Perselingkuhan

Perselingkuhan
Episode 90


__ADS_3

Angel melirik jam dinding kamarnya, menunjukkan pukul setengah satu siang. Biasanya jam segitu waktu makan siang pekerja kantor atau perusahaan. Angel melirik pintu kamarnya berharap orang yang ditunggunya segera muncul, dia sudah berkali-kali menatap pintu kamarnya sejak setengah jam lalu, tepatnya pukul dua belas siang.


Tapi yang diharapkan tak segera muncul, hingga berkali-kali Karina datang membawakan makan siangnya untuk dirinya Angel selalu menolak karena belum merasa lapar meski Karina berusaha membujuknya untuk segera makan karena sudah waktunya. Tapi sekali lagi Angel menolak dengan lembut. Hingga Angel yang tak sabaran berdiri di dekat jendela yang mengarah ke depan gerbang rumahnya.


Yang siapapun masuk atau keluar Angel dapat mengetahuinya jika dia berdiri di dekat jendelanya. Hingga pukul satu siang lebih yang ditunggunya tetap tak juga kunjung datang. Wajahnya yang semula penuh harap kini berubah sendu dan sedih. Kekecewaan terlihat jelas di matanya.


Namun dia bisa apa jika dia tak menepati janjinya. Angel menghela nafas pasrah, mengurungkan niatnya untuk menunggunya datang untuk sekedar menepati janjinya. Rasa lapar yang tadi menghinggapinya kini sudah hilang tak berselera. Semangatnya kini redup kembali, tak memikirkan perutnya yang meronta-ronta minta diisi.


Tapi apalah artinya hal itu tidak membuatnya untuk bersemangat. Angel kini duduk di sofa kamarnya yang menghadap keluar jendela meski dia sudah kecewa. Harapan itu tetap ada untuk menunggu kedatangan orang yang ditunggunya.


"Nak, ini sudah jam satu lebih, kau harus makan sayang?" bujuk Karina memelas.


Ini sudah ketiga kalinya Karina menghampiri kamar Angel untuk membujuknya makan siang sambil membawa nampan berisi nasi dan lauk serta sayur dan susu untuk Angel. Angel menoleh sekilas, menatap Karina dan nampan berisi makanannya.


Namun dia kembali menatap depan tak bersemangat untuk mencicipi makanan itu. Kekecewaannya terlalu kentara terlihat jelas di matanya membuat Karina bertanya-tanya apa gerangan yang membuat putrinya itu begitu kecewa tak bersemangat.


"Aku tak berselera ma." jawab Angel.


"Kasihan bayimu nak, setidaknya makanlah untuk bayimu." bujuk Karina lembut agar tak menyinggung perasaan putrinya itu.


Angel menatap Karina yang juga menatapnya penuh harap. Angel menghela nafas panjang.


"Baiklah ma." jawab Angel akhirnya. Karina tersenyum senang berhasil membujuk putrinya itu.


Dia mulai menyuapi Angel, namun baru sekali suapan, Angel segera menutup mulutnya dan berlari kecil ke kamar mandi memuntahkan makanannya.


"Nak..." Karina begitu cemas dan panik reflek mengikuti putrinya yang sedang muntah di wastafel kamar mandi.


Mengurut tengkuk dan punggung putrinya mencoba meredakan mualnya.


"Kau tak apa sayang?" tanya Karina cemas.

__ADS_1


"Aku... " Angel tak meneruskan ucapannya keburu dia mual lagi dan muntah, sarapan paginya ikut keluar semua, dan kini tubuhnya lemas sekali dan dibantu Karina dipapah ke ranjang setelah dirasa sudah tak mual muntah lagi.


"Kepalaku pusing ma." keluh Angel setelah berbaring di ranjang memegangi kepalanya yang berdenyut.


"Ada apa dengan kakak ma? Apa kakak muntah lagi?" tanya Vio yang mendengar kakaknya muntah dan Vio segera datang ke kamar kakaknya itu.


"Iya sayang, padahal baru satu suapan. Dan sarapan pagi tadi ikut dimuntahkan." ucap Karina sedih.


Vio mendekati ranjang melihat keadaan kakaknya yang sangat lemah. Padahal pagi tadi sudah mulai bersemangat setelah bisa makan makanan tanpa mual sedikitpun.


"Kakak terlihat lemas." ucap Vio entah pada siapa.


"Aku ingin makan disuapi Dion lagi. Tapi dia melupakan janjinya untuk makan siang bersama." lirih Angel yang terdengar Karina dan Vio.


