PERAHU KERTAS (Terjebak Masa Lalu)

PERAHU KERTAS (Terjebak Masa Lalu)
Bab 161 KEKONYOLAN YOGI


__ADS_3

Surya mengantar Viona pulang, mengambil barang-barang yang akan dibawanya lagi ke kota tempat mereka kuliah.


Sedangkan Sinta dan Yogi kembali ke hotel. Mereka harus segera check out siang ini. Atau mereka akan kena chas lagi.


"Ayo beresin semuanya. Jangan ada yang ketinggalan," ucap Yogi. Dia pun ikut membantu memberesi barang-barangnya.


"Siap, Bos," sahut Sinta.


Yogi merogoh tasnya. Dia baru ingat kalau papanya Sinta telah memberikan uang untuk keperluan mereka.


"Cin, ini uang dari om Toni. Kemarin waktu kita mau berangkat, om Toni memberikannya padaku." Yogi memberikan uang itu pada Sinta.


"Lho, kok dikasihin ke aku? Aa dong yang bawa. Lagian nanti kan juga bisa dipakai buat beli bensin, kan?" tanya Sinta.


Kemarin saat jalan berangkat, Yogi belum mengisi bensin mobilnya.


"Udah. Kalau beli bensin sama bayar hotel, pakai uangku aja. Uang papa kamu, simpan aja. Anggap buat jajan kamu," tolak Yogi.


"Ih, kok gitu sih? Kan kita pergi juga buat urusan kak Surya," tanya Sinta.


"Siapa bilang cuma buat urusan Surya? Buat urusan kita juga, kali..." Yogi langsung mendekat dan mendekap Sinta dari belakang.


Diciuminya tengkuk Sinta dengan lembut. Hingga membuat Sinta merinding.


"Jangan begini, A...!" tolak Sinta dengan suara parau.


"Kenapa?" Yogi terus menyusuri telinga Sinta dengan bibirnya.


"A....kita udah ditungguin kak Surya." Sinta berusaha mengelak. Tapi Yogi semakin mengeratkan pelukannya.


"Sebentaran aja, Cinta...!" Yogi malah membalik tubuh Sinta.


"A...! Kita kan harus segera check out." Sinta menjauhkan wajah Yogi yang sudah siap menerkamnya.


"Oh, iya. Sampai lupa. Kamu sih...nafsuin!"


Cup.


Yogi mengecup bibir Sinta sekilas.


"Ih, Aa aja yang nafsuan!" sahut Sinta.


"Ayo cepetan. Entar aku tinggal, nih!" ucap Sinta. Dia sudah standby di depan pintu. Jaga-jaga kalau Yogi mau khilaf lagi.


"Emangnya kamu bisa bawa mobil sendiri?" tanya Yogi. Setahunya Sinta belum lancar bawa mobilnya. Mungkin karena jarang dikasih kesempatan.


"Siapa bilang aku mau pakai mobil Aa? Aku numpang aja di mobilnya kak Surya! Weeek!" Sinta menjulurkan lidahnya. Lalu buru-buru keluar kamar.


Sinta sudah bisa mengira-ngira, Yogi bakalan mengejarnya dan membawanya ke atas tempat tidur. Makanya dia lari keluar kamar.


"Anak nakal! Awas ya, kamu!" Yogi pun ikutan keluar kamar.


Sinta sudah berjalan duluan ke depan lift.

__ADS_1


"Kita ke lantai berapa, A?" tanya Sinta. Dia sudah siap menekan tombol untuk membuka pintu lift.


"Lobby kan di lantai satu, Cinta," jawab Yogi.


"Aku kan lupa, A," ucap Sinta.


"Masih muda udah pelupa! Gimana kalau udah tua?" tanya Yogi.


"Yang penting enggak lupa ama Aa. Hehehe." Sinta nyengir, dan disambut Yogi dengan mengacak rambutnya.


"Iih...! Jangan begitu, Aa! Hobby amat sih, ngacak-acak rambut. Kayak kak Surya aja!" Sinta langsung manyun.


"Kan kita kompak!" sahut Yogi dengan santai.


Setelah mengembalikan kunci ke resepsionis, mereka ke rumah Viona. Karena rencananya mereka mau konvoi pulangnya.


Sampai di rumah Viona, orang tua Viona malah sudah menyediakan makan siang buat mereka.


"Ayo kita makan dulu. Ibuku udah nyiapin makan siang," ajak Viona.


"Enggak kelamaan kalau kita makan dulu?" tanya Yogi.


"Enggaklah. Kan sama aja, nanti kita juga berhenti di jalan buat makan. Kalau udah makan dari rumah, kan kita enggak perlu berhenti lagi," jawab Viona.


"Gimana, Sur?" tanya Yogi pada Surya.


