PERAHU KERTAS (Terjebak Masa Lalu)

PERAHU KERTAS (Terjebak Masa Lalu)
Bab 8 BELUM MEMAAFKAN


__ADS_3

Sementara Surya terus melangkah menuju mobilnya. Sampai di dalam mobil, Surya memukul-mukul stirnya.


Lalu memukul kepalanya sendiri. Dia merutuki kebodohannya. Kelancangannya menodai bibir Nadia. Wanita yang sangat dicintainya.


Surya menstater mobilnya dan melajukan dengan kecepatan tinggi. Dia bagaikan orang yang sedang frustasi.


Berkali-kali terucap kata maaf untuk Nadia. Karena dia tahu kalau Nadia sangat marah dan tak memaafkannya.


Dalam kekalutannya, Surya pergi ke sebuah club malam. Salah satu tempat yang selalu berusaha dihindarinya.


Sampai di dalam club, Surya bertemu dengan teman kuliahnya. Dia memang hobi nongkrong di sana.


"Eh, ada Surya. Tumben kamu kesini, Sur. Ada angin apa?" tanya Yogi, teman sekelas Surya.


"Enggak apa-apa. Lagi kepingin aja. Ada siapa aja?" tanya Surya. Dia tak melihat temannya yang lain.


"Ada Erlin sama Thomas. Tuh, mereka lagi mojok." Yogi menunjuk ke arah sudut ruangan.


Terlihat Erlin dan Thomas sedang berciuman dengan mesra tanpa malu sedikitpun, meski banyak pasang mata yang memperhatikan mereka.


Erlin juga teman sekelas Surya. Di awal kuliah dulu, dia selalu mengejar-ngejar Surya. Tapi Surya selalu menghindarinya. Karena hati Surya hanya untuk Nadia seorang.


Kenapa mereka begitu gampangnya bercumbu? Sedangkan aku, baru nyium aja, Nadia marah setengah mati. Batin Surya.


"Enggak pesen minuman, Bro?" tanya Yogi yang sudah berkali-kali minum.


"Yang non alkohol, ada enggak?" tanya Surya. Dia selalu menghindari minuman beralkohol.


"Mana ada? Semua minuman di sini beralkohol," jawab Yogi sambil tertawa.


Surya melihat ke sekeliling. Dan tiba-tiba, matanya melihat dua sosok yang sangat dikenalnya.


Mama dan papanya Nadia. Ngapain mereka di sini. Dan mereka enggak cuma berdua. Ada sepasang lagi. Mungkin teman yang tadi dimaksud oleh mamanya Nadia.


Dan yang lebih membuat Surya tercengang, mamanya Nadia menenggak minuman yang ada di meja.


Bukankah tadi kata Yogi, di sini tak ada minuman yang non alkohol. Itu berarti Tante Susi minum minuman beralkohol, dong. Batin Surya.


Surya tak mau bermasalah dengan mereka, juga tak mau mereka berfikiran buruk tentangnya. Lalu Surya berbalik.


"Mau kemana Sur?" tanya Yogi.


"Pulang," jawab Surya tanpa menoleh lagi.


Yogi menyusul Surya dan menarik tangannya.


"Hey! Kamu belum pesan minum! Ayolah minum dulu."

__ADS_1


Surya menepiskan tangannya.


"Thanks, Bro. Lain kali aja," tolak Surya dengan sopan. Sebab dia tak mau temannya ini tersinggung.


"Hhh! Dasar Surya katrok! Disini mau nyari susu, mana ada? Yang ada susu cap nona!" gumam Yogi yang otaknya sudah dipengaruhi minuman beralkohol.


Surya kembali melajukan mobilnya. Dia tak tahu mesti kemana lagi. Sampai akhirnya, mobil yang dikendarainya, berhenti di jalanan pinggir pantai.


Suasana pantai yang sepi, hanya suara deburan ombak yang saling berkejaran.


Surya turun dari mobil dan berjalan sendirian menyusuri tepi pantai. Angin yang bertiup kencang, membuatnya melipatkan tangan di dada.


Surya menghentikan langkahnya. Dipandanginya ombak yang saling berkejaran seperti dua pasang insan yang sedang dimabuk cinta.


Surya teringat beberapa bulan yang lalu, dirinya dan Nadia berkejaran seperti ombak itu. Lalu dia membayangkan dirinya dan Nadia berkejaran di pantai ini lagi. Bukan sebagai sahabat, tapi sebagai sepasang kekasih.


Sayangnya, kenyataan tak berpihak kepadanya. Kini Nadia marah. Dan entah sampai kapan.


Surya menendang botol bekas air mineral yang dibuang asal oleh pemiliknya, sambil berteriak.


"Nadia...! Maafkan aku...!"


Surya mengacak rambutnya. Dia terlihat sangat frustasi. Bagaimana kalau Nadia tak mau memaafkannya?


