
Suara teriakan bentakan Derian pada para pegawainya yang melakukan kesalahan dari dalam ruangannya membuat Noah dan Karina menghentikan langkahnya. Menunggu sampai Derian selesai dengan teriakan yang benar-benar membuat mood nya benar-benar buruk.
Noah mendesah, sejak pagi tadi wajah tuannya memang sudah terlihat mendung, mungkin bisa menghancurkan apapun yang ada di depannya. Sekarang giliran para pegawainya yang mungkin karena kesalahan sedikit bisa membuat tuannya berteriak seperti ini.
Saat Noah hendak mengetuk pintu, Karina menahannya.
"Lebih baik aku kembali, aku akan menemuinya lain kali. Sepertinya mood nya sedang benar-benar buruk."ucap Karina berbalik hendak pergi meninggalkan ruangan Derian.
"Nona, lebih baik temui tuan, mungkin mood tuan akan lebih baik jika nona yang menemuinya?" ucap Noah menyarankan memang selama ini hanya Karina lah orang yang bisa meredakan emosi tuannya jika sedang marah.
"Tidak. Aku takut malah membuatnya semakin marah. Kami sedang dalam situasi tidak baik."Karina meninggalkan tempat itu tanpa berbalik lagi. Noah menghela nafas mencoba berpikir apa yang sedang terjadi dengan kedua bosnya ini.
Tak lama para pegawai tadi keluar ruangan Derian dengan wajah lemas dan memprihatinkan, Noah tau bagaimana rasanya menjadi sasaran amukan tuannya jika sedang emosi.
Noah masuk, terlihat Derian menghembuskan rokoknya dalam-dalam, tak menoleh siapa yang datang karena sudah tau betul siapa.
"Tuan, sudah waktunya makan siang? Ini makan siang anda."ucap Noah meletakkan makanan di meja Derian yang diberikan Karina tadi sebelum pamit, sepertinya bekal dari rumah.
Derian tak bergeming, masih menyesap rokoknya dalam. Rokok membuat Derian lebih baik setelah berteriak kesal melampiaskan emosinya. Derian mematikan rokoknya setelah dirasa cukup. Mengusak rambutnya frustasi, bayangan Karina kemarin berpelukan dengan Reno, mantan suaminya membuat Derian masih menahan kekesalannya.
Derian duduk kembali di kursinya, menatap bekal makanan yang dikenalinya, meraihnya dan membukanya.
"Noah!!"teriak Derian sambil berdiri keluar dari ruangannya.
Noah mendesah tau apa yang membuat tuannya berteriak.
"Ya tuan?" Noah yang sengaja masih berdiri di depan pintu ruangan itu sudah menebak tuannya akan langsung berteriak memanggilnya jika tuannya sudah membuka bekal itu, ternyata responnya diluar dugaan lebih cepat dari yang diperkirakannya.
Noah langsung berbalik menatap tuannya yang sudah tersenyum sejuta watt kesenangan yang ingin menanyakan perihal bekal makanan tadi pada Noah.
"Siapa yang mengantarkan makanan tadi?" tanya Derian tak sabaran masih dengan senyum kegembiraan seperti anak kecil mendapatkan hadiah mainan saja.
"Nona Karina tuan?"
"Kemana dia, kenapa kau tak membiarkan dia masuk? Kemana dia pergi?"berondong Derian dengan banyak pertanyaan dengan tak sabaran dengan sorot mata penuh cinta.
"Maaf tuan, nona langsung pergi setelah menyerahkan bekal makanan itu dan titip salam saja kepada anda."jawab Noah yang kerahnya sudah ditarik Derian kasar, wajahnya berubah dingin dan tajam.
"Apa maksudmu?" tanya Derian menggeram kesal.
"Tadi... tidak sengaja nona tiba saat anda sedang membicarakan sesuatu dengan para pegawai..."Noah tak melanjutkan ucapannya, berharap tuannya bisa berpikir.
__ADS_1
"Seharusnya kau hentikan aku!"seru Derian tak suka melepaskan kerah baju Noah kasar. Noah hanya mendesah menggelengkan kepala.
Derian mengambil ponselnya dalam sakunya dan mencoba menghubungi Karina berharap dia masih ada di bawah belum meninggalkan gedung kantornya, berlari kecil menuju lift.
