
Sudah seminggu Angel dirawat di rumah sakit. Dokter sudah mengizinkannya untuk pulang namun putrinya masih harus tetap tinggal di rumah sakit karena kondisi prematurnya.
Dokter masih belum mengizinkan untuk pulang, masih membutuhkan sedikit lama pemeriksaan dan pengobatan pada bayi cantik itu untuk bertahan hidup di luar inkubator.
Meski berat badan normal, tapi bagaimanapun juga bayi itu lahir sebelum waktunya. Mungkin terlihat sehat jika dilihat dari fisiknya namun organ dalamnya belum membentuk sempurna untuk menyesuaikan dengan kondisi di luar inkubator apalagi kondisi udara di sekitar lingkungan.
Al dan Angel terpaksa pulang berdua demi kesehatan putri kecilnya. Mereka pun pulang meski berat. Tapi dokter mengizinkan mereka menjenguk setiap hari untuk memberikan ASI. Derian dan Karina menghela nafas berat, mereka merasa terpukul dan bersalah karena kondisi kesehatan cucu mereka.
Namun mereka pun tak mampu melakukan apapun selain menuruti apa kata dokter, karena hanya dokter yang mengerti tentang baik tidaknya kondisi bayi kecil itu.
"Pulanglah ke rumah nak?" ajak Karina menyentuh jemari tangan Angel.
"Kami akan pulang ke rumah kami ma, rumah yang sudah kusiapkan untuk keluarga kecil kami sebelum kecelakaan dulu." jawab Al mewakili Angel yang terlihat bersedih karena kondisi putrinya.
"Tapi..." ucap Karina lagi namun dipotong oleh Angel.
"Ma, kami ingin berdua menikmati waktu yang sempat hilang diantara kami." sela Angel tersenyum tulus.
Derian yang menyimak sejak tadi mengusap kedua lengan Karina lembut. Karina menatap Derian lembut, dengan pandangan sendu.
"Mereka benar, mereka butuh waktu berdua saja." ucap Derian lembut menatap istrinya penuh cinta.
"Baiklah. Hati-hati kalian." ucap Karina menatap Angel lekat bergantian menatap Al...
"Al, mama tak akan memaafkanmu lagi jika kau berani menyakiti putriku lagi." ucap Karina tegas. Al tersenyum senang.
"Tentu ma, aku....." Al menatap Angel lembut, "Aku mencintai istriku, lebih dari nyawaku ma..." lanjut Al menatap Angel lekat. Angel juga menatap Al penuh cinta tersenyum mendengar kalimat manis suaminya itu.
"Terima kasih." ucap Angel, Al mengecup puncak kepala istrinya lembut.
Derian dan Karina tersenyum senang melihat kemesraan pasangan yang lama berpisah itu.
**
__ADS_1
Tak sampai satu jam Al memarkirkan mobilnya di halaman rumah lantai dua yang terlihat bersih dan asri. Rumah yang sudah dipersiapkan sejak dulu jika dia pulang dari bulan madu dengan istrinya. Tak ada yang tahu, Al sudah membeli rumah itu bahkan istrinya pun tak tahu.
Niatnya ingin memberikan kejutan setelah pulang dari bulan madunya namun nasib berkata lain. Bahkan bulan madu yang baru dua hari dari rencana satu minggu itu berakhir tragedi kecelakaan yang membuat Al harus koma beberapa bulan dan perasaan ragu untuk pulang karena kondisi cacatnya meski tak permanen membuat Al semakin ragu untuk pulang.
Dan beruntung seorang malaikat kecil tumbuh di rahim istrinya yang ditinggalkannya beberapa bulan lalu. Dan kini tekadnya semakin bulat untuk memperjuangkan keluarga kecil mereka karena hadirnya sang putri kecil di tengah-tengah hubungan keduanya yang canggung meski sama-sama masih memiliki perasaan cinta yang mendominasi keduanya.
Al memutar untuk membukakan pintu mobil untuk istrinya. Karena permintaan Al, Angel menutup matanya untuk diberikan kejutan rumah mereka.
"Silahkan nyonya!" ucap Al membuat Angel tersenyum karena diperlakukan lembut oleh suaminya.
Angel menggenggam erat tangan suaminya yang menuntunnya untuk masuk ke dalam rumah mereka.
