PERAHU KERTAS (Terjebak Masa Lalu)

PERAHU KERTAS (Terjebak Masa Lalu)
Bab 102 KU SUKA KAU APA ADANYA


__ADS_3

Sampai di rumah, Yogi mengirimkan pesan chat pada Surya. Dia ngajakin ketemuan.


Yogi udah merasa kangen pada sahabatnya itu. Tapi sayang, chat dari Yogi tak juga dibaca oleh Surya.


Yogi mencoba menelponnya, tapi tak diangkat juga oleh Surya.


Akhirnya Yogi mengirim pesan chat pada Sinta. Tentu saja Sinta langsung menjawabnya. Karena Sinta sudah kangen pada Yogi yang kini semakin memenuhi ruang di hatinya.


Sinta mengatakan kalau Surya pergi dari pagi tadi. Dia tak dipamiti. Kata mamanya Surya pamit main ke rumah temannya.


Temannya? Sejak kapan Surya memiliki teman dan sampai main ke rumahnya? Secepat itukah Surya mendapatkan teman? Hanya ditinggal Yogi dua hari?


Yogi tak habis pikir dengan jawaban dari Sinta. Bukannya dia tak percaya pada Sinta, tapi jawaban itu sangat aneh bagi Yogi.


Akhirnya Yogi memutuskan mendatangi rumah Surya. Dia ingin membuktikannya sendiri.


"Pa, pinjam mobilnya dong. Yogi mau ke rumah Surya," ucap Yogi.


"Yaelah, Yogi. Baru juga sampai. Istirahat dulu lah," ucap Novia.


"Ini penting, Ma," sahut Yogi, merasa urusannya ini penting.


"Penting apa kangen sama Sinta?" ledek Novia.


Yogi terkekeh.


"Dua-duanya, Ma."


"Memang motor kamu kemana?" tanya Arya.


"Masih di rumah Surya. Kan sejak kita makan malam bareng, Yogi belum sempat ke sana," jawab Yogi.


"Eh, Yog. Mama nitip oleh-oleh ya? Buat calon mertuamu." Novia meledek Yogi.


"Ih, Mama." Yogi hanya tersenyum saja.


Novia membawakan Yogi banyak oleh-oleh untuk Rahma. Sebagian yang dia beli di rest area, sebagian lagi yang dibawakan adiknya mak Yati.


"Yaah...Ikan asin sama terasi masuk mobil lagi, deh," ucap Yogi. Dia mencium aromanya yang menyengat.


Yogi menaruhnya di bagasi.


"Yog. Nanti kalau sempat kamu masukin salon tuh mobilnya. Biar aroma terasimu ilang!" ucap Arya.


"Kok terasinya Yogi sih, Pa? Gara-gara mak Yati tuh." Yogi malah menyalahkan mak Yati.


"Kalau makan sambel enggak ada terasinya, nyariin," sahut mak Yati yang mendengarnya. Dia sedang membawa kopi untuk Arya.


"Iya, Mak. Gitu aja baper....! Hahaha." Yogi langsung ngeloyor pergi.


Yogi melajukan mobilnya ke rumah Surya. Dia melewati rumah Nadia. Reflek dia menoleh.


"Waduh! Itu kan motorku. Kenapa bisa ada di sana?" gumam Yogi.

__ADS_1


Yogi mengerem mobilnya. Lalu menoleh untuk memastikan.


Benar itu motorku. Apa Surya ada di sana? Lagi ngapain dia? Katanya main ke rumah temannya?


Dengan banyak pertanyaan di kepalanya, Yogi kembali melajukan mobilnya menuju rumah keluarga Surya.


Sampai di sana, cuma ada Sinta. Kedua orang tua Surya sedang pergi, kata Sinta.


Mereka duduk di teras. Yogi tak berani duduk di dalam. Takut khilaf, karena tak ada orang satupun.


"Eh, Sin. Kamu bilang Surya pergi ke rumah temannya?" tanya Yogi.


"Kata mama begitu tadi pamitnya," jawab Sinta.


"Surya perginya naik motorku, bukan?" tanya Yogi lagi.


"Iya. Dari kemarin kak Surya kemana-mana naik motornya kak Yogi. Tuh, motornya ada di garasi." Sinta menunjuk ke samping rumahnya.


"Tapi barusan aku lihat motorku ada di halaman rumah Nadia," ucap Yogi.


"Ah, masa sih?" Sinta tak percaya.


"Iya. Masa aku lupa sama motorku sendiri?" sahut Yogi.


