
Prankk...
Piring itu terjatuh saat pemuda yang duduk di kursi roda itu berusaha untuk makan, tapi apalah daya kedua kaki mati rasa sedang sebelah tangannya tak berfungsi dengan normal sebagai mana mestinya. Pemuda yang sudah duduk di kursi roda itu tidak lebih dari dua bulan ini hanya menghabiskan waktunya di dalam kamarnya saja.
Penyesalan serta kebencian pada dirinya sendiri membuatnya semakin membuatnya putus asa. Isakan tangisan terdengar mesti tak terlalu kencang membuat tubuhnya berguncang karena berusaha menahan tangisannya.
Wanita yang sejak tadi berdiri tak jauh di belakangnya merasa kasihan dan bersalah. Karena dialah yang menyebabkan pria itu terpuruk sedemikian rupa. Setelah melewati koma selama dua bulan sebelumnya, kini pria itu sudah bisa membuka matanya meski sempat terkejut karena berada di tempat yang tidak dikenalinya.
Flashback on
Pergerakan tangannya yang selama diawasi oleh beberapa dokter yang dipercaya untuk kesembuhan tersenyum cerah. Pengobatan beberapa kali dicoba kini membuahkan hasil.
Pria yang sudah tidur dalam komanya itu mulai menampakkan perubahan perlahan matanya terbuka menatap sekeliling ruangan yang mirip dengan kamar pribadi, dia langsung menatap sekeliling terlihat peralatan medis yang mungkin untuk dirinya.
"Angel..." bisik pria itu.
Dokter menatapnya dengan senyuman yang bangga akan hasil jerih payah mereka. Pasalnya sudah lebih dari sebulan mereka sudah mencoba segala cara untuk membuat pria itu sadar.
"Tuan, apa yang anda rasakan?" tanya salah seorang dokter.
"Angel, dimana aku? Siapa kalian?" tanya pria itu kebingungan, mengusap wajahnya.
"Tuan, tenangkan diri anda! Apa anda ingat siapa anda? Siapa nama anda?" tanya dokter itu lagi.
Para dokter menatap intens pada pria yang baru siuman itu. Pria itu menatap para dokter itu satu persatu dengan rasa kebingungan.
"Aku... aku.. Al, namaku Al. Mereka sering memanggilku Al." jawab pria itu yang ternyata Al, ya.
Setelah kecelakaan yang menimpanya di pulau B, Al dinyatakan koma dan kehilangan banyak darah sampai kritis. Setelah keadaan kritisnya berakhir, dokter di pulau B menyatakan bahwa dirinya koma yang entah kapan akan membuka matanya. Bisa jadi itu malah akan menghilangkan nyawanya jika dalam kurun waktu tiga bulan dia tak sadarkan diri.
"Tuan Al, apa anda ingat siapa anda? Mungkin keluarga atau ...." salah satu dokter itu tak meneruskan kalimatnya.
__ADS_1
"Dokter, dia sudah siuman? Sungguh?" teriak wanita yang dipanggil Al juga itu. Penantian panjangnya yang sudah menunggu Al sadar membuat wanita yang dipanggil Al itu tersenyum bahagia. Dia sungguh merasa bersalah karena dialah yang menyebabkan pria itu kecelakaan sampai koma berbulan-bulan.
Tadi saat dia sedang meeting dihubungi oleh asisten rumah tangganya yang melayani para dokter itu. Dia langsung bergegas meninggalkan ruang meeting tanpa banyak bicara dengan senyum yang mengembang di bibirnya.
"Nona Alena." ucap salah seorang dokter yang berbicara tadi. Para dokter agak mundur ke belakang memberikan ruang untuk Alena mendekati ranjang.
Alena mendekati ranjang pria itu, dia melihat Al sudah membuka matanya dan menatap lekat Al yang masih linglung juga menatap Alena dengan lekat. Diikuti oleh pria yang merupakan kakak sepupunya itu yang selalu mengikuti Alena bahkan dia juga kadang menjadi sopir pribadi Alena.
