
Al menyelesaikan tugasnya hari ini lebih cepat, sudah seminggu ini dia tak pernah bertemu dengan Angel. Meski mereka sering berkirim pesan, tapi hubungan mereka masih seumur jagung. Dan Al sudah terlalu lama menahan rindu.
Al berjalan menuju kelas Angel. Tadi saat waktu istirahat Al sempat bertukar pesan menanyakan jam pulangnya. Dan ini sudah tepat jam 1 siang. Dia celingukan di depan kelas Angel, mencari sekeliling dengan seksama, berharap menemukan orang yang dicarinya. Ternyata Angel masih di kursinya sedang membereskan barang-barangnya.
Al tersenyum senang menatapnya. Wajah yang dirindukannya, wajah yang disukainya. Ponsel Angel berdering setelah dirinya selesai membereskan barang-barangnya. Entah kenapa terselip senyum di bibirnya saat membaca pesan di ponselnya.
Seketika senyum Al menghilang, Siapakah yang membuatnya tersenyum senang seperti itu? batin Al menatap Angel tak suka yang sangat senang menerima pesan itu. Al cemburu, wajahnya sedikit memberengut.
Entah kenapa dadanya sesak, apakah dia juga sebahagia itu jika mendapat pesan dariku? batin Al lagi. Segera dia menetralkan perasaannya, senyum dicoba diukir kembali di bibirnya. Mungkin dari salah satu keluarganya, bukannya dia sangat menyayangi mereka? Dia selalu saja antusias jika bercerita tentang keluarganya. batin Al menghibur dirinya sendiri.
Angel berjalan keluar kelas, dirasa sudah cukup bertukar pesan. Dia masih menunjukkan senyum manisnya saat hendak keluar kelas.
"Apa kabar?" sapa Al di luar kelas Angel, Angel sontak menatap Al dengan wajah terkejut.
Senyum di bibirnya mendadak hilang dan langsung digantikan dengan senyum canggung yang seolah dipaksakan.
"Kak Al..." jawab Angel.
"Sudah lama tak bertemu?" ucap Al lagi tersenyum manis.
"Ah, kakak tak bilang mau kesini?" tanya Angel.
"Aku ingin memberikan kejutan. Aku menyelesaikan tugasku lebih cepat, berharap bisa bertemu denganmu secepatnya. Maaf... sudah lama aku tak menemuimu?" ucap Al menyesal.
"Tak apa, kak Al kan sibuk. Pasti sibuk mengurusi wisuda yang sudah dekat." hibur Angel tersenyum canggung.
"Makasih... sudah mau mengerti."
"Tentu saja."
"Ayo, kuantar pulang! Aku punya waktu luang sampai hari minggu besok." ucap Al mengulurkan jemari tangannya untuk menggandeng jemari tangan Angel. Angel menatap jemari Al. Entah kenapa dia ragu menerima uluran jemari itu.
"Tentu." Angel akhirnya menerima uluran tangan itu dan mereka jalan bergandengan tangan hingga keluar gerbang kampus.
Mereka memang tak menutupi hubungan mereka, Al meminta untuk tidak melakukannya. Biar semua orang kampus tau, kalau mereka pacaran. Dan tentu saja Bryan juga tak akan mengusiknya lagi.
"Kau tau akhirnya aku mendapat tempat magang." ucap Al antusias di perjalanan mereka menuju halte bus dekat kampus.
"Oh ya?"
"Permohonan magangku akhirnya diterima. Padahal diantara banyak mahasiswa dan mahasiswi yang mengajukan disana. Dan aku salah satu yang diterima." cerita Al antusias menatap Angel sambil berjalan.
__ADS_1
"Benarkah?" jawab Angel menatap Al tersenyum juga meski sudah tak secanggung tadi.
"Kau tau nama perusahaan itu?" tanya Al antusias dan terlihat sedikit bangga. Dan Angel tersenyum senang melihat antusias Al.
"Dimana?" tanya Angel.
"Aftano corporation." jawab Al yang membuat Angel tersedak ludahnya sendiri.
Dia tersentak dan terkejut mendengar nama perusahaan yang menerima magang Al. Menatap Al dengan salah tingkah.