"Di rumah kak Nadia? Lagi ngapain dia?" Sinta pun tak mengerti.


"Memangnya Surya tak cerita apa-apa sama kamu?" tanya Yogi.


Sinta menggeleng. Bahkan dia belum ngobrol lagi sama kakaknya itu, sejak kemarin.


"Beda bagaimana?" tanya Yogi.


"Kelihatan lebih fresh gitu. Wajahnya full smile," jawab Sinta.


"Apa jangan-jangan....!" ucap Yogi dan Sinta bersamaan. Lalu mereka saling berpandangan.


"Ayo kita ke sana, Kak. Kita buktikan," ajak Sinta.


"Enggak enak, ah," tolak Yogi.


"Ya terus gimana dong? Aku kan penasaran," tanya Sinta sambil manyun.


Yogi diam sebentar.


"Gini aja. Kita pura-pura mau pergi. Terus kita mampir karena lihat motorku di sana," ucap Yogi.


"Boleh juga. Tapi kalau kak Surya nanya, nanti bilangnya mau kemana?" tanya Sinta. Maklum saja, Sinta tak pandai berbohong.


"Mm....Oh, iya. Tadi aku disuruh papaku ke salon mobil. Kita nanti ke sana aja. Gimana?" Yogi menatap wajah polos Sinta.


Sinta mengangguk. Terserah kamu deh, Kak. Aku pasti mau banget. Asal kak Yogi yang ngajakin. Batin Sinta.


"Ya udah, aku ganti baju dulu ya, Kak." Sinta beranjak dari duduknya.

__ADS_1


"Oh iya, Sin. Ada titipan oleh-oleh dari mamaku. Buat mama kamu katanya. Sebentar aku ambilin." Yogi mengambilnya di bagasi mobil.


"Nih." Yogi memberikan beberapa paper bag pada Sinta.


"Banyak banget, Kak?" tanya Sinta.


"Mana aku tahu. Aku kan cuma suruh bawain aja. Bawa masuk sana!"


Sinta melihat salah satu isi paper bag.


"Hhmmpp! Bau banget! Apaan ini?" Sinta menjauhkan satu paper bag yang dibawanya.


"Terasi sama ikan asin. Hahaha." Yogi malah tergelak sendiri.


"Iih, kok terasi sama ikan asin, sih?" protes Sinta.


"Itu kalau dimasak enak banget! Kamu tau enggak?"


Sinta menggeleng.


"Itu makanan kesukaanku! Hahaha." Yogi kembali tergelak.


"Hah....!" Sinta malah melongo.


Dia saja hampir tak pernah melihatnya. Karena di keluarganya tidak ada yang suka.


"Udah sana, bawa masuk! Naruhnya yang bener. Nanti dimakan tikus!" ucap Yogi.


"Ih, di sini enggak ada tikus, Kak!" sahut Sinta.


"Tikus kan enggak perlu pamit sama kamu, kalau mau tinggal di sini!"


"Ih, Kakak. Memang tikusnya ngekos di sini, pake pamit segala!" Sinta merajuk.


Yogi tergelak melihat wajah Sinta yang merajuk. Lalu mengacak rambutnya.


Sinta semakin manyun, lalu masuk ke dalam rumah. Dia mau menyimpan oleh-oleh dari Yogi, terus bersiap pergi.


Sinta yang tak begitu suka berdandan, tak butuh waktu lama untuk bersiap. Dia hanya berganti pakaian saja dan merapikan rambutnya.


Tas selempang tak lupa dia bawa, buat tempat dompet dan ponselnya.


"Ayo, Kak. Aku udah siap!" ucap Sinta.


Yogi memperhatikan penampilan Sinta yang sangat sederhana. Meski yang dipakainya, bukan barang-barang murah.


Celana jeans, t-shirt dan sepatu sneaker. Rambut dibiarkan tergerai apa adanya, cuma rapi saja. Wajah yang hanya dipoles bedak tipis. Bibirnya pun masih alami. Hanya dioles dengan pelembab bibir saja.


Sangat berbeda dengan Viona yang terkesan glamour. Dandanan menor dengan pakaian ketat.


Rambut yang digulung setengah jadi, kalau kata Yogi waktu itu pada Surya. Dengan warna rambut coklat campur-campur.


Sangat modis untuk style anak jaman now. Itu salah satu yang membuat Yogi pernah terlena.

__ADS_1


Tapi itu dulu. Sebelum Yogi mulai membuka hatinya untuk Sinta. Sinta yang tampil sederhana dan apa adanya.


"Hey! Malah melamun!"


__ADS_2