"Siapa kau? Dimana istriku?" tanya Al menatap tajam Alena.
Senyum Alena perlahan luntur, saat mengetahui pria yang koma itu adalah pria beristri, entah kenapa dia merasakan perasaan kecewa di dadanya.
"Syukurlah dia sudah sadar nona." sela dokter tadi, sedang dokter lainnya sedang beristirahat dengan perasaan lega, karena perjuangan tim mereka sedikit membuahkan hasil yang tidak sia-sia selama ini. Alena tersentak dan menoleh pada dokter itu.
"Kau benar dok, terima kasih. Semua berkat anda." jawab Alena mencoba menepis perasaannya yang entah apa ini. Dokter itu tersenyum bangga.
"Tuan, anda bisa bangun?" tanya dokter itu beralih menatap Al.
"Dok, apa yang terjadi dengan kakiku?" tanya Al merasakan perasaan putus asa.
Al beranjak bangun hanya dengan tubuhnya tapi lagi tangan kanannya tak bisa digerakkan dengan maksimal, seperti orang lumpuh.
"Tanganku kanan, kenapa dengan tangan kananku?" teriak Al lagi.
"Dokter, apa yang terjadi?" teriak Alena lebih kencang, merasa marah karena senyumnya kini berganti tatapan tajam penuh kemarahan.
"Sebentar nona, kami akan memeriksanya." jawab dokter itu gugup. Dokter itu mulai memeriksa dengan detail dan teliti.
Setelah beberapa menit, para dokter itu menggeleng lemah.
"Katakan dok, Apa yang terjadi?" ucap Alena sudah mulai bisa mengendalikan emosinya.
__ADS_1
"Sepertinya ini efek dari obat-obatan dan berbagai usaha kami selama ini. Sehingga tubuhnya tidak bisa berfungsi secara maksimal." jelas salah seorang dokter merasa bersalah.
"Tidak. Tidak mungkin dok, jadi maksud dokter saya akan lumpuh? Selamanya?" tanya Al putus asa. Dokter menatap Al merasa bersalah, dia mencoba memberi pengertian.
"Mungkin butuh waktu untuk memulihkan kondisi tubuh anda." jawab dokter itu lemah.
"Hahaha... hahhaa...." suara tawa menyedihkan yang berlanjut isakan tangis terdengar di kamar itu.
Al sungguh sangat terpuruk saat ini. Dirinya yang dulu begitu bersemangat kini merasa seperti mayat hidup yang sudah kehilangan kewarasannya.
Dokter menghiburnya dengan mengatakan akan melakukan apapun untuk memulihkan kondisinya asal tetap bersabar. Namun sudah dua bulan berjalan dengan segala macam terapi yang dilakukan para dokter tak membuahkan hasil sama sekali.
Apalagi Al terlihat sudah sangat putus asa untuk melakukan penyembuhannya karena berbagai macam cara sudah dilakukannya namun sepertinya sia-sia saja. Alena menanyakan jati diri Al dan berjanji akan menemukan keluarganya tapi Al hanya bungkam tak mau bicara apapun.
Berulang kali Alena membujuknya namun Al tetap bungkam. Selama dua bulan pasca bangun dari komanya. Al terus saja terpuruk meratapi nasibnya yang entah akan jadi apa nantinya. Bahkan berulang kali Al mencoba bunuh diri karena merasa sudah tidak pantas hidup dengan tidak bergunanya itu.
Tapi berulang kali juga gagal karena Alena selalu memergokinya dan segera menolongnya untuk membuatnya hidup kembali. Tapi Alena malah disalahkan oleh Al karena menolongnya usahanya untuk bunuh diri.
Flashback off
"Maaf... maafkan aku." bisik Alena yang berdiri tak jauh Al dari tempat dimana dia sedang menangisi dirinya sendiri.
Alena meninggalkan kamar itu setelah memberi instruksi pada pelayan untuk membereskan keadaan yang disebabkan Al.
TBC
Maafkan typo
.
.
__ADS_1
.