
Sebenarnya kedua orang tua Yogi sudah datang dari semalam. Melihat Yogi sudah tidur, mereka tak tega membangunkannya.
Dan saat pagi hari, Yogi mau berangkat kuliah, mereka belum bangun.
"Den. Semalam mama dan papa Den Yogi pulang," ucap mak Yati sebelum Yogi kabur ke rumah Sinta.
"Hah? Mama sama papa pulang?" tanya Yogi.
Mak Yati mengangguk.
"Jam berapa? Kok enggak bangunin aku sih, Mak?" tanya Yogi lagi.
"Udah larut malam. Kata mama, Den Yogi jangan dibangunin. Kasihan," jawab mak Yati.
"Terus sekarang mereka dimana?" Yogi melihat ke arah kamar orang tuanya.
"Belum keluar. Mungkin belum bangun," jawab mak Yati. Dia juga melihat ke arah kamar orang tua Yogi.
"Mm. Ya udah deh. Gini aja. Aku kuliah dulu. Nanti agak siangan aku pulang. Mama sama papa jangan boleh kemana-mana dulu," ucap Yogi.
Mak Yati mengangguk.
Yogi sudah terlanjur janji ketemu dosen setelah selesai jam pertama. Lagi pula, dia kasihan pada Sinta kalau berangkat kuliah sendiri.
Jadi Yogi terpaksa berangkat juga ke kampus setelah menjemput Sinta.
Sampai di rumah Sinta, Yogi tak sempat ketemu siapapun. Karena dia sudah kesiangan. Jadi langsung berangkat saja dengan Sinta.
Yogi pun lupa bilang pada Sinta, kalau mama dan papanya pulang.
Selesai jam pertama, Yogi mencari dosen yang janjian dengannya. Mereka mau membahas tentang rencana KKN.
Tapi ternyata dosennya malah tidak masuk. Akhirnya Yogi kembali ke kelas Sinta.
Kebetulan jam kedua di kelasnya Sinta, belum dimulai.
Yogi memberi tanda dari luar, agar Sinta keluar sebentar. Sinta pun keluar.
"Ada apa, A?" tanya Sinta.
"Aku mau pulang dulu. Mama sama papaku pulang tadi malam. Tapi aku belum ketemu. Kamu nanti pulangnya naik taksi online aja, ya," ucap Yogi.
Sinta mengangguk.
"Salam buat mama sama papa ya, A," ucap Sinta.
"Iya. Kamu langsung pulang kan, nanti?" tanya Yogi.
Sinta mengangguk. Lalu Yogi segera pergi.
Sinta membatin, kenapa tadi pagi Yogi tak bilang padanya, tentang kedua orang tuanya yang pulang?
Masa lupa sih? Tapi bisa jadi. Tadi kita kan kesiangan. Jadinya buru-buru.
Dan setelah Yogi ketemu kedua orang tuanya, Yogi pergi ke rumah Sinta.
Di tengah jalan, Yogi baru ingat kalau Sinta pastinya masih ikut kuliah jam kedua.
Yogi pun membelokan motornya ke arah kampus. Dia mau menjemput Sinta di kampus.
__ADS_1
Sampai di kampus, Yogi mengirimkan pesan pada Sinta, kalau dia menunggu di kantin.
Kantin sudah agak lengang. Karena jam kedua belum berakhir. Yogi duduk-duduk aja di luar kantin sambil merokok setelah pesan minuman.
Setelah selesai jam kedua, Sinta membuka ponselnya. Dia malah bingung, kenapa Yogi malah menunggunya di kantin? Tadi katanya mau pulang.
Sinta pun pergi ke kantin menemui Yogi.
Sampai di kantin, Sinta tak menemukan Yogi. Lalu Sinta menelponnya.
"Hallo, Aa dimana?" tanya Sinta.
"Aku di samping kantin. Kamu dimana?" tanya Yogi.
"Aku di dalam kantin, A." Sinta pun berjalan ke samping kantin. Lalu mematikan panggilannya.
"Katanya tadi mau pulang?" tanya Sinta.
"Iya. Sini duduk dulu." Yogi menarik tangan Sinta pelan.
Lalu Yogi menceritakan tentang pertemuannya dengan kedua orang tuanya tadi.
"Kalau jam segini, papa kan di kantor, A," ucap Sinta.
"Oh iya. Kenapa aku lupa, ya?" Yogi menepuk dahinya sendiri.
"Terlalu bernafsu sih," sahut Sinta.
"Abisnya keburu pingin nikahin kamu, Cinta." Yogi mengacak rambut Sinta.
