
Derian bergegas membereskan pekerjaan di mejanya. Noah yang melihat tuannya terburu - buru segera mendekat.
"Aku pulang sendiri, kau lanjutkan pekerjaanku yang tertunda yang bisa kau handle dulu, aku harus pulang menemui guru anak-anak,"ucap Derian berlalu meninggalkan ruangannya tanpa mendapat jawaban Noah.
Derian mengumpat kesal mendengar PRT rumahnya jika ada guru anak-anaknya datang ke rumah tapi ibu mereka tak ada, saat Derian menyuruh untuk menghubungi ibu mereka, ibu mereka malah menyuruh untuk menghubunginya.
Derian terpaksa meninggalkan pekerjaannya yang menggunung, karena kata PRTnya bu guru ini sudah menunggu di rumah dan sudah dua kali ini datang untuk menemui orang tua wali anak-anaknya di sekolah. Dan katanya juga anak-anak sangat menyayangi guru ini, Derian dibuat penasaran tentang guru ini, siapa gerangan guru yang bisa mengambil hati anak-anaknya, padahal selama ini anak-anaknya hanya bisa merengek padanya untuk bisa diam.Dan akhir-akhir ini anak-anaknya jarang rewel saat si bungsu ikut sekolah kakaknya yang nanti si kecil akan tinggal di penitipan anak yang juga ada di sekolah itu.
Derian tak terlalu mengurusi urusan pendidikan anak-anaknya, dirinya menyerahkan pada istrinya, tapi semenjak istrinya ketahuan membawa selingkuhannya pulang, dia malah semakin jarang pulang kadang tak pulang sama sekali, itupun kalau pulang pasti karena uangnya habis. Entah apa yang dilakukannya di luar sana, Derian tak peduli. Bahkan hari ini karena sibuk mengurus hal ini dia tak bisa menjemput Karina, tapi saat ini mau tak mau Derian meninggalkan pekerjaannya sebentar sekalian mandi dan ganti baju.
Derian tiba di rumahnya dengan raut wajah yang kesal, dingin dan datar menatap PRT nya dan pengasuh anaknya dengan emosi. Derian ingin segera menyelesaikannya dan pulang ke apartemen menemui Karina sebelum kembali ke kantornya.
"Apa segitu pentingnya kah guru itu ingin bertemu bi?"tanya Derian galak tak ada kelembutan sama sekali. Dua PRT itu hanya menunduk takut dan menyesal melihat respon majikannya yang tak suka.
"Iya tuan, sudah dua kali bu guru datang kemari, kemarin sudah memberi pesan untuk ke sekolah, tapi tak ada respon dari tuan dan nyonya,"jawab PRT paruh baya itu takut-takut.
"Lalu dimana ibu anak-anak?"tanya Derian ketus masih tersisa sedikit kemarahan setelah menghela nafas dan mengendurkan dasinya.
"Nyonya tak pernah mengangkat telpon lagi saat tau kami membahas sekolahnya,"jawab PRT itu lagi masih ketakutan.
"Buls***, aku akan mandi minta guru itu menunggu di ruang kerjaku,aku akan menemuinya setelah mandi,"seru Derian masih belum selesai mengumpat.
Derian berjalan tergesa menuju kamar pribadinya untuk membersihkan diri.
Karina yang menunggu di ruang kerja papa kedua gadis kecil itu mulai bosan, pasalnya sudah hampir setengah jam dia menunggu di ruangan itu tapi belum ada tanda-tanda papa kedua anak itu muncul, sampai minuman yang disajikan PRT rumah tadi juga hampir habis. Karina menghela nafas panjang. Besok lagi saja aku kemari, apa sih maksutnya membuatku menunggu terlalu lama, dia benar - benar tak menghargai orang ya? Memangnya aku peduli, kalau bukan karena keimutan kedua gadis kecil itu aku pun tak bersedia menunggunya dan datang ke rumah ini, batin Karina sudah berdiri. Tapi pintu ruangan itu terbuka, Karina yang membelakangi pintu terkejut saat mendengar suara pintu dibuka, dia ingin mengomel pada pria ini.
"Maaf saya terlambat..."ucap Derian mendekat sofa ruang tamunya yang ternyata dirinya sibuk menerima telpon dari sekretarisnya Noah tentang meeting yang akhirnya ditunda oleh Derian karena dirinya harus menemui guru anak-anaknya.
__ADS_1
Bruk...
