
Sinta masuk ke kamar Yogi. Kamar yang besar. Rapi dan bersih.
Kayaknya Aa Yogi orangnya rajin beresin kamarnya. Enggak kayak aku. Batin Sinta. Dia jadi malu sendiri.
Sinta tak tahu kalau semuanya yang mengerjakan mak Yati.
"Kak! Kak Surya! Bangun!" Sinta mengguncang bahu Surya yang tidur di pinggir.
Surya menggeliatkan badannya. Lalu membuka mata.
"Kamu ngapain ke sini?" tanya Surya terkejut.
Surya berusaha mengembalikan kesadarannya. Jangan sampai ketahuan Sinta kalau dia semalam mabuk berat.
"Disuruh mama. Kakak disuruh pulang sekarang," jawab Sinta.
Surya beranjak duduk. Dia masih memakai sarung yang semalam dipakainya sholat.
"Iya nanti. Aku mandi dulu, sekalian ganti baju," sahut Surya.
"Kakak kok pakai bajunya A' Yogi? Memangnya baju kakak kenapa?" tanya Sinta.
Surya langsung tercekat.
"Mm...bajuku....kotor. Enggak enak kalau tidur pakai baju kotor," jawab Surya tergagap.
"Oh. Nanti sekalian dibawa pulang aja bajunya Kakak yang kotor," ucap Sinta. Dia tak mau Surya merepotkan mak Yati.
"Enggak usah! Biar dicuci sama mak Yati aja!" sahut Yogi yang ternyata mendengarkan pembicaraan mereka.
Surya bernafas lega. Yogi membantunya menjawab pertanyaan Sinta.
"Nanti malah merepotkan mak Yati, A'," ucap Sinta.
"Enggaklah. Masa nyuci baju satu aja repot. Lagian di sini kan juga ada mesin cuci," sahut Yogi. Lalu dia pun duduk di sebelah Surya.
"Sini, Aa dicium dulu sebentar. Morning kissing," ucap Yogi.
Surya langsung menjatuhkan badan Yogi lagi ke tempat tidur.
"Morning kissing, pala lu peyang!" seru Surya.
"Hahaha....!" Yogi malah tergelak.
"Yang menjomblo lagi, baper!" ucap Yogi keceplosan.
"Kok menjomblo lagi? Kan ada kak Nadia?" tanya Sinta sambil mengernyitkan dahinya.
Surya meraih bantal dan langsung menbekapkan ke wajah Yogi.
"Hhmmpp! Ampun, Bro...! Ampun! Gue keceplosan!" seru Yogi. Lalu menepiskan bantal yang masih dipegangi Surya.
"Ada apaan lagi ini?" tanya Sinta.
"Enggak ada apa-apa!" jawab Surya.
"Bohong! Pasti ada yang Kakak sembunyikan!" sahut Sinta.
__ADS_1
"Sembunyikan apa? Enggak ada!" Surya langsung beranjak dan berjalan masuk ke kamar mandi.
"Ada apa, A'?" tanya Sinta pada Yogi.
Sinta duduk di sisi tempat tidur. Yogi pun ikut duduk di sebelah Sinta.
"Kakak kamu jangan ditanyain dulu. Dia lagi eror. Nanti aku jelasin semua sama kamu. Oke," ucap Yogi.
Sinta mengangguk.
Yogi mendekatkan wajahnya ke Sinta. Dia berniat mencium.
"Iih, Aa bau!" Sinta langsung menjauhkan wajah Yogi dengan tangannya.
Yogi mengeceknya sendiri, dengan mendekatkan telapak tangannya ke mulut.
"Hh! Iya. Aku kan baru bangun, Cinta. Belum gosok gigi," ucap Yogi jujur.
"Ya udah, gosok gigi dulu sana!" ucap Sinta.
"Kan kamar mandinya lagi dipakai," sahut Yogi.
Reflek, Sinta menoleh ke arah kamar mandi. Surya sudah menutup pintunya.
Kebiasaan Surya kalau bangun tidur, nongkrong berlama-lama di WC.
Yogi meraih tubuh Sinta. Dan tanpa ampun lagi, dia mencium bibir Sinta.
Bukan karena nafsu, tapi tiba-tiba ada ketakutan kehilangan Sinta. Seperti Surya yang harus kembali kehilangan Nadia.
Yogi mencium bibir Sinta sampai puas. Lalu melepaskannya.
Sinta mengangguk, lalu tertunduk malu.
"Mau lagi?" tanya Yogi.
"Iih, Kakak gosok gigi dulu. Bau, tau!" seru Sinta.
"Bau juga kamu suka, kan?" goda Yogi.
Wajah Sinta langsung merona.
