Perselingkuhan

Perselingkuhan
Episode 42


__ADS_3

Dion duduk di kursi meja makan memulai sarapannya dengan wajah berseri-seri. Reno yang menatap wajah putranya berseri-seri menjadi lebih tenang.


"Pulang jam berapa semalam?" tanya Reno menggoda Dion.


"Kenapa? Seperti papa tak pernah muda saja?" jawab Dion santai.


"Mau kencan?" tanya Reno lagi menatap pakaian putranya terlihat rapi yang sedikit berbeda dari hari biasanya. Dion bersemu yang langsung mencoba mengontrolnya karena godaan Reno.


"Hemm."


"Jawab orang tua yang sopan!" seru Reno. Dion hanya menunduk diam meneruskan sarapannya.


"Kau tak berniat janjian di tempat umum kan?" tebak Reno tepat menatap Dion lekat.


"Kok papa tahu?" tersenyum malu-malu.


Reno menghela nafas panjang.


"Alangkah baiknya jika menjemput di rumahnya. Sekalian pamit pada orang tuanya." saran Reno.


"Kami belum diizinkan pacaran?" keluh Dion menunduk malas.


"Memang setiap cowok datang ke rumah seorang teman wanita adalah pacarnya?"


"Kami sudah ketahuan pacaran. Dan melarang kami pacaran sebelum lulus kuliah." keluhnya lagi.


Reno menghela nafas lagi.


"Dion..."


"Ya pa."


"Kau tahu maksud mereka tak mengizinkan kalian pacaran?" Dion menggeleng menatap Reno tak bersemangat.


"Orang tua mereka hanya ingin anaknya dijemput di rumahnya dan izin langsung ke orang tuanya apalagi anak perempuan."


"Begitukah pa?" tanya Dion ragu dengan ucapan Reno.


"Memangnya papa tak pernah muda. Papa juga mengalaminya. Malah saat sekolah menengah, kami sudah pacaran. Dan tiap kami kencan, kami juga janjian di jalan. Namun saat lulus sekolah menengah kami ketahuan saat kencan dan orang... bukan bibi dan pamannya langsung menegur kami. Akhirnya kami pacaran secara terbuka toh kami tidak melakukan kesalahan apapun, kenapa takut?" jelas Reno mengingat kembali masa lalunya.


"Apa .. pacar papa saat itu mama Karina?" tanya Dion hati-hati.


"Benar." Reno tanpa sadar mengangguk mengiyakan.


"Eh... kau..." teriak Reno dengan wajah memerah. Dion pun menghela nafas sambil geleng-geleng kepala.


"Move on dong pa." ucap Dion meninggalkan meja makan.


"Hei... dengarkan apa yang papa katakan tadi?" seru Reno dari dalam rumah.


**


Angel melambai di tempat mereka janjian, di halte bus dekat rumahnya. Dion menghela nafas kecewa, entah kenapa saran papanya tadi terngiang di telinganya lagi.


"Akan lebih senang jika ada pria yang membawa putrinya pamit dulu pada orang tuanya di rumah." ucap Reno.


"Kenapa? Ada masalah?" tanya Angel mendekati motor Dion. Dion mengulurkan helm dan membantu mengenakannya.

__ADS_1


"Papa..."


"Papa Reno?"


"Sudahlah, ayo berangkat!"


"Kita kemana?"


Motor melaju dengan kecepatan sedang, Angel mendekap erat tubuh Dion dari belakang. Kesenangan yang sudah lama tidak dilakukan setelah mereka dipaksa putus oleh Derian. Tapi beberapa waktu lalu, Dion menemuinya saat Angel pulang dari kantor magangnya.


Flashback on


"Dion." ucap Angel menatap Dion di jalan menuju perumahan elite rumahnya. Duduk di atas motornya dengan raut wajah gelisah.


Dion mendekat dan langsung mendekap erat tubuh Angel.


"Aku merindukanmu..." bisik Dion lirih menahan gemuruh di dadanya.


Angel tak membalas atau menolak dekapan itu. Dadanya pun juga bergemuruh senang dan juga sangat merindukannya. Dion melepas pelukannya. Mengusap sudut bibir Angel. Dan langsung melu*mat bibir itu, mencium, dan menghi*sapnya.


Angel membalas ciuman itu dengan melingkarkan lengannya di leher Dion. Ikut menikmati ciuman yang dirindukannya.


Setelah nafas menipis, Dion melepas ciumannya, menatap Angel intens. Dan mengulanginya lagi ciuman panas itu. Seakan mereka tak peduli dimana tempat mereka saat itu.


Dion menempelkan keningnya di kening Angel, lama tak bertemu membuat Angel harus sedikit mendongak menatap Dion karena tubuh Dion yang bertambah tinggi dan dada yang semakin bidang.


