
Dion masih menikmati makanan dan camilan yang disuguhkan pada acara pernikahan itu, duduk sendiri di kursinya sejak tadi. Para tamu lain sibuk ngobrol dan memberikan ucapan selamat pada kedua mempelai.
Dion sambil makan menatap kedua mempelai yang sejak tadi senyuman mereka tak pernah sirna meski terlihat letih pada keduanya. Dion hanya tersenyum menatapnya, ikut merasakan kebahagiaan kedua mempelai.
Dialihkannya pandangannya ke seluruh ruangan memandang satu persatu tamu undangan yang hadir, benar-benar pernikahan yang bukan main-main. Terbukti banyak para tamu undangan dari pejabat dan orang-orang terpandang. Apalagi sang tuan rumah juga bukan orang sembarangan.
Tentu saja tamunya kebanyakan dari kalangan orang-orang terkenal, pejabat, pebisnis, bahkan politikus ikut meramaikan acara pernikahan orang terkenal dan paling kaya nomer satu di negeri ini. Sebenarnya dia sudah tak betah untuk berlama-lama di acara itu, ingin sekali dirinya meninggalkan tempat ramai itu yang entah kapan acara itu akan berakhir, karena melihat situasi dan kondisinya sepertinya tidak akan segera berakhir.
Dion mulai bosan dan jengah. Meski kedua tuan dan nyonya rumah sudah menganggapnya sebagai keluarga karena diketahui dirinya adalah adik tiri mempelai. Keduanya juga sama-sama melupakan kejadian masa lalu yang sempat terjadi antara dirinya dan mempelai wanita.
Dion mencoba menepis pikiran-pikiran yang sempat terlintas di benaknya itu. Saat pandangannya terlintas pada tempat makanan berjajar apik yang ditata sedemikian rupa, mata Dion terhenti pada seorang gadis yang sedang sendirian menikmati berbagai cake manis yang memang disediakan disitu.
Dion terus menatapnya, memastikan kalau penglihatannya tidak salah. Bahwa seseorang yang ditatapnya itu benar-benar orang yang dikenalinya. Orang yang selalu dicarinya, setelah dirinya tiba di negeri asal tempat tinggalnya.
Dion meletakkan piringnya di meja menghampiri perlahan gadis itu. Dia tak mau jika gadis itu lari saat dirinya datang mengejutkannya. Pandangan mata Dion beralih ke perut gadis itu yang sudah terlihat sedikit membuncit tapi jika kita tidak tahu keadaannya mungkin tak pernah berpikir jika gadis itu dalam keadaan hamil.
Apalagi perutnya disamarkan dengan gaunnya yang tidak terlalu ketat, sehingga perut buncitnya tidak terlalu kentara. Dion tersenyum lebar dan bahagia, setelah memastikan bahwa gadis itu benar-benar Vivi, entah siapa dia sebenarnya karena berada di acara pernikahan itu.
Padahal bukan teman salah seorang mempelai, terlihat dari umurnya yang terpaut jauh dari kedua mempelai. Saking bahagianya Dion, otak jeniusnya tak mau berpikir hal-hal yang membuatnya menjadi tidak fokus lagi pada seseorang di depannya.
Vivi terus saja kembali menikmati cake manis coklat itu untuk yang ketiga kalinya. Dion tersenyum, mungkin faktor kehamilannya menginginkan makan cake itu, atau lebih tepatnya itu yang dinamakan ngidam. batin Dion tersenyum lembut menatap Vivi.
Dion mendekat perlahan, tak sabar dirinya ingin memergoki ibu dari anaknya itu yang dengan sangat baik menyembunyikan dirinya ini. Dia berjanji untuk tidak akan melepaskannya jika kali ini dia menangkapnya. Apapun yang terjadi tidak akan pernah dia melepaskannya lagi. Tidak akan pernah.
__ADS_1
"Apa ibu hamil ini sedang mengidam?" sapa Dion meraih pinggang Vivi menariknya masuk dalam pelukannya.
Tentu saja Vivi yang sedang menikmati cake nya tersentak kaget dan spontan mendorong dada Dion agar tak terlalu dekat dirinya dengannya. Tapi usahanya seakan sia-sia. Lengan kekar Dion menahan pinggangnya dengan kuat agar tak bisa lepas darinya.
