PERAHU KERTAS (Terjebak Masa Lalu)

PERAHU KERTAS (Terjebak Masa Lalu)
Bab 114 GAMBAR WALLPAPER


__ADS_3

"Ayo, Nad. Kita makan," ajak Viona. Dia menyerah pada kemampuan finansial Nadia.


Dengan mudahnya Nadia menggesek kartu debitnya. Bahkan di dompet Nadia, dia masih melihat sebuah kartu kredit.


Ngeri!


Batin Viona.


Siapa yang tak kenal Haris, papanya Viona. Pengusaha property yang sukses dan lagi naik daun.


Anaknya cuma dua. Anak-anak yang penurut dan tak pernah neko-neko.


Istrinya, Susi. Meskipun suaminya kaya raya, tapi tak pernah kalap layaknya sosialita yang gila postingan dan pamer kekayaan.


Kakak Nadia pun tak pernah berulah seperti anak konglomerat lain yang bergaya bak don juan.


Keluarga yang harmonis dan selalu tampil manis.


Pantesan aja Surya lebih memilih Nadia dari pada aku. Dia bakal mewarisi setengah harta konglomerat kaya raya itu. Batin Viona.


Meskipun Surya tak pernah memikirkan itu. Dia mencintai Nadia, sejak mereka masih SMA. Saat orang tua Nadia masih merintis usahanya.


"Ayo. Aku juga udah laper." Nadia memgikuti langkah Viona.


Viona yang berjanji mau mentraktir, berjalan di depan Nadia. Dia yang akan memilih tempat makannya. Pastinya sesuai dengan isi kantongnya.


"Di sini enak makanannya, Vi," ucap Nadia di depan sebuah restauran.


Viona meliriknya sepintas. Meski resto itu menyuguhkan menu masakan Indonesia, tapi setahu Viona harganya selangit. Mengalahkan harga makanan luar negeri.


Para pelanggannya pun mereka yang kantongnya tebal. Viona mana mampu mentraktir Nadia.


Bagaimana kalau Nadia memilih makanan dengan harga termahal? Bisa puasa dia sampai bulan depan.


"Yang lain aja, Nad. Aku pingin makan ramen," jawab Viona.


Viona tahu tempat makan ramen yang murah meriah di mal itu. Dia pernah makan di sana dengan temannya.


"Oke. Terserah kamu deh. Kan kamu yang mau bayarin," sahut Nadia sambil nyengir.


"Tuh, di sana." Viona menunjuk sebuah tempat makan yang pengunjungnya kebanyakan anak muda.


Tentu saja karena harganya yang ramah di kantong anak muda. Terutama pelajar dan mahasiswa yang dananya cekak tapi pingin bergaya.


Nadia memilih meja untuk mereka. Viona sibuk memesankan makanannya.


"Nad. Kamu mau makan apa?" tanya Viona.


"Apaan aja deh. Yang penting kenyang!" sahut Nadia.


Nadia tak bisa menawar ataupun memilih. Takutnya Viona keberatan membayarnya. Meskipun dia mampu membayar sendiri.


Nadia hanya berusaha menghargai niat baik Viona. Jadi dia lebih baik menurut saja.


"Udah aku pesankan. Sama dengan pesananku. Pasti kenyang dan puas deh," ucap Viona dengan bangga.


"Kamu sering ke sini?" tanya Nadia.


"Beberapa kali. Pernah sekali sama si rese Santi," jawab Viona.


"Kamu akrab juga sama Santi?" tanya Nadia. Setahunya Viona jarang ngobrol sama Santi.

__ADS_1


"Biasa aja. Cuma kebetulan lagi kepingin kesini, pas si Santi itu juga kepingin jalan-jalan. Ya udah, bungkus!" jawab Viona.


Nadia mengangguk-angguk.


Nadia hampir tak pernah jalan dengan teman-teman kuliahnya. Karena pasti Surya akan mengikutinya. Bahkan kadang melarangnya dengan berbagai alasan.


Kalau jalan ke mal, seringnya dengan mamanya. Itu juga kalau mereka memang ada kebutuhan yang harus dibeli.


Dan biasanya Susi mengajak Nadia. Karena Susi sendiri tak banyak punya teman jalan.


Susi lebih nyaman mengajak Nadia. Selain bisa belanja semaunya tanpa ada yang nyinyir, juga biar anak gadisnya ini tidak katrok.


Membelikan pakaian untuk keluarganya. Biasanya itu keperluan Susi.


Baik Haris ataupun kedua anaknya, mempercayakan pakaian mereka pada Susi.


Susi yang selalu membelikan untuk mereka. Dan sudah pasti pilihan Susi pasti yang terbaik.


"Eh, Nad. Gimana kabar Yogi dan Sinta?" tanya Viona, setelah makanan pesanannya datang.


