
Derian langsung masuk kamar begitu Tio pamit pulang. Suasana hatinya jadi buruk saat mendengar perkataan Tio. Yang katanya sangat mengagumi Karina, istrinya.
Meski dirinya berusaha mengontrol emosinya di depan Karina tapi perasaannya tak bisa dibohongi, dia ingin sekali melampiaskan kemarahannya pada sesuatu, tapi tak mungkin dirinya mengamuk disini.
Dia tak mau menunjukkan pada siapapun terutama Karina, Derian tak mau dipandang buruk. Cukup dirinya yang tau sebesar apa pelampiasan kemarahannya jika sedang sendiri dalam kemarahan.
"Kau tak coba membujuknya?" saran bu Siti saat membantu membereskan barang-barang si kembar ke dalam koper di kamar si kembar bersama Karina.
"Ya?"jawab Karina tak mengerti menatap bu Siti masih terus mengemas barang-barang si kembar juga.
"Sepertinya suamimu sangat cemburu dan.... marah."ucap bu Siti menjelaskan.
"Eh... tapi sepertinya tidak seperti itu?"jawab Karina kurang peka, kesibukannya mengurusi si kembar membuatnya sedikit 'lemot' tentang keadaan di sekitarnya.
"Begitukah?" jawab bu Siti mengedikkan kedua bahunya.
Karina menuju kamar, mencoba mencuri dengar dengan menempelkan telinganya di pintu. Tak ada suara, batin Karina mencoba mendengar lagi.
Karina menghela nafas, membuka pintu kamar perlahan mengintip situasi dalam kamar. Semua barang masih utuh, masih berada pada tempatnya. Apa bu Siti tidak salah?
Dilihatnya Derian berdiri membelakanginya seolah menghindari dirinya. Seharusnya dia mendengar pintu terbuka tak mungkin dia tak mendengar, apalagi dia sedang tidak melakukan apa-apa.
Dilihatnya jas dan sepatunya di tempat yang tak beraturan, seperti dibuang secara asal.
Ah, ternyata benar, dia sedang kesal. Karina tersenyum mendekati Derian, memeluknya dari belakang dan mendekapnya erat.
__ADS_1
"Maaf..."bisik Karina mencoba meredam emosi amarahnya.
Tubuh Derian tampak menegang, hatinya langsung luluh. Emosi kemarahan yang tadi menggebu-gebu di dadanya terasa menguap hilang dalam sekejap, tergantikan dengan perhatian Karina yang sudah lama tak didapatkan. Tubuhnya perlahan tenang, Derian membalikkan tubuhnya, memeluk Karina erat.
"Maaf... aku terlalu sibuk mengurus si kembar hingga aku lupa..."kata-kata Karina tak bisa diteruskan keburu Derian mengecup bibir itu, rasa cemburunya masih mendominasi meminta lebih perhatian pada Karina.
Karina membalasnya, keduanya saling mereguk kenikmatan, mencari kepuasan masing-masing. Tak lama kemudian, terjadilah pergulatan panas yang liar di ranjang, Derian yang ingin menghapus rasa cemburunya berusaha menyerang Karina secara brutal, Karina hanya mampu mengimbangi, menikmati setiap sentuhan Derian.
Bu Siti yang mendengar suara itu memerah malu hanya menggelengkan kepala. Beliau hanya berharap si kembar tak bangun untuk minta menyusu. Untungnya perumahan itu belum padat penduduk hanya beberapa yang tinggal. Itupun berjauhan dan para pengawal Derian sudah disuruh berjaga agak menjauh dari rumah Karina yang mungkin Derian tau apa yang akan dilakukan pada Karina.
***
Lebih dari 7 jam mereka akhirnya sampai di rumah baru mereka. Benar-benar rumah baru yang di beli Derian untuk Karina dan si kembar.
Karina memandang rumah mewah bak istana dengan 3 lantai, dengan halaman yang mungkin lebih besar dari rumah lamanya hadiah pernikahannya dengan Reno dulu.
Pelayan membawa barang-barang Karina ke kamar utama yang ada di lantai 3. Sedang kamar si kembar ada di lantai 2. Karina langsung protes keras saat mendengar kamarnya dengan si kembar berjauhan hingga beda lantai.
"Apa maksudmu memisahkan putra putriku?"serunya sore itu saat mendengar kamarnya terpisah lantai dari kamarnya yang diatas.
"Aku tak mau mereka mengganggu kita?Toh, ada pengasuh untuk si kembar masing-masing!" jelas Derian enteng tetap melangkah menuju kamar si kembar.
"Tidak. Aku tak mau tidur jauh dari si kembar!" protes tegas Karina tetap berdiri di tempatnya. Masih berada di lantai 1.
"Sayang, aku tak mau anak-anak membuatmu capek di malam hari. Lihatlah!Kau kurang istirahat. Tubuhmu lelah dan tak terurus." keluh Derian memberikan putranya pada pengasuh yang telah disewa khusus dari penyalur ahli babysister.
__ADS_1
"Aku akan tidur di kamar anak-anakku jika kau memberikan kamar mereka di bawah." ancam Karina. Karina berjalan menuju kamar yang ditunjuk untuk si kembar.
"Sayang?Apa maksutmu?Kau tak mau sekamar denganku?"tanya Derian terlihat kecewa menampakkan wajah memelasnya merasa tak diperhatikan Karina.
"Pindahkan kamar anak-anakku di sebelah kamar kita! Aku baru setuju."jawab Karina berbalik menatap Derian di bawah tangga dan berhenti disana menunggu jawaban Derian.
Derian menatap wajah Karina yang memohon, hingga Derian menghela nafas berat mengalah.
"Baiklah!"jawabnya akhirnya mengalah.
Karina benar-benar tak mau mengalah jika itu sudah berhubungan dengan si kembar. Derian terpaksa menurut. Sebenarnya dia berharap memisahkan kamar dengan si kembar adalah karena tak mau waktu bercintanya dengan Karina diganggu dengan si kembar. Jika bersebelahan, pasti Karina akan segera berlari menemui si kembar tanpa peduli padanya, walaupun sudah ada dua orang pengasuh sekalipun.
Jika kamar mereka terpisah, sekencang apapun si kembar menangis Karina tak perlu berlari menemui. Apalagi pasti akan segera diurus pengasuhnya.
Katakanlah dirinya egois, tapi Derian tak mau berbagi istrinya dengan siapapun termasuk anak-anaknya. Dan Derian tak peduli itu.
TBC
Mohon dukungannya
Beri like, rate dan vote nya
Makasih yang sudah mendukung 🙏🙏
.
__ADS_1
.
.