"Ah, Aftano corporation?" tanya Angel lagi memastikan.
"Hem..." jawab Al mengangguk mengiyakan.
"Ah, selamat kak." ucap Angel setelah mengendalikan rasa terkejutnya.
"Kau tau, itu adalah perusahaan terkenal nomer satu di kota ini. Banyak mahasiswa dan mahasiswi yang berharap bisa magang disana. Dan kurasa ini keberuntunganku. Benarkan?" cerita Al antusias yang ditanggapi Angel dengan penuh salah tingkah.
Dia belum berani jujur siapa dirinya pada Al. Apa yang akan terjadi jika dia tahu aku putri dari pemiliknya? batin Angel mengusap dahinya yang agak berkeringat.
"Ah, maaf... sepertinya... hanya aku yang... maaf, aku jadi antusias sendiri karena terlalu senang." ucap Al menyadari ketidak nyamanan Angel.
Mereka pun terdiam menunggu di halte bus.
"Ah, punya waktu luang akhir pekan ini, jika kau tak ada janji. Bagaimana kalau besok kita kencan?" ucap Al memecah keheningan.
"Ah, tentu." jawab Angel antusias.
"Baiklah. Aku akan menjemputmu besok."
"Jangan...ah, maksutku kita bertemu di tempat kencan saja. Daripada kakak bolak-balik... kakak bisa mengantarku pulang saja." jawab Angel mencari-cari alasan.
Angel masih belum siap menjelaskan siapa dirinya sebenarnya. Angel tak mau Al jadi tak nyaman jika sampai tau siapa dia sebenarnya.
"Tentu. Kita bisa bertemu di Aftano Green Land."
"Ya? Aftano Green Land?" teriak Angel tanpa sadar langsung menutup mulutnya karena teriakannya.
Dan orang-orang satu bus menoleh menatap mereka. Al menundukkan wajahnya karena malu, begitu juga Angel.
"Kau sudah pernah ke sana?" tanya Al setelah orang-orang tak menatap mereka lagi.
__ADS_1
"Ah, itu... waktu aku kecil, itupun aku sudah lupa seperti apa." jawab Angel gelagapan gugup.
Tentu saja Angel sudah sering kesana bersama mama dan adik-adiknya, apalagi itu adalah taman bermain milik keluarganya. Dan Angel tak bisa memberi tahukan pada Al.
"Baiklah, kita bisa membuat kenangan disana untuk kita berdua nanti." ucap Al menautkan jemari mereka semakin kencang dan Angel hanya tersenyum canggung.
**
Pukul 3.10 sore, Angel melirik jam tangannya. Dia tadi ada janji dengan Dion. Tapi, karena Al yang masih ingin bersamanya, Angel tak bisa mengajak Al untuk segera pulang.
Bagaimanapun mereka tak bertemu setelah seminggu dan entah kenapa Angel tak mau Al mengetahui hubungannya dengan Dion, meski sebenarnya Al pernah bertemu dengan Dion.
Angel memasuki cafe tepat 3.30 sore, Angel terlambat setengah jam dari waktu janji yang dia buat sendiri. Angel mencari sekeliling cafe dan mendapati Dion duduk di dekat jendela.
"Maaf... aku terlambat. Baru pulang dari kampus." sesal Angel menatap Dion yang langsung tersenyum senang melihat kemunculan Angel.
"Tak apa, aku juga baru datang." Angel menatap meja dan ada dua gelas kosong dan satu gelas masih berisi minuman separuhnya. Dion mengikuti arah pandang Angel, menatap minumannya.
"Ah, sial..." batin Dion
"Sepertinya kau kehausan." ucap Angel tersenyum lucu, menutup mulutnya menahan tawa.
"Tertawa saja jika ingin tertawa." ucap Dion cemberut.
"Bolehkah?" goda Angel hendak tertawa.
"Kak..." Angel pun tergelak, membuat Dion tersenyum melihat tawa Angel.
TBC
Mohon dukungannya
Beri like, rate dan vote nya
Makasih yang sudah mendukung 🙏🙏
.
.
.
__ADS_1