Bodoh! Bodoh sekali aku! Berkali-kali Surya merutuki dirinya sendiri.


Setelah puas melampiaskan penyesalannya, Surya kembali ke mobilnya. Dia memutuskan untuk pulang ke rumah dan tidur.


Sudah jam tujuh pagi. Dia bangun kesiangan.


Surya meraih hapenya dan berharap itu adalah panggilan dari Nadia yang memintanya segera datang menjemput. Atau sekedar menanyakan kenapa terlambat menjemputnya.


Tapi sayangnya harapan Surya hanya tinggal angan. Bukan Nadia yang menelponnya. Tapi mamanya.


"Iya, hallo, Ma," sapa Surya.


"Sur, kamu nyusul ke sini ya. Besok kita rencananya mau berlibur ke Bali," pinta mamanya.


"Tapi Surya kan kuliah, Ma," sahut Surya. Bukannya tak mau diajak berlibur, tapi urusannya dengan Nadia belum selesai. Malah semakin runyam.


"Ijin dulu kan enggak apa-apa. Sinta juga bisa ijin, kok. Enggak lama, cuma tiga hari. Buruan ke sini. Nanti Mama pesenin tiketnya." Rahma langsung menutup telponnya.


Surya paham sekali dengan sifat mamanya. Kalau sudah begini, artinya dia tak mau mendengar kata penolakan.


Surya melihat chatnya dengan Nadia kemarin. Hari ini tak ada chat apapun dari Nadia. Padahal mestinya Surya menjemput Nadia ke kampus. Tapi meski Surya kesiangan, Nadia tak menanyakannya.


Kemana Nadia? Apa dia berangkat ke kampus sendiri? Kenapa tak menanyakannya? Atau dia masih marah padaku?

__ADS_1


Surya bertekad akan menanyakannya lebih dulu. Dia ingin memastikan.


Tapi berkali-kali Surya menelpon, tak diangkat. Bahkan panggilan dari Surya ditolak.


Sejenak Surya terdiam. Masih marahkah Nadia? Atau dia sudah di kelasnya?


Biasanya Nadia menyempatkan diri mengirimkan chat kalau tak memungkinkan mengangkat telpon. Tapi ini?


Surya semakin frustasi. Nadia benar-benar marah padanya.


Surya sadar, kalau dia telah berbuat kesalahan. Tapi bukankah dia sudah berkali-kali meminta maaf?


Akhirnya Surya memutuskan untuk menyusul keluarganya ke kota asal mamanya. Dan Surya tidak memberikan kabar apapun pada Nadia.


Percuma saja aku memberitahukannya. Toh, sepertinya Nadia tak membutuhkannya lagi.


Selesai berkemas, Surya memesan ojek online untuk sampai ke stasiun. Dia memilih naik kereta saja. Meski mamanya menawari tiket pesawat agar cepat sampai.


Sementara Nadia masih mengikuti mata kuliah sampai siang. Dia memang masih kesal pada Surya. Dan tak mau mengangkat telpon Surya ataupun mengirimkan chat padanya.


Biar aja, biar dia tahu kalau aku tak suka dengan caranya. Dia pikir aku ini cewek apaan? Main cium-cium aja. Batin Nadia.


Sepanjang mengikuti mata kuliah, Nadia sering melamun. Hingga tak sedikitpun pelajaran yang nyangkut di otaknya yang memang tak terlalu cerdas.


Hingga jam kuliah berakhir, Nadia tak membuka hapenya sama sekali.


"Nad, ke kantin yuk. Laper nih," ajak Viona, teman sekelasnya.


"Ayo. Aku juga haus." Nadia menurut saja.


Padahal biasanya, Surya sudah standby di depan kelas Nadia. Dan mereka akan ke kantin bersama-sama.


"Surya mana?" tanya Viona.


Nadia hanya mengangkat bahunya. Dia sedang tak ingin membahas soal Surya.


"Mau kemana, Ladies?" suara Yogi, teman sekelas Surya menyapa Nadia dan Viona.


"Ke kantin. Mau ikut?" jawab Viona.


Mereka memang sudah saling mengenal sejak masa orientasi mahasiswa dahulu.


Dengan senang hati, Yogi mengangguk dan mengikuti langkah dua cewek itu.


Nadia melirikan matanya kesana kemari. Dia mencari sosok Surya yang tak dilihatnya. Tapi untuk menanyakannya pada Yogi, jelas Nadia gengsi.


Sampai akhirnya mereka bertiga sampai di kantin dan memesan makanan masing-masing.

__ADS_1


Nadia yang memesan es campur, hanya mengaduk-aduknya tanpa berniat memakannya.


Entah kenapa selera makannya tiba-tiba hilang. Pikirannya hanya pada Surya yang tak juga terlihat.


__ADS_2