"Sayang..."panggil Derian lembut setelah panggilan pertama terjawab.
"..."
"Kau dimana?"
"..."
"Kenapa kau langsung pergi? Kenapa tak langsung masuk ke ruanganku?Aku bisa meninggalkan pekerjaanku jika kau datang?" tanya Derian memberondongi pertanyaan.
"..."
"Tunggu aku!Aku sedang turun ke bawah, aku..."Derian tak meneruskan kalimatnya melihat kedua gadis kecil berlari ke arahnya.
"Papa"
"Papa"
"Halo."
"..."
"Aku akan menemuimu di rumah nanti." ucap Derian menutup ponselnya.
Di kejauhan tampak Adelia mendekatinya dengan tersenyum manis yang membuat Derian jijik melihatnya. Derian berlutut untuk mensejajari tubuh kedua putrinya.
"Kalian datang?"sapa Derian pada kedua putrinya dan mengusap rambut mereka bergantian. Yang tak mengharapkan keduanya datang diantar ibu mereka.
"Papa, kami kangen. Mama yang ajak kami kesini."ucap polos Putri si bungsu.
"Iya papa."si sulung Angel menimpali.
"Ada apa kalian kemari, papa kan sedang sibuk kerja sayang."ucap Derian lembut berusaha untuk tidak melihat kedua putrinya kecewa.
"Kami mau melihat papa, aku kan kangen papa?Papa gak pernah pulang ke rumah sih?"ucap Angel.
"Mereka ingin makan siang sama papanya mas katanya?" sela Adelia setelah diam mendengar kedua putrinya. Derian tak menjawab juga tak menghiraukannya. Dia fokus menatap kedua putrinya bergantian.
__ADS_1
"Iya pa, kita makan belsama yuk, sepelti dulu!"ucap Putri polos berbinar-binar. Derian tampak berpikir, di satu sisi dia tak mau bersama Adelia di satu sisi dia tak mau mengecewakan kedua putrinya.
"Baiklah!" jawab Derian setelah lama berpikir dengan senyum dipaksakan terpaksa mengiyakan karena kasihan pada kedua putrinya.
"Hore."
"Hole."
Teriak kedua putrinya bersamaan melonjak kegirangan.
Derian menggandeng kedua putrinya di masing-masing tangannya. Membawa keduanya menuju area parkir mobilnya dan keduanya masuk ke dalam mobil di kursi belakang yang telah dibukakan oleh Derian. Sedang Adelia hanya berdiri diam ragu untuk masuk ke dalam mobil. Takut Derian tak mengizinkan.
"Ayo Mama, mama duduk di depan sama papa." seru Angel melambaikan tangannya ke arah Adelia yang tersenyum menatap Derian yang menatapnya tajam dan dingin.
Derian tak memperdulikan Adelia yang masih berdiri di luar mobil. Derian benar-benar muak dengan Adelia, wajah munafiknya membuat Derian mengepalkan erat tangannya di kemudi.
Adelia masuk setelah kedua putrinya memaksa, Derian hanya diam tak berkomentar tentang aksi kedua putrinya.
Derian langsung tancap gas meninggalkan area parkir setelah Adelia masuk ke kursi penumpang sebelahnya. Kedua putrinya bersorak kesenangan melihat kedua orang tuanya bersama dalam satu mobil.
***
Karina turun di rumah dinas lamanya tempat tinggalnya dulu saat masih bekerja dulu.
Setelah Karina membayar taksi online yang mengantarkan ke rumah dinas lamanya, Karina mendekati rumah itu menatap sebentar di luar rumah. Rumah yang harus segera ditinggalkan karena dirinya sudah menyerahkan surat pengunduran diri yang sudah dibuat sejak lama setelah dirinya secara siri dinikahi Derian di tempatnya bekerja.
Karina membereskan semua bajunya ke koper. Melihat keluarga Derian tadi membuat Karina membulatkan tekadnya untuk meninggalkan Derian, dia tak akan sanggup hidup bersamanya jika harus melihat kemurungan pada wajah kedua gadis kecil itu. Biarlah dirinya yang mengalah jika demi kebaikan Derian dan keluarganya.
TBC
Mohon dukungannya
Beri like, rate dan vote nya
Makasih 🙏🙏
.
.
.
__ADS_1