Dan Nadia semakin mengeluarkan suara cemprengnya.
"Kamu mau menduakan aku? Kamu mau balas dendam padaku kan, Sur?"
Surya langsung membekap mulut Nadia yang terus saja nerocos.
Andai saja sedang di dalam ruangan dan hanya ada mereka berdua, ingin sekali membekap mulut Nadia dengan mulutnya.
"Hhpptt! Lepas!" Nadia berhasil melepaskan tangan Surya dari mulutnya.
"Jawab pertanyaanku, Surya!" teriak Nadia.
Pemilik cafe sampai menoleh ke arah mereka. Surya mengangguk lalu tersenyum padanya. Memberi tanda kalau mereka baik-baik saja.
"Oke. Oke. Aku jawab. Tapj kamu jangan teriak-teriak, oke?" Surya berusaha menenangkan Nadia.
Nadia mengangguk.
"Aku enggak ada hubungan apa-apa dengan Viona," ucap Surya.
"Bohong....!" teriak Nadia lagi.
Duh! Surya menepuk jidatnya.
"Aku enggak bohong, Sayang. Kalau kamu enggak percaya, boleh tanya sama Vionanya langsung. Kita telpon dia?" jawab Surya.
"Dia pasti enggak mau ngaku!" sahut Nadia.
"Masa kalau punya hubungan denganku enggak ngaku? Rugi dong!" Surya mulai ingin meledek Nadia.
Surya sudah mulai paham kalau ini adalah kesalah pahaman. Dan Nadia sedang dalam mode cemburu buta.
"Kok rugi?" tanya Nadia.
"Iyalah. Entar dia kalah bersaing sama kamu," jawab Surya semakin membuat Nadia bingung.
"Ooh...! Jadi kamu maunya kita bersaing gitu? Enggak! Enak aja!" sahut Nadia.
"Ya kalau kecurigaanmu benar, berarti mestinya kalian bersaing dong. Viona pasti mengaku. Aku telpon sekarang ya?"
Nadia menggeleng.
"Udah, percaya sama aku?" tanya Surya.
Nadia menggeleng lagi.
"Kok menggeleng lagi. Terus aku mesti gimana?" tanya Surya lagi.
"Kamu buktiin kalau kamu cuma cinta sama aku," jawab Nadia dengan manja.
"Ya ampun, Nadia....! Mau bukti kayak apa lagi sih? Ini...?"
Cup.
Surya mencium pipi Nadia.
Nadia langsung tersipu malu. Pipinya merah merona.
"Heeh! Mau dicium aja pake drama-dramaan! Mau lagi?" tanya Surya.
Nadia melihat ke arah pemilik cafe kecil itu.
Nadia memberi tanda pada Surya, kalau ada orang lain di situ.
"Ya udah, entar di rumah kamu, aku cium lagi yang banyak. Biar kamu yakin dan puas!" ucap Surya.
"Ada mama, Surya....!" seru Nadia.
"Di kamar kamu, deh!" sahut Surya.
__ADS_1
"Jangan macem-macem kamu, Surya!" Nadia mencubit lengan Surya.
"Ya terus dimana dong?" tanya Surya.
"Auk ah!" Nadia melengos.
"Kamu tadi cemburu kan, Nad?" tanya Surya sambil menghabiskan minumannya.
"Ih, GR. Siapa yang cemburu?" Nadia tak mau mengakuinya. Padahal jelas-jelas dia tadi cemburu buta.
"Itu tadi apa?" tanya Surya.
"Enggaklah. Aku kan cuma mau nanya aja!" Nadia masih mengelak.
"Nanya kok pakai marah-marah! Sampai aku enggak fokus, jadi nyenggol emak-emak, deh!" Surya menepuk jidatnya sendiri lagi.
Nadia malah tertawa ngakak.
"Malah ketawa! Seneng ya kalau aku diomelin emak-emak?" tanya Surya.
"Ya enggak juga, sih," sahut Nadia.
"Lha itu ketawa kenapa?" tanya Surya lagi dengan gemas.
"Lucu. Asli kamu tadi mukanya lucu banget. Aku pingin ketawa tadi, tapi enggak enak. Entar malah aku yang diomelin ama tuh si emak," jawab Nadia.
"Hhmm. Kamu tadi kok enggak belain aku sih?" tanya Surya.
"Ogah!" jawab Nadia dengan ketus.
"Oh iya. Lupa. Tadi kan kamu lagi ngambek. Padahal aku jamin, kalau denger suara cempreng kamu, pasti langsung kabur tuh emak-emak," sahut Surya.
