
Angel sedang melamun, memikirkan kembali tentang perasaan yang perlahan tumbuh pada Dion. Dia teringat kembali saat dia tersentak dan terbangun di kamar Dion pagi itu.
Flashback on
"Aku... dimana?" guman Angel menatap sekeliling ruangan yang dikenali sebagai kamar Dion.
"Kenapa aku disini?" gumamnya lagi, meraba tubuhnya, masih melekat pakaiannya lengkap seperti semalam. Hanya jaket yang dikenali milik Dion yang menempel di luar pakaiannya karena Angel sering melihat Dion memakainya saat ke sekolah.
Angel beranjak dari ranjang menuju kamar mandi yang ada di kamar Dion. Menatap bayangannya di cermin kamar mandi.
"Wajahku..." gumamnya dengan wajah semakin memerah karena malu.
"Pasti sangat memalukan sekali, wajahku sangat buruk." Bagaimana bisa aku menunjukkan wajah hancurku padanya? batin Angel.
"Tunggu... semalam..." Angel mencoba mengingat kejadian kemarin sore, dia menangis saat di halte setelah pergi meninggalkan Al di bangku taman wahana Aftano Greenland.
Dan tiba-tiba muncul Dion, tapi dia benar-benar tak ingat kalau itu Dion karena matanya yang sudah basah oleh air mata dan sembab tak bisa melihat dengan jelas.
Ditambah lagi karena kesedihan putus dengan Al yang menjadi kekasihnya tak lebih dari enam bulan. Angel menghela nafas berat, menundukkan wajahnya di dalam kamar mandi Dion.
"Bagaimana jika om Reno tahu...? Ah... pasti sangat memalukan." guman Angel menutup wajahnya dengan kedua tangannya, menghentakkan kakinya menahan malu.
"Dion juga, kenapa aku diajak kemari sih? Seharusnya dia mengantarku pulang kan?" gumamnya lagi kembali menatap cermin.
"Aku sudah mengirim pesan pada mamamu, mengatakan kalau kakak menginap di rumah teman." ucap Dion saat dini hari dia tersadar.
"Ah, benar. Dion sudah menjelaskan tentang itu, bagaimana aku bisa lupa." ucap Angel menepuk dahinya.
"Tapi, bagaimana nanti aku menghadapi om Reno?" gumamnya lagi lirih menundukkan wajahnya lagi. Mengusap-usap wajahnya dengan tangannya dengan galaunya.
"Kenapa? Toh tidak terjadi apapun pada kami. Kami hanya...hanya... benarkan? Tak terjadi apapun kan ya?" gumamnya Angel.
"Tubuhku jadi bugar." menyentuh kedua bahunya menyilang dengan kedua tangannya.
"Dan... disini juga tidak sakit? Jalanku juga normal. Kata mereka kalau baru melakukan yang pertama pasti sakit kan? Jalan pun juga tak bisa katanya." guman-guman Angel masih di dalam kamar mandi menyentuh bagian perut bawahnya dengan wajah sudah memerah.
Angel memutuskan untuk membersihkan tubuhnya dan terpaksa memakai kembali pakaiannya karena tak mungkin memakai baju Dion. Dia akan segera pulang ke rumah saja. Angel keluar kamar mandi sudah rapi meski memakai pakaian kemarin, dia tetap terlihat cantik. Keluar kamar untuk mencari Dion. Menuruni tangga dengan hati-hati. Menajamkan telinga seperti mendengar orang berbincang.
"Pa..." suara Dion.
"Pa... tolonglah!" suara Dion lagi terlihat mengikuti langkah Reno yang membuat keduanya berhenti karena melihat Angel sudah berdiri di bawah tangga.
__ADS_1
Flashback off
"Ah, pasti om Reno melihat kami tidur bersama di ranjang Dion, tak mungkin dia tidak melihat. Apalagi dia langsung menceramahiku setelah sarapan." guman Angel lirih.
"Sayang, kau sudah tidur?" seru Karina dari luar kamarnya setelah mengetuk pintu.
"I..iya ma..." seru Angel gugup karena kedapatan melamun.
"Ada Bryan di luar mencarimu." ucap Karina setelah Angel membuka pintu kamarnya.
