
Setelah 2 hari dirawat, Karina sudah diperbolehkan pulang dengan catatan tidak boleh melakukan pekerjaan yang terlalu berat. Terutama memikirkan hal-hal yang mungkin bisa membuatnya stres. Karina sengaja meminta dokter untuk mengatakan kehamilannya pada suaminya. Dokter memaklumi semua itu.
"Sayang, kau sudah siap?"tanya Derian menunggu Karina yang masih berada di dalam kamar mandi.
"Iya...!"teriak Karina dari dalam.
Karina keluar melihat sudah ada kursi roda di kamarnya, membuatnya terheran dan menatap Derian meminta penjelasan.
"Kau sudah siap? Naiklah!"perintah Derian sudah memegang pegangan tangan pada belakang kursi roda itu yang masih membuat Karina heran.
"Naik kemana?Apa maksudmu aku harus naik kursi roda ini?"tanya Karina menatap Derian tak percaya.
"Kau masih belum sembuh, naiklah!"pinta Derian setengah memaksa.
"Sayang, aku sudah sembuh?Aku bisa jalan sampai ke depan. Aku tak perlu naik kursi roda."
"Naiklah! Atau kau ingin aku menggendongmu sampai depan?"
"Itu..."
Derian kembali menunjukkan keposesifannya pada Karina yang mulai membantah.
Karina tak bisa membantah lagi, Karina sebenarnya malu, dia bukan seorang pesakitan yang harus naik kursi roda sampai ke mobilnya. Sedangkan barang-barang Karina sudah dibawa ke mobil oleh Noah yang sengaja diminta Derian untuk menjemputnya.
Tidak sampai satu jam perjalanan pulang ke apartemennya dari rumah sakit. Karina turun setelah Derian membukakan pintu mobil untuknya.
Dering ponsel Derian berbunyi yang tak henti-hentinya. Derian tak mau mengangkatnya, tapi dering ponsel yang berulang-ulang berbunyi sampai membuat Karina jengah dan menatap Derian tajam, seolah tau Derian mematikan ponselnya.
"Angkatlah dulu siapa tau itu penting,"seru Karina yang tak suka mengabaikan ponselnya yang berkali-kali berdering. Kalau sudah berkali-kali berbunyi pasti itu penting. Karina tak mau membuatnya mengabaikan semuanya hanya karena dirinya.
"Ok...ok... baiklah.Tunggu sebentar."Derian menerima telpon agak jauh dari Karina karena tertera nama Adelia pada ponselnya.
Karina berjalan duluan menuju lobi gedung apartemen, perlahan sambil menunggu Derian selama menerima telpon.
__ADS_1
Klok...klok...klok...
Suara langkah kaki sepatu high heels yang mendekati Karina membuat Karina menoleh menatap siapa yang mendekatinya. Belum sempat Karina melihat jelas siapa yang mendekatinya.
Plak...
Sebuah telapak tangan sudah melayang di pipi kiri Karina. Karina terkejut memegangi pipinya yang kesakitan, tak sampai disitu. Wanita yang adalah Adelia istri sah Derian yang menamparnya juga menarik rambut Karina ke belakang, membuat Karina kesakitan memegangi kepalanya yang masih sedikit pusing setelah pulang dari rumah sakit.
"DASAR PELAKOR.!!!"teriak Adelia di depan lobi gedung apartemen Derian, yang membuat orang-orang yang awalnya sibuk dengan urusan masing-masing menjadi mengerubuti mereka.
"Apa yang kau lakukan pada suamiku?"
"Gara-gara kau suamiku menelantarkan istri dan anaknya. Kau sungguh wanita lak***. Pergi kau dari kehidupan suamiku. Dasar wanita mu*****,j****g. Kau memang pantas diperlakukan seperti ini."teriak Adelia membabi buta masih menarik rambut Karina semakin kencang hingga Karina terduduk, menutupi perutnya melindungi janinnya.
"Maaf mbak ...lepaskan!Sakit...!"mohon Karina menangis kasihan, tangan lainnya memegangi rambut yang ditarik Adelia semakin kencang. Air mata Karina mengalir dengan deras. Banyak orang-orang yang mengerubuti mereka mengambil video pada mereka. Ada juga yang memosting siaran langsung di medsos mereka.
