Perselingkuhan

Perselingkuhan
Episode 94


__ADS_3

Vio beristirahat di kamarnya. Setelah seminggu di rumah orangtuanya. Mereka pulang ke apartemennya. Vio memejamkan matanya meski terasa tak ingin tidur. Mengingatkannya kembali saat melihat kedekatan suaminya dengan kakaknya Angel membuat dada Vio tiba-tiba sesak.


Vio meremas dadanya, menarik nafas dalam-dalam mencoba mengatur pernafasannya. Namun bukannya lega, dirinya malah menangis sesenggukan. Dion yang tadi sedang mengambil kopernya di mobil dan kembali ke kamarnya mendengar isakan tangisan dari kamarnya.


Dion segera meninggalkan kopernya begitu saja untuk masuk ke dalam kamarnya menghampiri istrinya yang entah karena apa sedang menangis tersedu-sedu.


"Sayang, ada apa? Apa yang terjadi? Apa yang sakit?" tanya Dion bertubi-tubi tak tahu apa yang membuat istrinya seperti itu.


Dion cemas dan panik takut terjadi sesuatu dengan bayi mereka. Vio semakin kencang menerima pelukan dari suaminya tanpa mau melepaskannya dan malah semakin kencang menangis dalam dekapan suaminya. Dion hanya mencoba menghiburnya agar lebih tenang dengan mengelus punggung istrinya berusaha menghibur.


Setelah lebih dari dua jam menangis, Vio terlelap dalam pelukan suaminya. Dion membaringkan tubuh istrinya dengan benar dan melepaskan dekapannya karena dirinya ingin ke kamar mandi membersihkan tubuhnya yang sudah sangat lengket dan bajunya yang basah karena air mata istrinya.


Tapi kaosnya ditarik dengan kencang oleh istrinya seolah tak mau melepaskan atau tak mau suaminya meninggalkannya saat dirinya tertidur. Dion mengurungkan niatnya untuk pergi, dia hanya melepas kaosnya dan ikut masuk ke dalam selimut dan mendekap tubuh istrinya erat ikut berbaring tidur karena dirinya pun juga lelah, lelah hati dan juga pikirannya.


"Aku mencintaimu." bisiknya sebelum terlelap dan entah kenapa senyum Vio tersungging padahal dia sudah terlelap.


**


"Sayang..." panggil Vio manja keluar dari dalam kamar mencari suaminya yang kini sedang sibuk di dapur.


"Kau sudah bangun sayang?" tanya Dion melihat istrinya dengan raut wajah sebal.


"Kau meninggalkanku." ucap Vio manja.


"Aku membuat sarapan, semalam kita langsung tertidur tanpa makan. Kasihan bayi kita. Sekarang mandilah dulu!" perintah Dion mengusak rambut istrinya yang masih berantakan.


"Mandikan!" ucap Vio manja merentangkan kedua tangannya untuk digendong.


Dion sedikit terkejut melihat istrinya yang begitu manja. Dion menghela nafas, menggelengkan kepalanya,nmematikan kompornya untuk menuruti keinginan istrinya yang sedang manja itu. Dion membopong tubuh istrinya yang sudah lumayan berat untuk masuk ke kamar mandi.


"Kenapa? Aku berat ya?" tanya Vio terlihat sedih setelah suaminya meletakkan dirinya di dalam bathtub kamar mandi. Dion mengisi bathtub dengan mencampur air hangat.


"Tentu saja." jawab Dion tersenyum mulai menggosok kaki istrinya lembut.


"Apa? Kau tak suka dengan tubuhku yang semakin berat?" jawab Vio ketus mengerucutkan bibirnya marah, memalingkan wajahnya ke arah lain.

__ADS_1


"Hei, itu karena dua orang yang kuangkat, tentu saja berat. Kalaupun berat aku masih mampu mengangkat kalian." hibur Dion mencolek hidung istrinya membuat Vio semakin merajuk.


"Jangan jadikan anak kita alasan. Bilang saja kau tak suka dengan tubuh gendutku." seru Vio masih merajuk.


"Hei..." Dion menarik dagu istrinya mengecup bibirnya sekilas dan menghadapkan padanya.


"Apapun keadaan dirimu dan bagaimanapun kamu, aku tetap akan mencintaimu. Istriku." ucap Dion menatap lekat istrinya. Vio merasa senang, diapun tersenyum bahagia.


"Janji?" ucap Vio mengulurkan jari kelingkingnya pada suaminya. Dion tersenyum dengan sifat kekanak-kanakan istrinya. Dia pun ikut mengulurkan kelingkingnya menuruti keinginan istrinya.


"Janji." mereka saling menatap dan tersenyum.


Dion semakin gemas saja dan mengecup bibir istrinya. Vio malah menekan tengkuk Dion membalas ciuman itu dengan sedikit lama dan dalam.


Setelah selesai dimandikan. Dion membopong tubuh istrinya keluar dari kamar mandi mendudukkannya di tepi ranjang mereka.


"Sayang..." lirih Vio menarik pergelangan tangan suaminya yang hendak masuk ke dalam walk-in closet untuk mengambilkan pakaiannya.


