PERAHU KERTAS (Terjebak Masa Lalu)

PERAHU KERTAS (Terjebak Masa Lalu)
Bab 90 MOTOR NADIA MOGOK


__ADS_3

"Kak, mama ngajakin pulang. Udah malam," ucap Sinta yang mendatangi Surya dan Yogi.


"Ayo, Bro. Jangan kelamaan di sini. Entar lu terjun, lagi." Yogi menarik tangan Surya.


Sinta tersenyum miris, mendengar ucapan Yogi. Dia tahu kalau hati Surya sedang tak baik-baik saja.


"Ayo kita pulang. Udah malam. Besok bisa dilanjut lagi ngobrolnya," ajak Rahma.


"Eh, dua hari lagi long weekend, lho. Ada acara enggak, Ma? Kita masih disini kok, sampai abis long weekendnya," tanya Novia pada Rahma.


"Belum ada sih. Memang kamu punya acara?" Rahma balik bertanya.


"Tadinya kita mau habiskan bareng Yogi. Tapi setelah tau kalau Yogi dekat dengan kalian, kayaknya bakal lebih seru kalau kita bikin acara bareng. Biar rame. Gimana?" tanya Novia.


Mereka masih ada di area rooftop.


"Gimana, Pa?" tanya Rahma pada Toni.


"Papa sih, terserah anak-anak aja," jawab Toni.


"Kak Yogi katanya kepingin ke Jogja, Ma," ucap Sinta. Dia juga mau ikut mereka.


"Kayaknya kalau ke Jogja kejauhan, deh. Kasihan papa, nanti kecapekan. Lagian belum lama kita ke sana, kan?" sahut Rahma.


"Terus kemana, dong? Masa di rumah aja. Enggak seru!" Sinta langsung manyun.


"Nanti kita bicarakan di rumah. Sekarang, kasihan mama kamu, udah ngantuk," ucap Toni.


"Oke. Tapi yang pasti, kita habiskan weekend ini bareng, kan?" Novia terlihat sangat berharap.


Rahma mengagguk. Lalu mendahului berjalan turun. Keluar dari area rooftop.


"Bro. Gue balik bareng nyokap, ya. Nitip motor," ucap Yogi pada Surya. Motor Yogi ada di rumah keluarga Surya.


Surya mengangguk. Lalu berjalan ke mobil papanya.


"Sur, kamu yang bawa mobil, ya? Papa capek," ucap Toni.


"Iya, Pa." Surya meraih kunci mobil di tangan Toni.


Rahma cipika cipiki dengan Novia, lalu masuk ke mobil.


Surya membawa mobil dengan perlahan. Toh, sudah tak ada yang mesti dikejar lagi.


"Kamu kenapa sih Sur, dari tadi irit banget ngomongnya. Enggak kayak pas di mobil. Kamu enggak suka suasananya, ya?" tebak Rahma.


"Enggak apa-apa, Ma," jawab Surya.


Entah mengapa, begitu melihat orang-orang berpasangan, termasuk Sinta dengan Yogi, Surya jadi merasa tak nyaman. Makanya dia lebih memilih diam.

__ADS_1


Keesokan harinya, Surya ke kampus lebih pagi dari Sinta. Saat mau mengambil motor di garasi, dia melihat tongkrongan motor Yogi, yang tiba-tiba membuatnya kepingin menaikinya.


Surya kembali ke kamarnya, mau mengambil kunci motor Yogi.


"Ada yang ketinggalan, Sur?" tanya Rahma.


"Enggak, Ma. Cuma mau ambil kunci motor Yogi. Surya mau pake motor Yogi," jawab Surya.


"Lho, memangnya motor kamu kenapa?" tanya Rahma lagi.


"Enggak apa-apa, Ma. Em....Nanti biar sekalian dibawa Yogi pulangnya," jawab Surya. Sekalipun bukan itu alasan utamanya.


"Oh, ya udah." Rahma kembali ke dapur.


Surya pun kembali ke garasi dan mulai memanaskan mesin motor Yogi. Sebuah motor sport yang sebenarnya sangat diinginkannya.


Dulu di awal masuk kuliah, papanya pernah membelikan. Tapi setelah beberapa kali pakai, Surya meminta pada papanya untuk menukar dengan motor matic.


Surya beralasan, motor itu terlalu berat. Padahal alasan sebenarnya, karena Nadia tidak nyaman saat memboncengnya.