Hati Vio langsung mencelos mendengar ucapan kakaknya. Tadi dia memang mendengar kakaknya meminta untuk makan siang bersama sebelum suaminya itu berangkat ke kantor tapi Dion belum menjawab iya atau tidaknya tapi kakaknya sudah memvonisnya sebagai janji yang tidak ditepati sehingga membuat kakaknya kesulitan untuk makan lagi.


Malah mualnya tambah parah seakan kekecewaan membuat perutnya tak bisa menerima asupan makanan. Angel memejamkan mata merasa tak bersalah dengan ucapannya meski itu sangat menyakiti adiknya. Karina mengelus lengan Vio mencoba menghibur.


Vio menatap tangan Karina yang mengelusnya beralih menatap Karina yang bersedih kecewa dengan tatapan mata sendu. Vio menggeleng mencoba menenangkan hati Karina bahwa dirinya baik-baik saja.


"Benarkah?" jawab Angel antusias langsung terlihat lebih baik dan langsung duduk menatap Vio penuh harap dengan wajah berbinar-binar.


Hati Vio kembali mencelos melihat reaksi kakaknya yang begitu antusiasnya terhadap suaminya. Karina menganga tak percaya, dia ingin mengatakan yang sebenarnya tapi ditahan oleh Vio dengan gelengan kepalanya yang hanya bisa dilihat Karina.


"Tentu kak." jawab Vio berlalu meninggalkan kamar kakaknya dengan perasaan sakit yang terlalu sesak karena ulahnya sendiri.


'Kulakukan hanya demi kakak, semoga semua baik-baik saja' batin Vio menghibur dirinya meski masih terasa sakit di dadanya.


Dion sedang berkutat dengan berkas-berkasnya di ruang kerjanya. Setelah meeting dengan para pemegang saham yang ingin melihat hasil kerja yang akan dibuktikan Dion yang sudah berjalan setengah bulan sejak perjanjian dengan para pemegang saham membuat Dion semakin sibuk dan melupakan jam makan siangnya.


Bahkan dia lupa mengirim pesan chat untuk istrinya saat tiba di kantor. Karena dirinya harus langsung disibukkan dengan pekerjaan kantor dan berkas-berkas yang harus dipelajarinya. Dion terlihat kusut dan kacau. Dia memang berniat untuk menyibukkan dirinya untuk melupakan sedikit masalahnya yang terjadi di rumah.

__ADS_1


Dan kini sekarang dia benar-benar melupakan segalanya jika dia terlalu berkonsentrasi dengan pekerjaannya. Ponsel yang sejak tadi di silent membuatnya tak menghiraukan panggilan istrinya yang sudah berkali-kali berdering.


Dan tentu saja tak menimbulkan suara karena memang hanya bergetar dan diletakkan agak jauh dari berkas-berkasnya agar tak jatuh jika dia membolak-balikkan berkas itu nanti.


Vio yang sejak tadi menghubungi ponsel suaminya hingga sudah lebih dari lima kali membuat Vio sedikit cemas. Sebelumnya suaminya ini tak seperti ini.


Seketika perasaan Vio tak enak karena suaminya tak mengangkat panggilannya takut terjadi sesuatu dengan suaminya itu. Vio berusaha menghubungi nomer kantor suaminya yang tentu saja terhubung dengan sekretarisnya.


Tok tok tok


Suara pintu diketuk.


"Masuk!" seru Dion tanpa menoleh kearah pintu.


"Tuan, apa ponsel anda mati?" tanya sekretarisnya itu.


Dion mendongak menatap sekretarisnya dan sontak menghentikan pekerjaannya. Dia sejak berangkat dan tiba di kantor tadi belum menyentuh ponselnya sama sekali. Dion menghela nafas panjang.


"Pergilah!" usir Dion dengan tangannya yang dikibas-kibaskan. Sekretaris itu menunduk dan meninggalkan ruangan wakil CEO itu.


"Oh my..." lirih Dion setelah melihat ponselnya dan banyak panggilan tak terjawab dan pesan masuk dari istrinya.


Seketika senyum Dion terbit di bibirnya dan itu artinya istrinya sudah tak marah lagi... dan... Dion seketika menepuk jidatnya. Dia lupa mengirimkan pesan pada istrinya saat dia berangkat kerja tadi.


"Maafkan aku istriku." lirihnya langsung menghubungi istrinya.


Namun sudah lebih dari lima kali pula dihubungi istrinya itu tak kunjung mengangkat panggilannya. Dion semakin cemas dan panik saat membaca pesan chat istrinya yang tak seperti biasanya. Terkesan dingin.


TBC


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2