
Setelah selasai makan, mereka melanjutkan obrolan di ruang tengah.
Yogi yang tadinya berniat pulang setelah makan, ikut bergabung lagi.
Karena tadi mamanya bilang, kalau mereka ada acara mendadak dengan teman sekolahnya dahulu.
Daripada di rumah sendirian, Yogi memilih menunda rencana pulangnya.
"Kamu enggak jadi pulang, Yog? Nanti dicariin mamamu, lho?" tanya Surya.
"Emangnya aku anak mama yang selalu dicariin?" jawab Yogi.
"Kamu bukan anak mama, tapi anak mak Yati!" sahut Surya meledek Yogi.
"Jangan diomongin, entar orangnya kebangun lho," ucap Yogi.
"Emang jam segini mak Yati udah tidur?" tanya Surya.
"Lagi siap-siap. Abis isya baru dia otewe!" jawab Yogi.
"Otewe kemana, A'? tanya Sinta yang tak paham dengan bahasa Yogi.
"Otewe ke pulau kapuk! Hahaha," jawab Yogi.
"Iih, Aa. Bisa aja!" Sinta menoyor lengan Yogi.
"Eh, kok manggilnya Aa?" tanya Rahma.
Sinta langsung menutup mulut dengan telapak tangannya.
"Wah, Mama ketinggalan berita!" ucap Surya.
"Berita apaan?" Rahma jadi penasaran.
"Kakak! Jangan bilang-bilang Mama!" Sinta berusaha menutup mulut Surya.
"Eh, kok main rahasia-rahsiaan sama Mama. Ayo cerita!" sahut Rahma.
"Mereka itu, Ma...." Belum sempat Surya cerita, mulutnya udah dibekap oleh Sinta.
"Mm...Kami sudah memutuskan buat menjalani hubungan yang lebih serius, Tante. Bolehkan?" tanya Yogi meminta ijin.
Sinta spontan melepaskan tangannya dari mulut Surya.
"A! Katanya jangan bilang-bilang dulu?" protes Sinta.
"Itu kan sebelum kita tahu kalau Surya jadian juga sama Nadia!" jawab Yogi.
Rahma dan Toni terperangah. Surya pun melotot ke arah Yogi.
Yoginya cuek saja. Dia pikir, sudah waktunya orang tua mereka tahu.
"Berita apa lagi, ini?" tanya Toni.
__ADS_1
"Jadi begini, Om. Tante. Saya dan Sinta sudah memutuskan menjalin hubungan. Tadinya kami ingin merahasiakannya dulu," ucap Yogi.
"Kenapa dirahasiakan?" tanya Rahma.
Toni hanya menyimak saja. Karena hampir semua yang ingin dia tanyakan, sudah diwakilkan oleh Rahma.
"Kami sepakat untuk merahasiakannya, karena kami tak ingin....Surya merasa sendiri. Tante dan Om, tau sendiri kan, bagaimana terlukanya Surya, saat....kehilangan Nadia," jawab Yogi.
Rahma dan Toni mengangguk. Surya hanya bisa menundukan kepalanya. Dia merasa trenyuh akan kepedulian Yogi sebagai sahabatnya.
Lalu Surya meraih bahu Yogi yang duduk di sebelahnya. Dia menepuk-nepuk bahu Yogi, sebagai ungkapan rasa terima kasihnya.
"Lalu?" tanya Rahma.
"Sekarang, saya berani mengatakannya, karena selain Tante terlanjur menciumnya, biar tak jadi pertanyaan. Juga karena Surya sudah...menemukan kebahagiaannya," ucap Yogi terbata-bata.
"Maksudnya? Surya sudah dapat pacar baru?" tanya Rahma.
"Ma, Surya udah baikan lagi sama Nadia. Bahkan Surya sudah memberanikan diri menyatakan perasaan Surya pada Nadia," ucap Surya.
Rahma dan Toni terperangah.
"Sejak kapan?" tanya Rahma.
"Dua hari yang lalu, Ma. Karena kejadian yang tidak disengaja," jawab Surya.
"Dan Nadia menerima kamu?" tanya Rahma.
"Kamu yakin?" tanya Toni yang sejak tadi diam.
Surya kembali mengangguk.
Lalu Rahma beranjak dari duduknya.
"Mau kemana, Ma?" tanya Toni.
"Mama ambil hape dulu. Ada yang Mama mau tanyakan pada Surya," jawab Rahma.
Rahma masuk ke dalam kamarnya.
Sementara yang lainnya, saling bertatapan. Hanya Toni yang tahu masalah itu, meski masih meraba-raba.
Rahma kembali dengan hape di tangannya, yang sudah pada mode galery.
