
"Mereka memberikanku tugas banyak tanpa menjelaskan bagaimana caranya, lalu bagaimana aku harus mengerjakannya? Setidaknya berikan contoh dong jika ingin menyuruhku? Mereka pasti sengaja, untuk memperlambat pekerjaanku?" ngomel-ngomel tak jelas Angel di ruang arsip itu.
Para senior karyawan perusahaan tempatnya magang memberikan tugas pertamanya untuk menyimpan arsip-arsip yang tidak sedikit di tempatnya. Dan Angel masih berkutat di depan lemari arsip bersama tumpukan berkas dokumen.
"Kau butuh bantuan?" sapa suara seseorang dari pintu masuk yang membuat Angel melebarkan senyumnya merasa mendapatkan pertolongan yang diharapkannya.
"Benarkah? Terima... kasih..." suara Angel tertahan demi melihat siapa yang muncul di ruang arsip itu saat dia membalikkan tubuhnya menghadap pria itu.
Seketika dia menghentikan pekerjaannya demi melihat kehadiran pria yang dulu sempat bertahta di hatinya meski sekarang belum sepenuhnya menghilang dari hatinya.
"Apa kabar?" sapa pria itu tersenyum ramah, bahkan senyumnya masih sama seperti dulu? batin Angel menatap lekat wajah yang sudah lama tak dilihatnya.
"Kak... Al..." bisik Angel lirih masih di dengarnya.
"Biar aku bantu... sebenarnya aku heran siapa yang sudah ngomel-ngomel di ruang arsip karena mengeluh tentang pekerjaan magangnya yang pertama kali. Dan aku jadi teringat diriku dulu juga saat pertama kali magang bagian arsip juga. Dan tak kusangka ternyata aku bisa bertemu denganmu lagi, magang di perusahaan yang sama." ucap Al panjang lebar mendekati troli tempat arsip yang hendak disimpan Angel dalam lemari arsip berniat membantunya.
"Maaf kak....maaf, bukan maksudku ngomel gak jelas. A...a...ku hanya..."
"Sudahlah! Tak masalah!" jawab Al mengusak rambut Angel seperti yang dulu pernah dilakukannya.
Angel sontak menatap Al terkejut dan menatap Al dan tangan Al bergantian. Saat Al sadar apa yang dilakukannya dia langsung menarik tangannya yang sempat menggantung di udara dengan perlakuan spontannya.
"Maaf..."
"Tak apa." jawab keduanya malu-malu dengan wajah memerah mereka. Angel melanjutkan pekerjaannya dengan penuh kecanggungan begitu juga Al menjelaskan cara menyimpan arsip itu juga dengan rasa gugup dan kecanggungan.
"Apa kakak masih magang disini?" tanya Angel memecah keheningan masih sambil meneruskan pekerjaannya.
__ADS_1
"Iya, ini tahun terakhirku magang, tinggal menunggu keputusan akhir perusahaan, apa kami akan lulus magang atau tidak. Dan jika kami lulus otomatis mereka akan mengangkat kami sebagai karyawan training, tapi jika tidak lulus, mereka tetap memberikan sertifikat magang kelulusan tapi tidak menerima kami sebagai karyawan training sekalipun." jelas Al terus membantu pekerjaan Angel.
"Begitu ya?" jawab Angel, dia pernah mendengar sekretaris papa menjelaskan sistem kerja perusahaan papanya itu dan ternyata memang benar.
Sudah lebih dari dua jam akhirnya tugas Angel pertama kali magang selesai itupun karena dibantu Al, jika tidak mungkin lima jam pun tidak akan selesai. Dan itu artinya dia akan melewatkan makan siangnya. Dan juga itu akan membuatnya terlambat makan siang dan membuat penyakitnya mungkin bisa kambuh suatu saat.
"Terima kasih kak sudah membantu. Aku sudah cemas jika aku tidak bisa mengerjakannya sendiri." ucap Angel sambil keluar ruangan yang diikuti Al dengan membantu mendorong trolinya.