Tas Karina yang hendak diangkat kembali jatuh saat tahu siapa yang muncul dari balik pintu ruang kerja ini. Derian ikut terkejut saat tahu siapa guru yang anak-anaknya yang bersikeras untuk bertemu orang tua anaknya.
"Sayang..."
"Deri..."
Seru mereka bersamaan, sama-sama terkejut.
Ingatan cerita polos kedua gadis kecil itu terngiang kembali, tentang papanya yang sibuk, yang tak pernah pulang, yang tak pernah mengurusnya dan yang tak begitu peduli kepada masalah anak-anaknya.
Ah, Karina tertawa getir.
Papa mereka seperti ini karena dirinya? batin Karina merasa bersalah.
"Cukup... sebentar... "Karina menepis tangan Derian yang ingin memeganginya, Karina melangkah mundur.
"Karina..." lirih Derian melihat reaksi Karina yang merasa bersalah.
"Tolong biarkan aku sendiri..." pamit Karina pergi meninggalkan Derian dengan terburu - buru dan berlari menuju pintu untuk keluar rumah itu.
Dalam perjalanan menuju pintu Karina menoleh menatap figura yang terpajang di dinding berderet begitu banyak foto keluarga Derian dengan Derian juga tersenyum dan tertawa bersama anak-anak dan istrinya dan foto istri Derian yang juga menemuinya saat di cafe itu. Betapa bodohnya dirinya selama ini tak memperhatikan dengan jelas foto-foto yang berjajar di sepanjang dinding itu Derian lah papa kedua gadis kecil itu, Derian orang yang menelantarkan mereka, Derian lah yang tidak pernah pulang ke rumah karena Derian pulang ke apartemen bersamanya. Karina tertawa miris mengingat semua itu.
"KARINA!"teriak Derian yang tak dipedulikan Karina segera berlari ke gerbang mencegat taksi yang lewat dan segera pergi meninggalkan rumah itu. Para pengurus rumah menatap heran majikannya yang kebingungan seperti orang gila.
Derian mengumpat kesal, kecemasan kekecewaan yang terlihat di sorot mata Karina membuat Derian tak bisa berpikir jernih. Derian segera mengambil kunci mobil Lamborghini Aventador nya untuk mengejar taksi yang dinaiki Karina.
__ADS_1
Derian melajukan mobilnya dengan kencang dan langsung memotong di depan taksi yang ditumpangi Karina, Derian tak peduli meski mobilnya akan berimbas ditabrak taksi itu daripada dirinya kehilangan Karina.
Suara rem taksi itu berdecit kencang berhenti hampir setengah meter dari Lamborghini milik Derian. Derian segera turun dan mengetuk jendela taksi itu, memaksa Karina untuk membuka pintu meski harus mengancam sopir taksi. Sopir itu membuka lewat otomatis kunci depan takut dengan ancaman Derian yang menatapnya dengan tatapan tajam dan dingin. Derian membuka pintu dan menarik pergelangan tangan Karina dengan lembut dan bujukan yang mungkin bisa meluluhkan hati Karina.
Derian menatap Karina yang sudah menangis meneteskan air mata, tampak sorot mata Karina yang terlihat sedih dan kecewa. Karina tetap tak bergeming menolak tarikan tangan Derian.
Suara klakson di belakang taksi itu mengumpat dan berteriak minta segera untuk minggir. Dalam sekejap jalanan ramai ibukota terjebak macet karena kenekatan Derian.
Karina mengalah, setelah membayar biaya taksi, dirinya menuruti Derian yang menariknya masuk ke dalam mobilnya.
"Tolong antar aku pulang ke rumahku!"pinta Karina tanpa menatap Derian memalingkan wajahnya ke arah sebaliknya.
"Tidak, kita harus bicara!"jawab Derian tegas masih ada sedikit kelembutan.
"Kumohon!"pinta Karina terdengar isakan tangis disela bicaranya. Derian merasa sedih mendengarnya. Derian segera berbalik arah menuju rumah dinas Karina.
Setelah setengah jam tanpa berbicara di dalam mobil, Karina segera turun dari mobil dan berlari masuk ke dalam rumah agar Derian tak mengikutinya, tapi saat dirinya mencari kunci rumahnya tak segera ketemu, Karina sangat putus asa. Derian mendekati Karina dan mendekapnya erat meski Karina mencoba menolak dan ingin melepas pelukan Derian. Akhirnya Karina menyerah dan menangis dalam dekapan Derian.
TBC
Mohon like dan rate nya,,vote nya juga kakak..
Makasih 🙏🙏
.
.
__ADS_1
.