Yogi beranjak berdiri. Dia keluar dari kamarnya.
"Aa! Mau kemana?" seru Sinta. Yogi sudah hampir sampai pintu.
"Udah kebelet. Enggak tahan lagi!" sahut Yogi. Dia langsung masuk ke kamar mandi lain di luar kamarnya.
Sinta hanya menghela nafasnya. Ternyata Yogi dan Surya punya kebiasaan yang sama.
Sinta turun ke lantai satu. Dia merasa kurang nyaman berada di kamar Yogi. Apalagi sendirian.
Sampai di lantai bawah, Sinta ketemu mak Yati.
"Memangnya mereka semalam pada begadang, Mak?" tanya Sinta.
"Enggak tau, Non. Emak kan tidur duluan. Tapi semalam mereka pulang tengah malam...eh, enggak enggak!" Mak Yati yang latah, langsung menutupi mulutnya dengan tangan.
__ADS_1
"Enggak apa, Mak?" tanya Sinta. Dia jadi ingin mengorek keterangan dari mak Yati.
"Enggak apa-apa! Eh, enggak apa-apa...! Ah, udah. Emak mau ke dapur dulu. Nyiapin makan buat mereka," jawab mak Yati.
Sinta merasa mak Yati menyimpan rahasia. Meskipun tadi Yogi janji akan menceritakan padanya, tapi Sinta iseng kepingin tahu dari mak Yati.
"Aku bantuin ya, Mak?" ucap Sinta.
"Eh, jangan. Nanti tangan Non Sinta kotor," sahut mak Yati.
"Kan bisa cuci tangan, Mak," sahut Sinta, sambil mengikuti mak Yati ke dapur.
"Entar bajunya kotor," ucap mak Yati lagi. Dia merasa tidak enak kalau Sinta membantunya. Takut Yogi mengira dia yang minta dibantuin.
"Ya enggak lah, Mak. Sinta kan bukan anak kecil, enggak akan ngenain baju!" Sinta tetap ngeyel.
"Aduh...gimana ya? Nanti den Yoginya marah." Mak Yati kebingungan mencari cara, mencegah Sinta membantunya.
"Aa Yogi enggak akan marah, Mak. Kan seorang calon istri mesti pintar di dapur," sahut Sinta.
"Ya udah, deh. Terserah Non Sinta aja." Akhirnya mak Yati menyerah..
Sinta tersenyum penuh kemenangan. Dia bakal mengorek keterangan tentang kakaknya.
Baru saja sampai di dapur, ponsel Sinta berdering.
Telpon dari Rahma. Sinta segera mengangkatnya.
"Iya, Ma. Kak Surya ada di rumah kak Yogi," ucap Sinta to the point. Dia sudah tahu apa yang akan ditanyakan mamanya.
"Hm. Tanyain mau pulang jam berapa?" sahut Rahma.
"Nanti aja pulangnya bareng Sinta, Ma. Sinta masih mau main di rumah kak Yogi," sahut Sinta.
"Pulang sebelum jam makan siang aja. Mama mau masak kesukaan kakak kamu, nih," ucap Rahma.
"Yaa...Sinta juga ini lagi bantuin mak Yati masak. Abis ini mau pada makan," sahut Sinta. Padahal dia baru saja sampai di dapur.
Mak Yati yang mendengarnya terkikik. Sinta langsung menyuruh mak Yati diam, dengan meletakan jarinya di depan mulut.
Mak Yati yang latah pun, mengikuti gerakan Sinta. Tentu saja membuat Sinta tertawa ngakak.
"Kenapa kamu ketawa?" tanya Rahma.
"Eh, enggak, Ma. Ini mak Yati gangguin Sinta terus. Udah dulu ya, Ma. Daah." Sinta langsung menutup telponnya.
"Mak! Jangan ngikutin gerakanku dong. Aku kan jadi kepingin ketawa!" ucap Sinta pada mak Yati.
"Kalau mau ketawa, ketawa aja. Enggak dilarang, kok." Suara Yogi membuat Sinta dan mak Yati terkejut. Dan mak Yati yang latah, semakin bertingkah aneh. Membuat Sinta semakin terpingkal-pingkal.
Surya yang sudah rapi pun, berjalan ke arah dapur. Mengikuti Yogi.
Dari belakang tubuh Yogi, dia melihat Sinta begitu bahagianya. Juga Yogi yang ikut menikmati kebahagiaan Sinta.
Mereka bisa tertawa lepas. Seperti tak ada beban.
Sedangkan dirinya? Masih saja terbebani masa lalu Nadia.
__ADS_1
Masa lalu yang sulit sekali dihapus oleh Surya. Dan kini masa lalu Nadia itu, kembali melukainya.