"Terima kasih sayang." jawab Angel tersenyum bahagia.
"Kau siap?" tanya Al. Angel mengangguk.
Al perlahan membuka ikatan di mata istrinya. Perlahan Angel membuka matanya menatap rumah mungil berlantai dua namun terkesan mewah dan elegan. Sesuai keinginan Angel yang dulu pernah diutarakannya saat sebelum mereka menikah. Dan kini suaminya telah mewujudkannya.
Angel terkejut bahagia sontak menutup mulutnya, air matanya perlahan mengalir karena terharu. Begitu besar rasa cintanya pada dirinya, bahkan dirinya sempat menyerah dengan suaminya itu karena terlalu lama menghilang tanpa kabar.
"Terima kasih sudah kembali." jawab Angel memeluk tubuh suaminya erat.
Al membalas pelukan istrinya erat juga seolah melampiaskan segala kerinduan mereka selama ini.
Perlahan Angel melepas pelukannya menatap sedih pada rumahnya.
"Seandainya putri kita ikut pulang, alangkah lebi bahagianya kita, ini semua salahku, tak bisa menjaganya dengan baik saat dalam...." ucap Angel lirih semakin menangis sendu.
"Tidak, kita tak ada yang salah. Memang sudah menjadi takdir kita untuk seperti ini. Kita harus berdoa dan berusaha agar kita bertiga hidup bahagia selamanya." sela Al mengusap kedua lengan istrinya lembut.
Angel memeluk kembali suaminya menangis sesenggukan di dalam pelukan itu.
***
__ADS_1
"Benarkah?" ucap Vio antusias saat Dion menceritakan tentang ketegangan yang terjadi di rumah sakit saat mengantarkan Angel yang tak sengaja jatuh dari tangga.
Dion mengangguk mengiyakan ucapan istrinya. Sudah kesekian kalinya Vio sang istri bertanya hal yang sama. Apa yang terjadi di rumah sakit. Dion mulai bosan, tapi melihat keantusiasan istrinya dalam bertanya yang merasa cerita sang kakak bak drama korea atau novel-novel yang menceritakan tentang dramatisasi keduanya.
"Sayang, kau sudah bertanya berulang kali. Akan berapa banyak lagi kau tanyakan?" tanya Dion lembut mencoba menahan untuk tidak emosi.
"Kau tahu kalau kak Al sudah menghilang beberapa bulan lamanya. Dan mereka dipertemukan dengan sangat dramatis. Ah, itulah takdir kisah mereka. Putrinya telah menyatukan mereka bahkan sebelum melihat dunia." ucap Vio lebay.
"Sudahlah, kita perlu mengurus diri kita sendiri. Setelah ketegangan yang terjadi pada kita." ucap Dion mulai menelusuri leher istrinya intens. Membuat Vio kegelian masih meminta banyak cerita pada suaminya.
"Sayang, geli."
"Aku... menginginkanmu sayang." bisik Dion lirih dengan suara serak menahan hasratnya. Sudah lama perasaannya tak selega ini. Dion akan menghabiskan waktu berduaan dengan istrinya sepanjang hari ini.
Kini keduanya sudah sama-sama polos tanpa sehelai benangpun. Dion bersiap untuk melepaskan hasratnya yang terpendam setelah kelahiran putra mereka.
"Oeek..ooek.." si kecil Rey menangis kencang di kamarnya.
"Shitt...ah, kenapa harus sekarang." umpat Dion kesal, padahal juniornya belum masuk ke rumahnya untuk menuntaskannya. Namun sepertinya si kecil Rey sudah tak sabar untuk menyusu pada ibunya.
"Sayang, sebentar." Vio langsung memakai piyama panjangnya berlari ke kamar putranya setelah mendorong spontan tubuh suaminya. Dion terpaksa menghentikan hasratnya yang sudah mencapai ubun-ubun.
Dia beranjak menuju kamar mandi terpaksa menuntaskan hasratnya sendiri. Dia tahu tidak mungkin sebentar putra kecilnya itu akan menyusu. Bisa berjam-jam lamanya. Dan hasratnya keburu minta dipuaskan. Dion hanya berdecak kesal.
End.
.
.
.
Terima kasih semuanya
__ADS_1
Maafkan typo...🙏
Jangan lupa beri like, rate dan vote nya makasih 🙏🙏