PERAHU KERTAS (Terjebak Masa Lalu)

PERAHU KERTAS (Terjebak Masa Lalu)
Bab 19 GODAAN SETAN


__ADS_3

Malam itu Nadia tak kalah gelisahnya dengan Surya. Dia mondar mandir terus di dalam kamarnya.


Berkali-kali dia membuka ponselnya, berharap Surya mengirimkan pesan untuknya.


Tapi sayang, harapannya hanya tinggal harapan. Karena kenyataannya Surya juga menyimpan sendiri kerinduannya pada Nadia.


Nadia yang lagi iseng, membuka lemari kecil di kamarnya. Tak sengaja dia menemukan sebuah buku catatan.


Nadia mengambilnya. Halaman demi halaman dia buka. Dan di sana hanya ada catatan tentang perasaannya pada Dewa.


Dulu, setelah Dewa menyatakan perasaannya, Nadia yang juga memendam perasaannya selalu menuliskan hari-hari indah mereka di buku catatan harian itu.


Bukan buku spesial layaknya remaja yang sedang jatuh cinta. Tapi hanya buku memo.


Bukannya Nadia tidak mengistimewakan Dewa. Tapi ada Surya di antara mereka. Dan Nadia tak bisa mengabaikan kehadiran Surya begitu saja.


Dan secara diam-diam, Nadia menuliskan hari-hari indahnya bersama Dewa di buku kecil itu. Buku yang mudah dibawa kemanapun.


Tiga tahun yang lalu....


Saat itu menjelang ujian sekolah. Seperti biasanya, Nadia mengandalkan kedua sahabatnya, Dewa dan Surya untuk membantunya belajar.


Setiap soal yang sulit, pasti Nadia angkat tangan. Dan Mereka berdua akan dengan sukarela membantu menyelesaikannya.


Saat itu, acara belajar bersama di rumah Nadia. Mereka sudah membuat jadwal dimulai jam tujuh malam. Kebetulan malam itu kedua orang tua Nadia ada acara makan malam bersama relasi papanya.


Karena Nadia sendirian, pembantu di rumah juga sedang cuti, maka mama Nadia sendiri yang meminta Dewa dan Surya menemani Nadia di rumah sampai mereka kembali.


Karena sudah mendekati ujian sekolah, kesempatan itu dimanfaatkan mereka untuk sekalian belajar kelompok.


Menjelang jam tujuh, Dewa sudah datang duluan. Meski rumahnya jauh, tapi Dewa selalu ontime. Apalagi yang berhubungan dengan Nadia, dia pasti nomor satu datangnya.


Mereka sudah menunggu Surya hampir setengah jam. Makanan kecil yang disediakan mama Nadia pun sudah hampir kandas.


Tapi Surya tak juga datang. Akhirnya Nadia berinisiatif menghubunginya. Ternyata hapenya tidak aktif.


Nadia menghubungi Sinta, adik Surya. Kebetulan karena rumah mereka juga berdekatan, Nadia cukup akrab dengan Sinta.


Sinta bilang, mereka ada acara mendadak dan Surya juga ikut. Tapi lupa memberitahukan pada Nadia dan Dewa.


Nadia dan Dewa berpandangan. Lalu sama-sama mengangkat bahu.


"Bilang kek dari tadi, jadi kita kan enggak nunggu-nunggu," gerutu Nadia saat itu.


"Udahlah. Mungkin Surya benar-benar enggak sempat. Kan tadi Sinta bilang acaranya dadakan," ucap Dewa menenangkan Nadia yang kesal.

__ADS_1


Sikap Dewa yang selalu mengalah dan mampu menenangkan hati itulah yang membuat Nadia merasa nyaman berada di sisinya.


Berbeda dengan Surya yang selalu usil padanya. Meski setelahnya, selalu minta maaf.


"Kan bisa telpon. Ini malah hapenya dimatiin." Nadia masih saja menggerutu.


"Udah ah. Ngomel mulu kayak emak-emak. Nanti aku cium nih," ancam Dewa.


Ancaman yang membuat darah Nadia memanas. Jantungnya serasa maulepas. Berdetak dengan sangat cepat.


Sejak Dewa menyatakan perasaannya, mereka baru sekali melakukan kissing. Di bukit yang ada di pinggiran kota mereka. Itu pun cuma sebentar, karena terus ketahuan orang.


Nadia menggeser duduknya menjauh dari Dewa. Meskipun mereka sudah sepakat untuk berpacaran diam-diam, tapi Nadia masih tak berani berduaan dengan Dewa di tempat sepi.


Biasanya rumah Nadia mirip basecamp bagi mereka. Setiap pulang sekolah, Dewa dan Surya mengantar Nadia dulu. Dan mamanya Nadia pasti akan menyediakan makanan kecil juga minuman buat mereka bertiga.