"Baik-baik aja. Mereka masih jalan. Yogi juga kata Surya jadi lebih sering ke rumahnya," jawab Nadia.


"Kok kata Surya? Memangnya kamu enggak tahu sendiri?" tanya Viona.


"Jarang aku ketemu mereka. Kan dari dulu juga, Surya yang tiap hari di rumahku. Paling kalau mamaku nyuruh nganterin makanan buat tante Rahma. Baru aku ke sana," jawab Nadia.


"Akrab ya, mama kalian?" tanya Viona.


"Udah dari dulu. Dari kami pertama pindah ke komplek perumahan itu. Apalagi terus aku dan Surya satu sekolahan, jadi makin akrab," jawab Nadia apa adanya.


"Tadinya tetanggaan, besok-besok jadi berumah tangga ya, Nad? Hehehe."


Mereka kembali menikmati makanannya.


"Kalau jodoh itu katanya tak akan lari kemana. Jadi kalau memang Surya jodohku, ya dia enggak akan lari kemana-mana. Tapi kalau bukan...." Nadia menghentikan kalimatnya.


Viona serius menyimak omongan Nadia.


"Kalau bukan apaan, Nad?" tanya Viona penasaran.


"Mungkin aku sudah disediakan jodoh sama yang Maha Kuasa. Ya, siapa tahu." Nadia mengangkat bahunya.


"Kok gitu? Memangnya kamu enggak yakin dengan Surya?" tanya Viona.


"Vi. Aku pernah yakin dengan perasaanku pada seseorang. Tapi nyatanya? Entah perasaanku yang salah atau takdir yang enggak mempertemukan kami lagi," ucap Nadia.


Degh!


Pasti yang dimaksud Nadia adalah Dewa.


Oh, no!


"Eh, Nad. Tadi sepatu yang kamu beli bagus lho. Kapan-kapan kalau aku punya uang, mau ah." Viona mengalihkan pembicaraan.


Dia tak mau Nadia teringat lagi dengan Dewa.


Meskipun Nadia tak pernah menceritakannya pada Viona, tapi Surya sudah mengatakan semua padanya.


Bahkan Surya sudah mengingatkan Viona, supaya jangan membawa Nadia pada kenangannya itu. Karena akibatnya akan sangat fatal. Baik untuk Viona maupun Surya.


"Kamu suka?" tanya Nadia.

__ADS_1


"Suka banget," jawab Viona.


Tadi Viona terpaksa memilih model lainnya. Karena uang dari Putra bakalan habis kalau dia tadi membelinya.


Sedangkan Viona masih butuh beli cream biar wajahnya makin glowing.


"Kenapa tadi kamu enggak bilang?" tanya Nadia.


"Uangku kurang, Nad," jawab Viona dengan jujur.


"Kan bisa pake uangku dulu. Tinggal nambahin aja, kan?"


sahut Nadia.


Nadia tak pernah itung-itungan soal uang kalau dengan teman dekatnya.


"Enggak ah, entar aku jadi punya utang!" sahut Viona.


Meski keuangannya pas-pasan, Viona paling anti berhutang. Apalagi untuk sesuatu yang kurang penting. Dia lebih baik mencari barang lain yang pas dengan isi kantongnya.


"Utang? Kayak sama siapa aja sih, Vi?" Nadia geleng-geleng kepala.


"Eh, Nad. Kita foto yuk. Selfie." Viona mengambil ponselnya.


"Enggak enak kalau selfie. Mending minta tolong orang aja buat motoin," sahut Nadia.


Nadia lebih suka foto yang memperlihatkan suasana sekitarnya, daripada selfie yang hanya fokus ke wajah mereka saja.


Viona melihat kesana kemari, mencari orang yang bisa dimintai tolong.


"Nah itu! Ada pelayan."


Nadia langsung memanggil seorang pelayan yang sedang lewat.


"Mba. Tolong fotoin kami dong!" pinta Nadia.


Pelayan itu mengangguk, lalu meraih ponsel Viona.


Cekrek!


Cekrek!


Cekrek!


"Udah cukup. Makasih ya, Mba!" ucap Nadia. Dia memang tak begitu suka berfoto.


"Coba lihat hasilnya, Vi." Nadia mengulurkan tangannya dan meraih ponsel Viona.


Tanpa pikir panjang, Viona memberikan ponselnya pada Nadia.


Nadia membuka beberapa hasil foto mereka.


"Bagus banget," ucap Nadia.


Lalu dia menutup galery ponsel Viona.


Dan munculah wallpaper di ponsel Viona.


Viona didekap seorang lelaki, yang wajahnya sangat tak asing bagi Nadia.


Dewa....!

__ADS_1


__ADS_2