Surya segera mengeluarkan motor Yogi dari garasi dan mulai melajukannya perlahan. Perlu beradaptasi dulu sebentar, karena Surya terbiasa dengan motor matic biasa.


Begitu keluar dari komplek perumahannya, Surya sudah bisa membawanya lebih kencang.


Surya merasa menjadi jiwa yang bebas saat dia membawa motornya lebih kencang lagi.


Hingga sampai di sebuah perempatan, mata Surya menangkap sosok Nadia sedang menuntun motornya.


Surya melihatnya lagi dari spion. Dia benar-benar Nadia.


Hati kecil Surya berperang, antara keinginan berhenti dan menolong Nadia atau mengacuhkannya.


Jangan Surya! Dia yang telah menghancurkan hatimu. Apa kamu mau semakin hancur lagi, saat kamu datang dengan niat mulia, tiba-tiba dia bilang, maaf aku tak butuh bantuanmu?


Ah, tidak! Kasihan dia kalau harus nyari bengkel pagi-pagi. Aku siap untuk ditolak lagi, minimal aku udah punya niat baik.


Dan Surya memutar balik motornya, menghampiri Nadia.


"Hay, Nad. Kenapa motormu?" tanya Surya setelah berhenti tepat di depan motor Nadia.


Nadia pun menghentikan motornya. Surya turun dari motor Yogi.


Nadia menatap wajah Surya. Wajah yang ingin sekali dilupakannya. Wajah yang selalu menghantui malam-malamnya. Wajah yang sangat dirindukannya, bahkan melebihi rasa rindunya pada Dewa.


Nadia menggeleng lemah. Dia sudah capek menuntun motornya cukup jauh, dan belum juga menemukan bengkel yang buka.


"Boleh aku cek?" tanya Surya. Dia sudah sangat hafal kondisi motor Nadia. Karena tak jarang dia mengantarkan Nadia dengan motor itu.


Nadia mengangguk. Lalu memberikan motornya pada Surya.

__ADS_1


Sekilas Nadia menatap motor yang dinaiki Surya. Itu motor Yogi. Batin Nadia.


Surya mencoba mengecek kondisi motor Nadia.


"Bagaimana, Sur?" tanya Nadia.


"Kayaknya mesti dibawa ke bengkel. Ada yang enggak beres ini," jawab Surya.


"Tapi dari tadi belum ada bengkel yang buka," sahut Nadia.


"Tuh, di depan sana udah buka." Tadi saat Surya putar balik, tepat di depan sebuah bengkel.


"Aku bawa ke sana dulu ya, motor kamu?" tanya Surya.


Nadia mengangguk.


"Kamu tunggu disini dulu. Sekalian nungguin motor Yogi. Nanti sebentar aku kembali," ucap Surya.


"Iya, makasih ya Sur," ucap Nadia.


Surya mengangguk, lalu segera menuntun motor Nadia.


"Ada yang bisa saya bantu, Mas?" tanya montir yang ada di bengkel itu.


"Ini tadi mogok tolong dicek, Pak," jawab Surya.


"Iya, baik." Lalu montir itu mengecek motor Nadia.


"Ini enggak bisa cepet, Mas. Dan ada onderdil yang mesti diganti. Gimana, mau ditunggu apa ditinggal?" tanya si montir setelah mengecek motor Nadia.


"Ya udah. Saya tinggal aja. Saya juga mau ke kampus dulu." Lalu Surya berjalan kaki, kembali ke tempat Nadia menunggunya. Menunggui motor Yogi.


"Gimana Sur?" tanya Nadia.


"Ditinggal dulu aja. Nanti siang sepulang kuliah, bisa diambil. Kamu mau aku antar ke kampus?" tanya Surya.


"Naik motor....itu?" Nadia melirik ke motor Yogi.


Surya mengangguk. Surya tak banyak berharap Nadia mau memboncengnya. Sebab dia tahu kalau Nadia tak suka membonceng motor sport.


Nadia terpaksa mengangguk. Tak ada pilihan lain, kecuali pesan ojek online. Dan dia mesti menunggu lagi, sementara waktunya semakin mepet.


Surya naik duluan ke motor Yogi. Dan perlahan Nadia naik juga.


Membonceng motor sport milik Yogi, mengharuskan Nadia menjatuhkan badannya bagian depan ke punggung Surya. Atau dia mesti menahan badannya untuk tetap tegap, tapi itu akan sangat melelahkan.


Dan Nadia memilih menjatuhkan dadanya ke punggung Surya.


Degh!

__ADS_1


Degh!


Degh!


__ADS_2