"Ya?" tanya Dion.


"Kau... benar-benar tak akan berpaling dariku kan?" tanya Vio penuh harap menatap suaminya lekat. Dion duduk di sisi istrinya di tepi ranjang itu juga.


"Tidak. Tapi... kedekatanmu dengan kakakku membuatku..." Vio tak mampu meneruskan ucapannya karena keburu suaminya mencium bibirnya lembut.


Melu*mat, menghi*sap dan melesakkan lidahnya ke dalam mulut istrinya. Dan ciuman itu tak cukup sebentar. Dion meluapkan perasaannya cintanya yang sangat besar pada istrinya. Merasa nafas istrinya sudah mulai habis. Dion melepaskannya.


"Siapapun yang ingin berusaha masuk ke dalam hubungan kita. Aku tak akan pernah mengizinkannya. Kau bisa pegang kata-kataku. Jika aku berani berpaling darimu. Bunuh saja aku." ucap Dion yang langsung ditutup bibirnya oleh jemarinya. Vio menggeleng, memeluk tubuh suaminya.


"Aku percaya, aku percaya padamu. Maaf, aku sempat meragukanku. Melihat kalian hatiku sakit. Aku takut perasaanmu yang dulu goyah karena dekat dengan kakakku." Vio menangis dalam pelukan Dion.


"Sstts... itu tak akan terjadi. Sekarang hanya kau yang kucintai. Kakakmu hanyalah masa lalu. Kaulah masa depanku. Apapun yang terjadi kaulah masa depanku sekarang. Dengan anak kita." bisik Dion masih dalam pelukan istrinya yang menangis terisak.


***


"Ma, bolehkah aku periksa ke dokter dengan ditemani Dion?" pinta Angel memelas saat Karina terlihat duduk di ruang keluarga membaca majalah.

__ADS_1


Angel langsung duduk di sisi Karina manja. Karina menoleh menatap Angel yang penuh harap.


"Nak, Dion sudah pulang, dia juga sibuk di kantor karena menggantikan posisi papanya. Bagaimana kalau mama yang antar?" ucap Karina hati-hati tak mau membuat putrinya kembali shock. Angel mengerucutkan bibirnya tak suka dengan jawaban mamanya.


"Kenapa ma, toh Dion sekarang adik iparku. Kenapa aku tak boleh minta Dion mengantarku?" tanya Angel masih terlihat sebal.


"Bukan begitu nak, Dion sudah menginap beberapa hari ini di rumah kita. Itupun terpaksa karena papamu tak ada. Dan dia harus sering meninggalkan pekerjaannya hanya untuk membantu kita. Kita tak bisa dia terus-terusan merepotkannya, karena dia juga tak punya urusan sendiri." jelas Karina.


"Bilang saja tak boleh." ketus Angel dengan raut wajah kecewa dan pergi ke kamarnya meninggalkan Karina dengan perasaan jengkel.


"Sayang..." seru Karina yang tak digubris sama sekali oleh Angel.


Karina menghela nafas panjang. Karina belum bisa mengatakan yang sebenarnya pada Angel tentang siapa Dion. Karina tak mau terjadi salah paham pada Vio nantinya jika Angel terus-terusan berharap untuk diperhatikan oleh Dion. Sedang Dion ada Vio yang harus dijaganya karena Vio pun sedang hamil besar bahkan tinggal menghitung hari.


Karina menyayangi kedua putrinya, dia juga tak mau mengecewakan kedua putrinya. Apa yang harus dilakukannya. Kata-kata suaminya semalam kembali terngiang-ngiang di telinganya.


'*Katakan saja yang sebenarnya pada Angel, jangan membuat kesalahpahaman berlarut-larut pada keduanya. Apalagi sekarang Dion suami Vio.'ucap Derian semalam.


'Tapi keadaan Angel masih belum stabil, kau tahu sendiri bayi dalam kandungannya hanya mau menerima suapan dari Dion, yang notabene adik iparnya yang masih punya hubungan darah dengan ayah bayinya.' sangkal Karina.


'Dengan ketidak tahuan yang terus berlanjut? Itu malah akan semakin membuat Angel terus berharap?' Ucap Derian.


'Tapi sayang...?' elak Karina.


'Kau lupa tentang perasaan mereka di masa lalu. Tidak menutup kemungkinan perasaan itu akan muncul kembali, apalagi Angel yang tidak mendapat perhatian dari suaminya yang kini hilang.' ucap Derian.


'Bagaimana kalau Angel shock lagi setelah mengetahuinya, lalu bagaimana kalau sampai berakibat fatal pada kandungannya?' tanya Karina.


Derian terlihat menghela nafas.


'Entahlah, aku hanya bisa mengatakan, kejujuran tetap harus dikatakan meski itu menyakitkan. Lebih baik kita tidur, kita bahas lagi besok. Aku merindukanmu, ingin tidur sambil mendekapmu.' ucap Derian menarik istrinya untuk berbaring di sampingnya, mendekap tubuhnya erat*.


TBC


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2