Perselingkuhan

Perselingkuhan
Chapter 59


__ADS_3

Derian bergerak gelisah di ranjang apartemennya. Sudah lebih dari dua jam dia hanya bolak balik ke kanan dan ke kiri di atas ranjangnya. Berpikir besok akan bertemu dengan Karina lagi. Wanita yang dicintainya, wanita yang dirindukannya, wanita yang ingin dinikahinya secara sah dan wanita yang sedang mengandung buah cinta mereka.


Derian tersenyum-senyum sendiri di atas ranjangnya, menatap langit-langit kamarnya. Membayangkan akan memeluk Karina yang sedang hamil dengan perut buncitnya masih terlihat cantik dan seksi. Ah, ingatannya kembali saat mereka terakhir kali berhubungan intim, saat itu dirinya melihat perut Karina sedikit 'gendut'.


Jadi, saat itu tanpa sadar aku telah mengecup calon buah cinta kami? batin Derian terduduk di ranjang. Dia kembali tersenyum, berusaha menutup mata menunggu pagi berharap segera datang dan dia akan mengejutkan Karina.


Pukul dua dini hari, Derian sudah tiba di bandara. Saking tak sabaran dirinya ingin segera bertemu Karina. Semalaman dirinya tak bisa tidur nyenyak berharap pagi segera tiba.


Pasokan energi bertambah saat mengingat dalam waktu beberapa jam ke depan dirinya akan bertemu Karina. Dan kali ini tak akan dilepaskan lagi. Sudah ada anak diantara mereka, Derian berharap Karina tidak akan punya keinginan untuk pergi darinya lagi.


Pramugari membangunkan Derian yang tertidur pulas di dalam pesawat, padahal pesawat sudah mendarat setengah jam berlalu. Derian tersentak kaget dari tidurnya. Dia benar-benar kelelahan hingga ketiduran. Lamunannya semalaman yang terlalu senang yang tak bisa membuatnya tidur dan saat ini dirinya malah tertidur di pesawat.


"Tuan."sapa orang suruhan Noah yang bertugas mencari dan mengawasi kehidupan Karina


"Kita ke hotel dulu tuan?"


"Apakah rumahnya jauh?"tanya Derian merujuk pada rumah Karina.


"Jauh tuan, harus memutar terlebih dulu melewati beberapa desa. Jalan terdekat terjal dan curam sulit dilakukan kendaraan terutama roda empat.


Derian memasuki kamar VIP suite room di hotel itu. Hotel yang dipesan Noah yang sesuai seleranya. Derian langsung tepar di ranjangnya, terlelap karena perjalanan yang sangat jauh dan melelahkan.


Derian tersentak, menatap jam dinding menunjukkan pukul sembilan pagi. Dia langsung terbangun dan menuju kamar mandi membersihkan tubuhnya dengan sedikit tergesa-gesa.


Dalam perjalanan ke alamat rumah Karina yang telah diberikan pada orang suruhannya lumayan jauh dan jalannya sedikit curam.

__ADS_1


Derian meringis melihat jalan yang dilewati terdapat banyak jurang di kanan kiri jalan.


Sejauh inikah kau lari hingga dirimu sulit kucari? Apakah segitu inginnya kau tak mau berada di sisiku? batin Derian dalam perjalanannya.


Tak lebih dari satu jam dengan kecepatan diatas rata-rata, Derian sampai di alamat yang tertera pada pesan ponselnya. Derian turun dari mobil perlahan. Kegugupan melandanya, dipersiapkannya dirinya untuk menemui Karina.


Perasaan senang dan bahagia menyelimuti dirinya. Dari turun dari mobil hingga menuju pintu rumah Karina tak henti-hentinya senyuman manis tersungging di wajah tampannya, tampak semakin mempesona.


Bajunya yang tak terlalu formal dibenahinya, dia tak mau pertemuan pertama yang sudah sekian lama membuat penilaian Karina buruk terhadapnya. Dia tak mau terlihat buruk sesuai pesan Karina yang terakhir kali. Meski masih tersisa sedikit kekecewaan dan kemarahannya waktu ditinggal Karina, dirinya mencoba menepis ego itu.


Terlalu dirinya mencintai Karina, hingga kesalahan sekecil dan sebesar apapun bisa dimaafkannya. Pasti Karina punya alasan yang jelas jika dirinya sampai pergi darinya, itulah kata-kata yang selalu didengungkan di telinganya setiap mengingat alasan Karina pergi.


Sekarang, dirinya sudah membulatkan tekad untuk tidak akan melepaskan Karina dan anak yang ada di dalam kandungannya. Walaupun Karina menolaknya lagi.


Derian mengetuk rumah Karina perlahan. Tak ada jawaban. Diketuk lagi, ada sahutan dari dalam, sepertinya dia di dalam? batin Derian mendengar suara Karina dari kejauhan dalam rumahnya.


"Karina..." pintu terbuka, Karina muncul dengan baju santai model ibu hamil dengan perut buncitnya yang sudah besar. Wajahnya terlihat terkejut dan kaget melihat Derian muncul di depan pintu rumahnya.


Derian menatap Karina lekat, terpancar kerinduan, kesedihan dan perasaan cinta di matanya. Begitu dirinya sangat merindukan sosok wanita ini.


Karina langsung menutup kembali pintu rumahnya dan menguncinya. Reflek tubuhnya membuatnya menolak Derian karena perasaannya bersalahnya.


"Karina..."seru Derian mengetuk pintu rumah Karina.


"Kumohon... buka pintunya?"mohon Derian memelas. Tak ada jawaban, terdengar isakan dari balik pintu.

__ADS_1


"Maaf...maafkan aku...jika aku bersalah... maafkan aku...aku tak bisa hidup tanpamu, Karin?"pinta Derian terus memelas menggedor pintu yang perlahan lirih, hingga dirinya merosot di depan pintu. Air mata menetes sedih, kedatangannya ditolak oleh Karina.


"Kumohon buka pintunya?"seru Derian lagi sudah tidak menggedor pintu hanya terduduk diam menatap pintu rumah Karina yang tertutup. Karina semakin terisak mendengar suara memelas Derian, dirinya juga sangat merindukan pria ini, dirinya juga ingin memeluk tubuh pria ini.


Dirasakan perut bawahnya terasa nyeri dan keluar cairan dari pahanya. Karina menggelengkan kepalanya.


Tolong bertahanlah nak! batin Karina mengelus perutnya, tapi rasa sakitnya semakin kencang.


"Auww..."nafas Karina memburu, wajahnya meringis kesakitan. Kunci pintu dibuka, pandangannya perlahan gelap dan Karina sudah tak sadarkan diri.


Derian merasa hening dan kunci pintu terbuka, dia mencoba membuka pintu.


"KARINA!!!"


TBC


Mohon dukungannya


Beri like, rate dan vote nya


Makasih sudah memberikan like dan vote nya 🙏🙏


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2