"Ya udah. Enggak enak juga kalau nolak. Udah dimasakin, kok," jawab Surya.


"Udah ayo." Viona menarik tangan Sinta untuk masuk.


"Ooh, ini teman-temannya Viona. Ayo makan dulu. Biar enak jalannya," ucap seorang wanita setengah baya.


"Iya, Bu. Kami teman-temannya Viona," jawab Yogi. Lalu menyalaminya. Sinta juga mengikuti.


Surya sudah lebih dulu ketemu dan bersalaman. Bahkan dengan bapaknya Viona, sebelum pergi tadi.


"Ini siapa yang cantik?" tanya ibunya Viona.


"Ini Sinta, Bu. Adiknya Surya. Pacarnya Yogi," jawab Viona.


"Ooh, adiknya Surya. Pantesan aja cantik. Kakaknya juga ganteng," sahut ibunya Viona.


"Kalau pacarnya Sinta, ganteng enggak, Bu?" tanya Yogi.


"Enggak....!" jawab Surya dan Sinta kompak.


"Ish! Kakak adik yang ngeselin!" Yogi menonjok lengan Surya pelan.


Viona dan ibunya terkekeh melihatnya.


"Udah, ayo makan. Biar enggak kemalaman di jalan. Kecuali kalian mau menginap di sini lagi," ucap ibunya Viona.


"Besok kita mesti kuliah, Bu. Kalau libur sih, enak kali ya nginep satu malam lagi," sahut Yogi.

__ADS_1


Jelas saja Yogi bilang begitu, dia bisa berduaan lagi dengan Sinta. Sementara Surya dan Viona, bakalan gigit jari karena tak punya pasangan.


"Maunya!" Surya mendorong lengan Yogi pelan.


"Iyalah. Pre honeymoon. Iya kan, Cinta?" Yogi melirik ke arah Sinta.


Sinta menunduk malu.


"Lho, memangnya kalian mau menikah?" tanya ibunya Viona. Dia juga ikut makan bersama.


"Iya itu, Bu. Udah kebelet katanya," jawab Surya.


"Terus kuliahnya gimana? Kalian masih kuliah, kan?" tanya ibunya Viona lagi.


"Masih, Bu. Kuliah kan boleh juga menikah. Enggak ada larangan," jawab Yogi.


Ibunya Viona manggut-manggut. Dia sendiri kemarin menolak keinginan Dewa yang ingin menikahi Viona secepatnya.


Tapi untungnya kedua orang tua Viona bisa memberi pengertian, hingga Dewa tak tersinggung.


"Undang-undang kalau kalian mau menikah. Ibu juga kepingin main ke kota dan kenal keluarga kalian," pinta ibunya Viona.


"Iya, Bu. Nanti kita undang. Vi, kamu ingetin kita, ya," ucap Yogi pada Viona.


"Iya. Aku siap kok jadi pagar ayunya," sahut Viona.


"Apalagi kalau Dewa bisa datang juga, ya. Bisa lebih seru," ucap Yogi. Meskipun dia belum terlalu mengenal Dewa, tapi sudah merasa dekat dan akrab.


"Kalau Putra kan, pulangnya enggak mesti. Jadi jangan terlalu berharap," sahut Viona.


"Hhh! Baru wacana aja, udah heboh!" ucap Surya dengan kesal.


Bagaimana tidak, dia bakal dilangkahi Sinta. Meskipun dalam adat mamanya, hal itu tidak dilarang. Karena Surya kakak laki-laki. Kecuali kalau kakaknya wanita.


"Tapi kan udah mantap, Bro. Katanya elu mau mendukung?" Yogi melirik ke arah Surya.


"Iya. Aku dukung! Tapi jangan heboh dulu. Belum apa-apa juga!" sahut Surya.


"Kenapa? Elu bete ya? Kasihan deh, lu!" Yogi meledek Surya.


"Aa...!" Sinta menyenggol lengan Yogi. Bukan karena Surya kakaknya, tapi siapapun itu, Sinta merasa kasihan.


"Siapa yang bete? Biasa aja!" sahut Surya dengan kesal.


"Jangan putus asa, Surya. Ibaratnya tuh, hilang satu tumbuh seribu," ucap ibunya Viona.


Tadi saat membantu menyiapkan makan, Viona sempat menceritakan tentang Surya yang sedang patah hati, pada ibunya.


"Iya, Sur. Hilang satu lagi, masih ada sembilan ratus sembilan puluh sembilan!" sahut Yogi yang disambut tawa oleh semua orang.


Surya hanya bisa melirik dengan geram ke arah Yogi.


Dasar calon adik ipar kurang ajar! Maki Surya dalam hati.

__ADS_1


__ADS_2