PERAHU KERTAS (Terjebak Masa Lalu)

PERAHU KERTAS (Terjebak Masa Lalu)
Bab 200 CEMAS


__ADS_3

Surya sampai di rumahnya. Dia tak menemukan Rahma dan Sinta. Hanya ada eyang kakungnya saja yang lagi duduk santai di ruang tamu.


"Siang, Eyang," sapa Surya. Lalu menyalami eyang kakungnya dengan sopan.


"Siang. Sini duduk." Eyang kakung menepuk sofa di sebelahnya.


Surya pun menurut.


"Pada kemana, Eyang?" tanya Surya.


Sangat tidak sopan seorang cucu bertanya duluan sebelum yang lebih tua bertanya. Tapi eyang kakung berusaha memahami sikap anak jaman sekarang.


"Mama kamu sama Sinta pergi ke butik. Tadi kamu yang diminta mengantar mereka, kan? Kalau eyang putri, lagi istirahat di kamar kamu," jawab eyang kakung.


Selama di rumah Rahma, eyang kakung dan eyang putri tidur di kamar Surya. Karena kamar di rumah Rahma hanya ada tiga. Dan Surya harus mengalah tidur di sofa.


Kalau dulu, jaman Surya dan Sinta masih kecil-kecil, mereka akan tidur berdua. Atau kadang Surya tidur dengan eyang kakungnya, Sinta dengan eyang putri.


"Iya, Eyang. Surya tadi nagntar Viona pulang dulu ke kosannya," sahut Surya.


"Apa rumah teman kamu itu jauh? Sampai berjam-jam kamu baru pulang?" sindir eyang kakung.


"Enggak, Eyang. Deket kampus. Cuma tadi..." Surya ragu-ragu untuk memgatakannya.


"Katakan saja. Eyang akan dengarkan," ucap eyang kakung.


"Tadi....Viona agak tersinggung dengan sikap mama, Eyang. Dan Surya tadi....berusaha menghiburnya." Surya menundukan wajahnya.


"Kamu tau alasan mamamu sampai bersikap seperti itu?" tanya eyang kakung.


Surya hanya diam saja. Sambil terus menunduk. Tak berani menatap wajah eyang kakungnya.


"Semalam kamu tidak pulang. Tidak kasih kabar. Telpon kamu tidak bisa dihubungi," ucap eyang kakung.


"Maaf, Eyang. Hape Surya mati," sahut Surya.


"Kalau mau minta maaf, pada mama kamu. Dia yang paling panik semalaman. Sampai tidak bisa tidur nyenyak," ucap eyang kakung.


"Iya, Eyang. Nanti Surya minta maaf sama mama," ucap Surya.


Eyang putri datang dan ikut bergabung. Dia duduk di sebelah eyang kakung.


Waduh! Bakalan kena semprot lagi ini. Batin Surya.


"Siapa teman kamu tadi?" tanya eyang putri.


"Namanya Viona, Eyang. Dia teman dekat Surya. Teman satu kampus," jawab Surya.


"Surya. Meskipun kamu bilang dia teman dekat, tapi jangan bersikap seperti itu di depan orang tua. Itu sangat tidak sopan," ucap eyang putri.


"Bersikap seperti apa, Eyang?" tanya Surya belum paham.

__ADS_1


"Kamu tadi menggandengnya di depan kami. Apa menurutmu itu sopan?" tanya eyang putri.


Surya terdiam. Dia mengaku salah lagi.


"Kamu belum pernah memperkenalkannya pada kami. Tiba-tiba kamu datang menggandengnya, setelah semalaman enggak pulang," ucap eyang putri.


Surya semakin diam.


"Eyang enggak mengira kalau Rahma tidak bisa mendidik anak. Kalau tau begini, mending kamu ikut eyang saja di Jogja!" lanjut eyang putri.


Surya langsung mengangkat wajahnya.


"Tapi, Eyang...."


Belum sempat Surya melanjutkan kalimatnya, eyang putri langsung memotong.


"Tapi apa? Kamu mau hidup dengan cara bebas? Menggandeng wanita seenaknya?" cecar eyang putri.


Eyang kakung memegangi tangan eyang putri. Sebab eyang putri sering sesak nafas kalau lagi emosi.


"Enggak, Eyang." Surya kembali menundukan wajahnya.


Surya juga tak mau terjadi sesuatu dengan eyangnya. Bisa habis dibantai keluarganya, kalau sampai itu terjadi.