"Kak Bryan? Ngapain ma?" tanya Angel heran, sudah lama Bryan tak mengganggunya. Kenapa dia datang? batin Angel.
"Entahlah. Kupikir kalian sudah janjian, kau tak pernah cerita hubungan kalian." jawab Karina melihat Angel berkerut.
"Tidak ada hubungan apapun aku dengannya ma. Kak Bryan lama tak menghubungiku." jawab Angel.
"Sekarang. Temuilah dia!" saran Karina.
"Tapi ma..."
"Kalau kau tak menyukainya, tolak dia secara baik-baik. Jangan tinggalkan permusuhan diantara kalian." saran Karina memotong ucapan Angel.
"Baiklah ma." jawab Angel menghela nafas pasrah dan ikut turun dengan Karina.
Angel berdiri dengan tangan bersedekap tangan di dadanya menatap Bryan tak suka. Berdiri tak jauh dari tempat Bryan duduk.
"Apa kabar?" sapa Bryan melambaikan tangannya pada Angel dengan senyum seringai melihat ketidaksukaan Angel padanya.
"Ada apa kakak datang kemari?" tanya Angel sedikit ketus, masih mempertahankan posisinya belum duduk di sofa ruang tamu.
"Ini malam minggu, kau pasti tau apa yang dilakukan seorang lelaki di rumah calon tunangannya." jawab Bryan enteng masih tetap duduk di sofa ruang tamu menatap Angel tersenyum menggoda.
"Kurasa hubungan kita sudah berakhir sejak lama." jawab Angel ketus.
"Ah, sepertinya kau lupa. Aku berjanji akan mundur jika Al mempertahankan hubungan kalian. Tapi, dari yang aku dengar kalian malah putus." ucap Bryan menyeringai. Angel langsung berdiri salah tingkah, dia benar-benar lupa dengan perkataan Bryan saat hari perkenalan mereka waktu itu karena saking fokus dirinya dengan masalah Al dan masalah Dion.
Angel pun terpaksa duduk di sofa mencoba meladeni apa kemauan lelaki ini.
"Lalu, apa mau kakak sekarang?" tanya Angel menatap Bryan lekat mencoba mencari tahu maksud perlakuan Bryan padanya.
Bryan tersenyum penuh kemenangan, dia duduk tegak dari bersandarnya.
__ADS_1
"Kita berkencan." ucap Bryan santai.
"Kencan?" jawab Angel tersentak.
"Tentu." ucap Bryan lagi menyandarkan tubuhnya lagi ke sofa.
"Tapi aku tak menyukai kakak." jawab Angel tegas.
"Kenapa tidak kita coba. Siapa tau kau jadi menyukaiku?" jawab Bryan.
"Aku rasa tidak." jawab Angel tegas menatap Bryan sinis.
"Aku tetap tak menyerah, lagipula kau tak ada alasan untuk menolak perjodohan kita." jelas Bryan enteng membuat Angel tak bisa bicara lagi. Dia terdiam, apa yang dikatakan Bryan benar, jika kemarin dia menolak dengan alasan punya kekasih yaitu Al. Tapi, sekarang dia tak punya alasan, meski dia bilang tak suka. Pasti papanya akan menyuruhnya untuk berteman dulu atau paling tidak pendekatan.
"Bagaimana kalau aku tetap tak menyukaimu?" tanya Angel lagi.
"Kalau belum dicoba, bagaimana bisa tau?" jawab Bryan menatap Angel lekat mengangkat kedua tangannya. Angel terdiam lagi.
"Tapi, aku yakin bisa membuatmu menyukaiku." ucap Bryan lagi yakin.
"Sebulan.." seru Angel setelah lama terdiam.
"Ya?" tanya Bryan belum mengerti.
"Jika dalam sebulan aku tetap tak menyukaimu, kita akhiri perjodohan ini." tawar Angel tegas. Bryan tersenyum masih belum menjawab menatap Angel intens.
"Baiklah." jawab Bryan menyeringai.
Aku pasti akan mendapatkanmu, tidak lebih dari satu bulan, kau akan jatuh di ranjang ku. batin Bryan tersenyum menyeringai sambil menyeruput kopinya.
TBC
Mohon dukungannya
Beri like, rate dan vote nya
Makasih yang sudah mendukung 🙏🙏
.
.
__ADS_1
.
.