
"Al dimana bi?" tanya Alena saat dia duduk di meja makan masih kosong untuk sarapan pagi.
"Tuan Al, sedang olahraga nona, tadi pagi sekali sudah keluar rumah." jawab pelayan paruh baya itu yang sudah lebih dari sepuluh tahun mengabdi di keluarga Alena.
Alena terdiam tampak berpikir. Dia pun memulai sarapannya tanpa bertanya lagi. Sudah seminggu ini mereka tak pernah bertatap muka, entah karena Alena sibuk kerja atau karena Al yang menghindarinya.
Alena tetap diam meski berharap penasaran kenapa Al menghindarinya. Alena terlihat menghela nafas berat, selera makannya mendadak hilang. Dia pun bangkit dari tempat duduknya tak melanjutkan sarapannya berjalan menuju tempat mobilnya.
"Selamat pagi pak." sapa Al saat memasuki gerbang rumah besar itu.
"Pagi tuan, habis joging ya?" tanya satpam rumah basa-basi karena teman majikannya menyapanya.
Para pekerja rumah tak tahu siapa sebenarnya Al, mereka semua hanya diberitahu kalau Al adalah teman yang sudah seperti sepupu jauhnya. Tak banyak yang berkomentar karena mereka dibayar bukan untuk mengomentari kehidupan majikannya itu. Tak sengaja mendengar suara Al yang hendak masuk rumah sedang Alena hendak keluar rumah.
Mereka sama-sama hendak membuka pintu depan. Keduanya sontak menoleh saling menatap satu sama lain di depan pintu. Al dan Alena merasa canggung, apalagi Alena dia merasa tersipu saat teringat terakhir mereka bertemu menyatakan perasaannya karena keadaan yang bisa dikatakan sedang tidak baik-baik saja.
"Kau mau berangkat kerja?" tanya Al mencoba mengusir kecanggungan.
"Ah, iya. Aku pergi." jawab Alena gugup hendak pergi.
"Alena..." Alena berhenti dan berbalik menatap Al.
"Aku... ingin keluar nanti siang." ucap Al seolah hendak pamit namun nadanya seperti ingin memberitahu.
"Ah, keluarlah! Apa perlu kutemani?" jawab Alena menawarkan diri, meski batinnya penasaran ingin bertanya tujuannya keluar rumah.
"Aku ingin jalan-jalan melihat luar. Mungkin ke mall, aku... jika aku siap aku akan pulang ke rumah... ke rumah keluargaku." ucap Al ragu takut menyinggung perasaan Alena, bagaimana pun juga Alena sudah berjasa besar atas kesembuhannya.
Meski Alena jugalah yang membuatnya seperti itu. Batin Alena mencelos mendengar niat Al untuk pulang ke rumah keluarganya dan yang pasti akan kembali ke istrinya. Entah kenapa dada Alena terasa sesak, meski dia tahu status Al sudah beristri, seharusnya dia harus terima tentang kehidupan Al.
"Tentu. Mau...kutemani?" tawar Alena lagi, dia ingin tahu sosok istri Al yang sangat dicintainya itu hingga tak mampunya dirinya berpaling dari istri yang telah ditinggalkannya hampir setahun itu.
"Kalau kau tak sibuk dan tak repot, boleh saja." jawab Al tersenyum manis.
__ADS_1
"Hubungi aku saat nanti hendak berangkat!" jawab Alena tersenyum getir.
"Ok." Alena mengangguk dan pergi untuk berangkat ke kantor.
**
Alena tak bisa konsentrasi dalam mengendarai mobilnya, dia meminggirkan mobilnya sejenak di tepi jalan yang agak sepi. Tangisan pun terdengar di dalam mobil itu. Alena menangis entah karena apa, dadanya terasa sesak saat Al memutuskan untuk mengunjungi istrinya dan kembali ke rumahnya.
Alena memukul dada sesaknya, seumur hidupnya dia tak pernah menyukai seorang pria sampai sesesak itu dadanya. Cinta monyet masa sekolahnya pun tak membuatnya sakit hati, malah dirinya yang membuat patah hati banyak pria karena penolakan darinya setiap teman sekolahnya menyatakan cinta padanya.
Tapi kini, perasaannya benar-benar sakit, dia tak mampu mengendalikan perasaannya. Padahal dia tahu kalau Al adalah pria beristri, seharusnya dia tak boleh menyukainya karena statusnya tapi hati manusia tak tahu dimana cinta akan berlabuh.
Al mematut dirinya di cermin kamarnya. Dia menatap dirinya di cermin kamar.
