
"Besok semua di rumah, tak ada yang boleh pergi kemanapun!" titah Derian saat makan malam hari itu pada anak-anaknya yang mungkin juga pada istrinya. Anak-anak langsung menoleh menatap Derian, dengan sorot mata penasaran.
"Memangnya ada apa sayang?" tanya Karina mewakili rasa penasaran anak-anaknya.
"Rekan papa akan berkunjung kemari untuk makan siang dengan keluarga kita. Sekaligus..." pandangan mata di Derian beralih ke arah Angel, Angel yang ditatap papanya hanya diam menatap tak mengerti arti tatapan papanya.
Derian kembali beralih menatap istrinya yang masih menunggu kelanjutan perkataan suaminya.
"Mereka ingin menjodohkan putranya dengan putri kita." lanjut Derian mengusap bibirnya setelah selesai makan. Hendak beranjak.
"Sayang, apa maksudmu menjodohkan? Keluarga mereka ingin menjodohkan mereka dengan putri kita? Apa maksudmu? Kau menyetujuinya?" berondong Karina dengan banyak pertanyaan membuat suaminya kembali duduk.
"Dia dari keluarga Atmaja dan putranya tertarik pada putri kita. Dan mereka ingin menjalin hubungan selain mempererat bisnis kami." jelas Derian menatap Karina dan juga beralih menatap Angel dan semua orang di meja makan langsung paham siapa putri yang ditunjuk oleh Derian.
"Tapi pa aku..." ucap Angel menyela.
"Kau mau bilang kalau kau sudah punya pacar? Siapa? Pria juara kampus itu? Yang sekarang bahkan sedang magang di perusahaan kita. Dan kau pun tak berani mengatakan jati dirimu yang sebenarnya padanya." potong Derian sebelum Angel mengatakan penolakannya, menatap Angel tajam.
"Sayang..." sela Karina memelas mencoba bernegosiasi dengan suaminya.
"Aku tak mau tidak ada yang tidak hadir. Batalkan janji kalian segera." tegas Derian beranjak pergi dari meja makan masuk kedalam ruang kerjanya diikuti Karina.
Angel terduduk lemas di kursinya kembali, adik-adiknya menatap Angel kasihan. Putri sang adik menepuk-nepuk punggung kakaknya memberi penghiburan.
**
"Apa maksudmu perjodohan?" ucap Karina melihat suaminya tak menghiraukannya sepanjang pertanyaannya mulai dari meja makan.
"Itulah yang sebaiknya terjadi." jawab Derian mulai membuka laptopnya akan mengerjakan pekerjaannya yang sempat tertunda.
"Sebaiknya? Apa kau pikir itu demi kebaikan anakmu? Bukan kebaikan perusahaan?" jawab Karina balik bertanya.
"Sudahlah sayang, kita anggap pembicaraan ini selesai." ucap Derian enteng. Malah membuat Karina semakin emosi.
"Apa maksudmu selesai? Bagaimana kau bisa memaksakan perjodohan ini?" seru Karina semakin tak sabaran.
"Apa maksudmu memaksa? Ini juga demi kebaikan kita semua." elak Derian batal memulai pekerjaannya.
"Bukan. Ini hanya demi kebaikan perusahaan. Bukan kebaikan kita semua."
__ADS_1
"Biarkan aku yang mengurus mereka. Kau hanya perlu untuk membujuknya." ucap Derian.
"Kau harus tanyakan dulu pada Angel, apa dia setuju atau tidak?" bantah Karina.
"Tidak ada yang perlu ditanyakan, dia hanya harus mengikuti apa kataku? Dan aku tak mau dibantah." tegas Derian lagi.
"Tapi ini menyangkut masa depan, pernikahan dan kehidupannya yang akan dilaluinya." bantah Karina tak mau mengalah.
"Itu sudah jelas masa depan yang baik untuknya, kurang apa lagi?" tanya Derian ikut tak sabaran.
"Kau tak menanyakan perasaannya, apa dia punya seseorang yang dicintai atau tidak?"