Dan lagi Vivi masih memegang cake ketiganya itu di tangannya, semakin sulit dirinya lepas dari jeratan tangan Dion. Mata Vivi membulat sempurna saat lidah Dion menjilat sekitar bibirnya.
"Apa sangat enak sampai mulutmu belepotan sayang?" ucap Dion lagi membuat wajah Vivi memerah karena malu selain mulutnya belepotan juga jilatan lidah Dion pada sekitar mulutnya, ikut menjilati cake yang belepotan di sekitar mulutnya.
Vivi memang sedang ngidam saat menatap cake itu, dia tak sabaran ingin makan dan menikmati cake itu tanpa mempedulikan acara pernikahan itu. Dia terus makan dan memakannya dan bahkan dirinya sudah lupa itu cake yang keberapa dan dia juga lupa tempat saat menikmati cake yang membuat liurnya menetes.
"Bas...i..itu... lepaskan aku dulu!" ucap Vivi tersipu malu karena kelakuannya makan cake yang dipergoki Dion atau Bas orang yang selama ini telah memporak-porandakan hatinya.
Dan kini pun dia masih saja berdebar saat tubuhnya berdekatan dengannya. Tidak hanya berdekatan, tapi menempel dengan lekat yang tak berjarak sama sekali.
"Tidak akan. Kau pasti akan melarikan diri lagi jika kulepaskan." jawab Dion menatap Vivi lekat, jemarinya satunya masih terlihat membersihkan sisa-sisa cake yang masih menempel di sekitar mulut Vivi. Vivi segera menepis jemarinya Dion tapi Dion tak membiarkan hal itu terjadi..
"Diamlah!" ucap Dion, dia mengambil sapu tangan di saku jasnya mengusap perlahan cake yang belepotan di sekitar bibir Vivi hingga bersih.
Vivi tak berani membantah, hanya menikmati usapan sapu tangan Dion. Tundukkan kepala Vivi segera diangkat Dion karena dia tak bisa melihat bibir Vivi. Vivi menatap wajah Dion yang kini sedang berhadapan dengannya. Dion sibuk membersihkan bibir Vivi dan Vivi menatap wajah Dion yang begitu perhatian padanya. Terdapat sorot mata kerinduan dan penuh cinta darinya.
"Sudah." ucap Dion membuyarkan lamunannya. Vivi sungguh tersipu segera mengalihkan pandangannya sebelum Dion memergokinya yang sudah menatap terpesona penuh kekaguman.
"Tolong lepaskan tanganmu!" ucap Vivi mencoba mendorong tubuh Dion.
__ADS_1
"Tidak akan." jawab Dion menatap Vivi lekat.
"Aku janji tak akan lari." pinta Vivi memelas.
"Apa jaminannya? Kau selalu seperti itu saat hendak melarikan diri dariku." jawab Dion membuat Vivi terdiam tak ada lagi hal yang bisa dilakukan untuk melarikan diri dari Dion.
"A...aku janji, lagipula banyak yang melihat kita. A..aku malu..." ucap Vivi lirih di akhir kalimatnya.
Dion menatap sekelilingnya, memang ada yang sedang menatap kemesraan mereka, tapi hanya sebagian saja. Dion segera menarik jemari tangan Vivi untuk mengajaknya di tempat pojokan yang tak ada orang. Membuatnya leluasa untuk membuat Vivi melarikan diri darinya.
"Sekarang, katakan! Dimana kau tinggal?" ucap Dion mengintimidasi.
"I...itu...a...aku..."
"Jangan pernah kau bohongi aku lagi Vivi, katakan, siapa nama orang tuamu. Kalau kau berada disini kurasa orang tuamu salah satu tamu undangan disini. Tak mungkin kan kau salah satu teman mempelai pengantin?" tanya Dion.
Sesaat kebahagiaan Vivi langsung lenyap mengingat acara saat itu. Wajahnya berubah pias dan sedih. Ya, Vivi sudah tahu kisah cinta masa lalu Dion. Gadis yang selama ini bahkan sejak kecilnya sudah merajai di hati Dion adalah mempelai wanita.
Vivi mencoba mengalihkan pandangannya, membuang pikirannya untuk benar-benar bersama Dion. Dia tak mau hanya dijadikan pelarian oleh Dion. Katakanlah dirinya egois. Dia ingin memiliki Dion seutuhnya menjadi miliknya tubuhnya juga hatinya.
TBC
.
__ADS_1
.
.