
Tok tok tok
Suara pintu ruang kerja Reno diketuk dari luar, Reno yang sedang mengerjakan laporan berkas akhir bulan di akhir pekan itu menghentikan pekerjaannya.
"Masuk." seru Reno dan pintu itu terbuka, seorang PRT rumahnya mendekatinya.
"Ada yang mencari tuan?" ucap PRT itu sopan.
"Siapa bi?" tanya Reno melepas kacamata bacanya menatap PRT nya.
"Nyonya Irene namanya tuan?" jawab PRT itu masih dengan ramah. Reno terbelalak mendengarnya segera berdiri.
"Dimana sekarang bi?" tanya Reno berjalan keluar ruang kerjanya diikuti PRT itu.
"Di ruang tamu tuan, saya menyuruhnya untuk menunggu di ruang tamu." jawab PRT itu menyesal mendengar reaksi majikannya agak terkejut.
"Apa Dion sudah bangun?" tanya Reno lagi sebelum pergi ke ruang tamu berbalik menatap PRT itu lekat.
"Belum tuan." jawab PRT itu takut-takut. Reno segera menuju ruang tamu rumahnya. Dihela nafasnya perlahan.
"Ada apa?" tanya Reno begitu tiba di ruang tamu.
Dengan santai dan kedua tangannya dimasukkan ke dalam saku celananya, disisi keduanya masing-masing. Duduk di tempat Irene duduk tadi. Irene sontak berdiri mendengar suara Reno yang terdengar ketus. Irene kembali duduk di tempatnya tadi setelah Reno juga ikut duduk di depannya.
"Aku ingin melihat Dion?" ucap Irene langsung.
"Oh, ternyata kau masih ingat putramu?" sindir Reno.
"Terserah kau berpendapat apa? Aku sudah mencoba mencari tahu keberadaanmu dan Dion, tapi aku selalu tak berhasil. Bahkan aku mendatangi rumah Tante Hesti tapi keluarga disana tak mau memberitahu." sesal Irene dengan wajah penuh penyesalan.
"Lalu?" tanya Reno masih sinis.
"Ya?...Aku hanya ingin bertemu dengannya. Tidak lebih." ucap Irene lagi.
"Bahkan dia tak mau mengenalmu." ucap Reno santai.
__ADS_1
"Kau tak mengatakan apapun padanya?" tanya Irene ragu.
"Aku mengatakan tapi aku tak mengatakan kalau dia bukan putra kandungku. Saat kucoba menceritakanmu, dia berteriak histeris dan tak mau mendengar apapun tentangnya." ucap Reno menatap Irene tajam.
"Aku... aku sudah menikah dengan ayah kandung Dion." ucap Irene ragu.
Reno terkejut tapi segera dikendalikan, Irene pun tak sempat melihatnya karena menunduk merasa malu untuk menceritakan tentang ayah kandung Dion.
"Lalu?" tanya Reno lagi yang entah kenapa dadanya terasa sesak.
Reno tau suatu saat nanti pasti hari ini akan terjadi. Dion harus bertemu orang tua kandungnya, mungkin akan ikut mereka dan meninggalkannya, tapi Reno tak mau egois. Biarkan Dion yang memilih, dia tak berhak menahan anak itu. Karena dia bukan ayah kandungnya.
"Aku ingin mempertemukan mereka." ucap Irene menatap Reno dan Reno balas menatap.
"Apa kau yakin Dion akan bisa menerimanya?" tanya Reno menyelidik.
"Entahlah. Aku hanya ingin mereka bertemu, semua keputusan tetap di tangan Dion. Meski ayah kandungnya menelantarkannya dulu, dia berhak tau anak kandungnya dan Dion juga berhak tau siapa ayah kandungnya." ucap Irene yakin.
Reno menghela nafas panjang, berpikir apa yang dikatakan Irene benar. Dan dia tak berhak menghalangi hal itu.
"Dion memang sudah besar, tapi sifatnya masih labil. Aku tak mau belajarnya jadi terganggu dengan kabar yang mungkin akan mengejutkannya ini." ucap Reno lagi.
"Kabar apa pa?" tanya Dion yang tiba-tiba muncul dari belakang dan ikut bicara karena mereka membicarakan tentangnya.
"Dion." Reno sontak berdiri melihat Dion yang tiba-tiba muncul. Irene pun juga sontak ikut berdiri menatap Dion dengan penuh kerinduan.
"Siapa dia pa?" tanya Dion menatap Irene yang menatapnya intens.
"Dion. Aku..."
"Sebaiknya kau pulang, aku yang akan menjelaskan padanya. Setelah dia siap aku akan menghubungimu." pinta Reno mengambil kartu nama Irene yang sempat ditinggalkannya tadi.
"Baiklah." pamit Irene terpaksa, melihat reaksi Dion sepertinya dia tak mengenal siapa dia. Irene meninggalkan rumah itu setelah menatap Dion lama.
**
__ADS_1
"Siapa dia pa?" tanya Dion lagi setelah Irene pergi. Mereka sudah duduk di sofa ruang keluarga. Reno menghela nafas panjang, ragu untuk memulai ceritanya dari mana.
"Sebelum papa cerita, kau mau janji sama papa?" tanya Reno menatap Dion lekat.
"Apa maksud papa?" tanya Dion tak sabar.
"Berjanjilah pada papa dulu." seru Reno tegas yang terpaksa diiyakan oleh Dion.
"Tadi adalah mamamu." ucap Reno setelah Dion mengiyakan janjinya.
"Mama Irene?" ucap Dion, selama ini Dion memang tak pernah bertanya dimana mamanya, siapa mamanya.
Reno hanya menceritakan kalau dia pernah menikah dua kali, pertama adalah mama Angel yang sekarang dan kedua adalah mama Dion. Dion tersentak saat tau mama Angel adalah mantan istri papa, tapi segera disangkalnya saat Dion menatapnya menyelidik yang memungkinkan Angel juga anak Reno. Reno segera menyangkal hal itu.
Tapi lika-liku kehidupan pernikahannya dengan Karina tak diceritakan kepada Dion. Meski Dion mendesak bertanya. Baginya itu sudah menjadi masa lalu yang tak perlu diungkit lagi. Hanya sebatas itu Reno memberitahu tentang mereka berdua.
Reno berniat menjawab pertanyaan Dion lagi jika bertanya lebih lanjut tentang Irene. Tapi nyatanya Dion lebih penasaran dengan Karina yang adalah mama Angel sekarang ketimbang mamanya sendiri Irene. Reno pun tak melanjutkan ceritanya, dia berencana menguburnya dalam-dalam cerita lama itu. Karena sampai sekarang pun Dion tak bertanya sampai tadi bertemu dengan Irene disini.
"Dia mama kandungmu, istri kedua papa." ucap Reno bertahap menunggu reaksi Dion.
"Lalu?" tanya Dion lagi tak antusias seperti tadi, seolah kabar itu tak penting dan tak mempengaruhinya.
"Dia ingin mempertemukanmu dengan ayah kandungmu." ucap Reno lagi yang membuat Dion berjengit kaget menatap Reno dalam seolah menusuk hati Reno yang terdalam butuh penjelasan lebih lagi.
TBC
Mohon dukungannya
Beri like rate dan vote nya
Makasih yang sudah mendukung 🙏🙏
.
.
__ADS_1
.