"Senior kampusnya itu yang bahkan tidak tau siapa keluarga jelasnya. Bahkan dia tak berani mengatakan yang sejujurnya dirinya sebenarnya."
"Walau begitu, dia pasti sakit hati karena kita tak menanyakan pendapatnya terlebih dahulu."
"Sudahlah sayang. Dia anakku, biarkan aku yang memutuskan apa yang terbaik untuk mereka."
"Apa maksudmu anakmu? Apa dia anakmu saja? Dan aku tak berhak!" seru Karina semakin emosi, dirinya tak dianggap sebagai ibunya juga.
"Bukan begitu maksudku. Aaarg..." Derian semakin frustasi mengusap wajahnya kasar.
"Sayang... bukan seperti itu mengertilah!" ucap Derian panik melihat istrinya menangis.
Setelah kehidupan harmonis keluarganya yang tak pernah bertengkar selama ini membuat Derian sontak panik melihat istrinya menangis. Derian merasa bersalah. Dia berdiri dari kursi kerjanya mendekati istrinya mencoba menghibur.
"Jangan sentuh aku!" teriak Karina menepis tangan suaminya yang mencoba mendekapnya untuk menghiburnya.
"Ternyata pengorbananku selama membesarkan anak-anakmu kau anggap sebagai seorang pengasuh." seru Karina sedih, semakin terisak tangisannya terdengar.
"Sayang .. bukan itu maksudku." ucap Derian membela diri."
"Lebih baik mulai malam ini kita tidak di kamar terpisah." ucap Karina lemah pergi meninggalkan ruang kerja suaminya.
"Apa? Apa maksudmu sayang? Jangan menghukumku seperti ini." seru Derian panik. Selama ini mereka tak pernah tidur terpisah.
Bahkan Derian membawa pekerjaannya di ranjang saat selesai percintaan mereka dan akan melakukannya lagi jika dalam pekerjaannya menemukan jalan buntu. Derian panik mengikuti langkah istrinya menuju kamar mereka.
Anak-anaknya yang sedang berkumpul di ruang keluarga untuk nonton tv melihat wajah panik papanya yang terlihat seperti orang bodoh jika mama marah pada papanya. Anak-anaknya sontak menutup mulutnya menahan tawa. Kecuali Angel, dia masih terngiang tentang perjodohan untuknya.
__ADS_1
Angel tau perdebatan orang tuanya, pasti tentang mamanya yang menentang perjodohan itu. Angel tak mau orang tua mereka bertengkar hanya karena dirinya. Mama Karina selalu membela Angel jika papa Derian melakukan hal yang buruk pada Angel.
Apalagi tentang perjodohan ini. Angel beranjak mengikuti suara langkah papanya yang masih berteriak di depan pintu kamarnya yang dikunci mamanya.
"Sayang, buka pintunya. Jangan hukum aku seperti ini." pinta Derian mengetuk-ngetuk pintu kamarnya. Hening, tak ada jawaban dari mamanya.
"Sayang... hukum aku dengan yang lainnya, tapi jangan suruh aku tidur sendiri malam ini. Ok?" pinta Derian lagi memelas. Masih tak ada respon. Derian mengusak rambutnya frustasi.
"Papa..." panggil Angel dari belakang papanya menatap papanya lekat. Derian menoleh menatap Angel.
"Ada apa?" tanya Derian kembali tegas tak seperti pria kekanakan yang memohon tadi.
"Biarkan aku membujuk mama." pintanya. Derian merenung sejenak, dia terdiam agak lama.
"Cobalah!" titah Derian memberikan ruang di depan pintu.
"Ma...ini Angel ma!" seru Angel di luar kamar.
Cklek
Suara pintu kamar terbuka setelah bunyi kunci pintu diputar.
"Masuklah sayang!" ucap Karina menyuruh Angel.
"Sayang " melas Derian.
"Jangan harap bisa masuk!" seru Karina menatap suaminya lekat.
TBC
Mohon dukungannya
Beri like, rate dan vote nya
Makasih yang sudah mendukung 🙏🙏
.
.
__ADS_1
.