"Ya sudah. Sekarang kamu masuk kamar. Tunggu sampai mama dan papa kamu pulang. Biar mereka yang memutuskan," ucap eyang kakung menengahi.


Surya tersentak.


Tapi demi membuat kedua eyangnya ini tenang, Surya menurut. Dia melangkah masuk.


Begitu sampai di depan kamarnya, dia berhenti.


Kamarku kan dipakai tidur eyang. Batin Surya.


Lalu Surya berbelok ke kamar Sinta. Biarlah untuk sementara dia rebahan dulu di kamar Sinta. Semoga nanti mama pulang, enggak ikut ngomel. Harap Surya.


Sementara Nadia dan Susi asik memilih gaun yang akan dikenakan saat kondangan di pernikahan Sinta. Lebih tepatnya, Susi yang sibuk. Nadia hanya memberikan penilaian saja.


Kadang pilihan Susi menurut Nadia, terlalu berlebihan. Maklum saja, usia mereka terpaut jauh. Tentu saja selerapun berbeda jauh juga.


"Ma. Nadia duduk, ya. Nadia capek," rengek Nadia.


"Orang kamu aja belum milih, kok capek," ucap Susi.


"Mama aja deh yang milihin." Nadia memijat dahinya. Kepalanya terasa berkunang-kunang.


"Kenapa? Pusing?" tanya Susi.


Nadia mengangguk.


"Kekenyangan itu. Kamu sih, kalau makan enggak kira-kira," ucap Susi.

__ADS_1


Susi tak memperhatikan lagi wajah Nadia yang pucat. Keringat dingin mulai keluar dari pori-pori kulit Nadia.


Hhhkkk...!


Nadia merasa dirinya mau muntah.


Susi pun menoleh.


"Kamu kenapa?" Susi memegang bahu Nadia.


Untungnya tadi Nadia sempat melihat tulisan toilet di pojok ruangan. Nadia segera berlari ke sana.


Dan untungnya lagi, toilet sedang tak ada yang menggunakan. Jadi Nadia bisa langsung masuk tanpa bertanya lagi.


Di closet, Nadia memuntahkan seluruh isi perutnya. Tentu saja rasanya nano-nano. Pahit. Panas. Dan perih di tenggorkannya.


Susi yang ikut berlari di belakang Nadia, hanya menunggu di depan pintu. Tapi dari situ, Susi mendengar suara Nadia muntah.


Susi merasa sangat khawatir. Digedornya pintu berkali-kali. Tapi tak ada jawaban dari Nadia. Hanya suara air dari kran yang terdengar.


Aduh...! Anak itu kenapa lagi? Ada-ada aja. Tadi dari rumah enggak kenapa-napa. Gumam Susi dalam hati dengan cemas.


Setelah puas muntah, Nadia membersihkan dirinya, juga closet yang dipakainya muntah. Baunya sangat menyengat.


Lalu Nadia keluar. Wajahnya terlihat sangat pucat dan lemas.


"Kamu kenapa? Kita ke dokter, ya," tanya Susi dengan cemas.


Susi memegang dahi Nadia. Badan Nadia tidak panas. Malah dingin.


"Mungkin anaknya masuk angin, Bu," ucap seorang penjaga butik.


"Sepertinya. Maaf, kami pulang dulu aja, ya. Lain waktu kami kesini lagi," ucap Susi.


Susi adalah pelanggan tetap di butik itu. Jadi tak masalah meski Susi tak membelinya setelah tadi lama memilih-milih.


"Iya, Bu. Tidak apa-apa. Atau nanti kami kirimkan foto-foto gaun koleksi kami yang lain, ke nomor Ibu," ucap penjaga butik itu.


"Begitu juga enggak apa-apa. Saya tunggu, ya," sahut Susi.


"Baik, Bu. Secepatnya kami kirimkan." Penjaga butik itu mengangguk dengan sopan.


Susi pun menggandeng Nadia keluar dari butik, dan masuk ke mobil.


"Kita ke dokter dulu, ya," ucap Susi setelah berada di dalam mobil.


"Enggak ah. Paling juga cuma masuk angin, Ma. Nadia mau istirahat aja." Nadia menyandarkan kepala dan mulai memejamkan matanya.


Anak ini kenapa ya? Apa ada yang dirasanya? Tiap hari cuma tidur. Giliran dibawa keluar sebentar aja, muntah-muntah.


Hhh! Nanti aja deh, kalau papanya pulang. Biar papanya yang maksa bawa dia ke dokter.

__ADS_1


Aku kok jadi cemas. Jangan-jangan Nadia....


__ADS_2