"Terus sekarang gimana?" tanya Sinta.
"Ditanya, malah nanya. Aku mau makan aja, ah. Laper," ucap Sinta.
Yogi pun menemani Sinta makan di kantin. Sambil berpikir, apa yang akan dilakukannya setelah ini.
"Kita ke rumahku aja dulu, yuk. Nanti malam, baru kita ngomong sama orang tua kamu," ajak Yogi.
"Iya. Tapi aku selesain makan dulu, A," sahut Sinta.
Sinta bakal merasa tidak enak kalau menolak. Dia kan mau jadi menantunya.
"Iya. Santai aja, Cinta. Mama sama papa juga bakal sabar menunggu calon menantunya, kok," goda Yogi.
Sinta tersenyum malu.
"Mama sama papanya Aa setuju kan sama rencana kita?" tanya Sinta.
"Setuju dong. Kan tadi Aa udah bilang. Kalau enggak setuju, ya kita kawin lari aja. Hahaha." Yogi tertawa ngakak.
"Aa, ih. Kok kawin lari, sih? Capek dong," sahut Sinta.
"Kalau capek, nanti Aa gendong. Mau kan?" Yogi menggoda Sinta lagi.
"Banyak orang, A. Jangan ngegombal!" sahut Sinta.
"Siapa yang ngegombal? Beneran kok. Mau Aa gendong sekarang?" tanya Yogi sambil menaik turunkan alisnya.
"Duuh...yang lagi kasmaran....! Dunia serasa milik berdua. Yang lain ngekos!" Suara Santi mengejutkan Sinta yang duduk membelakanginya.
__ADS_1
"Emang elu anak kos! Minggir sana!" usir Yogi.
Santi sudah mendekati mereka dan berniat duduk bersama.
"Ih, galak amat! Awas lu, nanti kalau di kelas kagak gue sisain kursi!" ancam Santi.
Yogi memang sering duduk di sebelah Santi. Dan biasanya Santi selalu memberikan satu kursi kosong buat Yogi.
"Gue bawa kursi sendiri!" sahut Yogi.
"Hhh!" Santi melengos dengan kesal. Lalu meninggalkan Sinta dan Yogi.
Santi balik lagi.
"Ngapain lu, balik lagi?" tanya Yogi dengan kesal.
"Aa! Jangan gitu dong," ucap Sinta merasa tak enak pada Santi.
"Biarin aja!" sahut Yogi.
"Eh, gue mau kasih berita ke elu pada. Sinta adiknya Surya, kan?" tanya Santi.
Sinta mengangguk.
"Ngapain lu nanya-nanya?" Yogi merasa tak suka.
"Diem dulu, lu. Gue mau kasih info ke kalian. Kali aja kalian belum tau!" ucap Santi.
"Info apaan? Awas kalau cuma gosip, ya!" ancam Yogi.
"Eh, gosip itu semakin digosok, semakin sip," sahut Santi.
"Aah, banyak omong lu. Buruan ngomong!" bentak Yogi pada Santi.
Santi yang sudah terbiasa dengan sifat Yogi, tak merasa tersinggung meski Yogi bicara dengan nada keras padanya.
"Surya sekarang jalan sama Viona. Padahal Viona kan sahabatnya Nadia. Berarti dia pagar makan tanaman dong, ya." Santi memulai acara gosipnya.
"Ah, elu bikin gosip aja. Info dari mana lu?" Yogi merasa tak terima dengan gosip itu.
Santi mengeluarkan ponselnya. Lalu membuka galerinya.
"Nih. Bukti otentik. Akurat. Fresh from the oven!" Santi memperlihatkan foto Surya dan Viona di galerynya.
"Ah, cuma begituan sih wajar aja. Tukang ojek juga suka nolongin penumpangnya makein helm!" ucap Yogi.
Jelas saja ucapan Yogi membuat Santi geram.
"Tapi tukang ojek kan enggak nganter sampai ke depan kelas, Yogi!" teriak Santi.
Beberapa mahasiswa yang ada di kantin, menoleh. Santi cuek aja. Malah nyengir ke arah mereka.
"Udah, ah. Lu bikin gosip aja. Gue kagak mempan ama gosip-gosip kayak gituan. Udah sana minggir!" Yogi kembali mengusir Santi.
Santi pun pergi sambil menggumam tak jelas.
"Dasar tukang ghibah!" maki Yogi.
"Tapi....apa benar mereka semesra itu, ya?" gumam Yogi.
__ADS_1
Sinta yang mendengarnya pun ikutan mikir. Masa iya kakaknya jalan sama Viona. Bakal jadi cinta segiempat dong.