"Tadi kan juga kabur, kan?" tanya Nadia.
"Iya. Feeling, kali!" jawab Surya.
"Feeling apaan?" tanya Nadia.
Nadia mencubit lengan Surya dengan keras.
"Aduh! Sakit, Nad. Sakit!"
Nadia pun melepaskan cubitannya.
"Eh, itu Viona! Vi...!" panggil Nadia.
Ternyata Viona juga masuk ke cafe kecil itu. Dia datang sendirian.
Viona menatap kaget ke arah Nadia.
Waduh! Malah ketemu di sini. Viona berniat balik arah.
"Eh, Viona! Ke sini!" panggil Nadia lagi.
Terpaksa Viona mengurungkan niatnya. Dia melangkah perlahan mendekat.
"Duduk, Vi. Tegang amat," ucap Nadia seolah tak terjadi apa-apa.
Dengan ragu, Viona menarik kursi di depan Nadia.
"A...Ada apa?" tanya Viona.
"Kamu sendirian? Gabung aja di sini. Malah kayak orang ilang kalau sendirian," ajak Nadia.
Viona mengangguk dengan ragu. Surya hanya diam. Dia tak berani menyapa Viona lagi. Takutnya Nadia kembali salah paham.
"Vi. Maaf soal tadi di kelas, ya? Surya udah jelasin semua kok. Hehehe." Nadia terkekeh. Sebenarnya Nadia malu, udah menuduh Viona dengan Surya.
Surya jelasin semuanya? Tentang Putra? Viona menatap wajah Surya, seakan minta penjelasan.
Mereka tak berani saling bicara. Hanya mata mereka saja yang saling memberikan tanda.
__ADS_1
Aduh, bagaimana ini kalau sampai Nadia menanyakan tentang Putra padaku?
Bagaimana kalau Nadia mencari Putra?
Bagaimana kalau mereka ketemu dan CLBK?
Aduh...! Kenapa jadi begini sih? Kenapa Surya mesti menjelaskan semuanya? Padahal dia sendiri yang minta aku tutup mulut.
Ah, dasar Surya enggak konsisten! Payah! Gerutu Nadia.
"Vi...Viona....!" Nadia menyentuh tangan Viona.
"Eh. I...Iya, Nad. Ada apa?" Viona malah gelagapan.
"Kamu yang ada apa? Kenapa malah melamun?" tanya Nadia.
"Aku....Mm...Ah. Ini gimana sih?" Viona benar-benar merasa sangat kacau.
"Kamu kenapa sih, Vi?" tanya Nadia. Dia jadi ikut bingung melihat Viona yang terlihat panik.
"Surya! Tolongin aku dong. Ini gimana?" Viona malah minta tolong pada Surya.
Karena Viona menganggap ini semua kesalahan Surya, yang sudah memberikan penjelasan tentang Putra.
"Tolong apa, Vi? Kok minta tolong pada Surya?" tanya Nadia makin tak paham.
"Iya. Surya...harus tanggung jawab," jawab Viona.
Mata Nadia langsung melotot.
"Tanggung jawab apa?" tanya Nadia lagi.
Surya pun ikut bingung. Dia cuma menjelaskan pada Nadia, kalau antara dirinya dengan Viona tak ada apa-apa. Kenapa malah dia disuruh tanggung jawab.
"Sur! Ayo dong ngomong!" seru Viona dengan panik.
"Ngomong apa?" tanya Surya.
"Bilang sama Nadia, kalau Putra bukan..."
Bugh!
"Auwh!" teriak Viona.
Surya menendang kaki Viona di bawah meja.
"Kalian ini ada apa, sih?" tanya Nadia.
Nadia yang tadinya sudah tidak marah, jadi mulai kesal lagi.
"Ehem!" Surya berdehem.
"Jadi begini, Viona. Tadi Nadia sempat kesal sama kamu, bahkan sama aku juga." Surya mulai buka mulut.
Viona menyimaknya dengan jantung berdegup kencang.
"Nadia melihat kita tadi ngobrol sebentar di depan kelas kalian. Begitu kan, Nad?" tanya Surya pada Nadia.
"Ih, apaan sih?" Nadia tersipu malu.
Viona melongo. Dia masih berpikir, Nadia mendengar pembicaraannya dengan Surya tadi pagi.
"Dan Nadia menuduh kita ada....hubungan spesial!" lanjut Surya.
Nadia semakin salah tingkah.
"Hah...! Jadi itu penyebabnya?" tanya Viona.
"Iya," jawab Surya.
Hhh! Viona bernafas lega.
__ADS_1