"Lalu, bagaimana kalau Nadia melihat ini." Rahma memberikan foto keluarga Yogi yang berpose bersama Dewa.
Rahma sudah tahu permasalahan Nadia dan Dewa dari Sinta.
Rahma yang selalu berusaha bertanya pada Sinta, akhirnya bisa mengorek keterangan.
Sinta yang masih terlalu lugu dan tak bisa berbohong, akhirnya menceritakan alasan kenapa Nadia menolak Surya.
Surya terdiam. Hatinya juga sangat perih membayangkan kalau Dewa datang dan menjemput cinta Nadia.
__ADS_1
Sinta yang duduk di sisi kanan Surya, memeluk lengan kakaknya itu.
Sinta berusaha memberi kekuatan pada Surya. Sinta tak mau Surya terluka lagi. Karena sebagai adik, dia juga akan merasa ikut terluka.
"Nadia udah bilang, katanya dia akan melupakan masa lalunya itu," jawab Surya.
"Itu karena dia belum melihat foto ini. Tapi bagaimana setelah dia melihatnya?" tanya Rahma.
Surya menundukan kepalanya. Dia juga sangat mengkhawatirkan itu.
"Sebaiknya kita rahasiakan dari Nadia, Tante. Jangan sampai Nadia melihatnya," sahut Yogi.
Dia juga salah satu orang yang tak mau melihat Surya terpuruk lagi.
"Siapa saja yang tahu tentang foto itu?" tanya Toni. Matanya tertuju pada ponsel Rahma yang masih dipegang Surya.
"Foto itu diambil pakai ponsel mama saya, Om. Dan mama enggak kenal dengan Nadia. Jadi saya rasa aman. Meskipun nanti saya bicarakan juga dengan mama, untuk memastikan keamanannya," jawab Yogi.
"Jadi hanya kalian yang tahu tentang foto itu?" tanya Toni lagi. Karena jawaban Yogi tadi, belum menjawab pertanyaannya secara pasti.
"Untuk saat ini, sepertinya iya, Om," jawab Yogi.
"Lalu bagaimana dengan Viona? Bukannya Viona dekat dengan Nadia?" tanya Rahma.
"Viona mengenal Dewa dengan nama Putra, Tante. Jadi masih aman kalau Viona hanya sekedar bercerita saja pada Nadia," jawab Yogi.
Surya hanya menyimak saja. Demikian juga Sinta. Dia hanya mengelus-elus lengan kakaknya.
"Bagaimana kalau Viona memperlihatkan foto Putra alias Dewa pada Nadia? Bukan tak mungkin kan, Viona memiliki foto lainnya?" tanya Rahma.
Tadi saat telpon, Novia mengatakan kalau mereka jalan-jalan dengan Viona dan pacarnya yang bernama Putra.
"Jelas saja, Tante. Tapi menurut saya enggak masalah. Malah itu akan semakin membuka mata Nadia, kalau Dewa ternyata sudah melupakannya. Bahkan bisa jadi, Nadia akan membenci Dewa karena berpacaran dengan Viona, sahabatnya," jawab Yogi.
Yogi memang pandai berdebat. Meskipun kadang pendapatnya suka konyol.
"Tante harap juga begitu. Cuma yang Tante khawatirkan, bagaimana kalau tiba-tiba mereka ketemu, lalu CLBK," sahut Rahma.
"Ih, Mama tau-tauan CLBK. Kayak tau artinya aja!" sahut Sinta yang dari tadi hanya menyimak saja.
"Kamu pikir Mama orang jadul yang enggak gaul?" Rahma merasa diremehkan oleh Sinta.
"Iya, deh. Mamaku yang gaul...! Lanjut!" Sinta kembali pada mode menyimak.
"Segala sesuatunya bisa aja terjadi, Ma. Tapi Surya akan berusaha membuat Nadia benar-benar melupakan masa lalunya," ucap Surya.
"Dan kamu juga harus siap dikecewakan lagi, Sur. Jangan terpuruk hanya karena kamu kecewa. Kamu laki-laki. Harus kuat menghadapi segala kemungkinan. Seburuk apapun itu!" ucap Toni.
"Iya, Pa. Surya sudah siap dengan segala kemungkinannya. Surya juga akan berusaha memperjuangkan Nadia. Hingga dia benar-benar bisa melupakan masa lalunya itu," sahut Surya.
Sejak dekat dengan Yogi dan banyak mendapat masukan dari Yogi, Surya merasa dirinya lebih tangguh.
"Dan ingat, Bro. Berjuang sendirian itu capek. Melelahkan. Jangan lupa lambaikan tangan pada kamera kalau sudah tidak kuat! Hehehe."
__ADS_1