Belum selesai video diunggah, tayangan itu mendadak viral. Tak ada yang berani ikut campur urusan mereka, atau menolong Karina. Semuanya yang melihat mereka malah menatap Karina mengolok - oloknya seakan ikut mendukung aksi Adelia.
Derian yang sudah selesai menerima telpon sejak tadi mencari-cari Karina hingga mendengar suara keributan dari lobi. Derian mendekati keributan itu ingin melihat apa yang sedang terjadi.
"Berani kau ya? Aku akan membuatmu menyesal!!"teriak Derian menunjuk wajah Adelia yang semakin memerah marah karena Derian lebih membela Karina daripada dirinya.
Derian berbalik mendekati Karina dan langsung membopong tubuh Karina yang sudah acak-acakan menangis mendekap rambut dan tubuh Karina sendiri. Noah yang baru saja tiba setelah dari kamar tuannya meletakkan barang-barang yang dibawa dari rumah sakit mendengar keributan dan mendekati tuannya sambil menunduk.
"Bereskan wanita itu Noah!Beri wanita itu pelajaran!"seru Derian dengan sorot mata tajam dan dingin menahan amarahnya.
Derian mendudukkan Karina di tepi ranjang kamarnya setelah tiba di dalam apartemennya. Karina masih menangis kesakitan tak sanggup menjawab pertanyaan Derian.
"Maaf... maafkan aku.Aku terlambat datang. Bagian mana yang sakit, ah, sebentar..."cemas Derian berlutut di depan Karina hendak berdiri mengambil obat untuk mengobati Karina.
Tapi Karina menarik jemari tangan Derian dengan keadaan masih duduk terisak sesenggukan. Derian berbalik dan mendekapnya, menyalurkan kehangatan pada Karina. Karina malah semakin menangis kencang di dalam dekapan Derian menyalurkan semua rasa sakitnya dan rasa terkejutnya mendapat perlakuan yang tidak disangkanya selama ini.
"Maaf ... maafkan aku."bisik Derian lirih merasa miris dan sakit melihat keadaan Karina yang berantakan. Apalagi Karina yang baru pulang dari rumah sakit karena kelelahan dan mungkin kelelahan dan kesehatannya yang masih belum pulih membuat Karina kembali sakit.
__ADS_1
Setelah hampir 2 jam menangis di dekapan Derian, Karina terlelap masih sesenggukan di dalam tidurnya. Derian menatap Karina lekat menyentuh pipinya yang memerah bekas tamparan Adelia. Pergelangan tangan Derian mengepal kuat ingin memukul Adelia mengingat perlakuan buruk Adelia pada Karina membuat Derian menggemeretakkan giginya, rahangnya mengeras menahan emosi amarahnya.
Derian bangkit dari tidurnya, mengambil obat mengolesi pipi Karina yang memerah karena tamparan tadi. Karina hanya mengguman sesenggukan merasakan dingin di pipinya tapi masih terlelap.
"Bagaimana Noah?"tanya Derian di ruang kerjanya sudah menjauh dari tempat Karina terlelap.
"..."
"Bagaimana bisa?"tanya Derian murka yang emosinya semakin memuncak.
"..."
"Kau bereskan video itu dulu!"perintah Derian mutlak, menutup panggilan Noah.
Derian mengutak-atik ponselnya mencari sesuatu yang diinfokan Noah padanya.
Rahangnya mengeras, tangannya mengepal, wajahnya memerah menatap video dari salah satu akun yang menyebarkannya di medsos membuat kemarahan Derian terasa memanas di ubun-ubunnya ingin meremas Adelia yang memperlakukan seburuk itu pada Karina. Derian mengumpat kesal setelah menonton video yang berdurasi kurang lebih 60 detik.
Derian menghubungi Noah lagi, kemarahannya sudah tak terbendung lagi.
"Buat dia menyesal dan tak mendapatkan apapun dari perceraian kami, kalau perlu biarkan dia membusuk di dalam penjara Noah!!"geram Derian di balik ponselnya.
TBC
Mohon dukungannya
Beri rate,like dan vote nya
Makasih 🙏🙏
.
.
__ADS_1
.