Perselingkuhan

Perselingkuhan
Episode 62


__ADS_3

Suara decapan bersahutan terdengar di kamar apartemen itu. Setelah selesai makan malam. Angel memeluk erat tubuh Al dari belakang saat kekasihnya itu mencuci piring bekas makan malam mereka. Angel mulai menggoda lagi dengan mengecupi tengkuk kekasihnya. Membuat Al tak tahan lagi, dia mencuci tangannya yang kotor.


Membalik tubuhnya mendekap erat tubuh calon istrinya. Al yang sudah sejak tadi tak tahan digoda terus menerus mulai melancarkan aksinya. Mencium setiap inci bibir Angel yang memerah. Angel ikut membalas setiap ciuman, kecupan, ******* dan hisapan dari bibir Al.


Al membopong tubuh calon istrinya membawanya ke kamar pribadinya. Setelah Al membaringkan tubuh Angel di ranjang, Al menurunkan ciumannya menuju leher, menggigit kecil di situ tanpa meninggalkan jejak, dia tak mau ada orang tahu apa yang dilakukannya sebelum mereka resmi sebagai pasangan suami istri.


Angel menekan kepala Al lebih kebawah hingga bermain di kedua dada kembarnya. Al menikmati keindahan itu setiap incinya.


Tak terasa tubuh mereka sudah sama-sama polos tanpa sehelai benangpun. Mereka tidak hanya sekali atau dua kali melakukannya. Kini Al sudah sangat berkabut gairah. Tak bisa ditahannya lagi. Selaput dara yang sudah dijebolnya beberapa hari lalu kini menjadikan candu bagi Al. Dan kini dia menginginkannya lagi.


Awalnya dia sangat merasa bersalah saat Al mengambil milik berharga kekasihnya. Tapi saat mengingat keduanya sama-sama menyukai dan menikmatinya, Al semakin merasa egois menginginkan lebih untuk memiliki lebih kekasihnya itu. Hingga lebih dari dua jam percintaan panas itu telah membuat tubuh keduanya terkulai lemas bersisian di tempat tidur itu.


"Aku mencintaimu." ucap Al mengecup kening calon istrinya lembut.


"Aku juga kak." jawab Angel memejamkan mata saat Al mengecup keningnya.


Mereka pun terlelap pulas di ranjang. Al sudah menghubungi calon ibu mertuanya kalau mereka akan menginap di apartemennya karena besok Al akan pulang ke rumahnya yang ada di kota sebelah. Karina mau tak mau mengizinkan mereka dengan catatan jangan sampai kebablasan meski mereka sudah melanggar beberapa hari lalu.


Karina pernah muda, pernah mengalami jatuh cinta. Dia juga tahu bagaimana rasanya ditinggal pulang sang kekasih apalagi hari-H pernikahan mereka tinggal menghitung hari.


**


"Apa yang membuatmu berubah pikiran?" tanya Reno saat menjemput putranya di bandara sore itu.


"Kenapa? Apa aku tak boleh pulang?" jawab Dion saat baru muncul di pintu keluar dari pesawat yang dinaikinya.


"Tiga tahun disana, kau semakin berani ya sama papa." seru Reno pura-pura emosi.


"Aku lagi badmood pa, jangan mengajakku bercanda." jawab Dion lemah tak bersemangat.


"Dion." seru Reno.


"Apa?" jawab Reno.


"Kau tak memeluk papamu? Apa ada orang lain yang kau tunggu pelukannya?" canda Reno merentangkan kedua tangannya bersiap memeluk putranya.


Dion hanya tersenyum simpul. Dan masuk memeluk tubuh Reno yang dirindukannya. Begitulah keduanya jika bertemu seperti bertemu dengan temannya saja. Kadang Dion sedikit melupakan etika sopannya pada Reno.


"Kau sudah besar nak, papa sangat merindukanmu." lirih Reno dalam pelukan itu.

__ADS_1


"Aku juga pa." balas Dion lirih. Mereka pun melepas pelukannya.


"Ayo pulang!" ucap Reno berjalan menuju parkiran mobilnya berada.


"I go home." ucap Dion di depan teras bandara dengan merentangkan kedua tangannya. Reno hanya tersenyum melihat tingkah putranya.


