
Dada keduanya bergemuruh. Surya dapat merasakan jantung Nadia yang berdegup kencang.
Surya sejenak memejamkan matanya. Ada sedikit rasa sejuk menyirami hatinya.
"U...dah...?" tanya Surya dengan suara gemetar.
"Udah...." Nadia pun tak kalah gemetarnya.
Seperti saat pertama menaikinya tadi di rumah, Surya menarik gasnya perlahan. Menyeimbangkan kekuatannya yang seperti dikalahkan oleh detak jantungnya yang kencang.
Surya berhenti di depan bengkel tadi sebentar.
"Pak! Kami ambil nanti siang, ya?"
"Siap!" jawab montir yang lagi membongkar motor Nadia.
Surya kembali memacu motornya. Kali ini lebih kencang. Mau tak mau Nadia melingkarkan kedua tangannya ke pinggang Surya.
Surya tersenyum tipis. Hatinya seperti ditumbuhi bunga-bunga.
Jalanan yang cukup padat, membuat Surya berkali-kali menginjak rem belakang. Dan berkali-kali juga dada Nadia melekat di punggung Surya.
Tak ada protes dari Nadia seperti dulu. Nadia malah semakin mengeratkan pelukannya.
Ya. Nadia seakan menumpahkan semua kerinduannya pada Surya, lewat pelukan. Bahkan Nadia menyandarkan kepalanya ke punggung Surya.
Tak ada sedikitpun yang berani membuka omongan. Semua berjalan dalam keheningan. Hanya suara deru motor dan kebisingan lalu lintas yang mengiringi mereka.
Hingga sampai di parkiran kampus, Surya menghentikan motornya.
Nadia perlahan turun.
Surya terdiam sejenak, menunggu ucapan terima kasih dari Nadia. Tapi tak juga ada suara. Nadia hanya terpaku di tempatnya berdiri.
Surya menghela nafasnya, lalu mencari tempat parkir yang kosong. Dan setelah itu, dia kembali ke tempat Nadia berdiri.
Sesaat mata mereka beradu pandang.
"Terima kasih, Sur," ucap Nadia.
"Iya. Sama-sama. Kamu masuk pagi?" tanya Surya.
Pertanyaan yang hanya basa basi. Karena sebenarnya Surya masih sangat hafal jadwal kuliah Nadia.
Nadia mengangguk.
Dan entah siapa yang memulai, tangan mereka saling melekat dan menggenggam.
Surya menggenggam lebih erat, seakan tak mau melepaskannya.
Hingga sampai di depan gedung A, Surya melepaskan genggamannya.
"Aku duluan, Sur," ucap Nadia.
"Iya. Aku antar nanti pulangnya, sekalian ambil motormu," sahut Surya.
Nadia mengangguk. Lalu tersenyum dan melangkahkan kakinya masuk ke gedung A.
Surya seakan ingin bersorak dan melompat.
__ADS_1
Yeah!
Surya hanya mengucapkannya dalam hati dengan senyuman mengembang.
Langkahnya menuju gedung B, terasa sangat ringan. Seringan kapas.
Surya seakan melayang, terbang ke awan biru.
Surya memasuki kelasnya. Kelas sudah hampir terisi penuh. Diedarkan pandangannya mencari Yogi. Tapi sayangnya tak ada sosok Yogi di antara puluhan mahasiswa.
Surya mencari kursi kosong. Dan seperti biasanya, Surya mendapatkan satu kursi kosong di barisan depan.
Mahasiswa lain lebih memilih kursi di barisan tengah ke belakang. Jadi barisan depan cenderung sering kosong.
Hingga mata kuliah dimulai, Surya tak bisa konsentrasi. Pikirannya hanya pada Nadia.
Dan punggung serta pinggangnya seakan masih merasakan pelukan Nadia.
Surya memejamkan matanya beberapa saat.
"Surya! Kamu mengantuk?" tanya dosen wanita yang kebetulan sangat mengenal Surya. Karena seringnya Surya duduk di barisan paling depan.
"Ah. Eh. Enggak, Bu." Surya kembali menatap whiteboard.
"Kalau ngantuk, silakan ke kamar mandi dulu. Biar lebih segar," ucap dosen itu lagi.
"Enggak, Bu. Terima kasih," sahut Surya.
Dia sedikit malu karena tak biasanya dia ditegur seperti itu. Apalagi masih di jam awal kuliah.
Hingga di akhir pertemuan, tak ada pelajaran yang masuk ke otak Surya.