Setelah puas bercanda sambil menikmati camilan, baru mereka pulang ke rumah masing-masing. Dan akan ketemu lagi keesokan harinya.


"Kenapa menjauh? Takut aku cium beneran, ya?" ledek Dewa. Dia menarik tangan Nadia.


Sebenarnya Dewa hanya berniat meledek Nadia saja. Dia sendiri juga masih takut untuk melakukan lebih jauh.


"Iih, apaan sih." Nadia mengibaskan tangan Dewa.


Nadia yang masih dalam pelukan, menengadahkan wajahnya. Dan mata mereka bertemu.


Lama mereka bertatapan. Lalu entah setan mana yang merasuki mereka, tatapan itu seperti menuntut.


Dan entah siapa yang memulainya, hingga wajah mereka menyatu.


Mereka yang sama-sama belum pernah merasakan cumbuan, tiba-tiba melakukannya. Naluri mereka yang menuntunnya.


Bibir bertemu bibir. Hingga lidah mereka bertemu di rongga mulut Nadia. Dan saling membelit, saling menyesap.


Mereka baru melepaskannya setelah sama-sama kehabisan oksigen. Lalu saling menunduk malu.


Wajah Nadia merah merona. Dan wajah Dewa semakin diselimuti kabut nafsu yang menggelora.


Dewa berusaha menahannya sekuat hati. Tapi setan kembali menang atas diri mereka.


Dewa kembali meraih tubuh Nadia. Lalu tanpa basa basi lagi, dia luapkan semua hasratnya pada Nadia.


Dewa kembali menyerang bibir Nadia. Kali ini dengan sedikit brutal. Karena otak Dewa sudah dikuasai setan.


Dan Nadia pun tak menolak. Dia pasrah saja. Hingga saat Dewa melepaskan bibirnya dan menyusur ke bagian bawah, barulah Nadia tersadar.

__ADS_1


"Jangan, De. Aku takut," ucap Nadia saat tangan Dewa sudah berada di depan gunung kembarnya.


"Takut kenapa? Aku akan bertanggungjawab, Nad," sahut Dewa.


Dengan lembut tangan Dewa meremas dua gundukan yang masih ranum itu dengan lembut.


Nadia mendesah perlahan sambil menggigit bibirnya sendiri. Dia tak bisa menolaknya. Dia merasakan tubuhnya melayang.


"Aku boleh melihatnya kan, Nad?" bisik Dewa di telinga Nadia.


Seketika bulu kuduk Nadia meremang.


"Jangan, De. Aku malu...."


Telat. Dewa sudah menyingkap kaos oblong yang dipakai Nadia.


"Jangan, De." Nadia berusaha menurunkan lagi kaosnya. Tapi Dewa menahannya.


"Hanya melihat saja, Nad."


Dewa menatapnya dengan lekat. Dua gunung yang masih tertutup kain segitiga.


Nadia semakin keras menggigit bibirnya sendiri. Jantungnya pun semakin berdetak kencang.


Dan saat tangan Dewa hendak meraihnya, suara mobil orang tua Nadia terdengar memasuki halaman.


Seketika Nadia menurunkan dan merapikan kaosnya. Begitu juga Dewa. Dia langsung menjauh dari Nadia dan pura-pura sibuk dengan bukunya.


Dengan jantung berdetak kencang, Nadia juga meraih buku pelajarannya. Tangannya masih bergetar hebat. Pandangan matanya masih nanar.


"Lho, kalian cuma berdua? Surya mana?" tanya Susi.


"Surya....ada acara mendadak sama keluarganya, Ma," jawab Nadia.


"Ooh, ya sudah. Kalian lanjutkan saja belajarnya," sahut Susi.


"Mama....kok cepat pulangnya?" Nadia berfikir, kedua orang tuanya akan pulang di atas jam sembilan malam seperti biasanya.


"Iya, teman papa ternyata ada keperluan keluarga. Jadi batal acara makan malamnya. Oh, iya. Tadi karena kita sudah terlanjur memesan makanan, akhirnya Mama minta dibungkus saja. Dewa, sekalian makan di sini ya? Sebentar, Mama siapin dulu."


Tanpa menunggu persetujuan Dewa, Susi masuk ke dalam. Diikuti oleh Haris, papanya Nadia.


Nadia menatap Dewa sebentar, lalu menunduk malu. Malu karena Dewa telah melihat miliknya yang selama ini selalu disembunyikannya dibalik baju-baju longgarnya.


"Jangan khawatir, Nad. Aku akan bertanggungjawab," ucap Dewa pelan. Dan diangguki oleh Nadia.

__ADS_1


__ADS_2