"Besok orang tuamu ingin bertemu denganmu." ucap Reno saat mereka dalam perjalanan.


"Tak bisakah aku menolak?" jawab Dion.


"Mereka ingin mempertemukan kalian." ucap Reno ragu.


"Kami? Siapa?" tanya Dion penasaran.


"Temuilah mereka! Kau akan tahu." Dion semakin penasaran saja, karena papanya tak pernah menyembunyikan apapun dari putranya. Tentang pernikahan Angel pun Reno belum berani mengatakannya, takut Dion belum move on dari gadis yang disukainya sejak kecil itu.


"Sepertinya papa menyembunyikan sesuatu dariku." ucap Dion menatap jalanan yang dilaluinya.


"Kau ingin diberitahu atau biarkan kau tahu sendiri?" tanya Reno menatap putranya lekat. Dion ikut menatap Reno lekat.


"Aku tak ingin tahu sekarang. Jadi jangan katakan apapun!" jawab Dion mengalihkan pandangannya.


**


"Kakak benar-benar pulang?" rengek Angel manja saat mereka perjalanan pulang dari kantor, lengannya bergelayut di lengan Al.


"Hanya empat hari kita berpisah sampai kita bertemu di hari pernikahan." jawab Al.


"Aku pasti akan merindukan kakak." ucap Angel meletakkan kepalanya di bahu Al. Al mengusak rambutnya gemas.


"Sudah sampai, ayo turun!" ajak Al saat mobilnya berhenti di halaman rumah besar Angel.


"Bagaimana jika aku ikut kakak?" ucap Angel menatap calon suaminya lekat memelas.


"Sayang, setelah empat hari kita akan bersama selamanya, hanya kita berdua." hibur Al.


Angel malah semakin cemberut. Pipinya menggembung menunjukkan rajukannya. Angel akhirnya mau tak mau turun. Mereka pun masuk ke dalam rumah. Al sekalian menemui kedua calon mertuanya berpamitan untuk pulang ke rumah orang tuanya.


**

__ADS_1


"Kau harus menemui mereka." desak Reno saat mereka selesai makan malam.


"Lihat besok pa, aku capek. Mau istirahat lagi." ucap Dion masa bodoh dan masuk ke kamarnya.


Bukannya istirahat seperti yang diucapkan pada Reno tapi Dion mulai membuka laptopnya dan mengutak-atik sesuatu disana. Dia akan fokus mencari informasi tentang Vivi dari ponsel milik Vivi. Saat di London, Dion tak berani terlalu banyak tahu ponsel itu sebelum Vivi mengizinkannya.


Tapi kali ini Dion mau tak mau mencoba meretas ponsel Vivi. Sedikit kesulitan Dion meretas ponsel milik Vivi, mengingat keduanya sama-sama jenius dalam hal ini. Hingga lebih dari tiga jam Dion belum mampu membuka kunci ponsel Vivi.


Tok tok tok


Suara pintu kamar Dion diketuk.


"Papa tahu kamu belum tidur. Buka pintunya! Papa mau bicara." seru Reno dari luar pintu kamar Dion.


Dion berdecak segera mengemasi laptop dan ponsel itu meletakkan di lemari meja belajarnya dan menguncinya. Dion belum bisa mengatakan apapun sebelum menemukan Vivi. Karena Dion akan lebih mudah mengatakan jika berdua dengan Vivi di hadapan papanya.


"Apa sih papa." jawab Dion membuka pintu kamarnya lebar, Reno langsung masuk.


Menatap sekeliling kamar berniat mencari tahu apa yang sedang dilakukan Dion. Reno duduk di tepi ranjang. Dan Dion duduk di kursi meja belajarnya saling berhadapan.


"Ada apa pa, malam-malam begini. Ngantuk pa." ucap Dion.


"Kau yakin tak ingin segera tahu kabar yang ingin papa sampaikan?" tanya Reno meyakinkan.


Dirinya berpikir lebih cepat tahu lebih baik. Dion menatap Reno lekat, mencari tahu kira-kira apa kabar yang mungkin saja mengejutkannya.


TBC


Mohon dukungannya


Beri like, rate dan vote nya


Makasih yang sudah mendukung 🙏🙏


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2