Karena dia duduk di tengah-tengah mahasiswa lain, tak menjadi perhatian dosen yang mengajarnya.
Dan tak ada juga Viona, yang biasanya selalu duduk di sebelahnya.
Viona sudah bilang pada Nadia, kalau dia akan pulang ke kampungnya. Karena ibunya sakit.
Kampung yang di pesisir pantai yang cukup jauh dari kota tempatnya kuliah.
Nadia duduk di sebelah mahasiswi yang tak terlalu dekat dengannya. Dan dia pun heran, karena tak biasanya Nadia seriang itu. Apalagi tak ada sahabatnya.
Tapi karena hubungan yang tak terlalu dekat, membuatnya enggan bertanya.
Sampai mata kuliah berakhir, Nadia masih saja merasakan getaran yang luar biasa di hatinya.
Nadia keluar dari kelasnya setelah jam kuliahnya berakhir. Dia berniat ke kantin sekedar mencari minuman dingin, sambil menunggu jam kuliah berikutnya.
Di depan gedungnya, Surya sudah berdiri menunggu. Seperti dulu. Saat belum ada masalah di antara mereka.
"Mau ke kantin?" tanya Surya.
Nadia mengangguk.
"Mau aku antar?" tanya Surya lagi.
Nadia diam, hanya memberikan senyuman dan mengulurkan tangannya.
Dengan sigap, Surya meraih tangan Nadia. Lalu menggenggamnya lagi. Seperti tadi.
__ADS_1
Mereka melangkah ke kantin. Masih tanpa suara. Hanya degupan jantung yang berdetak dengan cepat.
"Es jeruk?" tanya Surya.
Nadia mengangguk.
"Kamu cari meja kosong. Aku pesankan."
Nadia melepaskan tangan Surya dan mencari meja kosong.
Di depan etalase penjual minuman, Surya gamang. Apa yang akan dipesan untuk dirinya sendiri?
Es jeruk mengikuti selera Nadia, atau es teh kesukaannya yang pernah dia abaikan?
Sur, jadilah diri lu sendiri. Jangan selalu korbankan perasaan lu untuk orang lain. Lu juga butuh bahagia.
Surya mengingat lagi omongan Yogi, saat dia baru saja terpuruk.
"Pesan apa, Kak?" tanya gadis manis penjaga gerai minuman.
"Eh. Mm...Es jeruk....Mm...Satu. Es teh manisnya satu," jawab Surya.
Ya. Aku harus menjadi diriku sendiri. Dan inilah aku. Kalau Nadia ingin kembali dekat denganku, maka dia harus bisa menerimaku apa adanya. Batin Surya.
Sambil menunggu minumannya jadi, Surya membuka ponselnya. Dia ingin menanyakan kenapa Yogi tak masuk hari ini.
Ternyata sudah banyak pesan masuk di ponsel Surya, dari Yogi. Bahkan ada beberapa panggilan tak terjawab.
Surya melihat waktunya. Lalu berpikir sejenak. Itu saat dia memboncengkan Nadia tadi.
Ternyata suara degupan jantung Surya dapat mengalahkan getar ponsel yang dikantonginya. Hingga dia tak menyadari banyak notifikasi masuk.
Surya membaca pesan dari Yogi. Hari ini Yogi akan mengantarkan mak Yati ke kampungnya, bersama kedua orang tuanya.
Sebuah kampung yang kata Yogi ada di pesisir pantai utara. Cukup jauh dari kota tempat tinggal mereka.
"Kak. Ini pesanannya," ucap gadis manis itu.
Dua minuman pesanan Surya diletakan di atas etalase. Surya segera membayar dan membawa dua cup minuman itu ke meja Nadia.
"Es teh?" tanya Nadia heran. Karena setahu Nadia, Surya sangat menyukai rasa segar jeruk peras.
"Ya. Dan es jeruk untuk kamu." Surya meletakan cup es jeruk, di depan Nadia.
Tanpa banyak bertanya lagi, mereka menyedot minuman masing-masing.
"Masih ada kuliah lagi?" tanya Surya.
Kembali pertanyaan basa basi karena Surya seperti kehilangan kata-kata.
"Iya, jam kedua. Kamu?" Nadia balik bertanya.
"Sama," jawab Surya.
Kamu kan udah tahu jadwalku, kenapa masih menanyakannya, Nad? Tanya Surya dalam hati.
Tak terasa Surya menghabiskan es teh jumbonya.
"Enak es tehnya?"
__ADS_1