"Aku sudah tak tahan menunggu kak? Aku takut kakak melupakanku karena jarang bertemu." keluhnya masih dengan nafas yang memburu.


"Tapi Dion...."


"Apa kita akan pacaran sembunyi-sembunyi lagi?" tanya Angel.


"Ya, aku tak peduli lagi. Kalaupun orang tua kita memergokinya, paling-paling aku akan masuk rumah sakit dan paling parah sudah tak bernyawa..." jemari Angel menutup mulut Dion.


"Hei... masih banyak kemungkinan baiknya kok?" ucap Angel tersenyum.


"Apa?"


"Mungkin mereka akan menikahkan kita." ucap Angel tersipu malu.


"Eh..." muka Dion ikut memerah.


"Ah... salah ya?" ucap Angel memalingkan wajah malunya.


"Kalau begitu kita lakukan kesalahan itu, agar mereka secepatnya menikahkan kita!" ucap Dion tersenyum seringai.


"Eh... hei, kau menggodaku ya?"


"Buahhhaaa..hahaha..." Dion tertawa dan Angel yang tersipu malu memukul dada bidang Dion yang tak mungkin sakit karena Angel memukul pelan dan bercanda. Dion mengangkat dagu Angel untuk menatapnya.


"Aku serius." ucap Dion dengan tampang seriusnya. Angel terbelalak. Dan mereka pun berciuman mesra kembali.


Flashback off


"Ini..." Angel turun dari motor sekalian dibantu Dion melepas helmnya.


"Ya, Bukit Seduri, tempat kencan yang pernah kita datangi." jawab Dion tersenyum. Dion menarik pergelangan tangan Angel dan mengikutinya dari belakang dan berdiri di tempat yang pernah mereka datangi. Tempat mereka pernah berciuman dulu. Dan kini Dion langsung melakukan hal yang sama.

__ADS_1


"Kak..."


"Ya?" Angel menatap Dion yang duduk di sisinya masih di pinggir tebing tempat wisata itu.


"Gimana kalau kita menginap?" tanya Dion menatap lekat yang membuat wajah Angel merona merah.


"Eh.... itu..." jawab Angel ragu.


"Yang kukatakan waktu itu bukan candaan. Aku berpikir benar-benar akan melakukan apalagi yang pertama kalinya hanya dengan kakak."


"Eh..." wajah Angel semakin memerah tersipu malu.


"Aku harap aku juga jadi yang pertama untuk kakak."


"Eh, apa maksudmu aku gadis yang tidak benar?" berteriak membuat Dion tertawa.


"Aku sudah tau itu, kakak bukan orang yang dengan mudah memberikannya, apalagi pada orang yang belum tentu benar-benar kakak suka."


"Kau.... sengaja... menggodaku ya?" ucap Angel semakin memerah dan salah tingkah.


"Apa aku akan dapat izin untuk jadi yang pertama kak?" tanya Dion dengan wajah serius.


"Dion..."


"Sejujurnya aku sudah tak tahan untuk menjadikan kakak sepenuhnya menjadi milikku. Tapi karena usia dan pendidikan kita yang masih muda, kita tertahan kendala. Padahal kalau mereka merestui kita untuk menikah sekarang, aku sudah sangat siap." ucap Dion masih dengan wajah seriusnya.


"Ah, apa ini lamaran?"


"Eh, katakanlah seperti itu!" Dion meraih jemari tangan kiri Angel menariknya dan entah darimana cincin itu sudah masuk ke jari manis Angel dan sangat pas ukurannya


"Maaf... kalau tidak romantis." Dion tersenyum manis. Dan Angel matanya berkaca-kaca karena terharu bahagia.


TBC


Epilog


"Bisa lihat yang itu?" pinta Dion tersipu saat pagi tadi sebelum menjemput Angel mampir ke sebuah toko perhiasan.


"Yang ini tuan..." jawab karyawan toko itu. Sambil mengeluarkannya karena Dion mengangguk mengiyakan.


Dion mengeluarkan benang yang jadi ukuran saat mereka masih pacaran dulu. Ukuran benang itu selalu disimpannya untuk saatnya tiba dan inilah saatnya, Dion sudah sangat siap untuk melamarnya.


Ya, sejak masih sekolah menengah pertama, Dion memanfaatkan kejeniusan untuk bermain di pasar saham dengan uang saku yang tidak sedikit yang diberikan Reno padanya dan ternyata berhasil.


Sekarang uang yang ditanam Dion dalam bursa saham itu sudah berkali-kali lipat, dan mungkin sudah bisa digunakan untuk membeli rumah mungkin minimalis bertingkat kurang lebihnya.


Mohon dukungannya


Beri like, rate dan vote nya


Makasih yang sudah mendukung 🙏🙏🙏


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2