"Perfect..." ucapnya menatap penampilannya yang sudah lebih sempurna.
Dia tersenyum-senyum sendiri mengingat kebersamaan dengan istrinya sebelum dirinya kecelakaan. Dia berharap istrinya tetap setia menantikan kepulangannya yang hampir setahun itu. Perasaannya membuncah saat mengingat istrinya yang akan menyambut kepulangan nanti. Al begitu mencintai istrinya yang seperti malaikat baginya itu.
Gadis yang membuatnya jatuh cinta karena kesederhanaannya meski keluarganya kaya raya. Dan ketulusan hatinya membuat nilai plus lebih untuk istrinya yang cantik tanpa cela itu.
Dia sudah menghubungi Alena akan berangkat siang ini. Alena mengiyakan dan akan menjemputnya di rumah.
Suara deru mesin mobil masuk halaman rumah Alena, Al segera bergegas keluar rumah. Tersenyum senang melihat Alena turun dari mobilnya.
Alena membalas senyuman getir pada Al, karena dia melihat raut wajah kebahagiaan yang terpancar dari wajah berbinar-binarnya. Alena merasakan sesak lagi di dadanya. Namun segera ditepisnya perasaan itu. Baginya asal orang yang dicintainya bahagia itu lebih dari cukup.
Mobil melaju dengan kecepatan sedang. Alena melirik Al yang tersenyum-senyum sendiri di sebelahnya. Begitu bahagianya kah dirinya akan bertemu istrinya? Semoga kau selalu bahagia setelah ini. batin Alena tersenyum getir.
"Dimana alamatnya?" tanya Alena.
"Ya?" Al yang sejak tadi memikirkan hal lain tak mendengar dengan jelas ucapan Alena.
"Dimana rumahmu Al?" tanya Alena tersenyum lucu.
__ADS_1
"Oh, nanti akan kuberitahu, kita mampir dulu ke mall, aku ingin membawa sesuatu untuk istriku." jawab Al antusias tersenyum senang.
"Tentu." ucap Alena.
Mobil memasuki kawasan kota, masuk ke dalam basemen tempat parkir mall terbesar di kota itu. Keduanya berjalan menuju lift tempat para penjual barang-barang lengkap yang mungkin dibutuhkan oleh semua orang di kota ini.
Al melangkah menuju tempat pakaian wanita, dia bingung akan membelikan apa untuk kejutan istrinya. Dan pun beralih dari toko satu ke toko lain bingung menentukan pilihannya.
Saat dirinya tiba di tempat toko boneka, sekelabat dirinya melihat wajah yang dikenalinya, namun dirinya masih ragu. Al mengikutinya hingga masuk ke restoran yang ada di mall itu.
"Al, ada apa? Kau sudah menemukan untuk membeli apa?" tanya Alena menepuk pundak Al yang terlihat melamun memperhatikan seseorang.
"Ah, aku masih bingung, aku ke toilet sebentar." jawab Al yang diangguki Alena.
Al mencoba mencari keberadaan orang yang dilihatnya tadi. Al berbolak-balik di sekitar restoran itu mencari keberadaan yang diyakini orang yang dilihatnya benar atau salah.
Setelah setengah jam Al berputar-putar, tatapan terhenti pada seorang wanita yang duduk di restoran itu dengan seorang pria yang dikenalinya sebagai adik tirinya. Ya, wanita itu istrinya, Angel yang dianggapnya malaikat cantik yang dicintainya sampai saat ini. Dia melihat tawa bahagia saat melihat keduanya.
Bahkan jemari tangan Angel menggenggam erat jemari tangan Dion. Al tahu sedikit banyak tentang hubungan keduanya di masa lalu setelah dirinya putus saat pacaran di masa kuliahnya dulu. Dan keduanya pernah menjadi sepasang kekasih yang hampir saja menikah.
Hati Al mencelos melihat kemesraan itu, sungguh bodoh dirinya selama ini. Kenapa dirinya tak pernah berpikir jika keduanya mungkin saja menjalin hubungan kembali, apalagi dirinya telah meninggalkannya hampir setahun tanpa kabar yang jelas.
"Hahhaa..haha... bodohnya aku." lirih Al tertawa getir. Al segera meninggalkan tempat itu dengan dada yang sakit dan sesak.
Dia tak mau mengganggu kedua sejoli itu. Sekarang dirinya bagaikan orang ketiga diantara mereka.
Apakah mereka menikah setelah aku kecelakaan. Apa mereka berpikir aku sudah meninggal? batin Al getir, sungguh sangat kecewa.
TBC
.
.
__ADS_1
.