"Kalau begitu, traktir aku makan siang untuk rasa terima kasihmu." jawab Al menatap Angel lekat berhenti dari langkahnya. Dan Angel pun sontak berhenti dan menatapnya tak mengira dengan ucapan Al yang tidak dikiranya.
"Tentu." jawab Angel tersenyum senang balik menatap Al lekat.
Senyummu masih saja tetap cantik. Kau tau betapa aku merindukanmu? batin Al ikut tersenyum.
**
Dion yang belum begitu mengenal siapa gadis itu merasa risih, apalagi dia jarang dipeluk sembarangan oleh seorang gadis. Dia hanya pernah berpelukan dengan kekasihnya. Bahkan saat dia dipeluk Irene sebenarnya dia tak nyaman tapi dia berusaha mengendalikan dirinya untuk tidak menolaknya sesuai saran papanya saat di rumah tadi.
Gadis itu mendekati Dion yang dituntun masuk oleh Irene.
"Amel..." tegur Irene melihat putri kecilnya yang baru muncul dari dalam kamar setelah bersiap-siap, dia memang diberi tau bahwa kakaknya yang lain akan berkunjung.
Gadis kecil itu yang awalnya cemberut saat diberitahu tentang kakaknya lain. Tapi saat Dion sudah muncul di hadapannya, dia langsung terpesona dengan ketampanan dari seorang Dion. Tapi seketika dia jadi cemberut lagi saat menyadari pria tampan itu adalah kakak kandungnya.
"Ayo kak, kita makan, Amel sudah lapar karena menunggu kakak." ucap Amel menarik jemari tangan Dion menuju tempat makan, Dion hanya menurut sambil menatap Reno yang hanya tersenyum lucu. Semuanya pun tersenyum melihat kelakuan polos Amel.
Mereka pun duduk di meja makan yang sudah tersaji berbagai macam masakan. Dion sebenarnya merasa tak nyaman bersama mereka di rumah itu, tapi demi mendengar wejangan Reno saat di rumah tadi untuk bertahan sampai Irene puas.
__ADS_1
Dion terpaksa menuruti keinginan Reno agar Irene tidak terus-terusan menghina papanya yang katanya menghalang-halanginya untuk menemui keluarga kandungnya. Bukan karena itu, tapi Dion yang tak mau menemui mereka.
**
"Kau tak pesan makanan?" tanya Al saat melihat Angel hanya membawa nampan dengan satu menu plus satu minuman saja.
"Maaf kak, aku bawa bekal sendiri. Ini kak silahkan dimakan, aku juga sudah membayarnya. Aku mau makan siang bekalku dulu." jawab Angel berlalu meninggalkan Al yang terduduk sendirian di meja kantin kantor itu.
Al ingin menjawabnya tapi Angel keburu pergi meninggalkannya sendiri. Al merutuki kebodohannya, bagaimana dia bisa lupa dengan kebiasaan Angel yang karena kondisi tubuhnya dia terpaksa membawa bekal khusus dari rumahnya. Al menepuk dahinya dan bukan niatnya untuk benar-benar minta ditraktir makan siang, dia juga bercanda dengan hal itu.
Dia hanya ingin makan berdua dengan Angel, gadis yang sangat dicintainya baik dulu maupun sekarang bahkan cintanya semakin bertambah besar saat melihat Angel lagi setelah beberapa waktu dan sekarang Angel tampak semakin cantik, dewasa dan mempesona. Dan Al terpesona lagi dan lagi pada kepolosan Angel.
Padahal keluarganya mempunyai kekayaan berlimpah, tapi gadis itu tetap gadis polos yang dikenalnya pertama kali saat mereka bertubrukan di halte bus... Aku merindukanmu, sangat...batin Al tersenyum manis mulai menyantap makanannya.
TBC
Mohon dukungannya
Beri like, rate dan vote nya
Makasih yang sudah mendukung 🙏🙏
.
.
.
__ADS_1